NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah Evelyn

Evelyn melangkah keluar dari kamar dengan tenang.

Gaun biru selutut tanpa lengan yang ia kenakan tampak sederhana, namun justru mempertegas kecantikannya yang selama ini tersembunyi. Flat shoes hitam membuat langkahnya ringan, sementara rambut yang disanggul rapi dengan beberapa helai yang jatuh di sisi wajahnya memberi kesan anggun—lembut, tapi tidak rapuh.

Di belakangnya, Kelly mengikuti dengan senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

Mereka berjalan melewati lorong panjang rumah itu.

Namun seperti biasa— ketenangan itu tidak bertahan lama.

Bisik-bisik para pelayan mulai terdengar.

“Tumben sekali Nona Evelyn keluar dari kamarnya…”

“Iya, mau ke mana itu dia kira-kira?”

“Paling cuma keliling… memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan?”

Langkah Evelyn terhenti. Suasana seketika menegang.

Dulu…ia akan menunduk. Berpura-pura tidak mendengar. Atau diam-diam menahan air mata yang jatuh begitu saja. Namun sekarang—

berbeda.

Perlahan, Evelyn menoleh. Tatapannya tajam. Dingin. Menusuk tanpa perlu sepatah kata pun.

Para pelayan yang tadi berbisik langsung membeku di tempat. Wajah mereka pucat, napas tertahan, seolah baru saja melakukan kesalahan besar.

Untuk pertama kalinya— mereka melihat sisi lain dari Evelyn. Bukan gadis lemah yang mudah diremehkan. Melainkan seseorang… yang membuat mereka merasa tidak nyaman hanya dengan satu tatapan.

Tak butuh waktu lama. Para pelayan itu segera menunduk dan pergi dengan langkah tergesa.

Kelly yang melihat itu tampak terkejut. Ia menatap Evelyn Valencia dengan sedikit tak percaya.

“Nona…” bisiknya pelan, antara kagum dan bingung.

Namun Evelyn hanya mengalihkan pandangannya ke depan. Ekspresinya kembali tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Tidak semua hal harus aku diamkan lagi…” gumamnya lirih.

Langkahnya kembali berlanjut. Kali ini lebih mantap. Karena ia sadar— jika ia ingin mengubah takdirnya…maka ia harus mulai dari hal-hal kecil. Termasuk… tidak lagi membiarkan dirinya diinjak-injak.

Udara pagi terasa segar saat Evelyn melangkah ke taman.

Ia menarik napas dalam-dalam—perlahan, seolah ingin memenuhi paru-parunya dengan kehidupan yang sempat hilang. Lalu, tanpa sadar, ia berlari kecil di antara jalan setapak, gaun birunya bergoyang mengikuti langkahnya.

Angin menyentuh wajahnya.

Untuk sesaat… ia benar-benar merasa bebas.

Namun tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih mulai terasa lelah. Napasnya sedikit terengah, langkahnya melambat, hingga akhirnya ia berhenti di bawah sebuah pohon besar.

Evelyn duduk di atas rerumputan. Bersandar. Matanya terpejam sejenak, menikmati ketenangan itu. Namun—

tiba-tiba… sebuah ingatan muncul. Jelas. Terlalu jelas.

Matanya terbuka perlahan. Ia menoleh ke batang pohon di belakangnya. Tempat ini…

Dadanya terasa sesak.

Ini adalah tempat pertama kali Cristian Noah Alexander memeluknya.

Ingatan itu berputar kembali. Saat itu… ia sedang menangis. Kata-kata kasar dari kakaknya masih terngiang di telinganya, membuatnya merasa kecil… tidak berharga… seolah keberadaannya hanyalah kesalahan.

Ia berlari ke taman. Duduk sendiri. Menangis tanpa suara di bawah pohon ini. Dan kemudian— langkah kaki itu datang.

Pelan… namun pasti. Ia mengangkat wajahnya dengan mata yang basah.

Di sana berdiri Cristian Noah Alexander—masih dengan penampilan sebagai sopir, dengan tatapan yang saat itu terasa… hangat.

Tanpa banyak bicara, pria itu mendekat. Tangannya terulur. Mengusap air mata di pipinya. Gerakannya lembut. Berbeda dengan siapa pun yang pernah memperlakukannya.

“Tidak perlu menangis untuk mereka,” ucapnya pelan saat itu.

Dan sebelum Evelyn sempat memahami— ia ditarik ke dalam pelukan.

Hangat. Aneh… namun menenangkan.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memeluknya… tanpa rasa merendahkan. Tanpa syarat. Tanpa kebencian.

---

Evelyn tersentak dari ingatannya. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri.

Hangat itu… masih terasa.

Namun kini— semua itu berubah menjadi sesuatu yang membingungkan.

“Kenapa…?” bisiknya pelan.

Bagaimana mungkin seseorang yang mampu bersikap selembut itu… juga bisa menjadi orang yang sama yang mengakhiri segalanya dengan begitu kejam?

Matanya menatap kosong ke depan.

Jika semua itu hanya akting— maka pria itu terlalu sempurna dalam berbohong.

Namun jika itu bukan akting... maka— ada sesuatu yang belum ia pahami. Tentang Cristian Noah Alexander. Dan mungkin... tentang alasan di balik semua yang terjadi.

Kelly yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Nona… apa sebaiknya kita akhiri saja jalan-jalannya? Anda terlihat gelisah.”

Evelyn tersentak pelan dari lamunannya. Ia mengangguk tanpa banyak bicara.

“Iya… kita kembali saja.”

Kelly segera membantunya berdiri, tangannya menopang dengan hati-hati seolah takut Evelyn akan kembali lemas. Mereka berjalan perlahan meninggalkan taman.

Namun— langkah Evelyn kembali terhenti.

Sebuah mobil hitam mewah baru saja memasuki halaman. Matanya menyipit.

“Kenapa…?” gumamnya pelan.

Ini masih pukul 10 pagi. Seharusnya ayahnya berada di kantor.

Pintu mobil terbuka. Keluar seorang pria paruh baya dengan aura tegas dan dingin—Alberto Chaplin.

Usianya 55 tahun, namun wibawanya masih terasa kuat. Jasnya rapi, langkahnya mantap, dan tatapannya tajam seolah selalu menilai segala sesuatu di sekitarnya.

Di belakangnya, empat pengawal berbaju hitam turun bersamaan.

Rapi. Seragam. Siaga.

Pemandangan itu membuat suasana halaman yang semula tenang mendadak terasa menekan.

Evelyn menahan napas. Ada yang tidak beres. Ia mengenal ayahnya.

Jika pria itu pulang sepagi ini dengan pengawal lengkap seperti itu—

berarti sesuatu telah terjadi.

Tangannya tanpa sadar mengepal. Ingatan tentang masa depan kembali berkelebat.

“Jangan bilang…” bisiknya hampir tak terdengar.

Kelly menatapnya bingung. “Nona?”

Namun Evelyn tidak menjawab. Tatapannya terkunci pada sosok Alberto Chaplin yang kini berjalan masuk dengan wajah serius.

Untuk pertama kalinya— ia mulai merasa bahwa permainan ini mungkin sudah dimulai… lebih cepat dari yang ia kira.

Evelyn melangkah satu langkah maju… lalu berhenti.

Matanya masih tertuju pada Alberto Chaplin yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah tegang. Keempat pengawal itu tetap mengikutinya dari belakang, membuat suasana semakin terasa tidak biasa.

“Apa aku harus langsung bertanya…?” gumamnya pelan.

Namun keraguan segera muncul.

Selama ini… hubungannya dengan ayahnya hampir tidak ada.

Ia bukan anak yang akan dipanggil untuk diajak bicara. Bahkan, ia sendiri tidak pernah berani membuka percakapan lebih dulu kecuali jika ditanya.

Jadi kalau sekarang— ia tiba-tiba mendekat… dan bertanya…

Evelyn menggigit bibirnya.

“Pasti terlihat aneh…” bisiknya. Sangat aneh. Bahkan bisa mencurigakan. Apalagi jika benar ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya.

Di sampingnya, Kelly memperhatikan dengan hati-hati.

“Nona…?” panggilnya pelan.

Evelyn menunduk sedikit, pikirannya berputar cepat.

Jika ia terlalu mencolok sekarang… ia bisa menarik perhatian yang tidak perlu. Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya.

Namun di sisi lain— ini juga kesempatan.

Evelyn menarik napas dalam. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kalau aku bertanya langsung… itu bodoh,” gumamnya.

Matanya kembali tajam.

“Tapi… bukan berarti aku tidak bisa mencari tahu.”

Ia menoleh ke arah Kelly.

“Kelly, biasanya kalau Ayah pulang mendadak seperti ini… dia langsung ke mana?” tanyanya tenang.

Ia tidak akan gegabah. Kali ini— Evelyn akan bermain lebih cerdas. Bukan sebagai anak yang diabaikan…

tapi sebagai seseorang yang diam-diam mengamati segalanya.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!