NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Cahaya api merah dari minyak atsiri yang dilemparkan Arka mulai meredup, menyisakan kepulan asap kelabu yang terasa panas dan menyesakkan paru-paru. Ruangan itu kini kembali ditelan oleh kegelapan yang merayap dari sudut-sudut atap, membawa hawa dingin yang lebih menusuk daripada sebelumnya. Di tengah remang yang tersisa, sosok yang tadinya adalah Kakek kini tidak lagi menyerupai manusia. Tubuhnya melengkung aneh, kulitnya pecah-pecah menampakkan serat kayu di dalamnya. Ia terus mengerang, suara yang keluar dari tenggorokannya bukan lagi suara manusia, melainkan suara dahan-dahan tua yang saling bergesekan dengan kasar saat dihantam badai.

"Nir! Cepat! Pintunya terkunci, tapi aku merasakan ada celah di belakang lemari itu!" seru Arka. Suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan. Ia berdiri terhuyung, bahunya bersandar berat pada dinding kayu yang jika diperhatikan lebih dekat tampak berdenyut seirama dengan detak jantung yang lambat dan berat.

Nirmala hendak berlari mengikuti Arka, namun langkahnya terhenti secara mendadak. Matanya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap sesuatu yang berkilat di bawah kursi kayu besar tempat Kakek duduk tadi. Sebuah kotak besi kecil, berkarat di sana-sini dan tertutup lumut kering yang tampak menghitam, terlempar saat kericuhan tadi terjadi. Entah mengapa, kotak itu seolah memanggilnya, memiliki daya tarik magnetis yang membuat bulu kuduk Nirmala berdiri.

"Nir! Apa yang kau lakukan? Kita harus pergi sekarang sebelum rumah ini menelan kita!" Arka berteriak lagi, kali ini ia terbatuk darah, noda merah itu tampak hitam di bawah cahaya redup.

"Sebentar, Arka! Ada sesuatu yang harus kuambil!" Nirmala merangkak, mengabaikan rasa perih di lututnya yang bergesekan dengan lantai kayu yang kasar. Ia memungut kotak itu. Rasanya luar biasa dingin, seolah-olah ia baru saja memungut bongkahan es yang diambil dari dasar sumur paling dalam dan paling gelap.

Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa ingin tahu yang hampir gila, Nirmala membuka paksa tutup kotak itu dengan kuku-kukunya yang mulai kotor. Di dalamnya tidak ada perhiasan emas atau harta karun desa. Hanya ada sebuah buku catatan kecil dengan sampul yang sudah hancur dimakan usia dan selembar kertas yang dilipat rapi akta kelahiran yang sudah menguning dan rapuh.

Nirmala membuka akta itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia mencari namanya, memastikan bahwa matanya tidak menipunya. Nirmala Anindya. Nama itu ada di sana, tertulis dengan tinta yang mulai memudar. Namun, saat pandangannya turun ke kolom nama orang tua, jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, seolah suara geraman Kakek dan teriakan Arka teredam oleh air yang dalam.

Di kolom nama ayah, tertulis dengan jelas: Baskoro.

Namun, di kolom nama ibu, nama aslinya telah dicoret dengan sangat kasar menggunakan tinta merah pekat hingga kertasnya nyaris berlubang. Dan di atas coretan itu, tertulis sebuah frasa dalam bahasa Jawa kuno yang terasa seperti kutukan:

..."Wadon Silihan" Wanita Pinjaman....

Nirmala membalik kertas itu dengan napas yang memburu. Di bagian belakang, terdapat sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan ayahnya yang sangat ia kenali tulisan yang sama dengan yang sering ia lihat di kartu ucapan ulang tahunnya di kota.

...“Maafkan Ayah, Nir. Kami tidak bisa memilikimu secara alami. Kau tidak lahir dari rahim manusia seutuhnya, tapi dari janji yang diikat di bawah akar Randu. Ibumu di kota... dia bukan milik kita. Dia hanya raga yang kami sewa dari penjaga desa ini agar kau punya tempat untuk tumbuh, agar kau terlihat normal di mata dunia.”...

Dunia Nirmala serasa runtuh seketika. Pertahanan mental yang ia bangun selama ini hancur berkeping-keping. Bukan lahir dari rahim? Wanita pinjaman? "Jadi... Ibuku yang selama ini mencium keningku... yang memasakkan sup setiap pagi... siapa dia sebenarnya?" bisik Nirmala. Suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh dinding rumah yang mulai retak dan mengeluarkan suara berderit yang menyakitkan telinga.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang tidak lagi memiliki jari manusia melainkan kumpulan akar yang besar, kasar, dan kuat mencengkeram pergelangan kaki Nirmala dengan kekuatan yang mampu mematahkan tulang. Kakek, atau apa pun makhluk itu sekarang, merayap di lantai dengan tubuh yang hancur dan terpilin.

"Kau... bukan... milik kota itu, Nirmala..." suara itu keluar dari celah kayu yang seharusnya adalah mulut. "Kau adalah bagian dari kami. Kau adalah getah pohon ini yang diberi nyawa sementara. Kembalilah ke akar... bayar hutang darahmu..."

"TIDAK! LEPASKAN DIA!" Arka menerjang maju dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak lagi peduli dengan rasa sakit di kepalanya. Ia menggunakan botol kaca berisi sisa ramuan minyaknya yang sudah pecah untuk menghantam tangan kayu itu.

CRAK!

Cairan hitam kental yang berbau seperti belerang dan pembusukan menyembur keluar dari luka tangan makhluk itu. Cairan itu bukan darah; itu adalah getah hitam yang terasa panas saat mengenai kulit. Arka menarik paksa Nirmala, menyentak gadis itu hingga ia tersadar dari keterpakuannya.

"Nirmala, lari! Jangan pikirkan apa pun! Lari sekarang atau kita akan terkubur di bawah rumah ini!"

Mereka berlari melompati puing-puing kayu menuju lemari besar di sudut ruangan. Arka menghantam bagian belakang lemari dengan bahunya hingga jebol, menampakkan sebuah jalan kecil menuju area dapur yang langsung menghadap ke arah hutan belakang. Tanpa menoleh lagi, mereka melompat keluar, mendarat dengan keras di atas tanah berlumpur yang dingin dan licin.

Di belakang mereka, rumah kayu itu seolah-olah hidup. Dinding-dindingnya mengembang dan mengempis, mengeluarkan suara seperti paru-paru raksasa yang sedang sekarat. Suara teriakan Kakek yang memanggil nama Nirmala terus bergema, berpadu dengan suara angin hutan yang mulai mengamuk.

Arka segera menyalakan mesin motornya yang terparkir di bawah pohon jati. Suara deru mesin itu menjadi satu-satunya pelarian mereka. Mereka memacu motor menembus kabut desa Sandiwayang yang mulai menipis karena fajar yang pucat mulai muncul di ufuk timur.

Sepanjang perjalanan pulang melewati jalanan pegunungan yang berkelok, Nirmala hanya diam membatu. Ia mendekap kotak besi berkarat itu erat-erat di dadanya, seolah-olah kotak itu adalah satu-satunya hal yang membuktikannya bahwa ia masih ada. Angin dingin pegunungan menerpa wajahnya dengan keras, namun ia tidak merasakannya. Pikirannya terus berputar pada satu kalimat yang merusak seluruh masa lalunya: Wanita Pinjaman.

Bayangan ibunya di Jakarta yang sedang tersenyum di meja makan kini berubah menjadi teror. Setiap kenangan hangat pelukan saat ia sedih, usapan di kepala saat ia sakit kini terasa palsu. Ia mulai membayangkan bahwa di balik kulit halus ibunya, ada serat-serat kayu yang sama dengan yang ia lihat di tubuh kakeknya. Setiap sentuhan hangat yang ia ingat sekarang terasa seperti sentuhan kulit kayu yang mati dan dingin.

Saat motor mereka akhirnya melewati gapura desa yang menyeramkan itu dan kembali ke jalan raya yang mulai diterangi cahaya pagi, Nirmala menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di kejauhan, di atas bukit yang diselimuti kabut abadi, pohon Randu Alas itu tampak tetap berdiri kokoh, menjulang seperti raksasa yang tak terkalahkan. Daun-daunnya yang rimbun melambai pelan tertiup angin fajar, seolah sedang melambai padanya, memberikan isyarat bahwa pelariannya hanyalah sementara.

"Kita sudah keluar, Nir. Kita sudah di jalan raya. Kita aman sekarang," kata Arka melalui interkom helm. Suaranya terdengar sangat lega, meskipun Nirmala bisa mendengar napasnya yang masih berat dan terputus-putus.

Nirmala tidak menjawab. Ia menatap aspal jalan raya yang datar, sangat berbeda dengan tanah merah di desa tadi. Namun, ketenangan kota yang ada di depannya terasa seperti fatamorgana. Ia tahu, meskipun mereka secara fisik sudah keluar dari Sandiwayang, fakta di dalam sakunya akan terus menarik kewarasannya kembali ke kegelapan.

Ia tidak lagi tahu siapa dirinya. Ia bukan Nirmala si gadis kota biasa. Ia adalah sesuatu yang lain. Dan yang lebih mengerikan, sebuah pertanyaan baru muncul dan mulai mencabik-cabik pikirannya: Jika ibuku hanya raga pinjaman yang disewa dari desa itu... siapa sebenarnya wanita yang enam bulan lalu aku kuburkan dengan penuh tangis di pemakaman Jakarta? Siapa yang selama ini berbagi tempat tidur dengan ayahku?

Lampu-lampu kota Jakarta mulai terlihat di kejauhan, namun bagi Nirmala, gedung-gedung tinggi itu kini tampak seperti nisan-nisan raksasa yang menunggu untuk menceritakan rahasia mereka sendiri.

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!