Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arfan tengah sibuk dengan dokumen yang menumpuk di hadapannya. Pekerjaan selalu datang mendekat padanya. Meski terlahir dari keluarga berada tetapi Arfan sosok pekerja keras.
Tok Tok
"Masuk!," perintahnya tanpa mengalihkan fokusnya dari pekerjaan.
Seseorang memasuki ruangan, berdiri tepat di hadapannya.
"Informasi apa yang kamu bawa?." Arfan memang sudah menunggu orang itu.
"Seperti dugaan Pak Arfan, orang-orang yang mengeroyok Pak Arfan adalah Pak Edwin."
Barulah Arfan mengangkat wajahnya.
"Aku sudah bercerai dengan Wilona pun dia masih mengangguku."
Ya, alasan perceraiannya dengan Wilona sebab Edwin. Pria itu menjadi pria idaman lain Wilona, hubungan itu sudah terjalin saat Wilona menjadi istrinya. Selain karena Wilona ingin mengejar mimpinya menjadi model papan atas.
"Saya rasa karena tender yang Pak Arfan menangkan juga."
"Iya, itu juga bisa menjadi pemicunya. Aku harus lebih hati-hati lagi padanya."
"Pak Arfan mau membalasnya."
"Aku rasa tidak, selama yang disentuhnya bukan keluargaku."
"Baik, Pak."
"Oke, Adrian, terima kasih."
"Iya, Pak Arfan."
Arfan menyudahi pekerjaannya. Menyisakan berkas-berkas yang masih perlu dikaji ulang. Ia bersiap pulang lebih awal. Ada sesuatu yang menariknya untuk segera berada di rumah.
Setibanya di rumah Arfan disambut hangat oleh senyum hangat Zuraida. Perempuan itu menyalami tangan suaminya lalu sama-sama berjalan ke kamar.
"Bagaimana anak-anak?," tanyanya sembari membuka pintu kamar lalu mempersilakan istrinya masuk terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, aman." Menatap suaminya.
"Aneh," respon Arfan.
"Kita tunggu saja apa lagi gebrakannya."
Keduanya tertawa pelan.
"Air mandinya udah aku siapkan, Mas."
Tatapan Arfan menjadi tak biasa kala mendengar kata mandi. Senyum pun tercetak jelas pada wajahnya.
"Ada apa, Mas?." Tanya Zuraida aneh dengan senyum suaminya.
"Mau mandi bersama?," tanya yang dijawab tanya lagi sama suaminya.
"Saya udah mandi, Mas." Jawabnya.
"Mandi lagi nggak apa-apa." Arfan melangkah mengikis jarak di antara mereka.
"Baru banget saya mandi, Mas." Melangkah mundur namun cepat sekali punggungnya membentur dinding. Tubuh mungil itu kini terkurung tubuh besar dan tinggi Arfan.
"Mas..." Zuraida tercekat dalam menatap Arfan. Hendak protes namun tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah.
"Apa?." Suaranya sangat lembut.
"Saya mandikan mas saja." tawar Zuraida.
"Maunya mandi berdua." Tak bisa ditawar lagi.
Perlahan namun pasti tubuh besar Arfan menggiring langkah Zuraida untuk memasuki kamar mandi. Tangan pria itu mulai melepas hijab istrinya. Rambut basah itu mengeluarkan aroma sampo yang sangat wangi. Semakin dalam Arfan menghirupnya sembari memejamkan mata sejenak.
Pria itu juga melepas satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya. Menyisakan celana bahan tanpa gesper karena sudah ditanggalkannya.
Keduanya tersenyum bahagia. Menikmati momen romantis yang sudah ada di depan mata. Namun sayang justru kekacauan harus mereka hadapi saat si kembar menerobos masuk juga ke kamar mandi.
"Daddy...Zuraida...kalian?." Sena dan Sean menatap tajam dua manusia dewasa itu.
"Daddy mau apa nggak berpakaian?," tanya Sean.
"Mandi," singkat jawab sang daddy.
Lalu bocah kecil itu menatap intimidasi pada Zuraida.
"Kamu mau apa sama daddyku?."
"Emmm...emmm," Zuraida bingung harus menjawab apa.
"Mandi juga lah," sahut daddy mereka santai lalu mulai menyalakan keran mengisi bak besar.
"Nggak boleh," Sena mendorong tubuh Zuraida sampai pintu. Sean yang di dalam langsung menutup pintu kamar mandi.
"Kamu di sini aja." Sena menahan Zuraida.
"Baik," jawabnya sambil tersenyum. Zuraida senang-senang aja karena sangat gugup bila berdekatan dan hanya berduaan dengan suaminya.
"Nggak boleh ganggu daddy kami," perintah si kecil.
"Nggak, mana berani saya mengganggu daddy kalian. Tapi bagaimana jika daddy kalian yang menggangu saya?." Menahan tawa.
"Tenang, aku pastikan daddy nggak bakal menggangu orang kampung kaya kamu." Mulut Sena terdengar pedas. Zuraida tak tersinggung meski tawa itu hilang karena perkataan Sena.
Sean menunggui daddynya sampai benar-benar selesai mandi. Arfan dibuatnya geleng-geleng kepala. Momen romantisnya bersama istrinya harus gagal karena ulah anak-anaknya.
Kedua pria beda usia itu keluar, mendapati Zuraida dan Sena yang tengah duduk santai berdekatan sambil menonton acara televisi karena saking lamanya menunggu.
"Sena jauh-jauh dari Zuraida!," pekik Sean.
Sena segera menjauh. Arfan hanya tersenyum saja sambil berpakaian. Arfan yakin tak butuh waktu lama bagi anak-anak untuk menerima Zuraida karena sosok Zuraida sendiri.
Kini mereka berempat ke ruang makan. Pasangan suami istri itu mendapatkan pengawalan ketat dari si kembar supaya tak berdekatan. Makan malam pun berjalan hening hanya suara sendok dan piring yang beradu. Setelah selesai baru Sean buka suara.
"Dad, Miss Susan menginap di sini."
"Siapa yang mengizinkan?," Arfan terlihat kaget.
"Mommy, Dad. Besok kita berdua ikut Miss Susan liburan ke villa."
"Kami bosan juga dad di rumah terus. Kata mommy ada opa oma juga di sana." Sena ikut buka suara.
Arfan belum menanggapi tapi yang dibicarakan sudah sampai di rumah lalu ikut bergabung dengan mereka. Membuat si kembar merapat kepadanya.
"Maaf, Arfan, tapi ini karena Wilona dan orang tua Wilona yang memintaku menginap di sini lalu membawa si kembar liburan." Kata Susan tenang.
"Oke, kamu bisa menempati kamar tamu. Dan anak-anak ke kamar kalian sekarang."
"Yeyyyy..." sorak gembira Sean dan Sena. Arfan hanya bisa menghela napas panjang. Melihat anak-anaknya dan Susan menghilang dari pandangan.
Zuraida dan Arfan masih di meja makan. Arfan minta potongan buah pada istrinya sebagai penutup hidangan setelah marah-marah di telepon pada mantan istrinya yang semena-mena mengambil keputusan tentang anak-anak. Tadinya Arfan tak bisa mengizinkan, berasa harga dirinya diinjak Wilona namun menghargai kedua orang tua Wilona terpaksa harus mengiyakan.
"Sean dan Sena akan baik-baik saja, Mas. Lagi pula mereka pergi sama nenek kakeknya."
"Kamu akan berpikiran lain kalau tahu bagaimana kedua orang tua Wilona sangat memanjakan anak-anak. Nanti tuh ada aja yang dibawanya pulang. Perangai semena-mena sama orang, tak menghargai apa pun. Itu yang aku hindari. Susah payah aku menghilang itu dari anak-anak."
Zuraida diam. Memang belum tahu apa-apa tentang mereka semua yang berhubungan dengan Arfan. Orang tuanya Arfan sendiri belum diketahuinya. Hanya mendengar beberapa cerita saja.
Lanjut ke kamar di mana Susan berada. Perempuan itu sudah berpakaian sangat seksi. Niatnya sudah jelek, mau menggoda Arfan supaya jatuh dalam pelukannya. Tak peduli pada si upik abu.
Susan keluar kamar, mengamati keadaan. Di rasa bisa bergerak ia langsung mendatangi Arfan yang masih di meja makan.
"Hai, Mas," sapanya menggoda. Pakaian mini itu mencetak jelas beberapa asetnya.
"Ada apa?," Arfan tak tertarik menatapnya. Justru ia menatap istrinya yang keluar dari kamar mandi.
"Mas bisa ikut juga kalau mau." Ajaknya genit. Bahkan tangannya hampir menyentuh lengan Arfan kalau saja pria itu tetap diam. Pria itu menghindar.
"Ibu Guru," Zuraida kaget dengan tampilan Susan.