Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Sang Ratu Kecil
"B-Bibi mau ke mana?" tanya Amara yang baru saja turun dari koridor lantai atas, menatap Bik Sum yang sedang bersiap-siap membawa tas belanja besar.
"Oh, ini Nyonya... Bibi mau ke supermarket," jawab Bik Sum ramah seraya merapikan pakaiannya. "Bahan-bahan di dapur sudah mulai menipis, jadi Bibi mau berbelanja stok untuk minggu ini."
"S-supermarket?" ulang Amara, matanya seketika berbinar terang. Sudah sangat lama ia tidak membaur dengan suasana luar atau sekadar memilih bahan makanan sendiri.
"Iya, Nyonya. Tadi Bibi sudah bilang juga sama Tuan Gabriel waktu Tuan baru selesai sarapan," tambah Bik Sum tersenyum.
"B-Bibi tunggu di sini, ya!" seru Amara bersemangat.
Tanpa menunggu balasan dari Bik Sum, Amara langsung berbalik dan berlari kecil menaiki anak tangga untuk menghampiri sang suami di ruang kerja atas.
"Nyonya! Jangan berlari, Anda sedang hamil!" pekik Bik Sum panik, setengah berlari ke pangkal tangga sambil memegangi dadanya yang hampir copot melihat tingkah nekat Nyonya mudanya.
"A-aku tidak apa-apa, Bibi!" sahut Amara setengah berteriak girang dari pertengahan tangga, satu tangannya tetap sigap memegangi perut buncit empat bulannya.
Brak!
Pintu ruang kerja Gabriel terbuka agak keras. Gabriel yang sedang memeriksa berkas laporan di mejanya seketika terperanjat, berdiri refleks saat melihat istrinya berdiri terengah-engah di ambang pintu dengan pipi merona merah.
"Sayang?! Ada apa? Kenapa napasmu terengah-engah begitu?" tanya Gabriel panik, melangkah cepat menghampiri Amara dan menangkap kedua bahu mungilnya. "Kamu berlari?"
"G-Gabriel..." panggil Amara terbata-bata karena kehabisan napas, mendongak menatap suaminya dengan binar memohon yang sangat menggemaskan. "...A-aku... aku mau ikut Bik Sum ke s-supermarket!"
Gabriel mengernyitkan kening tebalnya, menatap Amara dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ke supermarket? Untuk apa, Sayang? Kalau butuh sesuatu, bilang saja pada Reno atau Bik Sum, biar mereka yang belikan."
Amara menggeleng tegas, meremas lengan kemeja Gabriel dengan kedua tangan mungilnya. "N-tidak mau... A-aku mau pilih sendiri... B-boleh ya, Gabriel? A-aku bosan di rumah terus..."
Mendengar nada suara istrinya yang makin manja dan memelas, pertahanan Gabriel runtuh seketika. Namun, naluri protektifnya tetap bergejolak tinggi.
"Baiklah, kamu boleh ikut," pangkas Gabriel akhirnya seraya mengusap lembut dahi Amara yang sedikit berkeringat. "Tapi ada syaratnya."
Amara mengerjapkan matanya, berbinar senang. "S-syarat apa?"
Gabriel tersenyum tipis nan protektif, menunduk berbisik di telinga istrinya.
"Aku yang akan mengantarmu, dan kamu tidak boleh lepas dari jangkauanku sedetik pun. Setuju, Ratu kecilku?"
"K-kalau begitu, ayo kita pergi!" seru Amara girang, raut wajahnya berbinar terang seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah favoritnya.
Gabriel terkekeh renyah melihat keantusiasan istrinya. Pria itu menahan tangan Amara yang hendak berbalik begitu saja.
"Tunggu dulu, Ratu kecilku," tahan Gabriel lembut seraya mengusap rambut panjang Amara yang sedikit berantakan. "Ganti bajumu dulu dengan pakaian yang lebih hangat. Di luar udara sedang cukup dingin, dan aku tidak mau istri dan anakku sampai masuk angin."
"A-ah, iya... A-aku lupa," cicit Amara malu-malu, pipinya merona makin memerah.
Gabriel menuntun Amara kembali ke kamar utama mereka, membantunya mengambilkan jaket rajut yang nyaman untuk melapisi gaun hamilnya. Pria itu sendiri bergegas mengganti kemeja kerjanya dengan kasual premium yang santai namun tetap memancarkan aura dominan yang tajam.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua menuruni tangga bersama. Gabriel merengkuh pinggang Amara dengan teramat protektif di setiap pijakan.
"Tuan... Nyonya... jadi pergi bersama?" tanya Bik Sum yang sudah menunggu di dekat pintu depan dengan wajah lega.
"Iya, Bik. Biar saya dan Amara yang berbelanja, Bik Sum ikut bersama kami naik mobil depan," ujar Gabriel tegas seraya memberi sinyal pada Reno yang sudah siap membukakan pintu mobil mewah mereka di pelataran.
"S-senangnya..." bisik Amara gembira, memegangi perut buncit empat bulannya yang terbalut hangat. Tangannya yang sebelah lagi menyusup rapat ke dalam genggaman erat telapak tangan Gabriel.
Gabriel menunduk, mengecup singkat pelipis Amara sebelum membukakan pintu mobil khusus untuk sang istri. "Ingat janji kita tadi ya, Sayang. Tetap berada di sampingku dan jangan pernah melangkah terlalu jauh."
Amara mengangguk anggun, menyunggingkan senyuman manis nan memikat.
"I-iya, Gabriel. A-aku janji tidak akan terpisah darimu."
"Sepertinya Nyonya semangat sekali hari ini," goda Bik Sum tersenyum hangat dari kursi penumpang depan saat mobil mewah mereka mulai membelah jalanan kota.
"B-benar! Hari ini aku mau beli jajan yang banyak. Mau menghabiskan uang G-Gabriel!" sahut Amara polos dengan wajah berseri-seri, mendongak menatap suaminya yang duduk setia di sampingnya.
Gabriel yang mendengar penuturan jujur dan menggemaskan dari istrinya seketika terkekeh renyah. Tawa hangatnya bergetar di dalam mobil, menyebarkan rasa bahagia yang begitu membuncah di dadanya.
Pria itu merengkuh pinggang Amara makin rapat, menunduk hingga hidung mereka bersentuhan erat.
"Habiskan saja semuanya, Sayang," ujar Gabriel mantap dengan nada suara baritonnya yang amat memanjakan. "Uang suamimu ini tidak akan pernah habis, bahkan kalau kamu membeli seluruh isi supermarket itu sekalipun."
Amara tertawa kecil, suaranya terdengar begitu renyah dan jernih di telinga Gabriel. "G-Gabriel sombong sekali..."
"Aku tidak sombong, Ratu kecilku," bisik Gabriel penuh kehangatan, mendaratkan ciuman manis di pipi Amara yang kian berisi dan merona. "Aku cuma memberi tahu kenyataan. Jadi, sebutkan saja apa yang mau anak dan ibunya ini beli hari ini, hm?"
Amara memegangi perut buncit empat bulannya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel dengan penuh rasa nyaman.
"A-aku mau beli buah-buahan segar... m-makanan ringan... dan c-cokelat..." cicit Amara merincikan daftar belanjaan imajiner di kepalanya dengan binar mata antusias.
"Apapun yang kamu mau, akan aku masukkan ke dalam troli," balas Gabriel tersenyum amat tampan, jemari kokohnya mengusap lembut perut buncit sang istri. "Tapi ingat janji kita, tidak boleh lelah. Kalau cape, langsung bilang padaku."
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,