Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Keputusan Kazuma
Kenji kembali ke kamarnya setelah berbicara dengan papanya, ia duduk di tepi ranjangnya dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Pertanyaan papanya tadi terus terngiang di telinganya.
“Apakah kau di-bully di sekolahmu?” Pertanyaan Kazuma itu menusuk, seakan menembus pertahanan terakhir yang selama ini ia bangun.
“Bagaimana Papa bisa tahu … ? Aku tidak pernah cerita pada siapa pun,” gumamnya pelan.
“Sudahlah sebaiknya sekarang aku tidur mungkin itu hanya perkiraan Papa,karena setiap pulang sekolah aku luka-luka,” kata Kenji.
Kenji membaringkan tubuhnya ke kasur. Ia hendak tidur namun ia masih memikirkan pertanyaan papanya yang dilontarkan, tetapi ia mencoba untuk tetap berpikir positif saja.
***
Keesokan paginya, suasana di rumah Kazuma terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan semalam masih menyisakan embun di kaca jendela, dan sinar matahari yang menembus tirai tipis yang menciptakan garis cahaya hangat di lantai kayu.
Kenji duduk di ruang makan, menatap roti panggang yang berada di piringnya tanpa selera. Terdengar suara jam dinding berdetak pelan, seperti menghitung setiap detik lewat dalam keheningan.
Langkah kaki berat terdengar dari arah koridor, Kazuma muncul. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana. Meski tampak tenang, aura wibawanya masih tetap memancar kuat.
“Pagi,” sapa Kazuma singkat.
“Pagi juga Pa,” jawab Kenji pelan.
Mereka sarapan tanpa banyak bicara. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring terdengar di antara keduanya. Sejak pembicaraan yang kemarin, hubungan keduanya terasa kaku. Entah kenapa Kenji merasa kalau papanya memperhatikan lebih dari biasanya, seakan ia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui.
Selesai makan, Kazuma meletakan cangkir tehnya perlahan, dan lalu menatap kearah Kenji. Kazuma masih terus menatap ke arah Kenji, dan tidak lama ia berdiri dan pergi meninggalkan meja makan, tetapi sebelum ia pergi.
“Setelah sarapan, temui Papa di ruang kerja,” kata Kazuma dengan tenang
Kenji terdiam. ia menatap ke wajah papanya dengan bingung. Ada nada serius dalam suaranya itu yang membuat jantungnya berdebar. “B-baik, Papa.”
Beberapa menit kemudian, ia berdiri didepan pintu ruang kerjan Kazuma. Kenji menarik napas dalam-dalam,mencoba untuk menenangkan diri sebelum mengetuk pintu.
“Masuk.” Suara berat itu terdengar dari dalam ruang kerja.
Kenji membuka pintu pelan, di dalam Kazuma sudah duduk di kursinya, ia sedang menatap beberapa berkas yang sepertinya bukan dokumen biasa. Lampu meja memancarkan cahaya keemasan yang membuat wajah Kazuma terlihat setengah teduh, setengah gelap, seperti menandakan sisi misterius yang selama ini ia sembunyikan dari dunia luar.
“Duduklah, Kenji,” ucap Kazuma yang masih melihat dokumen tanpa melihat ke arah Kenji.
“Sebentar lagi Papa selesai memeriksa dokumen ini,” ucap Kazuma kembali
Kenji mengangguk dan menurutinya, tangannya dingin dan matanya menatap ke arah lantai. Ia tidak tahu entah kenapa perasaan nya gelisah semakin kuat.
Beberapa ,menit berlalu dalam diam, akhirnya Kazuma menyelesaikan memeriksa dokumen. Setelah itu Kazuma membereskan dokumennya, lalu menatap ke arah Kenji.
“Papa ingin bertanya sekali denganmu, apakah ada sesuatu yang ingin kamu cerita pada Papa tentang sekolahmu?” tanya Kazuma.
Sebenarnya sudah dari kemarin Kazuma memancing Kenji untuk berbicara jujur kepadanya, namun gagal. Makanya ia mencoba memancingnya kembali agar Kenji bisa berbicara jujur dengannya. Kenji yang mendengar kembali pertanyaan itu kaget.
“S-sekolah?” kata Kenji getar. “Tidak ada, Papa. Semua baik-baik saja Papa.”
“Benarkah? apakah kamu yakin tidak ada yang mengganggumu? tidak ada yang memperlakukanmu dengan tidak semestinya?” Kazuma menatap ke langsung ke Kenji.”Kamu tidak berbohongkan?”
“Iya … aku tidak berbohong, aku baik-baik saja.” Kenji memalingkan wajahnya.
“Kenji.” Kazuma bersuara dan kali ini lebih dalam dan menekan. “Kamu tahu kalau aku paling tidak suka dibohongi, jadi jangan berbohong kepadaku.”
Ruangan mendadak terasa sesak. Kenji bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup begitu cepat. Ia mencoba tersenyum, tapi matanya mulai bergetar.
“Aku … tidak tahu apa yang Papa bicarakan.”
Kazuma berdiri perlahan, berjalan menghampiri Kenji. Suara langkah kakinya menggema berat di lantai kayu. “Papa sudah tahu semua, Papa tahu bagaimana mereka memperlakukanmu di sekolah,” kata Kazuma tenang tapi menusuk.
“P-Papa tahu?” Kenji menatap papanya dengan kaget.
Kazuma hanya menatapnya dalam. “Kau pikir Papa tidak bisa membedakan luka jatuh dan luka pukulan? kau pikir Papa tidak tahu kenapa setiap malam kau pulang dengan wajah pucat dan lengan memar?”
Kenji menunduk, bibirnya bergetar. Rasa malu dan takut bercampur jadi satu. “Aku … aku tidak mau membuat Papa khawatir.”
“Tapi tindakanmu membuatku kecewa,Kenji,” potong Kazuma dengan nada dingin. “Bukan karena kau disakiti … tapi kenapa kamu memilih diam, itu karena kau tidak percaya pada Papamu sendiri.”
Kenji terdiam dan matanya mulai basah, dan ia hanya terdiam. Kenji ingin sekali menjawab, tetapi ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
Kazuma berjalan ke arah jendela, menatap langit yang mulai mendung.”Selama ini Papa sudah berusaha menjauhkan dari dunia ini agar kau bisa hidup normal,” kata Kazuma perlahan.”Tapi apa nyatanya dunia luar tidak seindah yang Papa harapkan. Mereka melihatmu lemah, dan kau membiarkan mereka berpikir begitu.”
Kenji hanya terdiam mendengar semua apa yang dikatakan oleh papanya, akhirnya ia mengeluarkan suara. “Aku hanya tidak ingin membuat masalah, Papa. Aku tidak seperti Papa yang kuat, aku tidak bisa membalasnya.”
Kazuma menoleh perlahan,tatapan mata tajam tetapi penuh luka. “Itu masalahnya, Kenji, karena kau tidak bisa. Karena kau tidak tahu bagaimana menjadi kuat.”
“Aku … “ kata Kenji dengan suara melemah.
Kazuma mendekat, lalu menatap Kenji dalam-dalam. “Dengarkan baik-baik, Kenji. Mulai hari ini, Papa ingin kau belajar, tidak hanya pelajaran sekolah, tapi tentang dunia yang sesungguhnya. Dunia dimana kekuatan menentukan segalanya.”
Kenji mengangkat wajahnya, tatapan bingung bercampur takut. “Maksud Papa …?”
Kazuma berhenti sejenak, menatap foto keluarga di meja kerjanya, foto lama bersama mendiang istrinya, Misaki yang tersenyum lembut di sisi kecil Kenji. Tatapan Kazuma melembut sesaat, tapi hanya sesaat.
“Papa ingin kau masuk ke dalam dunia mafia,” kata Kazuma dengan suara yang dalam dan pasti.
Kenji yang dengar kata-kata itu terasa seperti petir di telinganya. Ia menatap ke arah papanya tak percaya. “Apa … Papa sedang bercanda?”
Kazuma menggeleng. “Papa serius.”
“Papa … aku tidak mau! Dunia itu … “ Kenji berdiri dari kursinya, napasnya memburu.
“Sebuah dunia yang keras ya,” kata Kazuma .
“Tapi dunia ini juga satu-satunya tempat dimana kau bisa melindungi diri, tidak ada guru yang peduli, tidak ada teman yang benar-benar ada saat kau tersakiti. Kau harus belajar bertahan, Kenji.”
“Aku tidak ingin menjadi seperti Papa!” Kenji menggigit bibirnya dan mencoba menahan air matanya.
Kazuma hanya terdiam, kalimat itu menembus dadanya lebih tajam daripada peluru. Ia menarik napas pelan dan mencoba menahan amarah yang bergolak.
“Suatu hari nanti, kau akan mengerti kenapa Papa melakukan ini semua,” kata Kazuma akhirnya.
“Papa tidak ingin kau tampak lemah. Dunia tidak memberikan belas kasihan pada orang-orang seperti itu.”
Kenji menatap Kazuma dengan mata merah. “Kalau menjadi kuat berarti harus menyakiti orang lain … aku tidak mau menjadi kuat seperti itu, Papa.”