Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah Tapi Tidak Menyerah
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Ruang Isolasi Khusus.
Selama tiga hari ini, setiap kali Daniel datang untuk pemeriksaan atau terapi, Rafael selalu menggunakan waktu itu untuk bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepalanya—pertanyaan tentang dunia yang terus bergerak sementara dia tertidur.
Hari ini, Rafael mulai dengan pertanyaan yang paling penting.
"Kimberly," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari roti di tangannya.
"Bagaimana keadaan Kimberly?"
Daniel yang sedang menuang jus jeruk berhenti sejenak. Dia menatap Rafael dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Lo nggak perlu khawatir tentang Kimberly," jawabnya pelan. "Ataupun tentang AGE."
Rafael menoleh, menatap Daniel dengan pandangan menuntut jawaban lebih lengkap.
Daniel menghela nafas. "Saat ini Kimberly menjabat sebagai CEO di AGE."
Keheningan sesaat. Rafael memproses informasi itu. Kimberly—asisten pribadinya yang dulu hanya menangani jadwal, mengatur meeting, memastikan semuanya berjalan lancar—sekarang menjadi CEO. Menjalankan perusahaan yang dia bangun.
"Dan dia..."
Rafael ragu dengan menatap Daniel lebih intens.
"dia melakukan tugasnya dengan baik?"
Senyum tipis muncul di wajah Daniel.
"Lebih dari baik. Kerjaan Kimberly patut diacungi jempol. AGE sekarang menjadi salah satu perusahaan dengan profit terbesar di Amerika. Setiap produk yang AGE keluarkan selalu habis terjual. Demand-nya gila-gilaan."
Dia mengangkat tangannya, menunjukkan smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya—desain minimalis dengan layar OLED yang tajam, bezel titanium yang mengkilap, tali kulit premium.
"Smartwatch ini," kata Daniel,
"produk terbaru dari divisi Green Technology & Renewable Energy AGE. Gue beli seminggu yang lalu. Sold out dalam dua jam pertama setelah launch. Sekarang harganya di pasar sekunder naik tiga kali lipat."
Rafael menatap smartwatch itu. Produk dari perusahaannya. Produk yang diluncurkan tanpa dia ketahui. Produk yang sukses besar tanpa campur tangannya.
Perasaan aneh muncul di dadanya—campuran antara bangga dan... kehilangan.
AGE berjalan dengan sempurna tanpa dirinya. Dia tidak lagi dibutuhkan.
"Lalu bagaimana dengan Ryzen dan Zen?"
Rafael bertanya, suaranya lebih pelan sekarang.
"Mereka baik-baik saja kan?"
Daniel terdiam. Dia meletakkan gelas jus jeruk dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya—tanda bahwa dia sedang memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Mereka baik-baik saja," jawabnya.
"Masih beroperasi di AGE. Masih menjabat sebagai direktur di divisi mereka masing-masing."
Rafael menatap Daniel lebih tajam. Ada sesuatu yang tidak dikatakan. Ada keraguan di mata Daniel—keraguan yang mencoba disembunyikan tapi gagal total.
"Tapi?" Rafael mendorong.
"Tidak ada tapi," Daniel menjawab terlalu cepat.
"Mereka baik-baik saja."
Rafael tidak percaya. Tapi dia tidak mendorong lebih jauh. Jika Daniel tidak mau bicara, berarti ada alasan yang kuat.
***
Yang tidak Rafael ketahui adalah kebenaran yang Daniel sembunyikan—Ryzen dan Zen sudah tidak ada di Amerika.
Sudah berbulan-bulan mereka pergi entah kemana.
Tidak ada jejak.
Tidak ada komunikasi.
Hanya keheningan yang mengerikan.
Daniel pernah bertanya ke Kimberly tentang keberadaan mereka. Kimberly menjawab dengan datar—mereka masih menjadi direktur di AGE. Mereka hanya sedang menangani proyek rahasia di luar negeri.
Tapi Daniel tidak bodoh. Dia melihat mata Kimberly saat menjawab—mata yang berbohong. Mata yang menyimpan kebenaran yang lebih gelap.
Tapi dia tidak bisa memberitahu Rafael sekarang. Tidak saat Rafael masih dalam proses pemulihan. Tidak saat beban di pundak Rafael sudah cukup berat.
***
Rafael mengambil telur rebus, mengupasnya dengan gerakan mekanis.
"Alvin," katanya.
"Bagaimana dengan Alvin?"
Kali ini ekspresi Daniel berubah—menjadi lebih cerah, lebih genuine.
"Alvin sangat luar biasa, keluarga Mahendra tidak pernah mengecewakan." jawabnya dengan nada yang penuh kekaguman.
"Dia berhasil menangkap Mafia internasional The Obsidian Circle bersama dengan keamanan negara. Operasi besar-besaran yang melibatkan seluruh keamanan negara. Mereka berhasil menangkap lebih dari lima puluh anggota inti, termasuk pemimpinnya."
Rafael berhenti mengunyah. Alvin Mahendra—sahabatnya sejak di Indonesia. Pria dengan jiwa keadilan yang membara, yang memutuskan untuk bergabung dengan Interpol setelah keluarganya menjadi korban kejahatan terorganisir.
Alvin berhasil.
***
Itu berarti usaha Rafael tidak sia-sia. Usaha yang membuat dia harus berhadapan dengan Lyra Vantross—assassin bayaran dari The Obsidian Circle.
Usaha yang membuat dia tertusuk dagger berisi racun.
Usaha yang membuat dia harus tidur lebih dari tiga bulan.
Tapi Alvin berhasil.
Rafael tersenyum tipis—senyum pertamanya sejak bangun. Senyum yang tulus, penuh lega.
"Bagus," gumamnya. "Sangat bagus."
***
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa saat. Daniel membiarkan Rafael memproses semua informasi yang baru dia terima.
Kehidupan terus berjalan.
Teman-temannya terus bergerak maju.
Dunia tidak berhenti menunggu Rafael Alkava bangun.
Setelah selesai makan, Rafael meletakkan gelas kosong di nampan. Dia menatap Daniel dengan tatapan serius.
"Ponsel," katanya. "Dimana ponsel gue?"
Daniel menggeleng.
"Gue nggak tahu. Saat lo dibawa ke sini, tidak ada apa-apa di kantong lo. Mungkin hilang saat insiden itu. Atau mungkin Ryzen yang menyimpannya—gue tidak yakin."
Rafael mengerutkan dahi. Ponselnya berisi segalanya—kontak, data, akses ke akun-akun penting. Tanpa ponsel, dia seperti terputus total dari dunia.
"Tapi," Daniel melanjutkan,
"kalau lo merasa bosan atau butuh komunikasi, gue akan membelikan ponsel baru buat lo. Model terbaru. Apa lo mau?"
Rafael terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan. "Ya. Gue butuh itu."
"Oke," Daniel berdiri.
"Gue akan atur secepatnya."
Rafael menatap Daniel yang bersiap untuk keluar. Ada satu pertanyaan terakhir yang mengganjal di tenggorokannya—pertanyaan yang dia sudah tanyakan berkali-kali dalam tiga hari ini.
"Kapan gue boleh keluar dari rumah sakit?"
Daniel berhenti di depan pintu. Punggungnya menghadap Rafael. Dia tidak langsung menjawab—hanya berdiri di sana, seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat.
Lalu dia menghela nafas panjang.
"Tunggulah sebentar lagi," katanya tanpa berbalik. Suaranya terdengar lelah.
"Gue janji akan segera mengeluarkan lo dari sini. Tapi belum sekarang."
Sebelum Rafael bisa bertanya lebih lanjut, Daniel sudah keluar. Pintu ditutup dengan desisan pneumatik yang final.
Rafael ditinggal sendirian lagi—dengan ruangan yang terlalu besar, dengan jendela yang menampilkan kota yang tidak bisa dia sentuh, dengan kebebasan yang masih jauh dari jangkauan.
***
Lantai 29 – Elysium Medical Institute – Ruang Pribadi Daniel.
Daniel berjalan di koridor dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Pikiran-pikirannya berkecamuk—dilema yang sudah menghantuinya selama berhari-hari.
Dia sama sekali tidak bermaksud untuk mengurung Rafael. Dia bukan penjara. Dia bukan musuh.
Tapi dia belum memiliki cara yang tepat untuk menunjukkan ke dunia bahwa Rafael Alkava masih hidup.
Bagaimana dia akan mengumumkannya?
Melalui konferensi pers?
Melalui media sosial?
Atau dia harus menghubungi pihak berwenang terlebih dahulu?
Setiap opsi punya konsekuensi yang mengerikan. Jika Rafael muncul tiba-tiba setelah dinyatakan mati, akan ada investigasi besar-besaran.
Akan ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Akan ada pihak-pihak yang tidak ingin Rafael kembali—pihak yang mungkin akan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkannya.
Daniel tidak bisa membiarkan itu terjadi.
***
Dia memasuki ruangan pribadinya—ruangan yang lebih sederhana dibanding ruang isolasi Rafael.
Meja kerja kayu oak yang dipenuhi tumpukan dokumen medis, rak buku yang penuh dengan jurnal penelitian, dan satu jendela besar yang menghadap ke bagian belakang gedung.
Dia duduk di kursi kerjanya, melepas kacamata dan menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
Lelah.
Sangat lelah.
Interkom di mejanya berbunyi.
"Dr. Benjamin," suara asistennya—seorang wanita muda bernama Renita—terdengar profesional seperti biasa. "Anda menelepon?"
Daniel menekan tombol interkom.
"Ya. Aku butuh kamu membeli ponsel terbaru. Brand Samsung, model flagship terbarunya. Beli yang spesifikasi paling tinggi."
"Baik, dokter. Segera saya atur."
"Terima kasih."
Interkom mati. Daniel merebahkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit ruangan.
Lalu matanya jatuh ke ponsel di mejanya. Layar yang gelap. Tapi dia tahu—di dalam kontak ponsel itu, ada satu nama yang terus menghantuinya.
***
Kimberly Starlink.
Tangannya bergerak pelan, mengambil ponsel. Dia membuka aplikasi kontak, scroll ke nama Kimberly, lalu menatapnya dengan lama.
Daniel ragu. Sangat ragu.
Haruskah dia memberi tahu Kimberly bahwa Rafael masih hidup?
Kimberly adalah orang terdekat Rafael. Dia adalah CEO AGE. Dia yang menjalankan segalanya sejak Rafael hilang. Dia berhak tahu.
Tapi Daniel juga tahu—begitu satu orang tahu, rahasia ini akan semakin sulit dijaga.
Satu orang berubah menjadi dua, dua menjadi empat, dan pada akhirnya seluruh dunia akan tahu.
Tapi dia tidak bisa terus menyembunyikan Rafael. Setidaknya orang-orang terdekatnya harus tahu bahwa Rafael masih hidup. Mereka berhak untuk tahu kebenaran.
Daniel menatap nomor Kimberly lebih lama lagi. Jarinya gemetar di atas tombol panggil.
Lalu dia menekannya.
Nada sambung berbunyi—satu, dua, tiga kali.
Klik.
"Ya?" Suara Kimberly terdengar datar, tanpa emosi. Suara yang sudah berubah sejak kematian Rafael—tidak lagi energik, tidak lagi penuh kehidupan.
Daniel menarik nafas dalam. "Kimberly, lo ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?"
Keheningan singkat di seberang sana.
"Gue harus siap-siap," jawab Kimberly. "Sebentar lagi berangkat ke kantor."
Daniel tahu dia harus bicara cepat. Dia harus membuat Kimberly datang ke sini.
"Ini menyangkut Rafael," katanya pelan tapi tegas.
"Kalau lo ingin tahu yang sebenarnya, datanglah ke rumah sakit. Temui gue di ruangan gue."
Lalu dia memutus telepon.
Tidak memberi Kimberly kesempatan untuk bertanya.
Tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
Hanya satu kalimat yang cukup untuk membuat Kimberly datang.
Daniel meletakkan ponsel di meja. Tangannya masih gemetar sedikit.
Dia sudah melakukannya. Tidak ada jalan mundur sekarang.
***
BERSAMBUNG...