Sejak kejadian kebakaran itu, Arga Mahendra jatuh cinta pada gadis yang menyelamatkan hidupnya. Amira, gadis belia yang masih berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas XII SMA.
Keduanya kemudian terlibat dalam hubungan terlarang, dimana Amira diam-diam menikahi Amira tanpa sepengetahuan Stella yang tak lain adalah istri sahnya.
Lantas bagaimana kehidupan mereka ? Siapakah yang akan Arga pertahankan dalam hidupnya ? Amira atau Stella ? Disaat Stella sudah sembuh dari penyakit gangguan mentalnya.
Simak ceritanya di novel "Istri Simpanan Guruku" karya Dewi KD, jangan lupa berikan like dan komentar kalian untuk mendukung author 🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi KD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Malam harinya,
Arga bermimpi tentang kejadian kebakaran yang ia lalui beberapa minggu lalu, dimana ia di selamatkan oleh seorang gadis remaja dan mereka menjatuhkan diri dari atas gedung.
Arga terbangun dari tidurnya dan melihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul dua pagi.
Arga menghela nafasnya, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur karena tenggorokannya terasa kering.
Saat Arga berjalan di dapur Arga melihat Stella tengah berkutat di dapur membuat makanan.
Arga hanya menggelengkan kepalanya, dan mengambil gelas lalu menuangkan air minum di gelasnya.
“Arga Sayang, Kau sudah bangun ? Aku membuat sarapan untuk kita berdua ! Lihat lah !”
Stella dengan percaya diri memberikan Arga makanan yang sudah ia masak berupa adonan kue yang belum di masak dan di beri toping meses cokelat serta keju.
“Astaga lama-lama Aku bisa ikut terkena gangguan jiwa kalau seperti ini terus !”
Arga memijit keningnya yang tiba-tiba merasa pening karena ulah Stella.
“Kau tidak lihat jam berapa ini, Stella !” kata Arga dengan suara beratnya.
“Iya ! Ini sekarang jam tujuh pagi ! dan Kau harus segera berangkat ke kantor !” kata Stella dengan santainya.
Arga mengusap kasar wajahnya, Stella benar-benar sudah tidak waras bahkan melihat ukuran jam di dinding saja sudah tidak bisa.
“Ini baru jam dua pagi, Stella ! Ayo kembali lah ke kamar mu !” kata Arga dengan suara beratnya.
“Tidak Sayang ! Ini sudah siang ! Aku harus menyiapkan air hangat untuk mu mandi !” kata Stella.
“Ah…terserah Kau saja !”
Arga mendengus kesal, ia kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Stella seorang diri.
Beberapa jam kemudian, Arga masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia membuka semua pakaian yang melekat dari tubuhnya dan berdiri di bawah shower air hangat.
Tiba-tiba Arga membulatkan kedua matanya kala merasakan tangan yang melingkar di perutnya. Denga cepat Arga membalikkan tubuhnya dan melihat siapa orang di belakangnya.
Siapa lagi kalau bukan Stella, yang lebih mengejutkan lagi, Stella dalam keadaan polos tanpa sehelai benang saat menghampiri Arga, hingga membuat tubuh Arga bereaksi melihat tubuh Stella yang seperti itu.
“Stella apa yang Kau lakukan ?”
Arga mengeraskan rahangnya, karena miliknya kini tengah tegak berdiri karena melihat tubuh Stella.
“Aku mau mandi Arga Sayang ! Aku mau mandi dengan mu !” kata Stella tersenyum manis menampilkan gigi putihnya.
“Ini apa, Sayang ?”
Stella kemudian beralih pada benda pusaka milik Arga yang tengah tegak berdiri, dan memeganginya.
“Aaargghh…!”
Arga mengerang, saat Stella memainkan benda pusaka miliknya.
“Kau memancing ku, Stella !” kata Arga dengan suara beratnya.
Arga kemudian membenturkan tubuh Stella di tembok kamar mandi, dan menyentuh Stella namun Stella menjerit ketakutan ketika merasakan milik Arga masuk ke dalam miliknya.
“Aaarggh…Oghh…!”
“AAAA !!!! TIDAK !!! JANGAN !!!! TOLONG LEPASKAN AKU !!! JANGAN !!! JANGAN SENTUH AKUU !!!!”
“Stella ada apa dengan mu ?!”
Stella berteriak kencang, hingga membuat Arga terkejut melihat reaksi Stella yang begitu ketakutan. Arga yang panik kemudian mematikan air shower dan membungkus tubuhnya dengan handuk dengan cepat.
Arga kemudian mengambil handuk satu lagi untuk menutupi tubuh Stella. Dimana Stella tengah menangis begitu histeris
“Stella, hei ! Tenang lah !”
Arga menepuk-nepuk pipi Stella namun Stella tetap menangis ketakutan.
Arga berdecak kesal, ia kemudian menelpon sepupunya, Raihan untuk mengecek kondisi Stella.
Tak lama Raihan tiba di rumah Arga dan melihat kondisi Stella.
“Kau apakan dia, Arga ?” tanya Raihan.
“Aku ? Aku tidak melakukan apapun padanya !” jawab Arga dengan beratnya.
“Tidak mungkin istri mu seperti ini jika tidak terjadi apa-apa sebelumnya !” kata Raihan
“Dia memancingku Raihan, Aku ini pria normal ! Aku akui Aku hendak menyentuhnya, tapi tiba-tiba saja dia berteriak ketakutan dan menangis seperti ini sejak tadi !” kata Arga apa adanya.
“Kau bodoh ! Kau memancing traumanya muncul kembali ! Apa Kau lupa karena apa Stella seperti ini sebelumnya ? Itu karena dia diperkosa !” kata Raihan memperingati Arga.
Arga mengusap kasar wajahnya, ia lupa kalau Stella terkena gangguan mental karena Stella dulu di perkosa oleh pria yang tak bertanggung jawab. Arga lupa akan hal tersebut, dan merasa menyesal sekali sekarang.
“Aku akan memberikannya suntikan obat penenang !” kata Raihan mengeluarkan alat suntik dan obat penenang yang ia bawa.
Raihan meminta Arga memegangi tubuh Stella agar tidak memberontak. Arga pun memeluk Stella dan tanpa Stella sadari Raihan telah memberikannya suntikan di tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Stella sudah mulai tenang dan tertidur. Arga kemudian meminta perawat yang selama ini menjaga Stella di rumah untuk memakai kan baju pada Stella.
Sedangkan Arga dan Raihan kini tengah bicara berdua di depan kolam renang.
“Aku harap Kau bisa selalu bersabar, Arga !”
Raihan pun merasa kasihan pada sepupunya itu yang harus mengorbankan dirinya menikahi wanita seperti Stella karena permintaan kedua orang tuanya.
“Sabar yang bagaimana lagi yang belum Aku lakukan ! Aku muak sekali menjalani hidup seperti ini !” Arga mengeluarkan isi hatinya pada Raihan.
“Tenanglah, tegarkan hati mu, selalu berserah diri pada yang maha kuasa ! Aku yakin Kau pasti bisa melalui semua ini !”
Raihan memberikan semangat pada Arga, sedangkan Arga hanya bisa menatap lurus ke depan, entah sampai kapan ia harus menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Stella.
...****************...
bukan seorang ibu yang baik.
napsu jadinya....
gimana rasanya posisi Dia menjadi Amira.
nanti juga akan ada balasannya.
tetep Amira pertahankan..Libas saja jalang mah. jangan kasih ampun.
apa sekama ini pura2 sakit jiwanya.
jadi aja jiwanya bener2 sakit.