NovelToon NovelToon
Am I Really Daddy'S Daughter?

Am I Really Daddy'S Daughter?

Status: sedang berlangsung
Genre:Putri asli/palsu / TimeTravel / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ChikoGin

Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.

Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?

Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5: Permulaan Badai di Valtia

Di tepi hutan wilayah Valtia, sang Ajudan Kaisar terbelalak. Matanya menyisir cepat isi dokumen di tangannya, sementara napasnya mulai memburu. Di sana tertera rincian penggelapan dana kekaisaran dalam jumlah fantastis, bersanding dengan bukti pelanggaran berat lainnya.

Wajah sang Ajudan memerah padam oleh amarah. Dengan langkah lebar, ia menghampiri sang Baron yang sudah menggigil ketakutan. Tanpa peringatan, ia mencengkeram kerah baju sang Baron hingga pria itu berjinjit.

"Jadi, ini ulahmu?" geram sang Ajudan dengan nada rendah yang mengancam. Tatapannya seolah ingin menembus jantung sang Baron. "Kau bahkan lebih rendah dari binatang!"

Tiba-tiba, suara derit pintu kereta kencana yang megah membelah kesunyian hutan yang mencekam. Sang Kaisar melangkah turun dengan keanggunan yang mematikan. Jubah kebesarannya yang hitam pekat menyapu tanah berdebu, sementara kehadirannya seolah menyedot oksigen di sekitar, membuat siapa pun merasa sesak oleh dominasi yang luar biasa.

"Lepaskan dia," titah Sang Kaisar tenang, namun penuh otoritas.

Sang Ajudan refleks melepaskan cengkeramannya dan membungkuk dalam. "Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba dikuasai oleh amarah," ucapnya dengan suara yang bergetar karena rasa hormat.

Dokumen bukti pelanggaran itu berpindah tangan. Sang Kaisar menerimanya dengan gerakan penuh wibawa. Saat ia mulai membaca lembar demi lembar, suasana di jalan setapak itu seketika membeku.

Ekspresi Sang Kaisar berubah—bukan ledakan amarah yang berisik, melainkan kedinginan yang mencekam. Wajahnya yang bak pahatan porselen itu tetap datar, namun matanya yang semerah permata ruby memancarkan kilatan murka yang sanggup membekukan darah.

Di sisi lain, Sang Baron mendadak lumpuh. Melihat rahasianya berada di tangan penguasa tertinggi, wajahnya berubah ungu padam. Ia tampak seperti sedang dicekik oleh ketakutan tak kasat mata; napasnya tersangkut, dan seluruh keberaniannya menguap tanpa sisa.

"Jadi..." suara Sang Kaisar memecah keheningan, begitu dingin hingga menusuk tulang. "Inilah yang kau lakukan di balik punggungku, Tuan Baron?"

Kalimat itu terdengar seperti lonceng kematian yang menandai berakhirnya kejayaan sang Baron.

"Seret tikus ini ke sel terdalam di menara bawah tanah," perintah Sang Kaisar tanpa emosi. "Pastikan dia membusuk di sana hingga aku sendiri yang memutuskan hukuman mati seperti apa yang pantas bagi seorang pengkhianat."

"Hamba laksanakan titah Paduka!" sahut para ksatria sambil mengepalkan tangan di dada. Tanpa belas kasihan, mereka menyeret Baron dan para pengikutnya yang meronta-ronta ke kereta belakang. Jeritan minta ampun mereka pecah, namun tak ada satu pun yang bergeming.

Tatapan merah Sang Kaisar kini beralih pada sosok kecil yang tak berdaya. Ia menyerahkan kembali dokumen itu kepada ajudannya dengan sangat hati-hati.

Tanpa memedulikan noda darah atau debu yang akan mengotori jubah kebesarannya, pria agung itu membungkuk. Dengan gerakan yang tak terduga lembutnya, ia mengangkat tubuh ringan anak tersebut ke dalam dekapannya.

"Apakah tubuh seorang anak memang seringan ini?" tanya Sang Kaisar datar, namun aura mengancam mulai kembali menyelimuti suaranya.

"Tidak, Yang Mulia," jawab sang Ajudan sambil menunduk dalam. "Sepertinya anak ini telah ditindas dan tidak diberi makan sama sekali."

Mata Sang Kaisar menyipit tajam. "Gali informasi dari si Baron dan para pengikutnya itu. Jika mereka berani berbohong, potong saja lidah mereka."

"Ba–baik, Yang Mulia!" jawab sang Ajudan gemetar ngeri.

Sang Kaisar melangkah masuk ke dalam kereta kencana. "Berangkat," perintahnya singkat.

Di dalam kereta yang bergerak menuju jantung kekaisaran, keheningan menyelimuti. Kaisar terdiam, matanya terpaku pada helai rambut anak tersebut yang tersingkap. Di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, warna rambut itu berkilau dengan cara yang sangat akrab di ingatannya.

'Benar apa yang dikatakan si bajingan itu,' batin Kaisar, rahangnya mengeras. 'Rambut ini... garis wajah ini... tidak mungkin hanya sebuah kebetulan.'

"Perasaan ini benar-benar mengganjal... Melihat anak ini justru mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu."

Ia memalingkan wajah ke luar jendela. Di kejauhan, siluet megah Istana Hitam Kekaisaran Valtia mulai terlihat—tempat yang penuh dengan intrik berdarah, namun kini akan menjadi tempat perlindungan bagi nyawa kecil di pelukannya.

Sesampainya di pelataran, suasana yang biasanya formal mendadak berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Kaisar turun tanpa menunggu protokol sempurna, langkah kakinya menghantam marmer dengan keras seirama dengan detak jantung para abdi dalem yang ketakutan. Para pelayan yang sudah berbaris rapi seketika terpaku; napas mereka tertahan melihat sang penguasa berdarah dingin itu mendekap erat tubuh mungil itu—pemandangan yang jauh lebih menakutkan daripada medan perang mana pun.

Keheningan yang menyesakkan itu pecah saat sang Kaisar berhenti tepat di tengah aula besar. Tatapannya yang sebeku es menyapu setiap sudut ruangan, memancarkan aura yang begitu berat hingga membuat nyali siapa pun yang melihatnya menciut.

"Panggil seluruh tabib kekaisaran ke paviliun utama sekarang juga!" suaranya menggelegar, memutus kesunyian siang itu bagai petir yang menyambar. "Jika terjadi sesuatu pada anak ini, kepala kalianlah taruhannya!"

Mendengar titah kematian itu, para pelayan langsung berpencar dalam kepanikan luar biasa, seolah-olah maut sedang mengejar tumit mereka. Hari itu, seluruh Istana Hitam gempar. Sang Matahari yang dikenal tak punya hati, baru saja membawa pulang seorang 'permata' yang mampu menggetarkan fondasi kekaisaran.

Suasana di lorong utama Kekaisaran Valtia tampak kacau balau. Para pelayan berlarian sembari membawa baki perak dan gulungan kain sutra mahal, sementara para pengawal berdiri dengan posisi jauh lebih tegang dari biasanya.

Scarlet melangkah maju dengan angkuh, gaun merah menyalanya menyapu lantai marmer dengan anggun sekaligus mengancam. Di sampingnya, Caspian berjalan dengan ketenangan yang mutlak. Rambut putihnya yang seputih salju berkilau perak, selaras dengan netra birunya yang sedalam samudra, menatap tajam ke arah kerumunan pelayan yang sedang dilanda kepanikan.

"Heh, kau!" bentak Scarlet, menghentikan langkah seorang pelayan yang nyaris menabraknya. "Memangnya ada acara apa sampai kalian sesibuk ini? Lantai istana ini sampai bergetar hanya karena langkah kaki kalian yang berisik!"

Pelayan itu seketika menunduk dalam dengan tubuh gemetar hebat. "M-mohon maaf, Nona Scarlet, Tuan Muda Caspian... Ini... ini bukan acara perayaan."

Mendengar itu, Scarlet menyipitkan matanya tajam. Aura dingin yang mencekam mulai menguar dari sosoknya, membuat pelayan di hadapannya nyaris kehilangan napas akibat tekanan intimidasi yang luar biasa. "Lalu? Jika bukan perayaan, kenapa seluruh Valtia seolah sedang diguncang gempa?" tanya Scarlet dengan suara rendah yang menekan.

"Itu... Sang Kaisar, Ayahanda Anda sekalian... Beliau baru saja kembali," jawab pelayan itu dengan suara terbata-bata. "Beliau membawa seorang anak kecil masuk ke dalam kekaisaran. Kehebohan ini terjadi karena perintah Kaisar untuk menyiapkan segala kebutuhan anak itu secara mendadak."

Scarlet terbelalak, kedua tangannya mengepal di pinggang dengan amarah yang mulai tersulut. "Seorang anak? Siapa? Dari mana asalnya sampai Ayah membawa orang asing masuk ke dalam kediaman utama Valtia?"

"Anak Baron bangkrut itu, dibawa langsung oleh Ayahanda..." gumamnya pelan, suaranya terdengar datar namun berwibawa. "Menarik. Tampaknya kedamaian yang membosankan di Valtia akan segera berakhir, Scarlet."

Angin siang berembus lembut melalui celah jendela, membelai tenang wajah Rubellite yang masih terlelap. Harum mawar dari taman istana perlahan memenuhi ruangan, menyelinap di antara lambaian tirai sutra yang menari tipis.

Dia masih terlelap, wajahnya tenang namun sesekali menunjukkan kerutan halus, seolah dalam tidurnya ia masih bergulat dengan bayangan masa lalu. Dunia di luar jendela terus bergerak, menanti saat ia membuka mata untuk menyambut takdir baru yang terhampar di hadapannya.

Didalam kesunyian itu, Rubellite mengerang pelan, kelopak matanya terasa seberat timah. Alih-alih aroma apak sel penjara yang menyesakkan seperti detik-detik terakhir hidupnya, kini harum bunga lili menyeruak lembut, menyapa indra penciumannya.

"Ugh... di mana... aku?" gumamnya lirih. Ia mencoba bangkit, namun rasa nyeri tajam seketika menusuk dari pergelangan kakinya. "Argh!"

Pintu besar ruangan itu terbuka. Langkah kaki yang berat dan berwibawa mendekat. Sosok pria jangkung dengan jubah kebesaran berdiri di sana, menatapnya dengan mata sebeku es.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya sang Kaisar. Suaranya dingin, jenis kedinginan yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

Sambil menahan napas dan menatap getir, Rubellite menjawab dengan suara bergetar, "S-saya baik-baik saja, Yang Mulia."

Kaisar tidak memberikan senyum sedikit pun. Ia memberi isyarat pada pelayan di ambang pintu. "Panggilkan tabib istana segera. Periksa setiap inci luka di kakinya tanpa terlewat sedikit pun."

Sang penguasa itu kemudian menyeret kursi kayu ek ke samping tempat tidur. Suara gesekan kayu dengan lantai batu terdengar nyaring, memecah kesunyian ruangan. Ia duduk, mencondongkan tubuh, dan menghujamkan tatapan yang seolah mampu menembus jauh ke dalam jiwa Rubellite.

"Sekarang, jawab aku dengan jujur," ucap Kaisar dengan suara merendah namun penuh penekanan. "Bagaimana mungkin anak berusia delapan tahun sepertimu tahu di mana Baron menyembunyikan dokumen-dokumen ini?"

Ia melemparkan beberapa lembar kertas ke atas ranjang. "Bagaimana kamu bisa mengerti bahwa kertas-kertas ini adalah bukti penggelapan dana negara? Seorang anak kecil seharusnya hanya tahu cara bermain, bukan membongkar kejahatan kerah putih," sambungnya tajam.

Jantung Rubellite berpacu hebat. Sial, aku terlalu gegabah. Aku lupa kalau di usia ini, aku seharusnya tidak tahu apa-apa tentang politik dan hukum.

Sambil menunduk dalam dan meremas ujung selimut, Rubellite memasang wajah sepolos mungkin. "Tuan Baron... dia selalu menyembunyikan kertas-kertas itu di dalam kotak musik yang dikunci rapat. Dia memperlakukannya seperti harta karun. Jadi, aku pikir... jika orang jahat seperti dia menganggapnya berharga, itu pasti sesuatu yang bisa menghentikannya."

Kaisar terdiam cukup lama, matanya menyipit mencari celah kebohongan. Namun, penderitaan di masa lalu telah menempa Rubellite menjadi aktris yang luar biasa. "Beristirahatlah sampai kakimu pulih sepenuhnya. Jangan memikirkan hal lain," ujar Kaisar seraya berdiri dan melangkah keluar dengan sejuta tanya di benaknya.

Tiba-tiba, seorang ksatria yang sedari tadi berdiri mematung di belakang Kaisar melangkah maju. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan Rubellite, memberikan penghormatan tertinggi.

"Izin memperkenalkan diri, Nona. Nama saya Raze. Mulai hari ini, saya adalah ksatria pengawal pribadi yang ditugaskan untuk menjaga Anda ke mana pun Anda pergi," ucap ksatria itu dengan tegas

Teriakan Rubellite menggema dalam ruangan dengan nada terkejut ia bertanya.

"Ke....kenapa aku harus memiliki pengawal?" Rubellite bertanya pada Raze. "Bukankah aku hanya seorang anak yatim piatu? Lagipula, aku di sini hanya untuk memberikan kesaksian atas segala perbuatan sang Baron. Tidak lebih."

Raze menjawab, "Nona, ini tidak ada kaitannya dengan Baron. Kaisar sendiri yang menitahkan saya untuk tetap berada di sisi Anda."

Rubellite mematung. Di balik wajah terkejutnya, otaknya berputar liar. Di kehidupan lalu, ia dibiarkan membusuk sendirian di paviliun terbengkalai. Sekarang, Kaisar justru memberinya seorang 'bayangan'.

Apakah ini bentuk perlindungan, batin Rubellite sambil menatap baju zirah Raze yang berkilau, ataukah ini belenggu emas untuk memastikan

Tak lama kemudian, tabib istana masuk. Ia menghela napas lega setelah selesai memeriksa pergelangan kaki Rubellite. "Syukurlah, tidak ada tulang yang patah, Nona. Hanya terkilir parah."

Ia kemudian menatap Rubellite dengan kerutan di dahi. "Apakah ada luka lain yang mungkin kami lewatkan? Memar di tubuh Anda terlihat sangat parah."

Rubellite terdiam sesaat, matanya yang merah menatap kosong. Raze, yang sedari tadi berdiri kaku di sudut ruangan, ikut menajamkan pandangannya. Dengan tangan gemetar, Rubellite mulai membuka kerah pakaian lusuhnya yang sudah robek. Ia memunggungi mereka perlahan.

Tabib itu tersentak, napasnya tertahan. Raze, yang biasanya sedingin patung, matanya melebar tak percaya. Punggung Rubellite adalah peta penderitaan; dipenuhi parut putih bekas cambukan yang sudah lama mengering, diselingi memar keunguan baru akibat pukulan Baron sebelumnya.

"Astaga..." bisik tabib itu, tangannya berhenti bergerak. "Ini... ini bukan luka baru. Ini adalah bekas penganiayaan jangka panjang."

Raze melangkah mendekat, rahangnya mengeras. Ia menatap punggung kecil itu dengan tatapan gelap, dipenuhi amarah yang tersembunyi. "Apa yang sebenarnya terjadi di panti asuhan terkutuk itu?" tanya Raze dengan suara rendah.

Rubellite menundukkan kepalanya, suaranya nyaris teredam angin, "Tiada mengapa, Raze... Aku sungguh baik-baik saja."

Raze melangkah setapak lebih dekat, suaranya selembut beledu namun penuh kepedihan. "Nona... Ampuni kelancangan hamba. Namun, mendung di pelupuk mata Anda tidak dapat berdusta. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Jika kenangan itu terlalu menyesakkan, hamba tidak akan memohon penjelasan lebih lanjut."

Rubellite menatap kosong ke arah rembulan yang mulai meredup. Setetes air mata jatuh di pipinya sebelum ia berbisik parau, "Tempat itu... bukanlah sebuah perlindungan bagi jiwa-jiwa yang malang, Raze. Di sana hanya ada dinding-dinding batu yang dingin dan malam-malam panjang tanpa pelita. Mereka menyebutnya rumah, namun bagiku, itu hanyalah sebuah sangkar yang perlahan-lahan mengikis cahaya dalam sukmaku."

[Flashback]

Suara gemerincing kunci bergema di lorong bawah tanah yang lembap. Rubellite kecil meringkuk di sudut ruangan gelap yang berbau apek.

"Masih belum mau mengaku siapa yang mencuri roti di dapur, hah?" teriak Pengawas Panti sambil mengayunkan cambuk kuda di tangannya.

"Bukan aku... aku tidak melakukannya," bisik Rubellite lirih.

Plak! Satu tamparan mendarat telak hingga ia tersungkur ke lantai batu. Di tempat itu, mereka bukan manusia, melainkan pelampiasan amarah. Setiap lecutan cambuk yang membakar kulit punggungnya adalah cara mereka "mendisiplinkan" anak-anak.

Rubellite tidak menangis; ia hanya menatap satu bintang di lubang ventilasi, belajar mematikan rasanya agar rasa sakit itu tak lagi bisa melukainya.

[Kembali ke Masa Sekarang]

Setelah cerita itu berakhir, keheningan mencekam menyelimuti kamar. Raze mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Nona..." suara Raze tertahan di tenggorokan, "hamba bersumpah, dinding batu itu tidak akan pernah bisa menyentuh Anda lagi."

1
Raine
heh bukannya si raze bela kamu ya, kok jadi marah ke si raze ?? trus mengulang waktu kan, tumbang cuman karna diketawain ck
★Xia★
🥳🥳🥳
★Xia★
semangat kak, ak selalu nunggu up nih tapi cuma 1bab aja, semangat terus biar bisa up banyak kedepannya
★Xia★: gppp kok, akan ku tunggu
total 4 replies
★Xia★
seru banget
★Xia★
semangat kakkkk😍😍😍😍
★Xia★: Sama-sama
total 2 replies
Zimbabwe Zimbabwe01
mantap bro walaupun agak kureng💪🤣🤣
Nico Ardi: baru belajar buat novel sih hhe👍
total 1 replies
Steven Stevennn
p
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!