Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5. Amnesia
Setelah mendengar cerita Pak Imran, dan mengobrol sedikit, Dokter itu pergi karena ada pasien lain yang membutuhkan dia.
Pak Imran duduk dikursi didepan ruang UGD, Dalam hati dia berdo'a semoga tidak ada luka dalam ataupun yang lebih serius lagi terjadi pada Ilham.
Pak Imran duduk termenung dikursi tunggu, tidak lama kemudian perawat keluar dari ruang UGD memanggil Pak Imran sehingga membuat Pak Imran tersentak dari lamunannya.
"Pak, pasien sudah sadar, kalau Bapak ingin melihatnya silahkan." Perawat memberitahu Pak Imran.
"Baik Mbak, saya akan menjenguknya sekarang juga." Jawab Pak Imran, menyebut kepada perawat dengan sebutan Mbak, walaupun perawat itu masih sangat muda dari pada dirinya.
"Silahkan Pak, kalau begitu saya permisi." Ucap perawat itu lagi dan pergi dari ruang UGD.
"Kamu sudah sadar Nak?" tanya Pak Imran tersenyum sembari berjalan mendekati ranjang Ariel.
sedangkan Ariel tidak menjawab, dia terlihat bingung, dan tatapannya kosong.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan sekarang, apa merasakan sakit ditempat lain?" tanya Pak Imran lagi, takut ada sakit ditempat lain yang dirasakan oleh Ariel.
Ariel masih menatap Pak Imran bingung karena dia tidak tau dan tidak kenal siapa Pak Imran.
Ariel memegang perutnya yang terasa sakit yaitu ditempat tusukan yang sudah dijahit.
"Itu luka tusukan, tapi tidak apa-apa Dokter sudah menjahitnya tadi." Ujar Pak Imran lagi saat melihat Ariel memegang perutnya.
Ariel menatap Pak Imran, kemudian dia buka suara. "Anda siapa?" tanya Ariel bingung.
Pak Imran tersenyum, kemudian dia juga berkata. "Nama saya Imran, saya yang menolong kamu dan membawa mu kesini." Pak Imran memperkenalkan diri dan memberitahu Ariel kalau dia yang membawanya kerumah sakit.
"Menolong?" tanya Ariel masih bingung.
Pak Imran mengangguk dengan senyum yang selalu diperlihatkan.
"Memangnya apa yang terjadi padaku, kenapa anda harus menolong ku, aku ini siapa?" tanya Ariel.
Pak Imran terdiam, pikirannya menerawang, dia juga bingung pada Ariel, kenapa Ariel tidak mengenal dirinya sendiri.
"Kenapa dia tidak tau dirinya sendiri, apa mungkin dia hilang ingatan?" Tebak Pak Imran karena dia sering melihat di sinetron kalau seperti Ariel biasanya hilang ingatan.
Pak Imran segera keluar dari UGD, dia memanggil Dokter yang tadi menanggapi Ariel.
Tidak lama kemudian Dokter masuk kedalam UGD. "Ada apa Pak?" tanya Dokter itu pada Pak Imran.
"Dia sudah sadar, tapi tidak ingat siapa dirinya, apa dia hilang ingatan?" tanya Pak Imran bingung.
"Kita periksa lagi ya Pak,?" Dokter itu segera memeriksa Ariel lagi. Setelah itu dokter berkata pada Pak Imran.
"Saya tidak dapat memastikan, karena disini alat rumah sakit tidak memadai, tapi kalau perkiraan saya, pasien ini sepertinya hilang ingatan." Ujar Dokter mengira-ngira.
"Jadi apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Pak Imran karena tidak tau tindakan apa yang harus dia ambil.
"Bapak perlu membawanya kerumah sakit dikota, di sana keperluan rumah sakit sudah lengkap, jadi pasien akan diperiksa lebih lanjut untuk memastikan apakah benar pasien mengalami amnesia atau tidak." Saran Dokter pada Pak Imran.
Pak Imran tidak menjawab, dia hanya berpikir apakah dia harus membawa orang yang tidak dia kenal kerumah sakit besar, jika pasien harus dibawa kerumah sakit, tentu saja Pak Imran tidak punya biaya, dirinya saja kalau sakit hanya beli obat diwarung dekat rumahnya.
Dokter itu melihat ketegangan Pak Imran sudah paham, Dokter itu tau apa yang sedang dipikirkan oleh Pak Imran.
"Kalau Bapak tidak punya biaya, tidak apa-apa, Bapak bisa membawanya kalau sudah ada uang nanti." Dokter tidak memaksa karena Dokter itu tau kalau Pak Imran tidak punya uang.
Mendengar perkataan Dokter, Pak Imran sedikit lega, tapi dia masih bingung dan takut kalau tidak dibawa kerumah sakit, pasien akan fatal.
"Apa tidak apa-apa kalau tidak dibawa sekarang Dok?" tanya Pak Imran lagi.
"Tidak apa-apa Pak, lagi pula membawanya kesana hanya untuk memastikan bukan mengobati, biasanya ingatan pasien akan kembali lagi seiring berjalannya waktu." Jelas Dokter membuat Pak Imran lega.
"Kalau begitu terimakasih, Dok. Apakah saya bisa membawa pulang pasien sekarang?" tanya Pak Imran.
"Tentu saja boleh, tapi jangan lupa obatnya diminum, agar luka nya cepat sembuh." Jawab Dokter itu.
Setelah itu Dokter keluar dari ruangan itu, begitu juga Pak Imran. Pak Imran keluar mencari ojek, untuk membawa Ariel pulang kerumahnya.
Setelah mendapatkan ojek, Pak Imran kembali lagi ke UGD. "Nak kamu hilang ingatan, kamu tidak bisa mengingat dirimu sendiri, apa lagi keluargamu." Pak Imran memberitahu Ariel.
Ariel mengangguk, karena memang dia tidak ingat apapun, bahkan namanya saja tidak ingat apa lagi nama keluarga dan orang-orang terdekatnya.
"Jadi mulai sekarang, Bapak akan membawa kamu pulang kerumah Bapak, untuk sementara sebelum kamu mengingat keluarga mu." Ujar Pak Imran lagi.
Ariel mengangguk, dia tidak tau harus berkata apa, dia tidak bisa mengingat apa-apa, jadi lebih baik dia ikut Pak Imran orang baik yang sudah menolongnya.
***
Disisi lain Deril dan Re sudah sampai dirumah Bobi, keduanya masuk setelah memberitahu security penjaga rumah Bobi kalau keduanya adalah teman Bobi.
Sesampai didepan pintu utama rumah Bobi, keduanya memberi salam sembari mengetuk-ngetuk pintu rumah itu.
"Assalamualaikum, tuk, tuk, tuk,." Deril dan Re memberi salam. Terdengar sahutan dari dalam.
"Walaikumsalam." Jawab seorang perempuan dari salah rumah. Pintu terbuka, nampak lah seorang perempuan paruh baya perkiraan usia sudah memasuki kepala 5.
"Mau cari siapa?" tanya perempuan paruh baya yang membuka pintu yaitu pembantu rumah tangga Bobi.
"Maaf Mbok, mengganggu, kami ingin bertemu Bobi, apakah dia ada dirumah?" tanya Re dengan lembut dan sopan.
Re berkelakuan sopan dan lembut agar Mbok tidak curiga dan akan mengira mereka berdua adalah temannya Majikannya Bobi.
"Ada Mas, Den Bobi ada dikamar, silahkan masuk!" Jawab Mbok dengan sopan dan juga ramah.
Re dan Deril masuk seperti yang disuruh oleh Mbok, keduanya juga dipersilahkan duduk disofa ruang tamu.
"Silahkan duduk mas, saya akan membuat minum dulu." Ujar Mbok hendak berbalik menuju dapur, tapi langkahnya terhenti karena Re dan Deril mencegahnya.
"Tidak usah Mbok, kamu baru saja minum tadi, kalau boleh Mbok panggil Bobi aja, karena kami juga terburu-buru." Re masih juga sopan agar Mbok mau memanggil Bobi.
"Baik mas, saya akan memanggil Den Bobi." Mbok langsung melangkahkan kakinya kekamar Bobi.
"Den, Den Bobi," panggil Mbok sembari mengetuk-ngetuk pintu.
"Iya Mbok, ada apa?" tanya Bobi didalam kamar sedang berbaring sambil bermain game di HPnya.
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..