NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Dua Laki-laki

Langit sore di sudut kota bertutup awan oranye keemasan saat angin sejuk membawa aroma popcorn karamel dan harum manis gulali.

Di tengah riuhnya gelak tawa anak-anak, dentingan musik carousel yang bernada klasik, serta jeritan histeris pengunjung dari wahana roller coaster, dua pria berdiri berhadapan.

Taman hiburan, sebuah lokasi yang sengaja dipilih Devino untuk menegaskan kenangan masa lalunya bersama Nara. Tempat yang dulu menyimpan tawa mereka, kini menjadi gelanggang pembuktian yang menegangkan.

Devino berdiri dengan napas agak tertahan. Ia mengenakan kemeja kasual yang sedikit kusut di bagian lengan, matanya menatap tajam, memperlihatkan gurat lelah, penyesalan, sekaligus amarah yang tertahan.

Di depannya, Zaid berdiri sangat tenang. Mengenakan kemeja formal hitam tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, posture tubuhnya tegap dan matanya memancarkan ketenangan yang dominan.

Di antara mereka berdua, Nara berdiri beberapa langkah di samping. Tangannya meremas tali tasnya erat-erat, matanya bergantian menatap kedua pria itu dengan kecemasan yang membuncah.

"Terima kasih udah mau datang, Zaid," Devino membuka suara lebih dulu. Suaranya terdengar berusaha keras untuk tetap stabil di tengah keramaian taman hiburan. "Aku yakin Nara sudah cerita siapa aku. Aku Devino. Pria yang—"

"Pria yang meninggalkan Nara saat dia paling membutuhkanmu, lalu kembali saat posisi itu sudah diisi orang lain?" potong Zaid dengan nada bicara yang datar, halus, namun sangat menancap.

Wajah Devino langsung menegang. Kepalan tangannya di sisi tubuh mengeras.

"Kamu tidak tahu apa-apa soal hubungan kami! Kami membangun mimpi ini berdua selama bertahun-tahun... Aku mundur kemarin bukan, karena aku tidak mencintai Nara, tapi karena aku tahu posisiku belum mapan! Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan diri pada Pak Rahardja!"

Zaid menatap Devino tanpa kedip. Ia mengalihkan pandangannya sebentar ke arah wahana bianglala raksasa yang berputar lambat, lalu kembali menatap Devino.

"Waktu?" Zaid mengukir senyum tipis yang amat dingin. "Bagi seorang pria, waktu bukan alasan untuk melarikan diri dan membiarkan wanita yang dikatanya dicintai berjuang sendirian menghadapi tekanan orang tuanya. Kamu memintanya menunggu, sementara kamu menghilang, dan hubungan kalian secara diam-diam di belakang. Itu bukan perjuangan, Devino. Itu ketakutan yang dibungkus dengan alasan kedewasaan."

"Saya tidak melarikan diri!" seru Devino, kini suaranya meninggi, memancing perhatian beberapa pengunjung taman yang melintas.

"Saya bekerja keras siang dan malam! Dan sekarang saya siap, untuk mengakui hubungan inj! Saya punya tabungan, karier yang membaik, dan saya sanggup membahagiakan Nara dengan caraku sendiri. Bukan seperti anda yang menjual kekuasaan untuk mendapatkan Nara, atau jangan-jangan pernikahan ini hanya tameng untuk masa depan perusahaan anda?"

Nara melangkah maju, panik. "Devino, tolong pelankan suaramu..."

Namun Zaid melambaikan tangan pelan ke arah Nara, memberinya isyarat halus agar tidak perlu khawatir. Zaid lalu melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah Devino.

"Bagus kalau kariermu membaik. Saya menghargai usaha kerasmu," ucap Zaid penuh kendali. "Tapi mari kita bicara fakta, bukan hanya ego pria yang terluka. Jika hari ini kamu berdiri di hadapan Pak Rahardja, apa kamu jamin orang tua Nara tidak akan marah saat tahu kalau kalian berdua berpacaran diam-diam tanpa seperahuan pak Rahardja dan Bu Mayang?"

Devino mendesis, matanya memerah. "Saya mencintainya! Sesuatu yang tidak akan pernah anda miliki dalam pernikahan bisnis yang dingin ini! anda hanya membeli pernikahan ini, Zaid!"

Atmosfer di antara mereka makin membeku, mengabaikan meriahnya musik taman bermain di sekeliling mereka.

Zaid sama sekali tidak terpancing emosi. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebuah dokumen terlipat rapi—salinan dari perjanjian legal yang pernah ia berikan pada Nara—lalu menyerahkannya pada Devino.

"Baca ini," ujar Zaid tenang.

Devino menerima kertas itu dengan dahi berkerut, matanya menyapu poin demi poin yang tertera di sana.

Mengenai hak penuh kebebasan Nara, perlindungan aset atas nama Nara pribadi, hingga pasal yang menyatakan bahwa Zaid tidak akan pernah memaksa hubungan fisik maupun emosional jika Nara tidak menginginkannya.

"Ini... apa maksudnya ini?" gumam Devino, suaranya mendadak bergetar.

"Itu adalah komitmen Saya," tegas Zaid. "Saya datang bukan untuk mengurung Nara dalam sangkar emas, apalagi menjadikannya komoditas bisnis. Saya menawarkan perlindungan, kepastian, dan ruang bagi Nara untuk menjadi dirinya sendiri tanpa perlu cemas akan tekanan siapa pun, termasuk ayahnya."

Zaid lalu menatap tepat ke dalam manik mata Devino.

"Sekarang Saya tanya padamu, Devino. Jika kamu memang sangat mencintainya melebihi egomu... apakah kamu sanggup melepasnya agar dia tidak lagi terjepit di antara amarah ayahnya dan ketidakpastianmu? Atau kamu hanya ingin menariknya kembali ke dalam persembunyianmu hanya demi memuaskan rasa bersalahmu sendiri?"

Devino mematung. Kertas di tangannya bergetar pelan. Kalimat Zaid tidak diucapkan dengan nada menghina, melainkan dengan logika yang sangat telak hingga menghancurkan seluruh benteng pembelaan yang dibangun Devino sejak tadi.

Devino menatap Nara. Ia melihat mata Nara yang berkaca-kaca—bukan mata penuh harapan seperti beberapa tahun lalu di foto kampus mereka, melainkan mata seorang wanita yang lelah dan mendambakan ketenangan.

"Nara..." suara Devino terdengar parau, tercekik oleh kenyataan yang menghantamnya. "Apakah... apakah kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini?"

Nara menatap Devino, lalu beralih menatap Zaid yang berdiri kokoh tanpa tekanan sedikit pun padanya.

Di tempat yang penuh kenangan masa lalu ini, Nara akhirnya menyadari satu hal, masa lalunya bersama Devino adalah kenangan yang indah.

Namun masa depannya membutuhkan ketegasan dan perlindungan nyata, sesuatu yang ditawarkan oleh Zaid secara dewasa.

Nara menghela napas panjang, melepaskan sesak yang mengendap di dadanya.

"Dev," ucap Nara pelan namun sangat jelas.

"Terima kasih atas semua kenangan dan rasa cinta yang pernah ada. Tapi kamu terlambat. Keberanian itu seharusnya ada saat aku memohon padamu beberapa minggu lalu... bukan saat orang lain sudah siap pasang badan untuk melindungiku."

Kata-kata itu menjadi ketukan palu terakhir. Devino mundur satu langkah, tangannya lemas membiarkan kertas perjanjian itu perlahan terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas paving taman hiburan.

Wajahnya pucat, menyadari bahwa ia tidak kalah oleh Zaid... ia telah kalah oleh penundaannya sendiri.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Devino membalikkan badan dan melangkah pergi, tenggelam di antara kerumunan pengunjung taman hiburan yang berlalu-lalang di bawah bayang-bayang lampu taman yang mulai menyala.

Zaid menunduk pelan, mengambil kertas yang jatuh di tanah, merapikannya kembali, lalu menatap Nara.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Zaid, suaranya melembut—sebuah gurat kepedulian kecil yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.

Nara menatap Zaid, lalu melihat bianglala di belakang pria itu yang kini menyala terang memancarkan warna-warni indah di langit malam yang mulai turun. Rasa cemas dan ketakutan yang menghimpitnya bertahun-tahun perlahan meluas menjadi sebuah rasa tenang yang asing.

"Aku baik-baik saja, Zaid," jawab Nara dengan sebuah senyuman tipis yang kini benar-benar tulus. "Terima kasih... untuk semuanya."

Zaid mengangguk pelan. "Ayo Saya antar pulang. Bunda dan Papamu pasti sudah menunggu detail pernikahan dari kita."

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!