Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.
Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.
Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelesaian Yang Merugikan 3
Dinda Gabriela
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu kamar membuatnya menoleh ke arah pintu dengan lirikan mata.
"Masuk" Jawabnya sembari matanya kembali focus pada layar ponsel yang ada di genggamannya.
"Maaf, non. Tuan ingin non Dinda menemui tuan di ruang kerjanya" kata seorang asisten rumah tangga. Ia hanya mengangguk. Lantas dengan gerakan kepala ia menyuruh asisten rumah tangga itu segera pergi.
Setelah bersiap diri, dia keluar dari kamar. Melangkah hati-hati menuju kamar kerja papi yang terletak di sudut ruang rumah lantai atas. Sebelum dia masuk ruangan, dia menempelkan kupingnya di depan pintu. Mencoba mendengar percakapan yang mungkin bisa dia dengar. Namun tak ada suara dari dalam ruang kerja papi. Membuatnya segera memutuskan untuk mengetuk pintu
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" jawab papi dari dalam ruangan. Membuatnya perlahan membuka pintu ruang kerja papinya.
"Papi manggil aku?" Tanya Dinda yang sudah duduk di kursi tepat berada di depan kursi yang papinya duduki. Menyilangkan tangannya di sebuah meja di depannya.
"Mamimu sudah buatkan jadwal kontrol kandunganmu dengan dokter obgyn. Untuk..."
"Pi, aku gak mau nerusin kehamilan aku. Lagian kalau sampai ada yang tau aku pergi ke dokter obgyn bakal jadi berita besar. Apalagi sekarang berita tentang pertunanganku yang batal sudah beredar di sosial media" jawabnya cepat tanpa menunggu papi menyelesaikan kalimatnya.
"Apa kamu tak ingin mendengarkan papi selesai bicara?" Tanya Papi dengan suara seolah sedang menahan marah.
"Maaf pi" jawabnya seraya menundukan kepalanya penuh penyesalan. Terang saja dia takut sekaligus menyesal karena telah memotong kalimat papi. Karena papi type orang yang tak suka jika sedang berbicara ada orang yang menyanggah kalimatnya tanpa menunggu nya menyelesaikan kalimat.
"Untuk memeriksakan kandunganmu. Sudah berapa bulan. Kalau memang aman untuk di buang, baru kita ambil tindakan selanjutnya" lanjutnya dengan nada datar tanpa ekspresi.
Membuat dia tertunduk. Bingung entah harus bicara apa.
"Dan mengenai pertunanganmu dengan Azka, sudah papi bicarakan dengan Oom suyoto juga Azka. Mereka setuju untuk meneruskan pertunangannya. Tentunya dengan beberapa syarat yang harus kamu patuhi. Surat perjanjiannya akan di kirim pengacara keluarganya melalui email. Untuk kamu pelajari. Jika sudah selesai, dan kamu setuju. Kita akan bertemu di kantor pengacara keluarga Azka" Lanjut papi panjang lebar. Awalnya dia hendak menyanggah kalimat papinya. Namun dia urungkan.
"Gak mungkin pi, Azka sudah buat pengumuman pembatalan pertunangannya" jawabnya sambil menatap lekat-lekat mata papinya.
"Papi baru dapat kabar beberapa menit yang lalu. Sebelum kamu masuk ruangan ini" Jawab papi lagi. Membuatnya kembali menundukan kepala.
"Makasih pi" Jawab nya seraya beranjak berdiri. Dia mengira jika pembicaraannya telah selesai.
"Mengenai keinginanmu untuk membuang janin itu, papi juga sudah konsultasi dengan dokter. Mengenai dampak positif fan negatifnya. Namun akan sangat beresiko, jika usia kehamilanmu sudah masuk 5 bulan"
Kalimat terakhir papinya membuatnya mengernyit. Mengingat kapan kali terakhir dia mendapat masa periode.
"Jika ternyata kandunganku sudah memasuki usia 5 bulan?" tanyanya hati-hati.
"Kamu harus pertahankan kehamilan kamu. Kamu akan tetap tinggal di Gilbar. Selama proses kehamilanmu. Kamu bisa home schooling. Dan setelah bayinya lahir kamu bisa mengikuti ujian"
"Baik pi" jawabnya.
"Ya sudah. Kamu siap-siap. Sebentar lagi jadwal kontrolmu. Nanti kamu akan di temani mami dan Asisten Rumah Tangga. Untuk menghindari wartawan, kamu bisa bilang jika pelayan itu yang hamil"
"Terimakasih pi. Aku permisi dulu" jawabnya seraya mengangkat tubuhnya dan segera pergi dari ruangan itu.
Sebetulnya dia sangat tak ingin pergi menemui dokter obgyn itu. Namun dia tentu saja tak punya pilihan lain. Dia harus menuruti semua titah dari papi, jika masih ingin tetap tinggal dan menikmani fasilitas yang sudah di berikan oleh Papi.
Dia penasaran isi di balik surat perjanjian. Namun rupanya sangat tak mungkin jika harus me
___________________________________________
Azka Imam Haqiqi
"Gak mungkin pi" teriak Azka dengan wajah merah padam menahan amarah. Dia begitu sangat marah dengan keputusan papinya pada Oom Anwar.
"Ini hanya sementara. Hanya untuk kepentingan semua orang" jawab papi lagi. Dia menatap lekat ke arah kedua bola mata papinya. Lantas memalingkan wajahnya ke arah mami yang duduk dengan kepala tertunduk sembari terisak.
"Bukan untuk semua orang. Tapi hanya untuk keluarga Oom Anwar" jawabnya lagi sambil terus berusaha menahan emosinya. "Pi, buka saja aib Dinda. Dia hamil oleh orang lain. Habis itu selesai" lanjutnya lagi.
"Apa kamu gak kasian sama Dinda? Dia teman kamu"
"Teman pi? Kalau dia temanku tak mungkin dia menjebak aku" jawabnya sambil melongos.
"Papi sudah buatkan surat perjanjian untuk pertunangan kalian"
"Aku udah gak percaya sama Dinda pi" jawabnya lagi.
"Apa kamu akan menolak permintaan papimu, Azka?" Suara papi terdengar tegas kali ini. Namun penuh dengan permohonan.
"Aku mencintai seseorang pi" jawabnya lagi. Dia menundukan wajahnya. Menatap dalam lantai marmer yang dia pijak. "Kemarin dia kecewa dengan sikap dan keputusanku. Tadi pagi aku sudah meyakinkan dia, jika pertunanganku dengan Dinda batal. Jika sekarang aku bilang padanya..." Dia tak melanjutkan kalimatnya.
"Siapa dia?" Pertanyaan papi sontak membuatnya mengangkat wajahnya.
"Safa. Safa Zaina. Adik kelasku. Dia yang mengalahkanku dalam lomba LKIR kemarin" jawabnya lirih.
Papi masih diam tanpa bersuara. Sikap yang selalu dia lakukan saat merasa tak puas dengan jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan.
"Dia anak beasiswa. Bekerja part time di perpustakaan umum. Dia bukan siapa-siapa pi. Dia hanya gadis biasa yang yakin bisa menggapai mimpinya" lanjutnya dengan mata menerawang membayangkan sosok Safa.
"Biar mamimu yang bicara pada Safa" jawab papi membuatnya melongo tak percaya. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
'Apa papi menerima Safa?'
'Apa memang semudah ini?'
'Apa papi tak permasalahkan status sosial Safa?'
"Pih..." Panggilnya sambil menatap papi tak percaya.
"Kenapa?"
"Papi...." Kalimatnya menggantung di udara.
"Azka, papi tak akan ikut campur urusan cinta kamu"
"Papi gak marah?"
"Kenapa musti marah?"
"Karena dia bukan dari kalangan kita. Dia cuma anak dari keluarga sederhana yang kebetulan sekolah di AIS." jawabnya sedikit ragu.
"Di hadapan Tuhan semua manusia sama. Dulu juga papi bukan siapa-siapa. Semua ini papi dapetin dari kerja keras" jawaban papi membuatnya sontak berlari ke arah papi kemudian berhambur memeluknya.
"Apa papi gak malu?"
"Kenapa musti malu?"
"Malu sama kolega papi, kalau calon menantu papi bukan..." kalimatnya tergantung di udara. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu. Membuat lidahnya kelu.
Perlahan papi melepaskan pelukan di tubuhnya. Menatapnya dalam. Senyuman terkembang di wajahnya.
"Jadi anak papi udah mulai serius safa gadis itu?" katanya dengan senyum meledek. Membuatnya sedikit malu. Lantas kembali berhambur memeluk Papi.
"Makasih pi"
Papi hanya menepuk bahunya berulang kali. Membuatnya semakin mengencangkan pelukannya.
#gadis imut diantara dua raja
mksh ya ka
lanjut