NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Amandemen di Tengah Teror

Gemuruh guntur yang dahsyat mengguncang langit kota Valerika malam itu, menyisakan ketukan-ketukan keras dari rintik hujan badai yang menghantam dinding kaca tebal penthouse megah milik Adrian Hutama dan Alea Corisand.

Bagi mata dunia yang memandang dari luar, menara pencakar langit ini adalah simbol kemewahan, sebuah suaka tempat dua pewaris takhta dinasti korporasi terbesar merayakan penyatuan mereka.

Namun, di balik kemegahan marmer dan kilau lampu gantung kristalnya, tempat ini tak lebih dari sebuah benteng pertahanan yang steril, dingin, dan sarat akan ketegangan yang mencekam.

Di sinilah mereka terkunci.

Wasiat mutlak yang ditinggalkan oleh mendiang kakek mereka adalah benang merah keramat yang memaksa Hutama Industries dan Corisand Media Group untuk menyatukan darah dan kekuasaan dalam sebuah ikatan pernikahan resmi.

Sejak malam pertama pernikahan mereka seminggu yang lalu, mereka telah langsung menempati penthouse ini bersama-sama.

Bukan karena gelora romansa yang membakar dada, melainkan karena rentetan teror misterius yang datang bertubi-tubi sejak hari pertama pernikahan memaksa mereka untuk mengunci diri di bawah satu atap yang sama.

Serangan siber yang nyaris melumpuhkan jaringan komunikasi, kiriman paket-paket gelap yang mengancam, hingga peretasan perimeter luar gedung telah mengubah rumah ini menjadi medan perang taktis.

Tinggal bersama dan saling melindungi adalah satu-satunya cara rasional agar mereka berdua bisa tetap bertahan hidup hingga hari esok.

Namun, meskipun mereka telah berbagi ruang hidup yang sama selama seminggu terakhir, atmosfer malam ini terasa jauh lebih pekat dan membeku daripada biasanya. Kemenangan besar yang baru saja mereka raih dalam RUPSLB Corisand Media Group siang tadi di mana mereka berhasil mendepak faksi Arthur Corisand yang berniat melakukan kudeta seolah tidak menyisakan ruang untuk perayaan.

Di balik dinding perlindungan ini, sebuah pertempuran baru yang tak kasat mata justru sedang berkecamuk di antara mereka berdua.

Alea Corisand berdiri diam di tengah ruang keluarga yang luas, sepasang mata marunnya menatap lurus ke arah deretan monitor pusat kendali keamanan yang terpasang di dinding.

Dia telah menanggalkan gaun formal sutra putih gading yang dikenakannya saat menghadapi para jurnalis siang tadi, menggantinya dengan pakaian kasual hitam yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan alaminya.

Wajahnya yang cantik tampak tegang.

Di atas meja marmer di dekatnya, tergeletak seberkas dokumen fisik yang baru saja ia cetak.

Itu adalah draf amandemen kontrak baru yang ia ajukan pasca-RUPSLB.

Tinggal bersama sejak hari pertama pernikahan demi menghadapi kepungan teror tidak berarti mereka harus melibatkan perasaan pribadi.

Penolakan dingin Adrian kemarin, yang menegaskan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekadar kalkulasi risiko korporasi, telah menampar kesadaran Alea.

Wanita itu tersadar bahwa batas tegas harus segera ditarik sebelum dirinya melangkah terlalu jauh ke dalam labirin emosi yang salah.

Hubungannya dengan masa lalunya sudah ia putus secara mutlak, dan kini, Alea bertekad untuk berdiri di atas kakinya sendiri, menghadapi badai konspirasi ini tanpa bersandar atau berharap pada siapa pun, termasuk pria yang kini berstatus sebagai suaminya.

Langkah kaki yang mantap dan berat memecah keheningan ruangan.

Adrian Hutama melangkah keluar dari ruang kerja pribadinya.

Ia telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku. Wajahnya tetap sekaku topeng besi saat ia berjalan mendekati panel kendali di samping Alea untuk memeriksa log aktivitas siber yang mencurigakan.

Jarak fisik di antara mereka berdua begitu dekat, sebuah posisi yang sudah biasa mereka lalui seminggu ini sebagai sekutu taktis, namun keberadaan draf kertas di atas meja marmer membuat jarak emosional mereka terasa sejauh benua yang berbeda.

"Peretas mencoba memutus jalur kamera pengawas di koridor darurat dan lift privat lagi," ucap Alea tanpa menoleh sedikit pun ke arah Adrian.

Suaranya terdengar jernih, datar, namun sedingin es yang membeku di puncak gunung.

"Pola peretasan dan fluktuasi tegangannya sama persis seperti teror yang kita terima di malam pertama pernikahan kita seminggu yang lalu."

"Aku sudah menduganya. Mereka memanfaatkan kelengahan kita setelah fokus kita terpecah pada rapat pleno siang tadi," sahut Adrian, suaranya yang berat dan bariton memberikan rasa aman yang aneh dan kokoh di tengah kepungan badai luar.

Jemarinya yang panjang bergerak dengan presisi militer di atas layar taktil, memasukkan kode dekripsi darurat untuk mengisolasi server proxy penyusup.

"Aku sudah memerintahkan tim taktis siber Hutama Industries untuk memblokir jalur mereka dari pusat. Sistem pertahanan penthouse ini tidak akan bisa jebol dengan mudah oleh serangan luar."

Setelah mengamankan perimeter digital, mata elang Adrian yang tajam dan tak terbaca beralih menatap draf amandemen yang tergeletak di atas meja.

"Doni sudah menyampaikan poin-poin berkas yang kau ajukan siang tadi, Alea. Kau benar-benar serius dengan pengetatan klausul domestik ini?"

Alea membalikkan tubuhnya secara perlahan, memberanikan diri untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Adrian yang dingin.

"Karena kita harus tetap tinggal bersama di dalam penthouse ini demi memenuhi amanah wasiat kakek kita dan menghadapi ancaman teror, saya rasa amandemen itu adalah kebutuhan yang mutlak, Tuan Hutama. Saya meminta pembatasan total pada wilayah personal. Tidak ada interaksi pribadi yang tidak perlu, tidak ada komunikasi di luar urusan taktis pengamanan dan korporasi, dan wilayah domestik di dalam rumah ini terbagi secara absolut. Kamar sayap timur adalah area saya, dan sayap barat adalah area Anda. Kita adalah sekutu di bawah satu atap yang sama untuk bertahan hidup, bukan sepasang kekasih."

Adrian menatap wanita di hadapannya selama beberapa detik tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Di bawah pendaran cahaya monitor yang temaram, ketangguhan mental Alea yang selalu menolak untuk tunduk, menangis, atau terlihat lemah di hadapan rasa takut selalu berhasil memicu percikan rasa kagum yang samar di sudut hati Adrian.

Alea bukan sekadar wanita pewaris yang manja, dia adalah seorang petarung yang tahu bagaimana cara memasang barikade pertahanan diri.

Namun, dengan cepat dan tanpa ragu, Adrian menepis riak kekaguman itu dalam-dalam, menguburnya di bawah lapisan zirah esnya yang tebal.

Bagi Adrian, keputusan Alea untuk menarik garis batas jarak emosional ini justru menjadi sebuah keuntungan taktis yang sangat melegakan.

Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, janji setia dan seluruh ruang cintanya hanya milik satu wanita, Kirana. Kirana adalah kekasihnya sejak masa-masa kuliah di luar negeri, wanita berlatar belakang sederhana yang tidak pernah mendapat restu dari keluarga besar Hutama.

Demi melindungi Kirana dari kekejaman konflik internal keluarganya serta dari ancaman para pelaku teror yang mengintai titik lemahnya, Adrian sengaja menempatkan Kirana di sebuah rumah kolonial tua yang tersembunyi di distrik lama.

Semakin Alea menarik batas jarak di antara mereka di dalam penthouse ini, maka semakin aman pula rahasia besar tentang keberadaan Kirana dari endusan dunia luar.

Selama para musuh mengira Adrian hanya fokus pada pernikahan wasiatnya dengan Alea, maka Kirana akan tetap aman di tempat teduh yang tak tersentuh oleh kejamnya konflik.

"Aku sudah membaca seluruh poinnya, Alea, dan aku menyetujui semuanya tanpa ada yang dikurangi," jawab Adrian dengan nada suara yang datar, dingin, dan tanpa riak emosi sedikit pun.

Ia mengambil pena di dekatnya, membubuhkan tanda tangan tegas di atas dokumen fisik tersebut.

"Ini adalah keputusan yang sangat taktis dan profesional. Mulai malam ini, amandemen ini resmi berlaku mengikat kita berdua."

Setelah kesepakatan dingin itu diketuk secara sah, Alea tidak mengucapkan sepatah kata lagi.

Ia hanya memberikan anggukan kepala formal yang kaku, mengambil draf dokumennya, lalu melangkah anggun menuju kamarnya yang terletak di ujung sayap timur penthouse.

Pintu kayu ek tebal itu ditutupnya dengan ketukan yang tegas, disusul oleh bunyi klik dari sistem penguncian otomatis dari dalam kamar.

Begitu berada di dalam kesunyian kamarnya yang luas, seluruh pertahanan mental yang sejak siang tadi dibangun Alea runtuh seketika.

Wanita itu bersandar di balik pintu yang tertutup rapat, memejamkan matanya erat-erat sambil mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelelahan psikologis yang luar biasa.

Bahunya yang tegap perlahan merosot.

Tidak ada lagi pria dari masa lalu tempatnya mengadu atau berbagi beban, hubungannya dengan masa lalunya telah ia putus secara mutlak, menjadikannya benar-benar harus berjuang seorang diri di tengah pusaran konspirasi besar yang mengincar nyawanya.

Namun, rasa perih akibat penolakan dingin Adrian kemarin justru menempa dinding hatinya menjadi jauh lebih tegap dan waspada.

Dia menolak untuk menjadi korban yang lemah dari permainan takdir ini.

Sementara itu, di ruang keluarga yang kini sengaja dipadamkan lampu utamanya, Adrian Hutama berdiri diam seorang diri di depan dinding kaca besar.

Sorot matanya yang tajam menembus rintik air hujan yang menghantam kaca, menatap hamparan lampu kota Valerika yang kelam dan misterius.

Dengan gerakan yang sangat penuh kehati-hatian, Adrian merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus berjalur komunikasi satelit terenkripsi yang tidak terdaftar di dalam sistem jaringan mana pun.

Di atas layar sentuhnya, jemari Adrian bergerak cepat, mengetik dan mengirimkan sebuah pesan singkat ke satu-satunya nomor yang paling ia lindungi di dunia ini, memastikan keselamatan belahan jiwanya yang sesungguhnya:

Tetaplah berada di dalam rumah kolonial dan pastikan sistem pengamanan perimeter internal tetap menyala, Kirana. Pengamanan rahasia di sekitar distrik lama sudah kuperketat malam ini menyusul pergerakan di pusat kota. Jangan keluar rumah sampai aku sendiri yang datang menjemputmu nanti. Aku akan selalu melindungimu.

Adrian menurunkan ponselnya, menatap layar yang perlahan menggelap sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku terdalam.

Dua orang manusia yang terikat erat oleh rantai wasiat mendiang kakek dan kepungan teror yang mematikan itu kini telah kembali ke kamar mereka masing-masing di dalam penthouse yang sama.

Mereka terpaksa berbagi atap dan ruang hidup yang sama demi bertahan hidup dari musuh bersama yang mengincar rahasia mereka di luar sana, namun di saat yang sama, mereka menyimpan nama, luka, dan cinta yang sepenuhnya berbeda di dalam lubuk hati mereka masing-masing.

Panggung sandiwara aliansi taktis ini masih sangat panjang, dan malam ini, di tengah gemuruh badai Valerika, dinding pembatas di antara Adrian dan Alea resmi berdiri dengan semakin tinggi, kaku, dan tak tersentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!