"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Lelah yang tidak ada habisnya
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Humaira.
Sudut bibir Humaira pecah, ia meringis menahan sakit. Terhuyung sedikit ke samping, memegangi pipinya yang kini merona merah akibat hantaman tangan kasar ayahnya sendiri.
"Kurang ajar kamu, ya!" bentak Dimas dengan wajah mengeras, jarinya menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Humaira. "Berani-beraninya kamu mengajari Ayah?!"
Ratna yang berdiri di samping Dimas bukannya melerai, melainkan tersenyum puas melihat luka yang kini terpatri di wajah anak tirinya. "Tuh, kan! Aku bilang juga apa, Mas? Anak ini memang sudah ngelunjak! Baru juga jadi istri direktur sebentar, kelakuannya sudah seperti tidak punya tata krama!"
Humaira perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Menahan air mata yang mendesak ingin jatuh. Nyeri di pipinya tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya.
"Kau tidak pantas disebut Ayah..." bisik Humaira dengan suara serak, menatap Dimas dengan sorot mata yang penuh kekecewaan.
Setelah itu dia langsung beranjak pergi.
Sebenarnya, sebelum melangkahkan kaki ke rumah itu, Humaira sudah menduga dia tidak akan mendapatkan sepeserpun.
Tapi dia tetap nekat mencoba nasib. Ia rela membuang harga dirinya, berharap ada sedikit saja rasa iba tersisa di hati pria yang dipanggilnya Ayah itu.
Tapi pada kenyataannya, apa yang ia dapatkan? Humaira hanya pulang dengan luka fisik dan kekecewaan.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya luruh satu per satu. Dia segera mengusap pipinya. Menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya.
Merogoh ponsel di dalam tasnya, memanggil kontak sahabatnya yang bekerja di sebuah hotel. Sahabatnya itu menjabat manager dihotel tersebut.
"Halo, Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam! Ra, kamu di mana?" sahut suara sahabatnya di ujung telepon.
"Aku dirumah." Bohongnya, "Bolehkah kita ketemuan?" tanya Humaira.
"Tentu, kamu datang saja kesini." Jawab gadis bernama Elin itu.
"Kamu nggak sibuk, kan? Apa aku nggak mengganggu?" tanya Humaira ragu-ragu, khawatir merepotkan sahabatnya.
"Udah, tenang aja. Aku lagi santai, kok. Kamu datang saja. Nanti kita ketemuan di sini,"
"Baiklah, aku segera ke sana."
Humaira menutup ponselnya. Ia menghela napas panjang seraya menyapu air mata yang sempat menetes di pipinya tadi.
Humaira segera mengambil motor matic-nya dan bergegas mendatangi Hotel Delima, tempat sahabatnya bekerja.
Sesampainya di sana, dia langsung masuk ke dalam. Resepsionis hanya tersenyum padanya, sepertinya sudah tahu kalau wanita itu adalah sahabat dari manajer mereka.
"Hey, kamu sudah datang?" tanya Elin yang menghampirinya.
"Iya, aku baru sampai," sahut Humaira tersenyum.
"Kalau begitu kita ke ruanganku aja," ajak Elin.
Gadis itu sangat ramah, berbanding terbalik dengan Humaira yang sedang dihimpit begitu banyak masalah. Mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan manajer yang terletak di dalam hotel tersebut.
"Nah, di sini lebih enak kalau kita ngobrol," ujar Elin seraya menyuruh Humaira duduk nyaman.
"Oh ya, ngomong-ngomong kamu tiba-tiba mau datang kemari pasti ada perlunya, kan?" Elin kemudian melihat arloji di tangannya.
"Tapi ini kayaknya kamu seharusnya masih di rumah sakit, deh. Kamu sudah tukar shift?" Tanya Elin penasaran.
Humaira menggeleng. "Tidak, aku pamit dengan Dokter Zidan untuk pulang lebih awal hari ini."
"Yah, enak ya jadi kamu. Punya suami orang kaya raya, pemilik rumah sakit lagi," canda Elin.
"Jangan bercanda, Elin..." ujar Humaira menunduk lesu, karena Elin sebenarnya sangat tahu seperti apa posisi dan beban yang ditanggung sahabatnya itu.
"Baiklah, baiklah, aku minta maaf," ucap Elin merasa bersalah, lalu mengarahkan pembicaraan kembali. "Sudah, kamu bilang dulu, ada perlu apa datang kali ini?" tanya Elin langsung mengerti arti kedatangan Humaira.
"Tadi pagi, awal sekali Ibu sudah menunggu di depan rumah sakit," jawab Humaira.
Tanpa kata, Elin langsung mengerti arah pembicaraannya.
"Terus?" tanya Elin lagi, ingin mendengar lebih lanjut cerita sahabatnya itu.
"Ibu minta pinjam uang 10 juta." Humaira menggeleng pelan. "Aku enggak punya uang sebanyak itu, Elin. Tabunganku tinggal 7 juta. Dan itu juga satu-satunya sisa yang aku punya. Aku sudah datang menemui Ayah... Tapi aku rasa kamu sudah tahu jawabannya."
"Dasar orang tua brengsek!" umpat Elin yang sudah tahu seperti apa keluar sahabatnya itu.
"Lagian ngapain sih kamu datang ke sana? Kalau sekadar minta uang yang tidak terlalu banyak, kamu kan bisa langsung datang ke aku. Ya meskipun aku juga enggak banyak-banyak amat sih uangnya, tapi setidaknya jangan datang lagi ke rumah Ayahmu. Pasti mereka hina kamu lagi, tanpa mendapatkan apa-apa!" Lanjut Elin kesal sembari mengoceh.
Humaira tidak bisa menahan air mata yang perlahan menetes. "Elin..."
"Ya?"
"Aku malu sering minta bantuan kamu..."
Elin langsung memeluk sahabatnya itu ikut merasakan kesedihan yang ditanggungnya.
"Kenapa sih kamu pake acara malu-malu segala? Daripada kamu datang ke tempat Ayahmu, bukannya mendapat uang, kamu hanya dicaci maki... atau dipukuli!"
"Aku udah banyak utang sama kamu, Elin. Bahkan 2 juta yang sebelumnya aku belum bayar. Tapi ini aku justru minjam lagi..."
"Udah! Sebelumnya aku sering memberimu pinjaman, aku enggak pernah berharap kamu bayar," potong Elin tegas.
"Kamu juga punya keluarga, Elin. Aku tetap akan membayarnya."
"Terserah kamu. Berapa yang kamu butuhkan?"
"Ibu butuh 10 juta, aku punya tinggal 7 juta. Kurang 3 juta lagi..."
"Ya udah, aku langsung transfer ya." ucap Elin sigap, melonggarkan pelukannya dan mengambil ponsel di atas meja.
Tanpa basa-basi, dia langsung men-transfer uang 3 juta ke rekening sahabatnya itu.
Ting!
Humaira membuka ponselnya dan melihat notifikasi bahwa uang 3 juta sudah masuk.
"Makasih ya, Elin. Kalau bukan kamu, aku enggak tahu mau ke mana lagi..."
"Jangan bicara kayak gitu!" sergah Elin. "Kamu ingat enggak dulu sewaktu kita sama-sama masih duduk di bangku SMP? Aku itu sering kekurangan makanan, bahkan sering enggak bawa bekal atau uang jajan ke sekolah karena orang tuaku tidak mampu.
Tapi kamu yang sering mengisi perut kosongku, meskipun keadaan kamu juga tidak terlalu baik waktu itu. Makanya kalau kamu ngeluh dan bilang kesusahan, aku langsung gercep! Aku enggak bisa melihat kamu menderita, Ra..."
Humaira tersenyum mengingat kenangan waktu mereka sekolah dulu. Dimana mereka sering menjadi menguat antara satu sama lain.
Ikatan persahabatan Elin dan Humaira benar-benar menjadi peneduh di tengah ujian berat yang menimpa Humaira.
_____
"Aku pikir kau tidak ingat pulang."
Saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, Humaira sudah disambut oleh suara dingin dari Zidan. Suaminya itu ternyata sudah duduk menunggunya di dalam remang kamar.
Humaira seketika melirik jam dinding, ternyata sudah pukul 9 malam.
Sebenarnya, tadi dia bisa saja cepat pulang. Namun, setelah bertemu dengan Elin, Humaira langsung pergi menuju rumah ibunya.
Sesampainya di sana, sang ibu tidak ada di rumah. Situasi itu membuat Humaira terpaksa menunggu.
Melihat ada banyak tumpukan pekerjaan di dapur, Humaira memutuskan untuk mengisi waktu dengan membantu bersih-bersih hingga rumah kecil itu benar-benar bersih dan rapi.
Setelah itu, ia duduk kembali menunggu kedatangan sang ibu. Namun, tanpa sadar Humaira tertidur di kursi karena kelelahan yang luar biasa setelah melewati hari yang berat.
Ia baru terbangun saat jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Panik menyadari hari sudah sangat larut, Humaira langsung gercep pulang setelah berpamitan dengan adiknya Nabila—karena sampai saat ia harus pergi, ibunya belum kunjung pulang.
Nabila ada memberi tahu kalau ibu mereka pergi ke tempat saudaranya, dan Humaira langsung mengerti tanpa perlu bertanya lebih lanjut.
"Maaf, aku telat," ujar Humaira pelan, tak ingin berdebat dengan Zidan.
Berusaha mengabaikan pria itu melangkah masuk melewati Zidan.
Brak!
Humaira terperanjat kaget, saat tiba-tiba Zidan membanting sebuah benda dengan keras ke atas meja seperti meluapkan kekesalannya.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂