Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Memilih Bertopeng
Malam merayap hingga larut menyelimuti sang malam. Pangeran Muda Syah Hang dan Wai Hang membuat api unggun untuk sedikit mengusir dingin yang beku.
"Pakailah ini pangeran" Jubah hangat miliknya diberikan untuk pangeran muda.
"Terima kasih"
"Sebelum terang kita akan meneruskan perjalanan, tidurlah pangeran"
"Aku belum mengantuk, tidurlah aku ingin menghirup angin di luar" pangeran Syah keluar dari kandang kuda.
"Cuaca sedang buruk pangeran, jangan tidur terlalu larut"
Bentuk perhatian Wai Hang pada sang putra mahkota. Wai Hang lebih mengerti jika perjalanannya ke istana tidak akan berjalan dengan mulus. Wai Hang hanya fokus dengan keselamatan pangeran. Dan sisanya biarkan takdir yang bicara. Dengan pedang miliknya Wai terlelap lebih dulu dari sang pangeran.
~~
Di Batas Kota Tepi Barat
Pasukan pengawal pangeran Hang Djie berpatroli menyisir seluruh wilayah tepi barat. Bersama pasukan itu, pangeran Hang Djie sendiri ikut berpatroli.
"Apakah keadaan aman?" pangeran Hang Djie turun dari kudanya.
"Chie Zhu melaporkan keadaan seluruh wilayah aman"
"Bagus, aku tidak mau jika wilayahku tidak aman. Rakyat akan tau bahwa akulah yang pantas menjadi putra mahkota" pangeran Hang Djie pun tersenyum dengan pongah.
Pasukan pun kembali berkeliling, sang pangeran Djie masuk ke sebuah paviliun kusus para wanita. Kebiasaan Hang Djie yang suka bermain dengan wanita menjadikan selir Tsu En lebih menghendaki Hang Tsu yang naik tahta. Sebagai wanita selir Tsu En sadar, jika kebiasaan bermain wanita akan menjadi kelemahan utama seorang pria. Dan Selir Tsu En tidak mau jika anaknya menjadi raja yang lemah karena wanita.
Cahaya kuning keemasan yang temaram membuat suasana semakin syahdu. Dua wanita yang sudah menunggu pangeran muda Hang Djie duduk dengan gaya sensual. Pakaian mereka yang tipis terawang, memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Wajah yang cantik, dada yang kencang serta paha yang mulus terpampang dalam balutan kain terawang. Sementara pangeran Hang Djie menanggalkan jubah kebesaran pangerannya.
"Kenapa datang terlalu malam pangeranku?" wanitanya menggigit manja cuping sang pangeran Djie, memaksa pangeran Hang Djie mendesah.
AaAaHhHhh....
Tak mampu lagi menjawab, setan dalam diri pangeran Hang Djie bangkit dan terlanjur menguasainya. Kini hanya dalam beberapa detik saja, wanita-wanitanya sudah terlentang diatas ranjang tanpa sehelai kainpun. Pemandangan yang sakral dan penuh gairah nyata di hadapan mata.
"Aku sudah basah pangeran" dengan jalangnya wanita-wanitanya membuka pakaian sang pangeran. Dengan sesekali, memberikan rangsangan ke tubuh pangeran Hang Djie. Lagi dan lagi pangeran Hang Djie hanya bisa menggelinjang panas. Terbakar hasrat yang sudah ke ubun-ubun.
Wanita-wanitanya bekerja dengan sangat piawai dan mahir. Memberikan pelayanan mahasutra pada pangeran. Bahkan gundik-gundik raja belum bisa menyamainya. Wanita-wanitanya memang jalang rakus yang selalu haus akan panasnya bersenggaman.
Tangan kekar pangeran Hang Djie bergerak cepat menguasai area intim wanita pertamanya. Gerakan jemarinya membuat rintihan nikmat yang merasakan denyutan dahsyat di bawah sana.
AaAaAaHhHhh.....AaAaAaHhHhHhh.....
Desahan, lengusan, hingga rintihan yang penuh gairah mulai memenuhi ruangan. Setan durjana telah berhasil mengungkungi tiga manusia dalam tipuan sorgawi dunia.
"Aaahh aahhh.....aahh...."
Eerangan panjang saat pangeran Hang Djie terus menggerakkan pinggulnya dari belakang wanitanya secara bergantian.
Tidak hanya setan dalam diri pangeran Hang Djie saja yang mengganas. Melainkan setan dalam dua gundiknya pun tak mau kalah. Setelah membuat dua gundiknya mendesah hingga menggelinjang kepuncak kenikmatan, pangeran Hang Djie pun terkulai lemas. Nafasnya masih terengah-engah dalam konaknya.
"Sepertinya aku sudah lelah" racauan sang pangeran tak digubris oleh wanitanya.
Kini sang gundiknya sudah berada diatas perut pangeran Hang Djie. Dengan lincah dan liarnya sang gundik terus bergoyang diatas pangeran. Menyisakan suara desahan dan suara merdu di tengah selangkangan mereka.
Mau tak mau pangeran Hang Djie harus pasrah dibuat mengeluarkan cairan kenikmatannya berkali-kali oleh dua wanitanya yang jalang dan liar itu.
Hingga akhirnya pangeran Hang Djie terkapar bersama dua jalangnya tanpa busana. Malam itu menjadi malam sorgawi yang berbeda bagi pangeran Hang Djie. Dimana pangeran Hang Djie bermain cinta dengan dua wanita sekaligus.
~~
Di Penginapan kandang kuda pangeran Syah Hang
Api unggun yang dibuat oleh Wai Hang telah padam. Hawa dingin yang sangat menusuk kulit hingga hampir menembus tulang.
Tubuh Wai Hang pun menggigil hebat karena dinginnya angin malam itu.
"Aku harus mencari kayu bakar"
Pangeran muda Syah Hang pergi menyusuri jalanan pemukiman warga. Kayu bakar ataupun jerami kering pun tak apa untuk sekedar membuat api unggun. Jubah tebalnya sudah hampir tak mampu menahan dingin yang sedang melanda.
Sunyi, hampir tidak ada kehidupan disana. Hanya rumah-rumah yang terlihat usang. Sedikit cahaya lampu menerangi beberapa rumah yang dilewatinya.
"Seperti desa mati saja" tanganya mulai digosok-gosokkan untuk menahan dingin yang hampir membekukan.
"Disana sepertinya aku bisa mendapatkan kayu bakar atau jerami kering" pangeran Syah Hang berjalan mendekati cahaya yang redup di depan sana.
Langkahnya terhenti begitu melihat sosok yang dikenalinya.
"Menteri Tan? Apa aku salah lihat?"
Keraguannya menghilang ketika mendengar seorang dengan pakaian menyerupai prajurit menyebut nama mentri Tan.
"Seharusnya menteri Tan masih berada di lembah damai"
"Tidak, tidak....apa pikiranku yang buruk. Atau memang dia juga terlibat?"
Pikirannya terus berusaha menerka-nerka akan posisi menteri Tan. Dia kawan atau lawan? sedang apa disini?
Pangeran muda Syah Hang menarik langkah ke belakang. Beruntung dia belum terlambat menarik diri. Jika terlambat sedetik pun, pastinya keberadaannya diketahui oleh menteri Tan yang melempar pandangan ke arahnya.
"Apa yang harus kulakukan?" Syah Hang menimbang-nimbang untuk menemui Mentri Tan atau tidak.
Termenung sejenak, mengambil beberapa pikir dan memutuskan. Terlalu rumit, dalam sekejap banyak yang menggunakan topeng untuk saling mengelabuhi.
TiiiiNG...!!
Dia pun menemukan ide bagus untuk mulai membongkar skandal konspirasi yang telah merampas haknya. Topeng, iya topeng untuk menutupi jatidirinya. Dan juga untuk tetap aman meski berada dalam lingkaran musuh-musuhnya.
"Jika kalian memakai topeng untuk menghancurkan ibu dan ayahku. Aku juga akan menggunakan topeng untuk membalaskan dendam ibuku sampai tuntas"
Pangeran muda Syah Hang pun kembali ke tempat Wai Hang yang sedang tertidur dengan lelap.
"Kemana aku harus mencari topeng? Dan topeng seperti apa yang harus kupakai?" otaknya terus berpikir untuk menentukan topeng seperti apa yang akan digunakannya.
"Darimana saja pangeran? Aku tadi sempat mencari-cari anda" Wai Hang duduk sambil mencoba menghidupkan kembali api unggun.
"Aku, mencari angin sebentar" dengan melirik ke Wai Hang.
"Apa anda berkata jujur?"
Dibuatnya menoleh oleh ucapan Wai Hang. Lalu pangeran muda Syah mendekati Wai Hang dan duduk di sisi sebelah kanannya.
"Aku mencari topeng" katanya berbisik pada panglima Wai Hang.
"TOPEENG?" Wai Hang melongo sambil memutar bola matanya.
Wai Hang mencoba mencerna ucapan dari sang pangeran pewaris tahta kerjaannya.