Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang yang Kembali
3 hari setelah insiden mengerikan itu, kondisi Raya akhirnya benar-benar pulih. Dokter mengizinkannya pulang dengan catatan untuk tetap kontrol seminggu sekali, meski secara medis mereka tak pernah benar-benar menemukan penjelasan atas apa yang terjadi pada tubuhnya.
Sesuai saran Ustadz Ahmad, Raya untuk sementara waktu dititipkan di sebuah pesantren kecil di pinggiran kota, tempat yang jauh lebih aman dan terjaga dari gangguan-gangguan gaib yang selama ini terus menghantuinya.
Mama Yana memutuskan untuk tinggal beberapa hari menemani putrinya beradaptasi, sementara Bik Tati dan Mang Hari kembali ke Layung Koneng untuk mengurusi ladangnya.
"Neng di sini bakal ketemu sama Teh Farida, dia yang bakal bimbing ngaji sekaligus bantu jaga secara kebatinan." jelas Ustadz Ahmad begitu mengantarkan Raya ke pesantren yang akan ia tempati.
" Iya Pak Ustadz. "
"InsyaAllah di sini lebih tenang, jauh dari jangkauan orang-orang yang berniat jahat."
"Terima kasih banyak, Pak Ustadz. Saya nggak tau harus gimana kalau nggak ada bantuan Bapak " ucap Raya tulus.
"Ini kewajiban saya, Neng. Yang penting sekarang fokus pemulihan dulu, jangan mikir apa-apa. Saya bantu dari jauh, Neng." jawab Ustadz Ahmad ramah sebelum akhirnya berpamitan, meninggalkan Raya bersama ibunya.
Hari-hari di pesantren berjalan dengan begitu tenang, jauh berbeda dari kehidupan Raya sebelumnya yang selalu diwarnai kecemasan dan teror yang tak kunjung berhenti. Ia mulai mengikuti kegiatan mengaji bersama santriwati lain dan membantu di dapur pesantren. Sesekali Ara, Dasha dan Yasmin sengaja datang membawa oleh-oleh dan bercerita untuk menghibur sahabatnya itu.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Suatu sore ketika Raya sedang duduk di teras pesantren membaca Al-Qur'an, ponselnya berdering nyaring menampilkan nama sahabatnya itu di layar.
"Assalamualaikum, Ra," sapa Raya begitu mengangkat telepon itu.
"Waalaikumsalam, Ray. Ini gue mau kasih tau sesuatu, tapi jangan kaget ya." ucap Ara dengan nada yang begitu hati-hati, membuat Raya langsung merasakan firasat tak enak.
"Ada apa sih, Ra? Jangan ngagetin akh." tanya Raya cemas.
"Jadi tadi pagi Mbok Darsih kelihatan lagi di pasar kecamatan, Ray. Padahal dia kan udah dilarang masuk Layung Koneng sama Pak RT," jelas Ara menggebu-gebu. " Kata Tiana, dia ketemu sama seseorang yang naik mobil bagus, terus mereka ngobrol lama banget di warung kopi pojok pasar."
Raya terdiam sejenak, dadanya mulai terasa berat mendengar kabar itu.
"Ketemu sama siapa, Ra?" tanya Raya penasaran.
"Nah ini yang bikin gue makin curiga sama si Jabl4y. Kata si Tiana, Mbok Darsih ketemu sama perempuan, dandanannya menor banget, rambutnya dicat merah, dan yang pasti dia bawa mobil sedan plat luar kota" jelas Ara.
Deg!
Jantung Raya seketika berdebar kencang mendengar deskripsi itu. Bayangan wajah Manda dengan rambut merahnya langsung terlintas begitu jelas dalam benaknya.
"Mau ngapain si Manda masih berkeliaran di sana? dia nggak kapok di hujat warga?" tanya Raya, suaranya bergetar menahan kekhawatiran yang begitu besar.
" Entahlah Ray, yang jelas lo harus lebih waspada. Dendam dia lebih awet dari Nyi Pelet ya. "
Raya menghela napas panjang, hatinya dipenuhi rasa lelah yang begitu mendalam. Ternyata meski jarak sudah begitu jauh memisahkan mereka, dendam Manda rupanya masih terus mengintai tanpa henti.
"Makasih udah kasih tau, Ra. Nanti gue kabarin Ustadz Ahmad juga soal ini." ucap Raya akhirnya, mencoba menguatkan diri meski dalam hati ada rasa cemas yang begitu sulit ia sembunyikan.
" Oke oke, pokoknya lo jangan panik Ray. InsyaAllah santet nggak akan tembus ke pesantren. "
🌾🌾🌾🌾
Jauh di sebuah warung kopi kecil di pasar kecamatan, Mbok Darsih memang benar-benar sedang bertemu dengan Manda. Meski ia pakai kacamata hitam putih, orang dengan mudah mengenalinya.
"Jadi gimana, Mbok? Apa masih ada cara lain buat nembus pertahanan Raya?" tanya Manda dengan suara pelan, matanya sesekali melirik waspada ke sekeliling warung yang cukup ramai itu.
Mbok Darsih menyeruput kopinya perlahan, wajahnya yang keriput terlihat begitu licik menyimpan berbagai rencana yang begitu tersembunyi.
"Neng, saya sudah tidak punya kekuatan buat menyerang langsung seperti dulu. Sejak diusir dari Layung Koneng, ilmu saya jadi lemah karena dilumpuhkan sama Kyai disana." jelas Mbok Darsih dengan nada menyesal yang dibuat-buat, " Tapi saya masih punya informasi penting yang mungkin berguna buat Neng."
"Informasi apa, Mbok?" tanya Manda antusias, matanya berbinar penuh harap.
"Raya sekarang lagi dititipkan di sebuah pesantren di pinggiran kota, jauh dari desa Layung Koneng. Katanya sih biar lebih aman dari serangan gaib." bisik Mbok Darsih, "Tapi kalau Neng mau menyerang dari sisi yang berbeda, mungkin bukan lewat sihir lagi. Coba aja serang dari sisi yang lebih manusiawi."
Manda mengerutkan dahi, tak sepenuhnya paham dengan maksud Mbok Darsih itu.
"Maksud Mbok gimana?"
"Razka, Neng. Lelaki yang deket sama Raya itu," jelas Mbok Darsih dengan seringai licik, "Kalau Neng bisa bikin Razka jadi ragu sama Raya, atau bikin dia balik lagi ke perjodohan sama gadis kaya itu, otomatis Raya bakal makin terpuruk tanpa perlu sihir sama sekali. Hati yang hancur itu kadang jauh lebih ampuh dari santet manapun."
Manda terdiam sejenak, mempertimbangkan usulan yang begitu licik namun terdengar begitu masuk akal itu. Meski tubuhnya masih menyimpan luka dari kegagalan santetnya yang lalu, dendam yang begitu membara dalam hatinya membuatnya tak sanggup berhenti begitu saja.
"Rencana bagus, Mbok. Tapi gimana caranya saya bisa deketin keluarga Razka? Saya kan nggak kenal sama sekali sama mereka," tanya Manda.
Mbok Darsih tersenyum, dari balik lipatan kerudungnya ia mengeluarkan sebuah kertas yang sudah agak lusuh.
"Ini nomor ponsel Bu Retno, ibunya Razka. Saya dapat dari salah satu informan saya disana." jelas Mbok Darsih, "Bu Retno itu orangnya gengsian, kalau Neng bisa manfaatin itu, bukan tidak mungkin Razka bisa dipisahkan dari Raya tanpa perlu ilmu hitam sama sekali."
Manda menerima kartu nama itu dengan tangan yang sedikit gemetar, sebuah cahaya licik mulai berkilat dari matanya. Meski rencana ini terdengar begitu berbeda dari cara-cara yang biasa ia gunakan, namun ada sesuatu yang begitu menggoda dari ide menghancurkan kebahagiaan Raya tanpa harus mempertaruhkan nyawanya sendiri lagi.
"Terima kasih, Mbok. Ini sangat membantu langkahku selanjutnya." ucap Manda, menyimpan kertas lusuh itu dengan hati-hati ke dalam tasnya.
"Sama-sama, Neng. Tapi ingat, kali ini saya cuma kasih informasi, bukan bantuan sihir. Saya udah kapok dan mau balik ke Mbah Jiwo untuk memulihkan ilmu saya. " ucap Mbok Darsih.
Setelah pertemuan singkat itu, Manda segera kembali ke mobilnya. Pikirannya sudah dipenuhi berbagai rencana untuk mendekati Bu Retno. Meski tubuhnya masih menyimpan luka dari kegagalan yang lalu, semangat balas dendamnya justru semakin membara. Kini dengan cara yang jauh lebih halus namun tak kalah berbahaya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bu Retno sedang duduk sendirian di ruang tamu. Wajahnya masih menyimpan kekecewaan yang begitu mendalam sejak pembatalan sepihak perjodohan yang selama ini begitu ia perjuangkan. Meski sudah menyetujui untuk mengenal lebih dekat pilihan hati Razka, tapi jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan harapan kecil bahwa putranya akan berubah pikiran.
Tak lama, ponselnya berdering menampilkan nomor yang tak dikenal. Dengan rasa penasaran Bu Retno mengangkat panggilan itu.
"Halo, assalamualaikum. Benar ini dengan Bu Retno?" tanya suara di seberang telepon, begitu ramah dan sopan.
"Waalaikumsalam, iya benar. Ini siapa ya?" tanya Bu Retno heran.
"Perkenalkan Bu, saya Manda, saya kebetulan dapat nomor Ibu dari seseorang yang kenal sama ibu. " jelas Manda dengan suara yang begitu dibuat manis dan meyakinkan.
" Kepentingan kamu apa ya? "
"Saya sebenarnya ingin silaturahmi sekaligus berbagi informasi penting soal calon menantu Ibu."
Bu Retno mengerutkan dahi, rasa penasarannya semakin besar mendengar kalimat yang begitu menggantung itu.
"Calon menantu saya? Maksudnya soal Hanum?" tanya Bu Retno.
"Bukan, Bu. Maksud saya soal gadis yang sekarang deket sama Razka, namanya Raya," jelas Manda, suaranya kini berubah lebih serius, "Saya kebetulan tau banyak tentang latar belakang gadis itu, dan menurut saya, Ibu berhak tau kebenarannya sebelum semuanya terlambat."
Bu Retno terdiam sejenak, hatinya mulai dipenuhi kecurigaan yang begitu besar, sebuah pintu yang mulai terbuka bagi rencana licik yang sudah begitu matang dirancang oleh Manda dan Mbok Darsih itu.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target