Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Matahari Terbenam
Sorenya, latihan usai lebih cepat dari biasanya. Langit mendung tipis-tipis, dan angin sore mulai berhembus sejuk.
Lyla menyimpan peralatan make-up ke dalam tas kecil, lalu berjalan keluar aula.
"LYLA!"
Seseorang memanggilnya dari belakang.
Ia menoleh.
Noah berlari kecil ke arahnya dengan botol minum di tangan.
"Kamu lupa ini," katanya, menyodorkan botol yang biasa Lyla bawa.
"Eh... makasih."
Lyla menerimanya, lalu menunduk.
"Kamu perhatian banget, ya."
Noah tertawa pelan. "Biasa aja. Soalnya kamu tuh orangnya kayak gampang lupa."
"Aku enggak pelupa!" protes Lyla, pura-pura cemberut.
Mereka berjalan bersama ke arah halte. Langit mulai memerah.
"Noah," kata Lyla pelan sambil menunduk sedikit. "Kamu kenapa sih suka banget ikut teater? Kamu kan pinter juga, bisa ikut klub sains, debat, atau apa gitu..."
Noah menoleh, lalu tersenyum. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang membayangkan sesuatu yang jauh.
"Aku ingin ninggalin jejak," katanya tenang.
"Nggak harus besar… asal bisa dikenang."
Lyla diam. Kata-kata itu menggema di pikirannya, membuat hatinya berdebar.
Lalu Noah balik bertanya, suaranya lembut, “Kalau kamu, Lyla? Kamu punya cita-cita?”
Lyla menunduk sambil berpikir. “Hmm… cita-cita, ya…” gumamnya pelan. “Aku belum menentukan.”
Tiba-tiba, langkah Noah terhenti. Lyla yang berada di sampingnya juga ikut berhenti, bingung.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Cowok itu menoleh dengan senyum penuh teka-teki. “Lyla, mau aku tunjukan tempat yang bagus?”
“Tempat yang bagus?” ulang Lyla, keningnya mengerut. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, Noah sudah menggenggam tangannya.
“Ayo, sebelum terlambat!”
Lyla terkejut. Sentuhan pertama itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi alih-alih menolak, ia malah membiarkan dirinya ditarik Noah, berlari kecil menyusuri jalanan yang mulai sepi sore itu.
Angin menerpa wajahnya, tawa Noah terdengar riang di telinganya.
Dan entah kenapa, Lyla merasa… ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang berubah—atau mungkin, baru saja dimulai.
Noah menarik Lyla melewati jalan setapak kecil yang belum pernah Lyla lewati sebelumnya. Nafas mereka masih tersengal karena berlari, tapi Lyla tidak berkata apa-apa.
Ia hanya mengikuti… entah karena penasaran, atau karena genggaman tangan Noah terasa terlalu nyaman untuk dilepaskan.
“Apa masih jauh?” tanya Lyla akhirnya, masih sedikit terengah.
“Sebentar lagi.” Noah menoleh sebentar dan tersenyum. “Tapi kamu pasti bakal suka.”
Beberapa menit kemudian, pepohonan terbuka, dan hamparan air danau kecil menyambut mereka.
Cahaya matahari sore memantul di permukaan air, menciptakan kilauan keemasan yang tenang. Di tepi danau, rerumputan melambai pelan ditiup angin.
Lyla terdiam. “Ini… cantik sekali.”
“Aku sering ke sini waktu SD,” ucap Noah
sambil duduk di atas batu besar di pinggir danau. “Kalau lagi banyak pikiran, atau cuma pengen diem sebentar.”
Lyla ikut duduk di sampingnya. Kakinya menyentuh rumput, dan ia mendongak, melihat langit yang mulai berubah jingga.
“Kamu selalu tahu tempat bagus, ya…”
Noah tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah langit, lalu berkata pelan, “Terkadang, keindahan yang sederhana justru yang paling mudah dikenang.”
Lyla menoleh pelan ke arahnya. Senyum Noah tidak selebar biasanya. Ada sesuatu yang dalam di matanya—tapi ia tidak bertanya.
Ia hanya duduk di sampingnya, diam, menikmati langit yang perlahan berubah warna bersama seseorang yang mulai mengisi ruang kecil di hatinya.