NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Meskipun merasa agak patah semangat mendengar ucapan Betty, Katie berusaha tidak memikirkannya. Ia segera mengarahkan mobilnya ke jalur putar balik dan menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.

"Seandainya saja aku lebih luwes kalau bicara sama laki-laki," gumamnya dalam hati.

Katie tahu, kenyataan tidak bisa diubah hanya dengan sekadar berharap. Meskipun cermin bilang dia sudah langsing, di dalam pikirannya, dia tetap merasa seperti gadis gemuk yang tidak menarik. Setiap kali ada pria yang mencoba berbasa-basi, Katie langsung membeku, menjawab seadanya dengan nada kaku, sampai akhirnya pria itu menyerah dan mencari teman bicara lain.

"Gimana caranya bisa luwes kalau pengalamanku saja nol besar?" ia membatin dengan putus asa.

Katie merasa butuh sosok saudara laki-laki yang bisa memberinya tips jitu soal apa yang disukai dan tidak disukai pria. Tapi dia tidak punya kakak, bahkan sepupu laki-laki pun tidak ada.

Satu-satunya nama yang muncul di kepalanya hanyalah Mark Barrington.

Ia teringat betapa baiknya Mark dulu saat mereka masih sekolah. Tapi, apakah Mark yang sekarang masih punya sisi baik itu? Rasanya kombinasi antara "orang baik" dan "pebisnis sukses" adalah hal yang mustahil. Apalagi Mark adalah orang yang sangat sibuk, kenapa juga dia harus repot-repot mengajari Katie cara menghadapi laki-laki?

"Tapi kan dia butuh tanahku!" pikir Katie tiba-tiba.

Katie sadar bahwa kebutuhannya tidak bertepuk sebelah tangan. Mark sangat menginginkan lahannya untuk ekspansi pabrik. Meskipun sebenarnya Katie berat untuk menjual rumah penuh kenangan itu, ucapan Kathy ada benarnya—egois rasanya jika ia menahan masa lalu sementara banyak orang bisa mendapatkan lapangan kerja jika ia merelakannya.

Sebuah ide gila mendadak muncul di kepalanya.

"Aku bisa tawarkan untuk menjual rumah itu, asalkan dia mau mengajariku cara mencari suami," gumamnya dengan penuh semangat.

Rasa antusias tiba-tiba memenuhi hatinya. Rasanya ide ini patut dicoba. Lagipula, risiko terburuknya hanyalah Mark akan menjawab "tidak".

***

"Sudah reservasi, Pak?" tanya staf resepsionis restoran itu sambil menatap Mark Barrington seolah-olah pria itu adalah menu spesial yang sangat menarik.

"Sudah. Atas nama Barrington," jawab Mark singkat sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran yang ramai, mencari sosok Katie Wilson, tanpa mempedulikan tatapan kagum si staf tadi. "Saya ada janji dengan Nona Wilson."

Mendengar nama wanita lain disebut, sikap staf resepsionis itu langsung berubah jadi sangat formal. "Beliau belum datang. Anda mau langsung ke meja atau menunggu di bar?"

"Langsung ke meja saja," jawab Mark. Ia kemudian mengikuti staf itu menembus keramaian restoran menuju sebuah meja di sudut yang agak privat untuk kapasitas dua orang.

"Terima kasih." Mark duduk menghadap ke arah pintu masuk dan langsung mengecek jam tangannya. Katie bilang mereka akan bertemu jam delapan malam, dan sekarang sudah lewat sedikit dari waktu itu.

Mark mulai bertanya-tanya, apa Katie berubah pikiran? Ia benar-benar berharap tidak. Dia sangat membutuhkan lahan wanita itu sekarang juga. Kebutuhannya akan properti tersebut sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, yang jadi masalah hanyalah apakah Katie bersedia menjualnya atau tidak.

Mark mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. "Apa lagi yang bisa aku tawarkan? Semua orang biasanya menyerah kalau dikasih uang cash, tapi Katie Wilson?" ia bergumam pelan. "Bahkan warisan orang tuanya saja tidak dia sentuh."

"Kenapa dia malah lari ke Afrika untuk kerja sosial?" Mark mendengus, teringat laporan Hodkins. "Dia benar-benar beda dari wanita lain yang cuma peduli diri sendiri."

Mark menyandarkan punggungnya, lalu tersenyum tipis saat ingatan lama muncul. "Dulu dia cuma anak kecil yang nangis sambil meluk boneka kusam itu," batinnya. "Waktu aku usir anak-anak nakal yang merundungnya..."

Ekspresinya mendadak mengeras. "Dunia ini jahat, Katie. Kamu diejek karena fisikmu, dan aku... aku hancur karena ibuku pemabuk. Tapi tenang saja, hari pembalasan untuk pria itu sudah dekat."

Tiba-tiba, Mark berhenti bergerak. Matanya terpaku pada pintu masuk. Seorang wanita berambut merah baru saja melangkah masuk ke restoran.

"Katie?" Mark terpana, ada rasa bangga yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. "Dia tumbuh jadi wanita yang luar biasa. Gaun hijau zamrud itu... melekat sempurna di lekuk tubuhnya yang ramping."

Mark Barrington berusaha keras menahan gejolak dalam dirinya saat ia berdiri untuk menyambut Katie Wilson. Ia terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Katie adalah teman lama, bukan wanita yang seharusnya ia pandang dengan cara seperti itu.

Sementara itu, Katie merasa tegang saat melihat ekspresi Mark. "Apa aku mengganggu jadwalnya ya? Mungkin dia punya janji kencan lain malam ini?" batinnya gelisah. Namun, ia tahu Mark bukan orang yang akan ragu untuk bicara jujur jika memang merasa terganggu.

"Selamat malam, Katie," sapa Mark sambil menarikkan kursi untuknya.

"Terima kasih," jawab Katie singkat sambil duduk.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka. "Mau pesan minum apa, Kak?".

Mark menoleh ke arah Katie. "Kamu mau pesan apa?".

"Es teh manis saja," jawab Katie. Ia sedang sangat gugup dengan rencana gila yang akan ia sampaikan, dan alkohol hanya akan mengacaukan pikirannya.

Alis Mark terangkat mendengar pilihan minum Katie yang sangat sederhana untuk restoran seperti ini, tapi ia tidak berkomentar apa-apa. "Saya pesan Scotch, pakai air saja," ucap Mark pada pelayan.

Begitu pelayan itu pergi, Mark langsung menatap Katie dengan tajam. "Pesan yang kamu tinggalkan bilang kalau kamu mau membahas penawaranku. Jadi, bagaimana?".

Katie tersenyum kecut dalam hati. Mark Barrington benar-benar tidak berubah—selalu to the point dan tanpa basa-basi.

"Benar-benar langsung ke inti masalah ya," gumam Katie pelan sambil menatap pria di depannya, bertanya-tanya apakah dalam urusan cinta Mark juga akan secepat dan seberani ini dalam bertindak.

Pikiran Katie Wilson mulai melantur liar. Apakah Mark akan jadi tipe pria yang hanya peduli pada kepuasan fisik tanpa perlu banyak bicara? Apakah dia akan...

"Stop!" Katie membatin, memaksa imajinasinya berhenti. Bukan urusannya seperti apa Mark Barrington di tempat tidur. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak tertarik pada hubungan singkat, dan ia sangat yakin hubungan semacam itu dengan Mark hanya akan jadi bencana. Setidaknya bagi Katie.

Ia tidak butuh Betty untuk memberitahunya bahwa Mark bukan tipe pria yang tertarik pada pernikahan. Hal itu terpampang nyata di wajahnya. Bisnis adalah cinta pertama Mark, dan wanita? Wanita pasti hanya jadi prioritas kesekian.

"Ini pesanannya," suara ceria seorang pelayan yang mengantarkan minuman memutus lamunan Katie.

Begitu pelayan itu pergi, Mark kembali mendesak. "Jadi, tadi kamu mau bilang apa?"

"Aku nggak bilang apa-apa. Kamu saja yang terlalu menuntut," balas Katie defensif.

"Kamu yang minta aku menemuimu di sini, kan? Ada apa?" tanya Mark lagi.

Katie menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia sudah menduga reaksi pertama Mark pasti akan negatif. Sambil menelan ludah, ia memperhatikan garis rahang Mark yang tercukur rapi. Pasti sangat negatif, pikirnya cemas.

Itulah alasan kenapa Katie memintanya bertemu di tempat umum. Katie yakin, seberapa pun buruknya perasaan Mark soal tawarannya nanti, dia tidak akan berteriak di tempat ramai seperti ini. Mark juga tidak mungkin langsung berdiri dan pergi begitu saja. Di sini, Katie punya kesempatan agar Mark mau mempertimbangkan tawarannya secara serius, bukan langsung menolaknya mentah-mentah.

Mark mengamati perubahan emosi yang lewat di wajah Katie. Dia terlihat sangat gugup, yang artinya Mark mungkin juga harus mulai merasa waspada.

"Langsung saja, katakan apa maumu," perintah Mark tegas.

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!