NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5.Tawaran Teh Hangat dan Mata yang Mengingat

     ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Perjalanan terasa begitu singkat dan penuh warna. Sepanjang jalan, suasana di dalam mobil sangat hidup berkat celoteh lucu Shuka yang tak henti-henti. Bocah kecil itu seolah tidak merasa canggung sama sekali dengan Gus Aqlan, malah terus bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tentang mainan barunya, hingga bertanya macam-macam tentang pesantren dan Mesir.

Gus Aqlan pun menjawab dengan sabar dan lembut, sesekali melirik ke kaca spion melihat Aisyah yang duduk di sampingnya sedang tersenyum mendengar percakapan mereka. Hati Aisyah terasa sangat hangat dan damai. Rasanya seperti sudah lama mengenal pria di sampingnya ini, meski sebenarnya mereka baru dekat beberapa hari ini.

Tak terasa, mobil hitam yang dikendarai Gus Aqlan sudah memasuki gerbang perumahan dan berhenti tepat di halaman rumah Aisyah yang luas, tertata rapi, dan sangat asri dengan banyaknya tanaman hijau.

Aisyah segera turun dan membukakan pintu belakang untuk Shuka. Setelah memastikan adiknya turun dengan aman dan memegang tasnya sendiri, dia berjalan mendekat ke sisi pengemudi di mana Gus Aqlan masih duduk.

"Makasih banyak ya, Gus Aqlan," ucap Aisyah dengan tulus, wajahnya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. Matanya menatap manik mata Gus Aqlan. "Kalau bukan karena bapak , saya dan Shuka pasti kepanasan dan kesulitan di jalan. Belum lagi harus cari bensin atau tunggu kendaraan lain yang nggak jelas ada atau nggaknya."

"Sama-sama, Nona Aisyah. Tidak perlu memikirkan hal itu," jawab Gus Aqlan sambil tersenyum sopan, tangannya sedikit membetulkan letak sorbannya yang tetap terlihat rapi meski sudah seharian beraktivitas. "Sudah menjadi kewajiban sesama muslim dan dosen untuk saling tolong-menolong. Lagian, jalan ini juga searah dengan rumah saya."

"Ya tetap saja, pak sudah repot. Mending bapak mampir dulu ke dalam minum dulu, sekadar teh hangat atau air putih. Kasihan kan sudah jauh mengantar kami, pasti lelah dan haus," bujuk Aisyah lembut, dia benar-benar merasa berhutang budi.

Gus Aqlan menggelap pelan dengan senyum tetap terukir di bibirnya. "Lain waktu saja ya, insya Allah. Sekarang saya harus segera kembali untuk persiapan keberangkatan ke Kairo nanti. Banyak hal yang harus dirapikan. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumsalam," jawab Aisyah pelan, sedikit kecewa namun mengerti.

Gus Aqlan pun memutar setir mobilnya, meninggalkan halaman rumah itu dengan perlahan. Aisyah masih berdiri di teras sambil melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan, baru kemudian dia masuk ke dalam rumah bersama Shuka yang sudah berlari duluan.

Di dalam rumah, ternyata Papa Arya sudah pulang lebih awal. Urusan kantor hari ini selesai lebih cepat, jadi dia memutuskan untuk istirahat di rumah. Saat ini, dia sedang duduk santai di ruang tamu sambil membaca koran dan menikmati secangkir kopi, ketika mendengar suara mobil masuk dan keluar dari halaman.

Tatkala mobil hitam yang dikendarai Gus Aqlan melintas perlahan tepat di depan jendela ruang tengah, mata Papa Arya seketika terbelalak. Koran di tangannya langsung diletakkan di meja dengan kasar. Dia berjalan cepat mendekat ke pintu kaca, mencoba memperhatikan dengan seksama bagian belakang mobil yang mulai menjauh, mencoba mengingat plat nomor dan bentuknya.

"Plat nomornya... bentuk mobilnya... kok terasa sangat familiar sekali?" batin Papa Arya, alisnya terangkat penuh tanda tanya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha keras mengorek ingatannya.

Ada rasa penasaran yang menggelitik di hatinya. Wajah pengemudi yang sempat terlihat sekilas, serta gaya berpakaiannya yang khas menggunakan sorban dan busana rapi, mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia hormati dari masa lalu, dari sebuah keluarga besar kiyai yang pernah sangat dekat dengan keluarganya dulu.

Belum sempat Papa Arya berpikir lebih jauh, Aisyah dan Shuka masuk ke dalam rumah.

"Assalamu’alaikum..." sapa Aisyah pelan.

"Wa’alaikumsalam. Eh, sudah pulang ternyata," sahut Papa Arya, lalu bertanya dengan nada penasaran, "Siapa yang mengantar kamu pulang, Sayang? Tadi Papa lihat mobilnya kok sepertinya mobil yang Papa kenal?"

"Oh itu dosen aisyah Papa, namanya pak Aqlan," jawab Aisyah santai sambil meletakkan tasnya di sofa dan mengelap keringat tipis di dahinya. "Kebetulan mobil Aisyah kehabisan bensin di kampus, jadi dia baik hati mau mengantar kami pulang."

"pak Aqlan...?" Papa Arya mengulang nama itu perlahan, lalu terdiam sejenak. Matanya membelalak seolah tersambar petir. "Aqlan... Aqlan Ardhani Baihaqi? Anaknya Kiyai Abdul dan Nyai Maryam dari Pesantren Nurul Ilmi?"

Aisyah terkejut melihat reaksi ayahnya. "Iya betul Pa! Kok Papa tahu banget sih? Emangnya Papa kenal dekat?"

Wajah Papa Arya seketika berubah menjadi sangat serius namun kemudian mekar dengan senyum lebar yang penuh makna. Dia menghela napas panjang, seolah ada beban berat yang hilang atau sebuah jawaban yang akhirnya dia temukan.

"Wah, pantas saja mobil dan auranya terasa sangat akrab dan tenang dilihat mata," ujar Papa Arya dengan nada kagum. "Papa sangat kenal baik dengan Kiyai Abdul, bahkan sangat dekat sekali dulu, Sayang. Bahkan mobil yang dipakai Aqlan itu dulu pernah Papa pinjam saat acara besar di pesantren mereka bertahun-tahun lalu, saat kamu masih kecil sekali. Ternyata... ternyata anaknya yang sudah besar dan tampan itu yang mengantar kamu..."

Papa Arya mengangguk-angguk pelan berulang kali, matanya menatap jauh ke depan, seolah sebuah takdir indah yang sudah diatur Tuhan mulai terlihat jelas skenarionya di matanya saat ini.

"Anak baik itu, Aisyah. Keluarganya juga keluarga yang sangat shaleh dan terpandang," lanjut Papa Arya dengan nada lembut namun tegas. "Kalau memang dia yang mendekatimu, mau berteman atau bagaimana, Papa rasa tidak ada salahnya kamu berteman baik dengannya. Bahkan... Papa justru sangat setuju."

Aisyah hanya tersenyum malu mendengar pujian ayahnya, wajahnya memerah. Ternyata, hubungan baik antara kedua keluarga ini sudah terjalin sejak lama, bahkan jauh sebelum mereka sadar bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali di masa depan. Hati Aisyah berdebar kencang, merasa lega dan bahagia karena setidaknya ayahnya sangat menyukai Gus Aqlan.

BERSAMBUNG.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!