Lilis adalah seorang gadis desa yang tingal bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang sederhana.
Tekatnya sangat kuat untuk berhasil menghargai cita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Banyak perjuangan yang dilakukan dan perlu kesabaran ekstra ketika di sekolah selalu dibully sama temannya.
Akhirnya dengan
Kedua orangtuanyalah yang selalu menghiburnya.
Lilis mencoba melupakan kejadian-kejadian yang membuat lilis trauma, seperti teman-teman sekelasnya sering membully lilis pada saat di sekolah dan lainnya. Dengan terus semangat belajar.
Akhirnya dengan kegigihannya Lilis berhasil masuk di sekolah sma Negeri ternama.
Tapi cobaan lagi-lagi menghampirinya.
Lilis sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Lilis hampir putus asa. Tapi hidup terus berjalan. Lilis harus tetap melangkah. Dia berangkat ke kota menuju tempat sekolahnya.
Berbekal tabungan yang dia kumpulkan ketika berjualan dan kerja paruh waktu selama sekolah SMP.
Lilis didesa tidak punya kendaraan di rumah dan rumahnya jauh dari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Suryaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LILIS SATU KELAS LAGI SAMA LELYTA
"Lilis, ternyata kita satu kelas lagi" Lelyta terlihat bahagia ketika melihat nama mereka ada di kelas yang sama. Lilis bersyukur karena masih bersama teman sebaik lelyta.
Di sisi lain-lain Lina mulai marah sambil mendekati Lilis." Lagi-lagi satu kelas sama kamu, bosen lihatnya. "
"Lina, kapan sih kamu baik sama aku. Sedikitpun aku tidak pernah menganggu kamu" Lama-Lama Lilis marah juga.
Lina tersenyum. "aku cuma tidak suka sama kamu" Katanya dengan penuh penekanan. Sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam, Lina mengakui kepintaran Lilis. Lina hanya iri karena Lilis sering di puji guru padahal dia cuma orang miskin. "Kata Lina."
Di tempat yang berbeda. lelaki sedang melamun di kamarnya. Membayangkan wajah manis seorang gadis yang dia sendiri tidak mengenalnya. Bahkan namanya pun belum tahu. Rasanya baru di sekolah ini dia melihatnya, tapi dia senang karena perempuan itu ternyata satu kelas dengannya.
Rahmat taufik Hidayah. Dia baru pindah di kota ini, karena mengikuti orang tuanya yang pindah tugas sebagai guru di sekolah. Di SMP nya dulu dia memang selalu menjadi rebutan cewek- cewek. Selain karena wajahnya yang ganteng, dia juga tidak pernah memamerkan kekayaannya termasuk fasilitas mewah yang di berikan orang tuanya. Sehingga banyak teman yang mendekatinya karena dia sering berbagi sama teman-temannya.
Rasanya aku tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu dengannya lagi"kata taufik"
Kelas begitu riuh. Setiap orang senang berkenalan agar lebih mudah bergaul. Mungkin ada yang sambil cari perhatian. Lilis hanya tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya. Bangku kosong belum di tempati Lelyta karena dia belum datang.
Seorang Taufik yang Sopan dan terlihat berkelas itu menarik perhatian Lina. Dia mulai cari-cari cara untuk menarik perhatiannya. Ketika Taufik itu berdiri di depan pintu kelas, Lina sudah menyambutnya dengan senyum manis. Seolah tidak terlihat, Taufik tidak merespon ya dan meletakan tasnya di kursinya sambil berjalan ke Arah Lilis.
Lilis yang lagi duduk seorang diri tidak menyadari kehadirannya.
"Hai" Tiba-tiba seorang laki-laki duduk dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Sedikit keras, Lilis Kaget. "Kenalkan namaku Taufik. "Kata Taufik"
"Lilis Mengangguk dan lalu melepaskan jabatan tangannya. Lilis Melihat Taufik yang senyum sendiri. Taufik memulai percakapan dengan Lilis. Lilis hanya bicara dengan seperlunya saja. Sikap dingin Lilis makin membuat Taufik penasaran.
Lilis memang mudah dalam bergaul. Tapi untuk berteman dekat dengan lelaki dia tidak begitu tertarik. Karena bagiannya fokus belajar adalah lebih penting.
Buktinya untuk di SMA ini dia dapat beasiswa lagi sehingga bisa meringankan biaya sekolah. Kasihan ibunya yang sudah Sendirian, dan Tua, ibunya tetap harus bekerja demi dirinya. Lilis pun bertekad, jika sudah sukses nanti dia tidak akan membiarkan ibunya bekerja lagi.
Sementara Lina melihatnya dengan marah. Dia Tidak ingin Lilis merebut laki-laki idolanya. Karena menurutnya laki-laki itu lebih pantas dengannya karena mereka selevel, Sama-sama anak orang punya. Daripada dengan Lilis, seorang perempuan miskin tidak punya orang tua.
Bek masuk berbunyi. Semua siswa-siswi bersiap menerima pelajaran baru dengan guru baru juga. Guru yang pertama masuk bernama bu Sri utami, beliau mengajar pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus menjadi Wali kelas X IPA 1. Setelah perkenalan, banyak pesan yang beliau sampaikan.
Tanpa sadar matanya menatap Lilis yang duduk paling depan. Wajah cantik dan sejuk itu mengingatkan nya pada seseorang. Tapi dengan cepat dia mencoba mengalihkan dan melanjutkan pengarahan kepada anak didiknya. Tanpa terasa bel tanda berganti pelajaran berbunyi lagi.
Hari ini belum ada materi pelajaran yang di sampaikan, hanya perkenalan saja hingga bel pulang berbunyi. Semuanya terlihat ceria.
Lilis berjalan pelan ke tempat parkir paling ujung tempat parkir. Taufik mengikuti Lilis. Lilis hanya melihat nya saja. Tanpa sempat mengajak bicara Taufik, Tiba-tiba saja Lina gabung di tengah mereka.
Lilis marah karena dirinya hampir terjatuh. Tapi dia tetap diam saja dengan tetap berjalan.
"Taufik, pulang bareng yuk" kata Lina"
Taufik kaget, dia tidak menyangka ada Lina. Padahal dia ingin bicara sama Lilis.
"Nanti saja ya" Kata Fandi.
Lina pun cemberut. Dia memang mencoba mendekati Taufik, laki-laki yang dari pertama kegiatan MPLS sudah menjadi perhatiannya.
Taufik pun kembali mengejar Lilis. Tapi Lilis sudah menaiki sepeda nya dan keluar gerbang sekolah. "Aduh! Gagal pelan.
Di kamarnya yang luas dengan benda yang mahal, Aldi membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. Belum lagi dia berganti pakaian. Tiba-tiba pikirannya melayang ke Lilis.
" Hari ini aku tidak bertemu dengannya. Aku Rindu dengannya tadi aku tidak ketemu sama Lilis saat di sekolah. "Kata Aldi"
Aldi, meski anak orang kaya, tapi dia tetap tampil sederhana dan sopan sehingga banyak yang tidak tahu bahwa orang tuanya kaya raya. Dia tidak ingin temannya mendekati nya hanya karena dia kaya bukan karena tulus berteman.
Malam itu Lilis sedang mengerjakan PR di kamarnya. Meja belajar yang sudah lama tidak membuat Lilis tidak pantang semangat. Tiba-tiba ibunya menghampiri.
"Lilis masih belajar? " Tanyanya pelan sambil duduk di kasur milik Lilis. "Kata Ibu yati"
"Iya, buk. Ada Apa? " Lilis berhenti membaca dan menoleh pada ibunya.
"Begini, ibu kan sudah tua, rasanya sudah tidak sanggup lagi mengelola sawah kita" Ibu berhenti bicara lalu melihat ke Lilis.
"Bagaimana kalau sawah itu kita sewakan saja. Walau hasilnya lebih sedikit, tapi masih cukup untuk makan. "Kata ibu yati"
Lilis sedih. Ada rasa kasihan di dalam hatinya. Membayangkan bagaimana selama ini ibunya berusaha sekuat tenaga mencari nafkah untuk mereka menyambung hidup. Walau terkadang ada tetangga yang memberi mereka sembako ataupun yang jajan untuknya. Tapi tetap saja mereka harus bekerja karena tidak mungkin merepotkan orang lain terus.
Lilis tersenyum. " Iya. Buk. Tidak apa apa. Memang sudah seharusnya ibu istirahat. Nanti biar Lilis mencari pekerjaan tambahan seperti mengajar les. "Lilis pun mengenyam tangan ibunya.
" Buk, seandainya aku tinggal sama orang tua kandungku, mungkin aku tidak akan menyusahkan dan merepotkan ibu seperti ini"
Lilis Berkata Dengan Pelan.
Lalu Ibu yati menarik Lilis ke dalam pelukannya. Matanyapun berkaca-kaca.
"Lilis jangan begitu. Ibu ikhlas merawat Lilis. ibu hanya ingin melihat Lilis menjadi orang berhasil, sukses dan bahagia" Sambil mengusap punggung Lilis Dengan pelan.
Lilis melihat ke wajah ibunya sambil menghapus air matanya. "Terima kasih buk. "
"Kata Lilis"
Pagi itu Lina sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia melangkah ruang menuju meja makan dimana orangtuanya sudah menunggunya.
"Tumben sepagi ini.