NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:118
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Rahasia di Ruang Musik

​Langit Jakarta sore itu berwarna abu-abu pekat, seolah ikut merasakan kelelahan para siswa SMA Pelita Bangsa. Hujan deras baru saja reda, menyisakan genangan air di lapangan basket dan aroma tanah basah yang menguar kuat—petrichor.

​Jam menunjukkan pukul 17.15. Sekolah sudah nyaris mati suri.

​Julian baru saja keluar dari ruang guru setelah menyerahkan laporan mingguan ke Pak Burhan. Laporan progres belajar Alea minggu ini: "Ada peningkatan, meski minimal. Subjek masih sering kehilangan fokus saat melihat lalat lewat."

​Julian menghela napas panjang, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik seharian. Koridor lantai satu sepi. Hanya ada suara petugas kebersihan yang sedang mengepel di kejauhan.

​Langkah kaki Julian terhenti saat melewati koridor sayap kanan, tempat ruang-ruang ekstrakurikuler berada.

​Biasanya, area ini bising. Suara drum yang dipukul sembarangan, distorsi gitar yang memekakkan telinga, atau teriakan anak teater yang sedang latihan vokal. Tapi sore ini hening. Anak-anak band sudah pulang sejak jam lima tadi—termasuk Raka dan teman-temannya. Alea juga seharusnya sudah pulang. Gadis itu tadi pamit buru-buru setelah sesi belajar Matematika, bilangnya ada urusan "negara" (baca: mau nonton live streaming idola Korea-nya).

​Namun, telinga Julian menangkap sesuatu.

​Denting piano.

​Bukan permainan piano klasik ala Mozart atau Beethoven yang rumit dan megah. Ini sederhana. Melodinya pelan, ragu-ragu, tapi penuh perasaan. Nadanya minor, terdengar sedih dan... kesepian.

​Julian mengerutkan kening. Siapa yang main piano jam segini?

​Penasaran, ia melangkah pelan menuju Ruang Musik 1. Pintunya sedikit terbuka, menyisakan celah vertikal yang memancarkan cahaya lampu kuning temaram dari dalam.

​Julian mendekat, lalu mengintip lewat celah itu.

​Ia terpaku.

​Di sana, duduk di bangku piano hitam di sudut ruangan, adalah Alea.

​Tapi itu bukan "Alea si Preman Sekolah" yang Julian kenal. Tidak ada gitar listrik yang dicangklong di bahu. Tidak ada kaki yang diangkat ke atas kursi.

​Alea duduk membungkuk, jari-jarinya menari pelan di atas tuts hitam putih. Rambutnya yang ber-highlight merah dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Dari sudut pandang Julian, ia bisa melihat bahu gadis itu merosot, terlihat rapuh dan kecil. Sangat kontras dengan sikap garangnya saat berdebat soal rumus Fisika.

​Lalu, Alea mulai bernyanyi. Tanpa mikrofon. Suaranya serak-serak basah, bergema lembut di ruangan yang akustiknya bagus itu.

​"Di balik cermin yang retak...

Ada bayangan yang tak pernah kau lihat...

Bukan emas, bukan permata...

Hanya debu yang mencoba jadi kaca..."

​Julian menahan napas. Lirik itu... jelas bukan lagu rock yang biasa dibawakan band Alea saat upacara bendera (yang selalu berakhir dengan teguran Kepala Sekolah). Ini lagu balada. Liriknya terdengar personal. Sangat personal.

​"Kau minta aku jadi matahari...

Tapi aku cuma lilin kecil yang hampir mati...

Dibandingkan dia yang selalu bersinar...

Aku cuma noda yang memudar..."

​Suara Alea pecah di ujung kalimat. Ia berhenti menekan tuts piano. Tangannya terkepal di atas pangkuan.

​Julian melihat bahu Alea berguncang pelan. Satu kali. Dua kali. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, hingga keningnya menyentuh tuts piano, menghasilkan bunyi brenggg sumbang yang pelan.

​Dia menangis.

​Jantung Julian berdegup aneh. Ada perasaan tidak nyaman yang menjalar di dadanya. Selama ini, bagi Julian, Alea adalah antagonis dalam cerita hidupnya yang teratur. Alea adalah pengganggu, pembuat onar, sumber masalah. Melihat "musuh"-nya menangis sendirian di ruang musik yang sepi membuat Julian merasa... bersalah? Atau mungkin iba?

​Julian hendak mundur, berniat pergi diam-diam sebelum ketahuan. Ia tidak mau mempermalukan Alea.

​Namun, lantai kayu tua di koridor itu berkhianat.

​KREEEK.

​Suara langkah kaki Julian terdengar nyaring di keheningan.

​Di dalam ruangan, Alea tersentak kaget. Kepala gadis itu langsung tegak. Ia menoleh cepat ke arah pintu, menghapus air matanya dengan kasar menggunakan lengan seragamnya.

​"Siapa di situ?!" seru Alea. Suaranya parau, tapi nadanya defensif. Galak.

​Julian membeku. Tertangkap basah. Tidak ada gunanya sembunyi. Dengan canggung, ia mendorong pintu dan melangkah masuk.

​"Ini saya," kata Julian datar, berusaha menormalkan situasi.

​Mata Alea membelalak. Wajahnya memerah—campuran antara malu, marah, dan sisa tangis. "Lo... ngapain lo di sini? Ngintip?!"

​"Saya lewat. Saya dengar suara piano," jawab Julian. Ia berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk terlalu jauh. "Saya pikir Pak Ujang lupa mematikan lampu."

​"Bohong! Lo pasti mau nyari kesalahan gue lagi kan?" Alea berdiri, menendang bangku piano hingga bergeser. "Apa? Mau laporin gue karena make fasilitas sekolah di luar jam operasional? Catet nih! Catet!"

​Alea menyodorkan namanya di dada seragam, menantang. Tapi matanya yang sembab dan merah tidak bisa menipu. Topeng galaknya retak parah.

​Julian menatap gadis itu lekat-lekat. Biasanya, ia akan meladeni tantangan Alea dengan pasal-pasal tata tertib. Tapi kali ini, kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

​"Lagunya bagus," ucap Julian tiba-tiba.

​Alea terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, bingung. "Hah?"

​"Lagu yang kamu nyanyikan barusan. Liriknya... bagus. Kedengarannya jujur," ulang Julian. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, bersandar pada kusen pintu.

​Alea mengerjap. Ia sudah siap menerima semprotan atau ceramah, tapi malah mendapat pujian? Dari Julian Pradana? Kiamat sudah dekat.

​"Lo... nggak usah nyindir," gumam Alea, memalingkan wajah. Ia sibuk membereskan tas gitarnya yang tergeletak di lantai, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Itu lagu jelek. Cuma iseng."

​"Saya tidak menyindir. Nada minor-nya pas. Dan metafora tentang lilin dan matahari itu... cukup puitis untuk ukuran orang yang nilai Bahasa Indonesianya cuma 65," tambah Julian. Oke, mungkin ada sedikit sindiran di kalimat terakhir, tapi nadanya tidak tajam.

​Alea mendengus, tapi kali ini tidak ada api kemarahan. Ia menyampirkan tas gitarnya.

​"Lo denger semuanya?" tanya Alea pelan, tanpa menatap Julian.

​"Cuma bagian refrain," jawab Julian jujur.

​Alea berjalan menuju pintu, berhenti tepat di depan Julian. Jarak mereka dekat. Julian bisa melihat sisa air mata di pipi Alea yang belum kering sempurna.

​"Jangan bilang siapa-siapa," ancam Alea. Suaranya bergetar pelan. "Apalagi anak-anak band. Kalau mereka tau vokalis rock mereka nyanyi lagu cengeng kayak gitu, reputasi gue hancur."

​Julian menatap mata cokelat Alea. Di balik sorot mata yang biasanya menantang itu, Julian melihat ketakutan. Ketakutan untuk terlihat lemah. Ketakutan untuk tidak diterima. Perasaan yang sangat Julian pahami.

​"Kenapa kamu takut dibilang cengeng?" tanya Julian impulsif.

​"Karena di dunia ini, kalau lo keliatan lemah dikit aja, orang bakal injek-injek lo," jawab Alea pahit. "Orang tua gue nggak butuh anak cengeng. Mereka butuh anak sukses kayak Kak Tiara. Dokter. Pintar. Sempurna. Bukan pengamen kayak gue."

​Kata-kata itu menghantam Julian telak.

​Kakak dokter. Pembanding.

​Potongan puzzle kehidupan Alea mulai tersusun di kepala Julian. Ternyata, pemberontakan Alea bukan sekadar kenakalan remaja. Itu adalah jeritan minta tolong. Itu adalah cara Alea berteriak, "AKU DI SINI! LIHAT AKU!" di tengah bayang-bayang kakaknya yang sempurna.

​Sama seperti Julian yang berusaha menjadi robot sempurna demi ayahnya, Alea berusaha menjadi rockstar urakan demi membedakan dirinya dari kakaknya.

​Dua kutub yang berbeda, tapi ternyata memiliki medan magnet luka yang sama.

​"Alea," panggil Julian pelan.

​Alea yang hendak melangkah pergi, berhenti.

​"Musik bukan cuma soal teriak-teriak dan distorsi gitar," kata Julian. Suaranya lembut, tanpa nada menggurui. "Kadang, kekuatan terbesar justru muncul saat kamu berani jujur dengan perasaan kamu sendiri. Lagu tadi... itu jauh lebih kuat daripada lagu rock yang kamu nyanyikan pas upacara kemarin."

​Alea tertegun. Ia menatap Julian dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama ini, semua orang—guru, orang tua—selalu menyuruhnya berhenti bermusik. Tapi Julian, musuh bebuyutannya, justru memvalidasi musiknya.

​"Lo... aneh hari ini," gumam Alea. Ia menunduk, memainkan tali tas gitarnya. "Mungkin kebanyakan nelen rumus bikin otak lo konslet."

​Julian tersenyum tipis. Sangat tipis. "Mungkin. Pulanglah. Sudah mau Maghrib. Nanti dicari orang tua."

​Alea mengangguk kaku. "Lo juga. Jangan nginep di sekolah. Nanti disangka penunggu ruang guru."

​Gadis itu melangkah pergi, berjalan cepat menyusuri koridor yang semakin gelap.

​Julian tetap berdiri di ambang pintu ruang musik. Ia melihat punggung Alea yang menjauh sampai hilang di belokan tangga.

​Ia kemudian melirik ke arah piano hitam di sudut ruangan.

​Julian melangkah masuk, mendekati piano itu. Dengan satu jari, ia menekan tuts yang tadi ditekan Alea. Ting.

​Nada itu menggema sepi.

​Julian teringat gitar akustiknya yang sudah menjadi abu di halaman belakang rumahnya. Teringat jari-jarinya yang dulu lincah menari di fretboard.

​"Lilin kecil yang hampir mati..." gumam Julian mengulangi lirik Alea.

​Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan membuka aplikasi Note. Ia mengetik sesuatu di sana. Bukan jadwal belajar, bukan rumus Fisika.

​Rumus Resonansi: Ketika dua frekuensi yang sama bertemu, getarannya akan saling menguatkan. Mungkin... Alea dan gue punya frekuensi yang sama.

​Julian menutup ponselnya, mematikan lampu ruang musik, dan berjalan pulang dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, namun pikiran yang jauh lebih rumit.

​Hari itu, di ruang musik yang sepi, dinding tebal yang memisahkan "Si Jenius Kaku" dan "Si Pembuat Onar" mulai retak sedikit demi sedikit. Bukan karena rumus Matematika, tapi karena sebuah lagu yang tak sengaja terdengar.

...****************...

BERSAMBUNG...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!