Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Samping Sebuah Kunjungan
Pagi hari di Sektor Tujuh biasanya dimulai dengan dengungan rendah dari mesin pembersih otomatis yang menyisir trotoar, namun bagi Arthur, pagi ini dimulai dengan firasat buruk. Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar mandinya, merapikan kerah seragam sekolahnya yang sedikit miring. Ia menatap pantulan dirinya seorang bocah dengan mata jernih dan pipi yang masih kemerahan.
"Kau tampak sangat normal, Arthur," bisiknya pada bayangan di cermin. "Tetaplah seperti itu. Jangan biarkan insiden helikopter kemarin menghancurkan kedamaianmu."
Namun, begitu ia melangkah keluar dari apartemen, Arthur menyadari bahwa harapannya untuk tetap anonim telah hancur berkeping keping. Di depan gerbang kompleks, beberapa orang dewasa yang tampaknya adalah jurnalis amatir atau pemburu konten media sosial terlihat sedang berkumpul. Mereka memegang kamera mikro dan drone pengintai, menunggu siapa pun yang keluar dari gedung itu.
Arthur segera menarik tudung jaketnya rendah-rendah. Ia menyelinap melalui celah sempit di pagar belakang, melompati selokan kecil dengan gerakan yang sangat ringan hingga tidak menimbulkan suara air setetes pun. Ia menggunakan rute tikus, melewati gang-gang sempit yang dipenuhi pipa uap dan kabel-kabel optik yang menjuntai.
Butuh waktu lima belas menit ekstra baginya untuk sampai ke sekolah tanpa terdeteksi. Namun, masalah sebenarnya bukan di luar sekolah, melainkan di dalam gerbang institusi pendidikan tersebut.
Begitu Arthur menginjakkan kaki di halaman sekolah, suasana mendadak sunyi. Sekelompok anak kelas lima yang biasanya sibuk bermain bola gravitasi berhenti seketika. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Bisikan-bisikan mulai merayap di udara seperti sekumpulan lebah yang terusik.
"Itu dia... anak yang dijemput Valerius kemarin."
"Kenapa pahlawan peringkat satu mau menemuinya?"
"Kudengar dia adalah kerabat rahasia keluarga emas!"
Arthur mengabaikan semuanya. Ia berjalan dengan wajah datar, menatap lurus ke depan seolah olah ia sedang melewati padang rumput yang kosong. Namun, di dalam hatinya, ia sedang mengutuk Valerius dengan ribuan bahasa kuno yang bisa membuat bintang meledak. Pria berbaju emas itu benar-benar tidak tahu cara melakukan negosiasi tanpa membuat keributan.
Saat Arthur sampai di mejanya, Mia sudah menunggu dengan wajah yang tampak seperti akan meledak karena rasa ingin tahu. Gadis itu tidak membiarkan Arthur menaruh tasnya dengan benar sebelum memulai interogasinya.
"Arthur! Jelaskan sekarang!" tuntut Mia sambil menggebrak meja dengan pelan. "Kenapa kau bisa naik helikopter Valerius? Seisi sekolah membicarakan mu sejak kemarin sore! Bahkan Bu Hera ditanyai oleh kepala sekolah tentang latar belakang keluargamu!"
Arthur duduk dengan tenang, mengeluarkan buku catatannya. "Dia hanya salah paham, Mia. Paman itu mengira aku adalah keponakan dari salah satu temannya. Setelah sadar dia salah orang, dia menurunkan ku di pinggir jalan dan memberiku susu sebagai permintaan maaf. Itu saja."
Mia menyipitkan matanya, menatap Arthur dengan sangat teliti. "Salah orang? Seorang pahlawan peringkat satu dengan sistem sensor tercanggih di dunia bisa salah orang? Dan kenapa dia harus membawamu naik helikopter hanya untuk memeriksa wajahmu?"
"Pahlawan juga manusia, Mia. Mereka sering melakukan hal bodoh karena terlalu banyak bekerja," jawab Arthur santai, sambil mulai mencoret coret bukunya.
Mia tampak tidak puas dengan jawaban itu, tapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, suasana kelas kembali terusik oleh kehadiran tamu tak diundang. Bukan Valerius kali ini, melainkan seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas abu-abu rapi dengan lencana GDC di kerahnya.
"Selamat pagi, anak-anak," ujar Bu Hera yang masuk ke kelas dengan wajah tampak tegang. "Hari ini kita kedatangan tamu dari Divisi Pendidikan GDC. Beliau adalah Tuan Silas. Beliau ingin melakukan wawancara singkat terkait... insiden keselamatan kemarin."
Arthur membeku sesaat. Ia mengenali frekuensi energi pria itu. Silas. Pria yang semalam mengawasinya dengan sensor tipe X. Arthur tidak menyangka pria itu akan bertindak secepat ini dengan masuk ke lingkungan sekolah.
Silas berjalan ke tengah kelas dengan langkah yang terukur. Matanya yang tajam memindai setiap wajah anak di sana, hingga akhirnya berhenti tepat pada Arthur. Ada senyum tipis di wajah Silas senyum seorang pemburu yang merasa telah menemukan jejak mangsanya.
"Jangan tegang, anak-anak," suara Silas terdengar halus namun memiliki otoritas yang kuat. "Kami hanya ingin memastikan bahwa protokol keamanan sekolah berfungsi dengan baik saat serangan monster kemarin terjadi. Arthur, bolehkah aku berbincang denganmu sebentar di kantor kepala sekolah?"
Seluruh kelas kembali berbisik. Mia menatap Arthur dengan cemas, sementara Arthur hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Tikus investigasi ini sangat gigih, pikirnya.
Arthur bangkit dari kursinya. "Baik, Tuan."
Di kantor kepala sekolah yang berdinding kaca tebal, Silas duduk di hadapan Arthur. Ia meletakkan sebuah perangkat tablet transparan di atas meja, menampilkan data grafik yang rumit. Kepala sekolah sendiri sudah diminta keluar, menyisakan mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan.
"Kau anak yang sangat tenang, Arthur," buka Silas sambil mengetuk ngetuk meja. "Biasanya, anak seusiamu akan menangis atau berteriak kegirangan jika dijemput oleh Valerius. Tapi kau? Kau justru terlihat bosan di rekaman drone pemantau kami."
"Aku hanya bingung, Tuan. Helikopter itu sangat berisik," jawab Arthur dengan suara bocah yang dibuat selugu mungkin.
Silas terkekeh, namun matanya tetap dingin. "Mari kita berhenti bermain sandiwara. Aku sudah memeriksa latar belakangmu. Kau muncul di panti asuhan tujuh tahun lalu tanpa catatan medis, tanpa nama orang tua, tepat di malam hujan meteor paling besar dalam sejarah. Sangat misterius, bukan?"
Arthur tetap diam, menatap ujung sepatunya.
"Dan kemarin," lanjut Silas, suaranya merendah menjadi bisikan. "Satelit kami menangkap sesuatu yang tidak mungkin. Tekanan gravitasi yang muncul di Sektor Tujuh bukan berasal dari pedang Valerius. Itu berasal dari satu titik koordinat di mana kau berdiri. Katakan padaku, Arthur... bagaimana cara seorang bocah bisa memiliki massa yang setara dengan benda langit?"
Arthur perlahan mengangkat wajahnya. Ekspresi lugunya memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang membuat Silas secara tidak sadar menarik punggungnya menjauh dari meja. Ruangan itu mendadak terasa hampa udara, seolah olah gravitasi di dalam kantor tersebut baru saja berlipat ganda.
"Tuan Silas," ucap Arthur, suaranya kini terdengar sangat berat dan penuh tekanan. "Dunia ini sangat rapuh. Kau sedang berjalan di atas jembatan kaca yang sangat tipis, dan kau baru saja mencoba mengetuknya dengan palu. Apakah kau benar-benar ingin tahu apa yang ada di bawah jembatan itu?"
Silas merasa jantungnya berdenyut kencang. Ia ingin berteriak memanggil pengawal di luar, namun mulutnya seolah terkunci oleh kekuatan yang tak terlihat. Ia bisa melihat bayangan raksasa di belakang tubuh mungil Arthur sesuatu yang sangat besar, sangat kuno, dan sangat mengerikan.
"Jika kau terus menyelidiki," lanjut Arthur, tekanan di ruangan itu perlahan mulai mengendur. "Kau tidak akan menemukan jawaban yang kau cari. Kau hanya akan menemukan kehancuran bagi dirimu sendiri dan organisasi yang kau banggakan. Beritahu dewanmu bahwa Valerius adalah pahlawanmu. Fokuslah padanya. Biarkan anak kecil di sudut kota ini tetap menjadi anak kecil."
Arthur berdiri dari kursi, kembali memasang wajah polosnya dalam sekejap. "Bolehkah aku kembali ke kelas sekarang? Aku tidak ingin ketinggalan pelajaran matematika."
Silas tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk pelan dengan tangan yang gemetar hebat di bawah meja. Ia melihat Arthur keluar dari ruangan dengan santai, meninggalkan dirinya yang masih berusaha mencari oksigen untuk paru parunya.
Begitu sampai di koridor, Arthur bertemu dengan Valerius yang tampaknya baru saja tiba dengan terburu-buru. Valerius tampak panik melihat Arthur keluar dari ruang kepala sekolah bersama Silas.
"Arthur! Apa yang terjadi? Silas... dia menanyakan sesuatu padamu?" bisik Valerius dengan cemas saat mereka berpapasan di tikungan sepi.
"Dia tahu terlalu banyak, Valerius," jawab Arthur tanpa menghentikan langkahnya. "Urus dia. Pastikan dia tidak mengirim laporan apa pun ke dewan pusat. Jika dia melakukannya, aku tidak akan menjamin keselamatan markas besar GDC besok pagi."
Valerius menelan ludah, melihat Arthur kembali ke kelas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia kemudian menatap Silas yang keluar dari kantor kepala sekolah dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Valerius tahu, ia harus bertindak cepat. Jika Silas membocorkan ini, ia tidak hanya akan kehilangan reputasinya, tapi dunia mungkin akan menghadapi kiamat dari seorang bocah yang sedang marah.
Sementara itu, di sebuah dimensi yang jauh melampaui jangkauan manusia, para Architects tengah berkumpul. Mereka menatap sebuah cermin raksasa yang menampilkan planet Bumi.
"Salah satu dari utusan kita telah dihapus," suara berat bergema di ruang hampa. "Bukan oleh pahlawan mereka, tapi oleh sebuah anomali. Hukum alam semesta di planet itu sedang dimainkan oleh kekuatan yang sangat kita kenal."
"Kaisar Langit?" suara lain menyahut dengan nada tidak percaya. "Mustahil. Dia sudah lama menghilang ke dalam siklus reinkarnasi."
"Kita akan mengirimkan Pembersih yang sebenarnya," ujar sang pemimpin. "Jika dia benar-benar ada di sana dalam tubuh yang lemah, inilah saatnya untuk mengakhiri ancamannya selamanya. Siapkan armada tingkat galaksi."
Arthur duduk kembali di bangkunya, membuka buku matematikanya dengan tenang. Mia menatapnya dengan penuh tanya, namun Arthur hanya tersenyum tipis. Ia bisa merasakan bahwa di suatu tempat yang sangat jauh, musuh-musuh lama dari masa lalunya mulai bergerak.
Datanglah, batin Arthur sambil menuliskan angka di bukunya. Tapi jangan harap kalian bisa menggangguku sebelum aku menyelesaikan ujian tengah semester ini.
Arthur tahu bahwa kedamaiannya kini memiliki batas waktu. Silas hanyalah gangguan kecil, tapi apa yang akan datang dari langit adalah sesuatu yang berbeda. Namun, untuk saat ini, masalah terbesarnya adalah: bagaimana cara menjelaskan pada Clara kenapa ada seorang pahlawan peringkat satu yang terus-menerus mengirimkan susu stroberi ke apartemen mereka setiap hari.