NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Tuan Albert

Istri Kesayangan Tuan Albert

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

《Chapter 5》

Emily hanya bisa memejamkan mata selama perjalanan menuju rumah sakit sambil menahan rasa pusing yang semakin menjadi di kepalanya.

Sekitar 15 menit perjalanan, mereka tiba di salah satu rumah sakit, Albert turun duluan dan membantu Emily turun dari mobil.

Emily segera berbaring di ranjang dan para dokter segera memeriksa keadaannya. Wajahnya sudah sangat pucat.

Ia hanya bisa melihat dokter dengan papan nama Grisel itu memasukkan jarum dan memasang infus pada Emily.

"Tenang, ini hanya flu biasa, ia akan segera membaik setelah di infus," kata Grisel.

Namun Albert masih khawatir karna Emily sering terlihat sakit pada hari biasanya, jadi ia berkata pada dokter untuk melakukan tes darah.

Ia memperhatikan keadaan Emily dengan teliti, mendapati kulit gadis itu yang terlalu pucat meski berwarna putih.

Wajahnya masih cantik meski sedang tertidur.

Grisel yang sudah selesai mengambil sampel darah berjalan keluar dari sana di ikuti oleh Albert.

Mereka berdua sudah saling mengenal karna bisnis orangtua.

"Apa kesehatan Emily sangat buruk?" tanya Albert begitu masuk ke ruangan milik Grisel.

"Beberapa orang memang lahir dengan keadaan lemah, itu wajar.

Tapi aku akan memeriksa keadaan pasti dari tubuh istri mu, jangan khawatir," ucap Grisel menenangkan Albert.

"Aku sedikit kaget saat kau datang, tidak biasanya kau memperhatikan seseorang bahkan meninggalkan pekerjaanmu," ucap Grisel.

"Jadwal hari ini tidak terlalu padat," jawab Albert sambil pergi ke sofa disana dan duduk membaca brosur kesehatan milik Rumah Sakit.

"Kalau begitu, apa benar kalian menikah karna cinta?" tanya Grisel penasaran.

Ia sudah berteman dengan Albert dan tidak pernah mendengar atau melihat tentang kekasih Albert, menjadikannya kaget saat mendapat undangan pernikahan mereka beberapa hari yang lalu.

Albert berhenti membaca brosur dan mengangkat kepalanya kemudian berkata "Bagaimana menurutmu?"

Grisel tertawa dan menggelengkan kepala.

"Anak itu terlihat jauh lebih muda darimu, tentu saja aku tidak percaya kalian menikah karna cinta"

Albert tidak menanggapi ucapan Grisel, ia berjalan keluar tanpa mengatakan apapun.

Menghampiri Emily yang sudah sadar dan sedang menatap ke arah luar jendela.

Emily segera memalingkan muka dari jendela ketika Albert masuk.

Albert tidak berbicara dan hanya duduk di samping ranjang menunggu infus yang sedikit lagi akan habis.

"Saya akan memanggil dokter untuk melepasnya," ucap Albert namun ternyata Grisel sudah mencapai pintu masuk, jadi ia tidak perlu repot untuk memanggilnya.

"Apa kamu sudah merasa lebih baik?," tanya Grisel yang tetap fokus membuka jarum infus di tangan Emily.

"Ya, terimakasih dokter Grisel," jawab Emily dengan senyuman.

Emily tidak berbohong, setelah mendapat infus, ia merasa demam yang ia rasakan sudah mereda dan kepalanya juga sudah tidak sakit.

"Saya akan meresepkan obat, kalian bisa mengambilnya di apotek untuk di minum secara rutin," ucap Grisel.

Emily tersenyum sekali lagi dan Grisel dapat melihat mata jerih Emily yang nampak cerah.

Sebenarnya Emily sedang berfikir bahwa ia sangat bersyukur bisa mendapatkan pengobatan, di dunia nyata ia bahkan tidak punya uang untuk membeli makan, apalagi membeli obat untuk luka-luka yang ia dapat dari pukulan sang Ayah.

"Saya harus ke kantor dulu, apa kau ingin ikut?" tanya Albert setelah mereka mengambil obat.

Sebenarnya Emily sudah memiliki dirawat bahwa Albert akan pergi ke kantor, jadi dua hendak pulang menggunakan taksi, namun ia tidak menyangka Albert akan mengajaknya pergi kesana.

"Apa aku boleh ikut kesana?" tanya Emily ragu-ragu.

"Tentu saja," jawab Albert.

Ia sudah menikah dengan Emily, jadi tidak ada masalah jika gadis itu ikut kesana.

Sekitar setengah jam kemudian, mereka sampai perusahaan yang di pegang Albert.

Gedung itu berada di pusat kota dengan puluhan lantai yang menjulang tinggi.

Emily keluar dari mobil dan mengikuti Albert, saat ini semua karyawan yang melihat Albert langsung memberi salam.

Mereka sedikit kaget melihat Emily disana, tidak banyak dari mereka yang mendapat undangan, jadi banyak yang baru melihat wajah istri Albert ini.

Melihat Emily yang begitu cantik membuat mereka melupakan rumor tentang Albert yang sudah lama di perbincangankan.

Emily merasa tidak nyaman saat di perhatikan oleh banyak orang, namun ketika ia melihat Albert, pria itu sangat tenang, membuat Emily berfikir bahwa Albert pasti sudah terbiasa dengan situasi yang seperti ini.

Mereka berjalan menuju lift dan pergi ke ruang CEO yang berada di lantai paling atas.

"Saya akan memimpin rapat sebentar, Masuklah dan tunggu saya di dalam," Emily hanya mengangguk patuh dan berjalan membuka pintu.

Setelah itu Albert masuk ke ruang rapat dimana para karyawan sudah duduk menunggunya dari tadi.

Ruangan milik Albert agak besar, namun terlihat sederhana dan memiliki beberapa rak buku, yang membuat Emily kagum adalah jendela besar yang bisa membuat kita memandang seluruh Kota dari atas sana dan sebuah sofa cukup besar yang bisa di pakai berbaring.

Emily memutuskan duduk di sofa setelah melakukan pengamatan ruangan, tangannya mengambil segelas air mineral dan meminumnya di saat seorang lelaki masuk kesana secara mendadak.

Uhuk, uhuk..

Emily yang kaget tersedak oleh minumannya.

"Wah, mereka tidak berbohong, ia benar-benar membawa istrinya kemari"

Lelaki itu nampak lebih muda dari Albert, ia duduk di samping Emily dan memperkenalkan dirinya sebagai adik Albert.

Emily mengerutkan dahi mencoba mengingat lelaki ini.

"Kai?" tanya Emily padanya, ia baru ingat wajah Kai yang memang datang ke acara pernikahannya yang lalu.

"Kakak ipar, apa benar kalian menikah karna cinta?" tanya Kai padanya.

Emily menganggukkan kepada tanda setuju, lagian menurut Emily mereka sudah tanda tangan kontrak jadi ia berfikir harus memainkan perannya sebagai istri yang di cintai suaminya agar orang bisa percaya bahwa mereka menikah secara natural.

"Hebat, apa kakakku sering berbicara denganmu? Ia begitu pendiam, aku khawatir jika ia tidak memperhatikan mu," kata Kai selanjutnya.

Emily yang mendengar itu menjawab, "Tidak, Albert sangat baik padaku"

Bukankah itu benar? Emily bahkan mendapat kehidupan mewah dimana ia bisa tidur di kasur yang empuk, makan makanan enak, menikmati permainan dan lebih istimewanya lagi ia mendapat uang yang banyak.

"Bagaimana mungkin," Kai masih tidak percaya.

Tepat saat itu, pintu terbuka dan Albert masuk, ia menatap Kai dengan dingin lalu menyuruhnya keluar.

"Siapa yang menyuruhmu masuk? Kau mengganggu Nona Emily," ucap Albert.

"Jangan mendengarnya, dia sedikit gila," ucap Albert pada Emily yang tersenyum.

Menurut Emily, mereka hanya saling menggoda, itu hal yang wajar bagi saudara.

"Tuan Albert yang terhormat, mengapa anda menjelekkan adik anda yang tampan ini, saya datang untuk melihat Nona Emily"

Albert bersikap acuh pada Kai, ia duduk di samping Emily tanpa menghiraukannya.

"Sekarang sudah tengah hari, apa kalian tidak akan makan? Bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya Kai pada mereka.

"Sudah di bilang, pulang saja kau," Ucap Albert lagi.

"Aku tidak mau, nanti aku akan di hukum," rengek Kai.

Jika Albert adalah seorang yang pendiam dan kecanduan bekerja, maka adiknya memiliki sifat kebalikkannya, ia adalah seorang playboy yang hanya berfoya-foya.

Mereka hanya dua bersaudara namun salah satunya nampak seperti benalu dalam keluarga, tapi Albert tidak pernah kasar pada Kai, biasanya hanya kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.

Ketiganya meninggalkan kantor berencana makan siang di luar.

"Emily, kau ingin makan apa?" tanya Albert saat mobil sudah melaju.

"Pizza," jawab Kai yang sedang mengemudikan stir.

"Aku tidak bertanya padamu," ucap Albert pada Kai, membuat Kai cemberut.

Albert berfikir bahwa Emily baru saja sakit dan di infus tadi pagi, jadi ia memutuskan untuk pergi ke restoran Cina agar mereka bisa memesan sup hangat untuk Emily.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!