NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C005: Pengacara Terbaik & Terpercaya Milik Alexander

...Selamat Baca...

"Selama ini... dari semua hal yang tak bisa Alistair berikan padamu. Semua yang kamu butuhkan, semua perlindungan, semua bantuan... semuanya bisa aku berikan untukmu."

Suara berat itu bergetar, namun penuh kepastian, menembus ke dalam hati Liana yang sudah lama hancur lebur.

Tatapan mata Alexander tidak lepas sedikit pun dari wajah wanita itu, matanya yang biasanya dingin kini basah dan memancarkan segala rasa yang dipendamnya bertahun-tahun lamanya.

"Liana, Aku... aku sudah mencintaimu sejak hari pertama kita bertemu di hari pernikahanmu itu, Liana. Dan aku akan mencintaimu sampai kapan pun."

Napasnya tercekat. Kalimat itu menghantam dada Liana lebih keras daripada apa pun yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

Semua rasa sakit, sepi, hinaan, dan kesendirian selama lima tahun ini... seketika runtuh begitu saja.

Runtuh karena ia baru sadar, ternyata ia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada seseorang. Ada Alexander.

Pria yang konon antiwanita, pria yang paling dingin di keluarga ini, ternyata adalah satu-satunya manusia yang melihatnya, menginginkannya, dan mencintainya lebih dari nyawanya sendiri.

"Tapi... bisakah kamu membalasnya?" suara Alexander melemah, penuh harap namun juga penuh ketakutan akan penolakan.

"Aku benar-benar sudah lama menunggumu... Liana... Maukah Kau Menerimaku apa adanya? Tanpa harta, tanpa status, tanpa halangan keluarga?"

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah begitu saja. Liana menangis, menangis sejadi-jadinya, bahunya berguncang hebat menahan isak tangis.

Ia kaget, ia terharu, ia tak percaya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang rela menunggunya selama lima tahun?

Lima tahun di mana ia menjadi istri orang lain, lima tahun di mana ia dianggap tidak berharga oleh semua orang.

Dan pria itu berdiri di sini sekarang, menawarkan cinta yang begitu murni, begitu tulus, tanpa syarat apa pun.

"Saya... saya tidak tahu, Paman Alexander..." jawab Liana di sela tangisnya, suaranya pecah.

"Saya... saya belum tahu apakah saya bisa membalas rasa cinta yang sebesar itu."

"Hati saya sudah terlalu lama mati rasa, sudah terlalu lama disakiti dan dianggap tidak ada... Saya takut saya tidak pantas, saya takut saya tidak mampu..."

Ia mengusap air matanya dengan kasar, menatap wajah pria di depannya dengan tatapan bingung namun penuh kerinduan akan ketulusan.

"Tapi... jika apa yang Paman katakan itu benar... jika Paman benar-benar telah menunggu saya selama itu..." Liana menarik napas panjang, memberanikan diri bertanya dengan suara bergetar,

"Berikan saya buktinya. Tolong buktikan pada saya, bahwa rasa ini nyata. Bahwa penantian itu nyata."

Hening. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar memenuhi ruangan rias itu.

Alexander tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap Liana lekat-lekat, menelusuri setiap sudut wajah wanita itu yang ia hafal di luar kepala,

Wajah yang ia rindukan setiap detiknya, wajah yang ia kagumi diam-diam. Perlahan, perlahan sekali, ia mendekatkan wajahnya.

Tidak terburu-buru, penuh rasa hormat, namun membawa segala rasa rindu yang menumpuk selama lima tahun lamanya.

Dan saat bibir mereka bersentuhan, saat itulah dunia serasa berhenti berputar.

Ciuman itu bukanlah ciuman nafsu atau terburu-buru. Ciuman itu penuh dengan segala rasa rindu yang mendalam,

Penuh dengan cinta yang tak terucapkan, dan penuh dengan kesabaran yang luar biasa.

Semua penantian, semua rasa sakit karena harus melihatnya milik orang lain, semua perlindungan rahasia... semuanya dituangkan dalam satu sentuhan bibir itu.

Liana yang awalnya kaku dan kaget, perlahan merasakan aliran rasa itu masuk ke dalam dirinya. Ia merasakan betapa tulusnya rasa itu, betapa besarnya rasa itu.

Dan perlahan, dinding pertahanan di hatinya yang sudah kokoh bertahun-tahun itu mulai runtuh sepenuhnya. Ia luluh.

Liana memejamkan matanya rapat-rapat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membalas ciuman itu dengan segala rasa lelah, rasa ingin dicintai, dan rasa ingin pulang yang ia miliki.

Waktu seolah berhenti. Di ruangan itu, hanya ada mereka berdua.

Namun, momen itu terpecah seketika ketika suara langkah kaki dan suara laki-laki yang sangat dikenali Liana terdengar mendekat dari luar pintu yang sedikit terbuka.

"Ah, ternyata Paman ada di sini... Saya kira Paman menghilang ke mana."

Suara itu. Suara Alistair.

Mereka berdua segera menjauhkan wajah dengan napas yang memburu, namun sudah terlambat.

Alistair sudah berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam ruangan dengan sedikit kening berkerut karena heran.

Di belakangnya ada Seraphina yang perlahan berjalan tertatih karena perutnya yang besar, namun hanya diam menunggu.

Alistair terkejut. Sangat terkejut. Ia, yang tahu betul sifat pamannya yang terkenal dingin, antiwanita, dan tidak pernah mau didekati siapa pun,

Kini melihat pamannya berdiri berhadapan dekat dengan sosok wanita yang membelakangi pintu, sehingga wajah wanita itu tertutup dari pandangan Alistair.

Alexander segera menegakkan tubuhnya, kembali menampilkan wajah datar dan dinginnya yang biasa, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi.

"Paman?" tanya Alistair lagi, matanya menatap curiga namun lebih banyak rasa penasaran.

Ia menoleh sedikit, mencoba melihat wajah wanita yang berdiri di depan bahu lebar pamannya itu. "Siapa wanita itu? Astaga... Paman yang katanya tidak suka wanita,"

"Ternyata punya penakluk juga ya? Hebat sekali wanita itu bisa membuat Paman Alexander mau mendekat."

Jantung Liana berdegup kencang, Alexander menariknya untuk bersembunyi ke belakang punggungnya yang lebar.

Liana bersembunyi di balik tubuh Alexander, berusaha menutupi wajahnya sebaik mungkin.

Ia menunggu, menunggu suaminya sendiri itu memanggil namanya, menunggu suaminya itu sadar bahwa wanita yang ada di sana adalah istrinya sendiri.

Namun, jawaban Alexander datang lebih dulu, tenang dan datar.

"Kau melihat wanita di sini?" tanya Alexander balik dengan nada dingin dan polos. "Aku tidak melihat siapa-siapa. Hanya ada aku di sini."

Alistair tertawa kecil, tidak curiga sama sekali. "Ah, Paman ini... masih saja suka bercanda dengan gaya dingin begitu. Ya sudah, terserah Paman saja."

"Wanita di belakang sana itu, siapa pun dia... saran saya, lebih baik segera dinikahi saja, Paman. Jangan dibiarkan lama-lama, nanti malah diambil orang lain."

Alistair melirik sekilas ke arah gaun yang dikenakan wanita itu di belakang pamannya-gaun sederhana berwarna krem muda yang sangat ia kenal,

Karena dialah yang dulu melarang Liana memakai warna cerah-namun matanya tidak menangkap apa pun. Ia tidak mengenali gaun itu. Ia tidak mengenali sosok itu.

Baginya, Liana hanyalah bayangan yang sudah tidak ada artinya, sampai-sampai wujud dan pakaian istrinya sendiri pun sudah lama hilang dari ingatannya.

"Saya kembali ke pesta saja. Seraphina sudah menunggu," ucap Alistair santai, lalu berbalik badan pergi begitu saja sambil memegang lengan istrinya yang sedang hamil besar itu, meninggalkan mereka berdua tanpa rasa curiga sedikit pun.

Pintu kembali tertutup, dan keheningan menyelimuti ruangan itu lagi.

Liana masih terpaku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup.

Rasa sakit yang luar biasa, jauh lebih sakit daripada hinaan atau pukulan sekalipun, menjalar tajam ke seluruh ulu hatinya.

"Dia tidak mengenaliku..." batin Liana bergema, air mata kembali menetes, kali ini karena rasa perih yang menusuk tulang.

"Suamiku sendiri... tidak mengenali wajahku. Tidak mengenali gaunku. Dia sama sekali tidak peduli siapa aku, wujudku seperti apa... baginya, aku memang sudah mati sejak lama."

Ia merasa begitu hina, begitu tidak berharga, namun di saat yang sama rasa itu menjadi pemicu terakhir yang mematikan sisa rasa takutnya.

Semuanya sudah cukup. Tidak ada lagi yang harus dipertahankan di sini.

Alexander berbalik menghadapnya kembali, matanya penuh pengertian dan rasa sakit melihat wanita yang dicintainya terluka seperti itu.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Liana dengan lembut.

"Liana..." suaranya rendah namun tegas.

"Kau sudah mendengar dan melihat sendiri. Di sini kau tidak ada apa-apanya. Di sini kau hanya akan terus disakiti."

"Kau sudah mendapatkan buktinya, kau sudah melihat kenyataannya. Sekarang... apakah kau mau ikut bersamaku?"

"Tinggalkan tempat ini malam ini juga. Kabur bersamaku. Mulai hidup baru yang bebas."

Liana mengangkat wajahnya, menyeka sisa air matanya dengan tegas. Matanya yang semula redup kini mulai berkilat oleh tekad yang baru tumbuh.

Ia menatap Alexander dalam-dalam, lalu mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Ya. Saya mau. Bawa saya pergi dari sini, Paman Alexander. Saya tidak mau berada di tempat ini sedetik pun lagi."

Malam itu juga, mereka bergerak cepat namun diam-diam.

Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sepi yang jauh dari hiruk-pikuk pesta di aula utama. Suara musik dan tawa masih terdengar samar dari kejauhan,

Seolah dunia di sana berjalan biasa saja, sementara dunia Liana baru saja berubah total.

Mereka sampai di depan kamar pribadi Liana, sebuah kamar besar yang selama lima tahun ini menjadi sangkar emasnya.

"Berikan aku waktu sedikit saja," bisik Liana. Alexander mengangguk, berdiri berjaga di luar pintu kamar.

Di dalam kamar itu, Liana bergerak dengan cepat namun tenang. Pertama, ia mengambil kertas dan pena,

Lalu menulis sepucuk surat perpisahan singkat, ditujukan untuk Alistair atau siapa pun yang akan mencarinya nanti.

"Saya pergi sebentar. Saya akan menginap di rumah teman dekat saya, keperluan mendadak yang sudah lama direncanakan. Jangan dicari. Saya akan kembali kapan saja saya mau. - Liana."

Surat itu diletakkannya di atas meja rias, tempat yang paling mudah terlihat.

Setelah itu, Liana mulai membereskan seluruh hidupnya ke dalam koper-koper besar. Ia tidak mau meninggalkan satu pun barang miliknya.

Segala alat rias dan kosmetiknya dikeluarkan dari meja, dimasukkan rapi.

Seluruh gaun, baju-baju sederhana yang ia miliki, sepatu, aksesori, hingga barang-barang pribadi kecil yang memiliki kenangan tersendiri baginya... semuanya ia ambil, semuanya ia bawa.

Hingga akhirnya, terbentuklah lima buah koper besar yang tertata rapi: empat koper berukuran besar, dan satu koper berukuran sedang.

Isinya adalah seluruh sisa hidup Liana Varella yang masih tersisa, dibawa bersih tanpa sisa, seolah ia tidak pernah benar-benar tinggal di sana.

Liana menarik napas panjang, menatap sekeliling kamar itu untuk terakhir kalinya.

Lima tahun hidupnya habis di sini, penuh air mata dan kesepian. Sekarang, saatnya pergi.

Ia membuka pintu, keluar membawa satu koper sedang di tangannya. Alexander yang menunggu di luar segera bergerak maju,

Dia sudah menghubungi sopirnya, dan langsung disusul, tanpa perlu bicara ia langsung mengambil dua koper besar sekaligus dengan mudahnya,

Wajahnya tetap tenang namun matanya memancarkan perlindungan penuh. Sopir datang, dan membawa dua koper besar sisanya.

Mereka berjalan menyusuri koridor panjang, turun lewat tangga samping yang jarang dilewati, menuju pintu belakang kediaman yang lebih sepi.

Di luar sana, di bawah remang-remang lampu taman, mobil besar milik Alexander sudah terparkir menunggu, dengan pengawal pribadinya yang setia sudah siap berdiri di samping kendaraan.

"Tolong bantu bakakan," perintah Alexander singkat pada pengawal itu.

Pengawal itu mengangguk patuh, membuka bagasi mobil, lalu langsung mengambil dua koper besar dari tangan tuannya untuk di masukan ke bagasi.

Semuanya dibawa masuk ke bagasi mobil, disusun rapat hingga tertutup sempurna. Tidak ada barang yang tertinggal, tidak ada jejak yang mencurigakan.

Setelah semuanya rapi dan pintu bagasi tertutup, Alexander membukakan pintu mobil untuk Liana dengan sangat sopan.

Wanita itu masuk, duduk di kursi belakang yang empuk, jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.

Sopir dan pewngawal pribadinya juga ikut masuk, dan bersiap untuk jalan sambil menyalakan mobilnya sambil menunggu Tuan mereka masuk juga.

Alexander masuk menyusulnya, duduk di sebelah kiri, dan mobil perlahan mulai melaju menjauh dari kediaman keluarga Sterling,

Menjauh dari pesta, menjauh dari neraka yang ia tinggali selama lima tahun.

Di dalam keheningan mobil yang hangat itu, Alexander mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna putih polos namun berkelas dari saku jasnya.

Ia menyodorkan kartu itu ke tangan Liana yang dingin dan gemetar.

"Ini adalah nama dan alamat pengacara terbaik dan paling dipercaya olehku," ucap Alexander pelan, matanya menatap wanita itu lekat-lekat.

"Besok pagi, kau bisa langsung menghubungi atau menemuinya. Semua urusan surat-surat, pembagian hak, dan proses perceraianmu akan diurus olehnya."

"Kau tidak perlu takut, kau tidak perlu bertemu mereka lagi. Kau hanya perlu fokus pada dirimu sendiri."

Liana menggenggam kartu nama itu erat-erat di tangannya. Benda kecil itu terasa begitu berat, begitu berharga, karena di sanalah tertulis jalan menuju kebebasan yang selama ini ia impikan.

Ia menoleh menatap Alexander, menatap sosok yang baru beberapa jam lalu ia ketahui perasaannya, sosok yang kini menjadi satu-satunya harapan hidupnya.

Di luar jendela, kegelapan malam menyelimuti, namun di dalam mobil itu, di samping Alexander... rasanya seperti matahari baru saja terbit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!