NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Pohon Impian dan Cerita Masa Lalu

Akhir pekan tiba membawa angin pagi yang sejuk di kawasan pemukiman padat tempat kontrakan kami berada. Sejak pukul tujuh pagi, Rayan sudah sibuk merapikan meja belajar kayu kecil di ruang tamu, menyiapkan buku gambar tebal dan seperangkat pensil warna yang baru dibeli beberapa hari lalu. Wajah adikku itu memancarkan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan sama sekali.

Suara ketukan pintu yang halus dan teratur terdengar dari luar. Rayan yang sedang duduk bersila langsung meloncat berdiri dan berlari kecil membukakan pintu kayu kontrakan. Senyumnya terkembang makin lebar sewaktu melihat Kareen berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang anggun dan menyegarkan. Kareen mengenakan pakaian kasual—kaos lengan panjang berwarna pastel yang dipadu celana jins nyaman—sambil membawa kantong kertas berisi buah-buahan segar dan camilan hangat.

"Mbak Kareen!" sapa Rayan dengan suara ceria yang membahana.

"Selamat pagi, Rayan! Sesuai dengan janji Mbak kemarin, hari ini Mbak luang khusus buat bantu Rayan menggambar pohon," balas Kareen lembut, melangkah masuk seraya mengusap kepala Rayan dengan penuh kasih sayang.

Aku melangkah dari arah dapur kecil sambil membawa dua cangkir teh melati hangat, menyapa Kareen dengan senyuman tulus. "Masuk, Reen. Maaf ya, tempat kontrakan kami sederhana sekali."

"Reno, jangan mulai formal begitu deh. Tempat ini terasa sangat hangat dan nyaman kok," potong Kareen sambil terkekeh pelan. Ia meletakkan kantong bawaannya di atas meja kecil, lalu tanpa ragu langsung duduk bersila di atas tikar berdampingan dengan Rayan.

Selama hampir dua jam berlalu, ruang tamu kecil kontrakan kami dipenuhi oleh derak tawa dan obrolan riang yang sangat menghidupkan suasana. Kareen dengan sabar dan penuh kelembutan mengajari Rayan teknik menggambar pohon yang rindang—mulai dari cara membentuk guratan dahan yang proporsional, menggambar lekuk ranting, hingga teknik gradasi warna daun menggunakan pensil warna agar terlihat lebih hidup. Rayan menatap setiap gerakan jari-jemari Kareen dengan takjub, menirukannya dengan teliti sambil beberapa kali melontarkan seloroh lucu yang membuat kami bertiga tertawa lepas. Suasana kontrakan kecil kami terasa begitu hidup, jauh dari kesan sepi, cemas, dan muram yang dulu sempat bertengger lama di kehidupan kami.

Menjelang siang hari, Rayan yang mulai mengantuk dan lelah pamit masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan mewarnai bagian-bagian daun kecil sambil mendengarkan musik. Suasana di ruang tamu perlahan-lahan berubah menjadi lebih tenang dan intim.

Aku menyeduhkan cangkir teh hangat baru untuk Kareen, lalu duduk di kursi kayu tepat di seberang mejanya. Kareen menyandarkan punggungnya ke dinding kontrakan, menyesap teh melatinya perlahan-lahan seraya menatap ke luar jendela kaca kecil yang membiaskan cahaya matahari siang yang cerah.

"Rayan anak yang sangat pintar dan manis, Reno. Dia punya kepekaan seni dan rasa ingin tahu yang sangat bagus," ujar Kareen membuka percakapan dengan nada suara yang begitu lembut.

"Iya, Reen. Semua perkembangan positif ini berkat rasa aman yang kembali dia rasakan. Kehadiranmu dan Pak Bambang sangat berarti buat Rayan ... dan tentu saja buat aku," jawabku tulus, menatap pendar matanya yang jernih.

Kareen tersenyum tipis, namun kali ini ada pendar keharuan dan sedikit bayangan masa lalu yang terlintas samar di binar matanya. Ia memutar-mutar cangkir teh keramik di pegangan tangannya, seolah-olah sedang menata kata-kata dengan cermat di dalam kepalanya.

"Melihat bagaimana kamu dan Rayan saling menjaga serta saling menguatkan seperti ini ... sejujurnya membuatku merasa iri sekaligus sangat bersyukur," tutur Kareen dengan suara lirih. "Kamu tahu, Reno? Dulu aku pernah hampir berada di titik untuk membangun rumah tangga sendiri."

Aku menegakkan posisi dudukku, menyimak penuturannya dengan rasa hormat dan perhatian penuh. Kareen belum pernah menceritakan hal pribadi yang sesensitif ini sebelumnya kepadaku.

"Seseorang dari masa lalumu di Bandung?" tanyaku pelan, memastikan ia merasa nyaman untuk melanjutkan ceritanya.

Kareen menganggukkan kepalanya pelan, menatap cangkir tehnya. "Iya. Kami menjalin hubungan cukup lama, hampir empat tahun sewaktu aku baru menyelesaikan kuliah di Bandung. Bahkan keluarga kami berdua sudah saling kenal dekat dan sempat ada pembicaraan yang sangat serius menuju jenjang pernikahan. Tapi ... rencana besar itu pada akhirnya tidak pernah terwujud."

Ia menghela napas panjang yang terdengar cukup berat, tatapannya menerawang jauh menembus kenangan-kenangan lama yang telah berdebu oleh waktu.

"Alasan utama yang selalu dia lontarkan waktu itu adalah dia ingin fokus mengejar karier terlebih dahulu di kantornya, ingin lebih stabil dan mantap secara finansial sebelum melangkah ke pernikahan," lanjut Kareen. "Awalnya aku berusaha keras untuk memahami, menghargai, dan menerima keputusannya. Aku memberikan waktu, ruang yang luas, dan dukungan moral penuh bagi impian kariernya."

Kareen menarik jeda sejenak, lalu mengangkat pandangannya menatapku dengan sudut bibir yang terangkat tipis, memancarkan senyum pahit atas kenangan masa lalu.

"Tapi makin ke sini, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari kenyataan yang sebenarnya. Dia bukan tidak siap atau bingung dengan masa depan kariernya, Reno. Dia itu tipe pria yang 'bingung' karena merasa punya terlalu banyak pilihan wanita lain di lingkungan pergaulan dan tempat kerjanya. Dia sangat menikmati perhatian dari banyak wanita dan tidak pernah benar-benar berani mengambil komitmen yang tegas serta bertanggung jawab untuk satu orang."

Aku menatap wajah Kareen dengan rasa empati yang mendalam. Ketidaktegasan, kebingungan, dan sikap enggan berkomitmen dari pria seperti itu pasti telah menggoreskan luka kekecewaan yang sangat dalam bagi sosok wanita sekuat, sejelas, dan setulus Kareen.

"Lalu ... apa yang akhirnya membuatmu mengambil tindakan dan menyudahi hubungan itu, Reen?" tanyaku penuh perhatian.

"Satu hari aku akhirnya tersadar sepenuhnya, bahwa aku tidak bisa menaruh dan mempertaruhkan masa depanku pada seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidup," tegas Kareen dengan pendar keberanian yang kuat di matanya. "Aku membutuhkan kepastian dan kejelasan arah, bukan sekadar janji-janji manis yang dibungkus dengan alasan pembenaran karier. Akhirnya aku sendiri yang mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri hubungan itu secara total, meskipun pada saat itu prosesnya terasa sangat menyakitkan dan menguras emosi."

Ia menatap kedua mataku lekat-lekat, ada pendar kehangatan dan rasa percaya yang mendalam memancar dari binar matanya.

"Makanya, Reno ... saat pertama kali aku mengenalmu di pabrik, melihat bagaimana kamu berjuang berdarah-darah demi kebahagiaan Rayan, melihat bagaimana kamu berani bertanggung jawab dan mengambil keputusan tegas meski situasimu sedang sangat sulit ... aku melihat kualitas sosok pria sejati yang sangat langka dan jujur."

Kata-kata tulus Kareen mendarat bagai usapan lembut yang sangat hangat di relung dadaku. Kebingungan dan ketidakpastian masa lalunya kini berhadapan dengan ketegasan dan kejujuran yang sedang kami bangun.

Aku merapatkan posisi dudukku, lalu meraih jemari tangannya yang berada di atas meja kayu. Aku menggenggam jemari halusnya dengan lembut namun penuh ketegasan yang menentramkan.

"Terima kasih banyak sudah mau terbuka dan berbagi cerita masa lalumu denganku, Reen," ucapku tulus dengan nada suara yang dalam dan mantap. "Aku memang bukan pria yang sempurna dan masih punya banyak kekurangan. Tapi satu hal yang bisa aku pastikan dan kuungkapkan padamu ... aku tidak akan pernah ragu, bingung, atau goyah tentang arah langkah yang kupilih, terutama untuk orang-orang yang berharga dalam hidupku—seperti Rayan, dan juga kamu, Reen."

Kareen tertegun sejenak mendengarkan ucapan dan melihat ketegasan di mataku, sebelum akhirnya senyuman paling bahagia dan hangat merekah di wajah cantiknya. Ia membalas genggaman tanganku dengan lembut. Meski belum ada ikatan resmi yang terucap di antara kami, tatapan mata dan genggaman tangan itu menyimpan sebuah pemahaman manis: bahwa kami berdua sedang berjalan menuju arah yang sama.

Di dalam ruang tamu kontrakan kecil yang sederhana itu, sisa-sisa luka masa lalu kami berdua seolah luluh tak berbekas, berganti menjadi fondasi hubungan yang makin kuat, dewasa, dan siap untuk menyambut masa depan bersama.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!