NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.Gerak Gerik dibalik Papan Catur

Bel istirahat berdentang dengan nada yang nyaring, memecah kesunyian kelas 2-B yang tadinya mencekam akibat ucapan Ren. Dalam sekejap, ruangan itu kembali riuh. Para siswa mulai berdiri, meregangkan tubuh, dan saling mengajak pergi ke kantin. Namun, Ren tetap bergeming di kursinya. Ia membiarkan arus keramaian itu mengalir melewatinya seolah ia adalah sebuah karang di tengah sungai.

Issei Hyodo, yang sedari tadi merasa tidak tenang, tampak ragu-ragu. Ia melirik ke arah Ren beberapa kali sambil membereskan buku-bukunya. Ada rasa ingin tahu yang besar, bercampur dengan insting waspada yang terus berteriak di belakang kepalanya. Akhirnya, dengan dorongan keberanian yang dipaksakan, Issei mendekat ke meja Ren.

"Hei, Saiba-kun," sapa Issei dengan nada yang mencoba terdengar akrab namun sedikit bergetar. "Kau... kau tidak ke kantin? Roti yakisoba di sini cepat habis kalau kau tidak segera mengantre."

Ren tidak langsung menjawab. Ia perlahan menolehkan kepalanya, membiarkan kacamata hitamnya memantulkan wajah Issei yang tampak canggung. Melalui Six Eyes, Ren melihat jantung Issei berdetak tidak teratur. Ada hawa panas yang samar merembes dari lengan kiri pemuda itu—sebuah resonansi yang mencoba menanggapi keberadaan Ren.

"Kantin, ya?" Ren menjawab dengan nada datar namun halus. "Aku tidak terlalu suka kerumunan yang memperebutkan sepotong karbohidrat. Lagipula, ada hal yang jauh lebih menarik untuk diamati di sekolah ini daripada antrean roti."

Issei menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, kau benar-benar tipe yang serius, ya? Padahal kupikir murid pindahan sepertimu akan lebih... yah, santai."

Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Issei merasa seolah-olah seluruh rahasianya sedang ditelanjangi. "Aku sangat santai, Issei-kun. Hanya saja, 'santai' bagiku mungkin berbeda dengan definisimu."

Tepat saat Issei ingin membalas, pintu kelas terbuka dengan suara yang cukup keras. Dua orang siswi dengan ban lengan OSIS berdiri di sana. Salah satunya adalah gadis berambut pendek dengan wajah tegas yang sebelumnya berada di belakang Sona Sitri. Tsubaki Shinra, wakil ketua OSIS, melangkah masuk dengan keanggunan yang terkontrol.

Pandangan Tsubaki langsung terkunci pada Ren. Ia mengabaikan Issei sepenuhnya, membuat pemuda berambut cokelat itu merasa seperti figuran di filmnya sendiri.

"Saiba Ren-kun," ucap Tsubaki dengan nada formal. "Ketua OSIS ingin bertemu denganmu di ruangannya sekarang. Ada beberapa dokumen administrasi tambahan yang perlu dikonfirmasi."

Ren tidak tampak terkejut. Ia justru meregangkan tubuhnya perlahan, seolah baru saja bangun dari tidur siang yang panjang. "Ketua Sona, ya? Dia benar-benar wanita yang sangat teliti. Padahal aku baru saja duduk dengan nyaman di sini."

[SISTEM: Analisis target—Tsubaki Shinra. Ras: Iblis Kelas Menengah. Kekuatan: Cukup untuk menekan manusia biasa, namun tidak berarti di hadapan Infinity.]

[REN: Dia hanya pembawa pesan. Sona sedang mencoba menekanku melalui formalitas.]

Ren berdiri, membuat Tsubaki harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. Issei hanya bisa melongo, melihat bagaimana murid baru ini menghadapi wakil ketua OSIS yang terkenal dingin itu dengan sikap yang sangat santai, bahkan cenderung acuh tak acuh.

"Baiklah, pimpin jalannya, Wakil Ketua," ucap Ren sambil menyugar rambut putihnya yang sedikit menutupi dahi.

Sebelum melangkah pergi, Ren berhenti sejenak di samping Issei. Ia menepuk bahu Issei dengan pelan, namun bagi Issei, tepukan itu terasa seperti beban berton-ton yang menekan bahunya selama sepersekian detik.

"Saran dariku, Issei-kun," bisik Ren pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Hati-hati dengan gadis cantik yang tiba-tiba mendekatimu di sore hari. Terkadang, mawar yang paling indah memiliki duri yang paling beracun."

Issei mematung. Wajahnya pucat seketika. "Apa... apa maksudmu?"

Ren tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan tanpa menoleh dan mengikuti Tsubaki keluar kelas. Issei berdiri di sana sendirian, menatap telapak tangan kirinya yang mendadak terasa panas membara, seolah ada sesuatu di dalamnya yang baru saja diperingatkan oleh sang predator berambut putih itu.

Di koridor menuju ruang OSIS, Ren berjalan di belakang Tsubaki. Ia memperhatikan bagaimana energi sihir Tsubaki sedikit berfluktuasi—tanda bahwa gadis itu pun merasa tidak nyaman berada di dekatnya.

"Ruang OSIS di satu sisi, Klub Ilmu Gaib di sisi lain," pikir Ren sambil menatap bayangannya sendiri di kaca jendela koridor. "Dunia ini memang sempit, tapi setidaknya bidak-bidaknya mulai bergerak menuju posisi yang tepat."

[SISTEM: Quest Sampingan Aktif—Interogasi Dingin. Tujuan: Menghadapi Sona Sitri tanpa membocorkan identitas asli Raja Dewa. Hadiah: 1.000 Poin Prestasi + Informasi lokasi artefak suci terdekat.]

[REN: Menarik. Mari kita lihat seberapa jauh kacamata Sona bisa membaca apa yang tidak ingin kutunjukkan.]

Langkah mereka berhenti di depan pintu ruang OSIS yang tampak sangat formal. Tsubaki mengetuk pintu, dan suara dingin Sona dari dalam mempersilakan mereka masuk. Ren menarik napas pendek, sebuah senyuman nakal kembali menghiasi wajahnya saat ia bersiap untuk masuk ke dalam "kandang" sang ahli strategi.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!