Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Pagi harinya, sinar matahari bersinar terang menyinari meja makan utama mansion Alteir.
Alexa duduk di kursinya dengan raut wajah yang sibuk menyusun strategi. Di samping piring sarapannya, tergeletak sebuah wadah beludru kecil berisi kepingan kecil pecahan berlian biru The Heart of Sapphire. Ya, tadi pagi-pagi sekali, Alexa dengan sangat hati-hati (dan penuh rasa sayang) mengetuk sedikit bagian sudut berlian birunya untuk memotong secuil kepingan kecil, sementara sisanya yang raksasa sudah ia sembunyikan rapat-rapat di tempat paling aman di dalam kamarnya.
Di ujung meja lain, Raiden duduk anggun seperti biasa, menikmati kopi hitamnya sembari membaca laporan tebal dari tablet kerjanya.
Alexa meneguk susu hangatnya, lalu memajukan tubuhnya ke arah Raiden dengan senyuman paling manis dan ramah yang sanggup ia pamerkan.
"Tuan Raiden yang tampan dan baik hati..." panggil Alexa dengan nada menyorot lembut.
Raiden tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet, namun alisnya terangkat tipis. "Bicaralah. Jangan membuatku mual pagi-pagi."
"Aku mau izin pergi ke mal hari ini!" seru Alexa bersemangat. Mengingat tatapan penuh ancaman Raiden semalam, ia buru-buru menyambung kalimatnya sebelum pria itu memotong. "Tapi tenang dulu! Aku nggak bakal jual berlian raksasa itu kok! Aku tahu waktu yang pas buat mencairkan harta karun itu harus lewat jalur yang aman. Tapi... aku bawa cuilan kecilnya sedikit aja! Cuma mau aku jadiin kalung!"
Raiden akhirnya menurunkan tabletnya, menghujamkan iris mata hitam legamnya yang dingin tepat ke arah wadah beludru kecil di samping piring Alexa.
"Kalung?" tanya Raiden datar.
"Iya! Biar bisa dipakai sehari-hari," jawab Alexa jujur, matanya berbinar-binar. "Masa punya berlian terindah di dunia cuma disimpan di kolong kasur? Mending dipotong dikit buat perhiasan. Izinkan aku ke mal ya? Tolong... aku bosan di rumah terus, nanti stresku bikin ususku melilit lagi!"
Raiden menatap Alexa cukup lama, mengukur keseriusan dan tingkat kemanjaan wanita di hadapannya. Pria itu menyesap kopinya secara perlahan, lalu memberikan keputusan dinginnya.
"Kau boleh pergi," pangkas Raiden datar.
Namun sebelum senyum Alexa mekar sempurna, Raiden menambahkan syarat mutlaknya. "Empat jam. Tepat pukul dua siang kau harus sudah ada di dalam mobil untuk pulang. Jika kau terlambat satu menit saja, seluruh pengawal akan menyeretmu pulang dan aku akan menyita sisanya."
DEG.
"Empat jam?! Pelit banget!" protes Alexa refleks, namun melihat kilatan membunuh di mata Raiden, ia buru-buru mengangguk cepat. "Iya, iya! Empat jam cukup! Siap, Tuan Diktator!"
Dua puluh menit kemudian, Alexa sudah melangkah anggun di dalam mal termewah di pusat kota. Tentu saja, ia tidak sendirian. Empat pengawal bertubuh tegap berjas hitam mengikutinya dari jarak tiga langkah di belakang, memancarkan aura intimidasi yang membuat para pengunjung mal lainnya buru-buru memberi jalan.
Alexa tidak memedulikan tatapan heran orang-orang. Ia melangkah mantap memasuki sebuah butik perhiasan dan rumah perajin emas paling ternama dan eksklusif di dalam mal tersebut.
"Selamat datang, Nyonya..." sapa manajer toko dengan senyuman hangat dan bungkukan hormat, langsung mengenali empat pengawal klan Alteir yang menjaga pintu masuk toko.
"Aku mau pesan kalung custom," ujar Alexa santai, meletakkan wadah beludru kecilnya di atas meja kaca steril.
Saat wadah itu dibuka, mata sang perajin emas dan manajer toko seketika membelalak lebar. Kepingan kecil berlian biru yang memancarkan pendar kemilau sempurna itu langsung mencuri perhatian mereka. Sebagai ahli perhiasan tingkat atas, mereka tahu betul kepingan ini berasal dari batu permata yang nilainya tak terhitung.
"L-luar biasa... Pendar birunya sangat langka, Nyonya," puji sang perajin emas dengan tangan gemetaran memegang lup pemeriksaan. "Model seperti apa yang Nyonya inginkan? Kami punya desain mahkota raksasa atau ukiran mewah khas bangsawan—"
"Nggak, nggak usah yang aneh-aneh dan heboh," potong Alexa cepat, mengibaskan tangannya di udara.
Alexa menyandarkan sikunya di atas meja kaca, menunjuk ke salah satu katalog desain yang tampak paling simpel.
"Aku mau model yang sangat sederhana," jelas Alexa detail dengan nada antusias. "Tolong asah kepingan berlian biru ini jadi bentuk liontin tetesan air (teardrop) kecil yang halus. Lalu gantung di rantai kalung platina yang sangat tipis dan minimalis."
Sang perajin agak terkejut. "Sederhana sekali, Nyonya? Berlian selangka ini biasanya dibuat mencolok—"
"Justru karena ini berlian mahal, desainnya harus simpel!" cerocos Alexa bijak sembari tersenyum bangga. "Kalau desainnya terlalu heboh dan mencolok, nanti kelihatannya malah kayak perhiasan mainan atau imitasi! Lagipula, kalau desainnya simple dan elegan begini, kan enak... bisa aku pakai setiap hari tanpa kelihatan pamer, tapi tetap bikin penampilanku kelihatan manis dan berkelas!"
Sang perajin emas akhirnya mengangguk-angguk paham, paham betul dengan selera estetika Nyonya Muda klan Alteir ini.
"Pilihan yang sangat bijaksana dan elegan, Nyonya. Kami akan langsung mengasah kepingan ini dengan presisi tingkat tinggi. Dalam waktu dua jam, kalung minimalis Anda akan selesai diproduksi," janji sang perajin dengan penuh rasa hormat.
"Sip! Kerja yang bagus!" seru Alexa puas, melirik jam tangannya dan menyadari ia masih punya cukup waktu untuk jalan-jalan membelikan camilan sebelum tenggat waktu empat jam dari Raiden habis.
Sambil menunggu kalung berlian sederhananya selesai diasah oleh perajin emas, Alexa memutuskan untuk melangkahkan kakinya menyusuri area food court dan kafe-kafe mewah di dalam mal. Aroma roti manis yang baru diangkat dari oven, wangi kopi segar, serta jajaran pencuci mulut bernuansa keemasan di balik etalase kaca seketika membuat cacing-cacing di perutnya menjerit kelaparan.
"Wah, ini kelihatannya enak banget!" gumam Alexa dengan mata berbinar-binar.
Gadis itu tanpa ragu memesan berbagai macam makanan: dua porsi waffle es krim cokelat, berbagai varian kue pastry, dua gelas minuman bubble tea ukuran raksasa, hingga set porsi makanan berat daging panggang khas Jepang.
Namun, saat tiba di depan meja kasir dan pelayan menyebutkan total tagihannya, langkah Alexa seketika terhenti kaku.
Ia merogoh tas selempang kecilnya. Jemarinya mengaduk-aduk bagian dalam tas, namun tidak menemukan apa-apa selain wadah beludru dan sebuah lipstik.
Glek.
Keringat dingin mendadak menetes di pelipis Alexa. Barulah ia ingat bahwasanya tadi pagi ia terlalu panik gara-gara gertakan sepuluh menit dari Raiden! Ia berlari keluar kamar tanpa membawa dompet, kartu kredit, ataupun uang tunai sepeser pun!
Kasir toko menatap Alexa dengan senyuman ramah yang mulai agak canggung. "Totalnya tiga juta lima ratus ribu rupiah, Nyonya. Pembayarannya bisa lewat kartu atau tunai?"
Alexa menelan ludah dengan susah payah. Wajah cantiknya memerah padam karena malu. Secara perlahan, ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, menatap empat pengawal bertubuh tegap berjas hitam yang berdiri siaga bagaikan tembok besi di belakangnya.
Alexa memasang raut wajah paling polos, manis, dan memelas. Ia melangkah mendekati salah satu pengawal yang tampak paling senior.
"Mmm... Mas..." panggil Alexa halus, mengedipkan matanya berkali-kali.
Pengawal berbadan tegap itu menunduk kaku. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Muda?"
"Anu... aku lupa bawa dompet," cicit Alexa sambil menyatukan kedua ujung telunjuknya dengan gaya serba salah. "Boleh pinjam uang atau kartumu dulu nggak buat bayar makanan ini? Sumpah, nanti sampai rumah langsung diganti sama Tuan Raiden! Tuan kalian kan kaya raya, tinggal potong gaji atau minta reimburse langsung ke dia!"
Pengawal tegap itu terpaku sejenak. Matanya membelalak tipis di balik kacamata hitamnya. Membayangkan dirinya harus menghadap Tuan Muda Raiden yang dingin dan berdarah dingin hanya untuk meminta reimburse uang makan waffle dan bubble tea Nyonya Muda... rasanya seperti menyetorkan nyawa sendiri.
Hahhhhh...
Sebuah helaan napas berat dan pasrah berembus dari bibir pengawal tersebut. Bahunya yang tegap agak meluruh sedikit, tak sanggup menolak permintaan Nyonya Muda yang nekat ini. Daripada Raiden marah karena istrinya kelaparan di mal, pengawal itu akhirnya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit.
"Gunakan ini, Nyonya," ujar sang pengawal pasrah, menyerahkan kartunya.
"WAAAA! Makasih banyak, Mas! Kamu pengawal paling baik sejagat raya!" jerit Alexa girang setengah mati, menyambar kartu itu dan langsung membayarkannya ke kasir dengan gaya penuh kemenangan.
Setelah semua pesanan selesai dihidangkan di atas meja besar sebuah kafe bernuansa terbuka, Alexa tidak langsung melahapnya sendiri.
Melihat empat pengawal bertubuh besar itu berdiri kaku membelakanginya sambil mengawasi sekeliling, rasa tidak tega menyusup di hati Alexa.
"Hei! Kalian berempat, ngapain berdiri terus kayak patung semen?" panggil Alexa melambai-lambaikan tangannya. "Sini duduk!"
Keempat pengawal itu tersentak kaku, saling pandang satu sama lain dengan raut wajah serba salah.
"Maaf, Nyonya Muda. Tugas kami adalah menjaga keselamatan Anda, bukan duduk bersama Anda," sahut sang pengawal senior dengan nada formal dan tegas.
"Halah! Nggak ada musuh di sini, aman tenteram kok!" cerocos Alexa santai, menarik-nari kemeja pengawal terdekat untuk dipaksa duduk di kursi kayu kafe. "Makanannya banyak banget ini, masa aku makan sendirian? Kalau nggak dihabisin nanti mubazir! Ayo duduk, ini perintah Nyonya Muda!"
Mendengar kata 'perintah Nyonya Muda', keempat pria kekar bertato itu akhirnya tidak punya pilihan lain. Dengan canggung dan gerakan serba kaku, mereka menarik kursi masing-masing dan duduk mengepung meja kecil tersebut. Pemandangan empat pria berjas hitam super tegap yang duduk canggung menghadapi piring-piring waffle manis dan bubble tea bergambar lucu terlihat sangat kontras dan menggelikan.
"Nah, gitu dong! Ayo makan!" seru Alexa ceria, mendorong piring-piring kue ke tengah meja.
Alexa mulai makan dengan sangat puas dan tanpa beban. Ia menikmati setiap gigitan kue manis dan makanan lezat di hadapannya, melupakan sejenak statusnya yang berada di bawah cengkeraman klan mafia mematikan.
Di sela-sela kunyahannya, Alexa mulai mengajak mereka mengobrol santai.
"Mas, siapa namamu?" tanya Alexa pada pengawal yang tadi meminjamkannya kartu.
"Nama saya Bima, Nyonya," jawabnya kaku, memegang cangkir kafenya dengan jari-jari berotot yang biasa memegang senjata api.
"Mas Bima... jujur ya, kerja sama Raiden itu rasanya gimana sih? Dia kalau di kantor galak juga nggak? Suka suruh lari marathon juga nggak?" cecar Alexa penasaran sembari mengunyah waffle-nya.
Keempat pengawal itu seketika tersedak bersamaan. Keringat dingin meledak di tengkuk mereka mendengar pertanyaan super nekat dari istri bos besar mereka.
"T-Tuan Muda... sangat tegas dan disiplin, Nyonya," sahut Bima berhati-hati, memilih kata-kata paling aman agar kepalanya tidak melayang jika percakapan ini sampai ke telinga Raiden.
Alexa tertawa renyah melihat kepanikan di wajah para pengawal kekar tersebut. "Hahaha! Nggak usah tegang gitu kali! Aku nggak bakal aduin ke Raiden kok. Santai aja!"
Sepanjang sisa waktu menunggu kalungnya selesai, Alexa benar-benar menikmati momen tersebut. Ia mengobrol santai, tertawa, dan makan sepuasnya bersama keempat pengawal yang perlahan mulai bisa bersikap sedikit lebih luwes kepadanya.
Hingga saat jarum jam menunjukkan pukul satu siang lewat empat puluh menit—sepuluh menit sebelum batas waktu empat jam dari Raiden habis—Alexa bangkit dari kursinya dengan perut kenyang dan hati yang puas. Ia telah mengambil kalung berlian sederhananya yang sudah jadi dengan sempurna, lalu berjalan anggun menuju mobil untuk pulang tepat waktu, siap menghadapi sang iblis dengan sejuta cerita konyolnya.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱