Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu”
"Brak!"
Pintu ruang tengah terbanting keras. Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang liar, cahayanya menari di dinding seperti bayangan murka.
"Ayah! Ibu! Kenapa kalian tidak bilang kalau Lu Jia sudah menikah?!"
Suara Shen Yucheng pecah, menggema sampai ke dapur tanah liat di belakang rumah.
"Dan kenapa Ibu tidak mencegahnya?! Ibu tahu aku mencintai gadis itu!"
Napasnya terputus-putus, tangan gemetar, wajahnya memerah menahan gejolak hati dan rasa malu.
Madam Shen Meihua, yang sejak tadi memotong bawang daun dan jahe, hanya tersenyum tipis.
"Kau baru pulang, pasti lelah. Masuklah ke kamar, istirahatlah dulu. Jangan pikirkan gadis itu-dia sudah di tempat yang seharusnya. Takdirmu adalah wanita yang sepadan denganmu. Siapa yang bisa menolak pesona Shen Yucheng? Tampan, berpendidikan... dan terlahir untuk sesuatu yang lebih tinggi dari itu."
Dari kamar dalam terdengar suara Lihua, kakaknya, yang sedang menyisir rambut, tersenyum licik, berbicara dengan nada santai:
"Selain menangis dan menunggu belas kasihan, apa yang bisa dilakukan gadis itu? Bagus kalau dia sudah menikah. Mereka memang sejodoh-sama-sama menyedihkan."
Ia menambahkan seolah merasa prihatin:
"Ehem... dan aku dengar mahar si cacat itu lumayan besar. Lu Jia katanya sangat senang, saking gembiranya semua hadiah pemberianmu dulu-bedak dan perhiasan-sudah berpindah tangan, jadi milik saudara tirinya."
Mendengar informasi itu wajah Yucheng seolah berubah menjadi tomat rebus
"Brengsek..."
Ia masih tidak mengerti.
Gadis yang dulu selalu menangis saat ditinggalkan kini justru menjatuhkan dirinya ke tanah untuk menjauh darinya.
Dan yang paling membuatnya gelisah, Lu Jia bahkan bersembunyi di belakang Su Hao.
Seolah pria pincang itu lebih bisa dipercaya daripada dirinya. Pemandangan itu terus terngiang di kepalanya, tak mau hilang.
Yucheng menatap sekeliling, gemetar namun memaksa nada suaranya tetap lembut, sedikit jengkel:
"Jangan bicara seperti itu. Kalian tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja dia ditipu, oleh ibu tirinya... Aku akan berbicara dengan Lu Jia nanti..."
Namun sebelum kalimatnya selesai, suara berat ayahnya terdengar dari kamar depan:
"Cukup."
Tirai tersingkap. Shen Guangli berdiri di bawah cahaya lampu minyak, tubuh tegap meski bahunya mulai bungkuk dimakan usia. Ia mengenakan jubah katun abu, wajahnya datar tapi nadanya tajam.
"Aku tidak menyekolahkanmu ke kota untuk mempermalukan keluarga Shen. Kalau kau benar-benar ingin berakhir dengan gadis itu, ketahuilah-bukan dia yang akan menodai nama keluarga, tapi kau sendiri."
Yucheng terdiam. Bukan karena tunduk, tapi pikirannya bekerja cepat. Ia akan menangkap kembali mangsangnya. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.
Semakin banyak orang menyuruhnya melupakan Lu Jia, semakin sulit ia melakukannya.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Dan ia membenci perasaan itu.
Madam Shen Meihua menatap anaknya sekilas, lalu mulai menumbuk bumbu di cobek batu.
"Kami akan mengadakan Huí xué xǐ yàn untukmu besok-syukuran kelulusanmu. Banyak yang akan datang memberi ucapan selamat. Sekarang istirahatlah dulu, Nak. Besok temani Ibu ke pasar, kita beli daging dan ayam. Ibu ingin semua orang tahu, keluarga Shen masih punya alasan untuk berbangga."
Malam berlalu, dan rasa gelisah di rumah keluarga Shen tak juga reda.
Sementara itu, di rumah kecil di ujung desa, pagi datang seperti biasa.
Su Hao sudah bersimpuh di atas sajadah anyaman jerami-di samping ranjang, sholat dengan tenang, sementara Lu Jia masih terlentang, tidur pulas. Sudah beberapa kali Su Hao mencoba membangunkan istrinya, tapi alih-alih bangun, ia malah mendapat tamparan dari Lu Jia-mungkin gadis itu menganggap suara Su Hao seperti jam weker yang terlalu berisik.
Setelah sholat, Su Hao menggulung sajadahnya, menaruhnya di samping lemari kayu. Matanya menatap Lu Jia penuh waspada. Dengan hati-hati, ia mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir istrinya.
Bukannya terjaga, Lu Jia masih menutup mata. Tiba-tiba, tangannya melayang, menahan wajah Su Hao.
Su Hao menegang, tapi sebuah senyum tipis bermain di bibirnya. Ia tahu, istrinya menyukai sedikit kenakalannya. Sekali lagi, ia memonyongkan bibir. Belum sempat menempel, terdengar bisikan Lu Jia:
"Bajingan! Sekali lagi kau berbuat tak senonoh, ku pastikan alat reproduksimu ku kebiri menjadi empat potongan!"
".........."
Su Hao mendesah pelan, matanya berkilat.
"Hem-sepertinya lidahmu juga perlu ditempa dengan besi, biar bicaramu kembali lurus."
Ia menarik tangannya dari wajah Lu Jia dengan sedikit kasar, lalu berdiri. Nada seriusnya menggema di kamar:
"Bangun. Lima detik. Kalau tidak, kutinggal kau sendirian di rumah."
Mendengar itu, Lu Jia yang masih bermimpi akan dijilat anjing tetangga, kelopak matanya langsung berkedip kaget.
"Apa? Kenapa begitu cepat? Ini masih subuh, ayam pun belum mulai berkokok sempurna," keluhnya.
Su Hao tak menggubris protes itu. Ia membuka lemari kayu, mengeluarkan dua lembar baju dan handuk baru, lalu melemparkan ke arah Lu Jia.
"Mandi sekarang, sebelum matahari terbit dan menertawaimu," perintahnya singkat, lalu ia melangkah keluar kamar, meninggalkan istri yang masih linglung.
Usai mandi singkat ala Lu Jia, ia menata rambutnya seadanya, sementara Su Hao menyiapkan beberapa kantong kain bekas untuk membawa barang. Matahari baru saja muncul dari balik bukit, menyebarkan cahaya lembut yang menembus kabut tipis menyelimuti desa.
"Wah, segarnya!" Lu Jia menghirup napas panjang, mengikuti langkah suaminya. Meski kakinya tidak sempurna, Su Hao melangkah dengan cepat dan mantap, seolah tidak ada beban yang membebani tubuhnya.
Mereka menapaki jalan tanah yang sedikit becek akibat embun. Di sepanjang jalan, rumah-rumah kayu dan batu bata berjejer rapat. Beberapa anak kecil berlari-lari sambil mengejar ayam kampung yang berkeliaran, suaranya bercampur dengan kokokan ayam jantan yang mulai terjaga.
"Kita naik apa ke pasar? Jangan bilang kita jalan kaki, aku tidak sanggup-kecuali kau menggendongku," ujar Lu Jia dengan nada ngelunjak. Ia tidak tahu, bahwa istri lembut dan manja lebih sering diam daripada bicara.
"Kita akan naik itu," jawab Su Hao sambil menunjuk ke arah gerobak sapi yang berdiri angkuh di pinggir jalan. Beberapa penumpang sudah duduk di atasnya, bersiap berangkat.
"Itu... kereta?" tanya Lu Jia dengan mata berbinar, membayangkan dirinya sebagai seorang putri yang duduk manis di dalam kereta bangsawan.
"Lebih tepatnya... gerobak," jawab Su Hao datar, tanpa sedikit pun romantisme. Luntur sudah imajinasi Jia sebagai putri kerajaan.
Jia menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca, berharap ia salah dengar. Sayang, Su Hao adalah pria pandai besi yang keras, sederhana, dan sama sekali tidak tahu cara bersikap manis atau romantis.
Setelah mereka berdua mendekat, Su Hao langsung mengendong Lu Jia naik ke grobak sapi. Ia menyesuaikan posisi duduk istrinya dengan hati-hati, memastikan punggung Lu Jia tegak dan kaki tidak tergelantung terlalu rendah. Penumpang yang sudah duduk sedikit bergeser, memberi ruang agar Su Hao juga bisa duduk dengan nyaman.
"Sudah semua?" tanya seorang pria paruh baya, kusir gerobak sapi itu, sambil memegang tali kekang sapi yang besar dan berotot.
"Ya!" jawab Su Hao dan Lu Jia hampir serempak.
"Hiiyaaa!" seru kusir, menepuk punggung sapi dengan tongkat pendek. Sapi itu mengangkat kaki depannya, lalu melangkah mantap.
Gerobak bergerak perlahan meninggalkan desa.
Di kiri kanan jalan, sawah membentang sejauh mata memandang. Kabut pagi masih menggantung rendah, menyelimuti pucuk-pucuk padi seperti kain tipis.
Beberapa penumpang mulai mengobrol pelan.
Ada yang membahas harga gabah.
Ada yang mengeluhkan cuaca yang tak menentu.
Ada pula yang diam sambil memejamkan mata menikmati perjalanan.
Lu Jia mengedarkan pandangan.
Lalu matanya berhenti pada seorang gadis yang duduk tidak jauh darinya. Gadis yang terlihat rapi dengan baju kebaya katun sederhana, rok panjang lurik khas desa-modis tapi tetap standar untuk gadis desa seusianya. Dia adalah Lu Yuer, adik tirinya. Ia menutupi mulutnya dengan kipas, matanya kemudian menyipit.
"Hai kak, lama tak jumpa. Kakak baik-baik saja kan?"
sapanya ramah. Namun Lu Jia tahu, gadis ini menyimpan ribuan jarum di sudut bibirnya!