NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

"Ono opo maneh kon, esuk-esuk rai wes ditekuk ngono?" tanya Hana saat tiba di HK office dan melihat raut murung sang sahabat. (Ada apa lagi kamu tuh, pagi-pagi muka udah ditekuk gitu?)

Rea tak menjawab pertanyaan Hana, ia justru sibuk merapikan tatanan rambutnya di depan cermin sebelum mulai briefing.

"Masalah ipar kon maneh ta?" (Masalah kakak ipar kamu lagi, ya?)

Rea tetap diam. Kali ini ia menilik seragam hitam yang ia kenakan. Mencari bagian mana yang perlu dirapikan. Sebelum memulai pekerjaan, semua staf harus memastikan jika penampilan mereka sudah benar-benar bersih dan rapi.

"Gemes aku karo ipar kon ku, pengen ae tak kucir lambene." (Gemes aku sama ipar kamu itu, pengen banget aku kucir mulutnya.) Hana sering mendengar cerita tentang kakak ipar Rea yang selalu ngomel dan memarahi Rea perihal uang. Karenanya ia tahu benar apa yang Rea rasakan.

Memang benar, pagi tadi Rea sudah ditelepon lagi oleh Tatik yang menanyakan apakah uangnya sudah ada atau belum. Katanya tetangga yang mau mengantar berobat sudah tanya terus.

Rea memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Hana. "Kamu nggak usah ikut pusing mikirin masalahku. Cukup aku aja yang pusing, pokoknya kamu harus selalu sehat biar bisa traktir aku terus."

Hana ngelag sebentar, baru sedetik kemudian ia tertawa, diikuti tawa Rea karena loading temennya terlalu lambat. Sampai sebuah suara tepuk tangan membuat mereka bergegas meninggalkan loker mereka masing-masing.

Semua staf housekeeping berkumpul untuk menerima arahan dari supervisor mereka tentang kerja-kerja yang harus mereka lakukan hari ini.

"Baiklah selamat pagi semuanya, salam sehat untuk kita semua." Bayu menyapa semua anak buah di bawah departemennya.

Seperti biasa ia memberikan arahan dan semangat untuk semua staf agar bekerja dengan baik dan semaksimal mungkin. Jangan sampai ada kesalahan yang akan merugiakan mereka sendiri.

Sebelum bubar, mereka mengucapkan yel-yel penyemangat untuk kelancaran hari mereka hari ini.

"Ok, sekarang semua stand by di floor masing-masing, go ... go ... go!" ujar Bayu.

Semua semangat meninggalkan HK office menuju lantai masing-masing. Hanya Rea yang terlihat tak begitu bahagia. Ia masih ada di lantai yang sama seperti kemarin.

"Semangat, semoga hari ini banyak tip," goda Hana sebelum mereka berpisah di lift.

Hana pikir Rea murung karena masalah kakak iparnya yang selalu merong-rong gadis itu untuk meminta uang. Padahal Rea sedikit murung karena masih teringat kejadian kemarin. Dalam hatinya ia masih canggung jika bertemu lagi dengan tamu hotel kemarin.

Rea menarik napas dalam, meyakinkan diri semua akan baik-baik saja. "Lupakan yang kemarin, Rea. Kamu tidak pernah melihat apa pun!"

Rea berjalan seperti biasa menuju kamar yang menjadi tujuannya. Ia bahkan berdehem pelan untuk mengatur suaranya.

"Permisi, housekeeping," ujar Rea sembari mengetuk pintu. Dalam hati Rea berharap tamunya sudah pergi atau justru masih tidur dan tak membutuhkan layanan kamar darinya.

Tak ada jawaban. Rea kembali mengetuk pintu kamar. "Permisi, housekeeping."

"Ya, masuk."

Jawaban dari dalam membuat Rea lemas seketika. Yang ia harapkan tak terjadi. Mau tak mau, Rea membuka pintu kamar sang artis.

"Permisi, boleh saya bersihkan kamarnya?" ujar Rea dengan suara tak senyaring biasanya. Ia sedang menyembunyikan rasa gugupnya. Jujur ia tak siap berhadapan dengan pria ini lagi setelah kejadian kemarin. Tapi ia tak punya pilihan, sebab tuntutan pekerjaan.

"Hmmm," jawab Dewa yang sibuk dengan ponsel di sofa.

Setelah mendapat persetujuan, Rea mulai melakukan tugasnya. Ia buka pintu kamar dan mengganjalnya agar tak tertutup. Lalu mendorong trolinya ke depan pintu kamar. Ia mulai dengan membuka semua gorden agar sinar matahari bisa masuk. Mengambil semua sampah di meja, di sinilah, degup jantung Rea mulai berdetak tak karuan. Ia sudah berusaha mengabaikan keberadaan sang artis yang sedang duduk di sofa, tapi nyatanya tak semudah itu.

"Ganti seprainya sekalian," ujar Dewa tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel.

"Baik, Bapak."

Rea lanjut menarik seprai untuk mengganti yang baru sesuai permintaan tamu. Lalu lanjut ke kamar mandi, untuk membersihkan tempat itu. Namun, baru juga masuk Rea menemukan dompet yang ada di atas wastafel.

"Permisi, ini dompet Bapak tertinggal di wastafel." Rea mengulurkan dompet kulit berwarna hitam.

Dewa yang sejak tadi sibuk dengan layar ponselnya, mendongak. Menatap Rea yang mengulurkan dompet miliknya. "Taruh saja di meja."

Rea melakukan apa yang pria itu perintahkan. Ia segera kembali ke kamar mandi, melanjutkan membersihkan sampah di sana. Menuang cairan desinfektan, dan sembari menunggu cairan itu bekerja, Rea masuk ke kamar. Mengganti seprai baru.

Awalnya semua berjalan biasa saja, Rea mulai bisa menguasai rasa gugupnya. Lagi pula untuk apa Rea memikirkan hal-hal yang bisa jadi orang lain sudah melupakannya. Sampai saat Rea selesai mengganti seprai dan pria itu tiba-tiba membuka suara. "Kamu sudah menikah?"

Mata Rea membola dengan pertanyaan itu, tapi segera berusaha menguasai diri. "Belum, Pak. Maaf, apa Bapak mau saya tambahkan bantal satu lagi?"

Rea berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tidak perlu."

"Baik, kalau begitu saya lanjut bekerja." Senyum Rea tersungging ramah. Ia lanjut ke kamar mandi, mengganti handuk baru dan perlengkapan mandi baru. Lalu membersihkan kamar mandi sampai selesai. Semua ia kerjakan sesingkat mungkin, sebab takut mengganggu kenyamanan tamu jika ia terlalu lama berada di dalam kamar.

Ia kembali dikejutkan dengan keberadaan Dewa yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Bapak mau menggunakan kamar mandinya? Silakan, saya sudah selesai membersihkannya." Rea hampir melangkah keluar, tapi Dewa menahannya.

"Bisa kita bicara sebentar?"

"Maaf, Bapak, tidak bisa. Saya masih harus lanjut bekerja," tolak Rea dengan halus. Sesuai standar pekerjaannya, ia dilarang mengobrol dengan tamu jika bukan menyangkut urusan kamar hotel.

Dewa sudah menebak penolakan ini, karenanya ia sudah menyiapkan selembar kertas yang ia tulis tadi. "Aku tunggu jam 8."

Rea menerima kertas yang Dewa berikan tanpa membukanya. "Permisi, Pak."

*****

Siang ini Dewa masih harus menyelesaikan syuting produk skin care milik Galih. Ditemani Luky semua proses syuting berjalan lancar.

"Wa, lo udah lihat berita terbaru soal lo?" tanya Luky di tengah break syuting.

"Paling hoak lagi," jawab Dewa santai. Ia menyeruput es cappucino yang tadi fi pesan oleh Luky.

"Kali ini gila banget, Wa, beritanya. Mami lo aja udah nelp gue berkali-kali. Katanya handphone lo nggak aktif."

"Udah biarin aja, makin ditanggepin makin seneng mereka entar bikin berita ngawur."

"Tapi nyokap lo tetep harus dikasih paham, Wa. Lo masih inget kan, nyokap lo anfal kemarin gara-gara berita ini juga."

Dewa masih saja santai menikmati kopi dinginnya. Berbeda dengan Luky yang mulai putar otak untuk menyelesaikan skandal sang artis.

"Kayaknya emang bener deh, Wa, omongan nyokap lo. Lo nikah aja, biar skandal ini lama-lama menghilang sendiri."

Kali ini Dewa menatap serius ke arah managernya. Hanya sekilas, lalu kembali pada kopi dinginnya.

"Tapj gue belum nemu, cewek yang mau nikah pura-pura sama lo." Luky tahu benar apa yang Dewa inginkan.

Pria itu tidak pernah berencana menikah, sebab ia tak percaya dengan pernikahan. Tapi, pernikahan adalah jalan satu-satunya, untuk membuat nama baik Dewa kembali baik setelah skandal yang menghebohkan kemarin.

"Wa, lo denger gue, kan?"

Dewa tak menanggapi. Ia seruput habis kopi dingin dalam cup, lalu meninggalkannya begitu saja bersama dengan Luky yang pusing sendiri memikirkan masalah sang artis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!