Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 saksi senja
Wulan bangun siang di hari Minggu, hpnya sudah penuh dari satu orang sejak pagi.
Sawi busyuk
bestieee bangun
jangan molor mulu
gue gabut banget keluar yuks
baru bangun kamprett
mau kemana mangnya?
pantaii ngga sihh
gass lahh
nah gitu dong gue siap' lu juga
iya bawel
Beberapa jam kemudian Wulan sudah di depan rumah, Siwi sudah nunggu di motor.
“Lama,” kata Siwi.
“Gue udah buru-buru ya anjirr,” jawab Wulan.
“Alasan.”
“Fakta.”
Siwi langsung nyalain motor.“udah naik.”
Di jalan, mereka nggak bisa diam.
“gue bosen banget di rumah.”
“ya keluar lah.” jawab wulan
“gue mau ditemenin.”
“ dih manja banget kamprett cari pacar sono .”
" jahat banget sumpah gue juga pengen kali" jawab siwi dramatis
“ gini banget ya kita"
sesampainya dipantai mereka disambut suara ombak, Wulan langsung turun dari motor.
“wahh enak banget ”
Siwi ikut turun " kan apa gue bilang, anginnya enak banget”
“ syahdu banget jirrr "
Mereka jalan ke pasir Duduk sebentar Lihat laut ditemani cemilan yang dibawa mereka.
“ini sih hidup yang bener,” kata wulan
“ baru lima menit kali,” jawab siwi.
“biarin.”
Beberapa meter dari mereka, terlihat keramaian kecil, Orang-orang sedang menata dekor bunga di pantai.
Ada backdrop, bunga, dan lampu kecil Wulan langsung lihat. “eh itu apaan dah?”
“kayaknya mau ada acara ngga sih?” kata Siwi.
“iyadeh kayaknya.”
Mereka berdiri lagi, jalan pelan mendekat Semakin dekat, Wulan berhenti sebentar.
Matanya langsung fokus, itu saka
Wulan langsung mau jalan, tapi ragu Langkahnya berhenti.
“ngapain juga gue kesana nanti dikiranya ngikut in ” gumamnya pelan.
Siwi langsung menoleh " hah? Apa lan”
“ ituu” jawab Wulan sambil menunjuk saka.
“siapa" tanya siwi sebelum melihat arah yang dirunjuk wulan
“Saka.”
Siwi langsung melotot " BABANG SAKA!!”
“SHH PELAN!”
Tapi Siwi udah keburu heboh. “ WAH WAH WAH ”
“WOY JANGAN TERIAK!”
Siwi langsung berdiri setengah lompat.“BABANG SAKA!!”
Wulan langsung panik. “LU YAa malu-malu in gue aja!”
" dih sadar diri biasanya juga lu ngga ada malunya" ledek siwi
Beberapa orang sempat noleh, Saka juga sempat nengok dari kejauhan.
Wulan narik Siwi. “lu tuh kenapa sih!”
“YA KAN BENER ITU DIA!”
“YA TAPI NGGAK USAH TERIAK!”
Mereka akhirnya tetap di pinggir, Nggak ganggu Cuma lihat dari jauh.
Siwi masih ribut. “itu dia kerjanya apa sih?”
“ya bantu-bantu acara,” jawab Wulan.
Mereka lanjut lihat sekitar Saka tetap kerja, bantu teknis dekor
Tenang Nggak banyak gaya.
“ gimana kalo kita liat ada acara apa?” kata Wulan.
“iyalah masa ga liat,” jawab Siwi.
Sore mulai turun Langit berubah warna Lampu kecil mulai dinyalakan.
“ wah wah lan udah mau mulai lan ” kata Siwi.
Wulan langsung berdiri." Apaan nyak jadi tambah kepo deh eh tapi anginnya jadi tambah enak yahh”
“ iya jirrr”
Mereka menikmati suasana dulu. Kadang duduk, kadang berdiri Tetap dijauhan.
Beberapa waktu kemudian, Saka datang mendekat. “kalian di sini aja?” tanya dia.
Wulan langsung kaget. " eh iya.”
Siwi langsung refleks. “EH BABANG SAKA!”
Wulan narik Siwi. “lu jangan teriak bahlul!”
Saka cuma senyum kecil. “ gimana liat kesana aja kalian mau lihat lebih jelas kan ”
Wulan ragu, Lihat Siwi Siwi langsung semangat. “ ayo ayo ayo! !”
“lu jangan bikin malu gue,” Wulan nyeletuk pelan pada siwi tapi siwi mengacuhkan teguran wulan
Mereka ikut Saka ke area lebih dekat Lampu sudah nyala semua, Suasana lebih rapi.
Wulan langsung bisik pada siwi
“ wi cantik banget sumpill.”
“ kan gue emang cantik” wulan yang mendengar ucapan siwi geram tapi ketawa juga sambil menepuk tangan siwi
Saka nunjukin posisi. “di sini aja ya.”
“siap,” jawab Wulan.
Dari dekat, mereka lihat semuanya jelas Dekor bunga, Lampu, Orang-orang mulai kumpul.
“ini mau ngapain sih?” bisik siwi.
“gatau liat aja dah,” jawab Wulan.
Beberapa menit kemudian, suasana hening, semua orang fokus ke satu titik, Wulan refleks diam Siwi juga.
“lan…” bisik Siwi.
“apa.”
“ini serius ya…”
“ yaa iyalah kocakk”
Di samping mereka, Saka tetap tenang Cuma memastikan semuanya berjalan.
Siwi nyenggol Wulan pelan.“gue nggak nyangka hari libur gue begini.”
“kayak gimana?”
“kayak film.”
“ sama ”
Wulan lihat ke depan Lampu, bunga, laut, Dan sesuatu yang terasa berbeda di hari itu.
Hari itu tidak cuma tentang pantai Tapi tentang sesuatu yang pelan-pelan mulai terasa, dekat.
Sore makin turun, Langit sudah berubah jadi oranye keunguan.
Lampu-lampu kecil di sekitar pantai menyala satu per satu, bikin suasana jadi hangat dan pelan-pelan sunyi.
Wulan dan Siwi masih berdiri di area yang Saka tunjukin.
Nggak jauh, tapi cukup dekat untuk lihat semuanya.
“ini mau ngapain sih sebenernya…” bisik Siwi.
“kagak tau kamprett udah ahh tinggal liat ajaa,” jawab Wulan pelan.
Orang-orang mulai berdiri lebih rapat, Suasana berubah Lebih serius lebih hening.
Wulan langsung refleks diam Siwi juga, walaupun masih gelisah dikit.
“ wii…” bisik Wulan
“apa.”
“kok jadi serius gini ”
“ya gue juga baru ngerasa.”
Di sisi lain, Saka masih berdiri Tangannya di belakang Matanya fokus ke area tengah, Tenang, kayak biasa.
Beberapa detik kemudian Rafi muncul ke tengah area.
Wulan langsung melotot " Kak nara sama kak rafi,” gumamnya pelan.
Nara ada di depan dekor bunga Rapi, Cantik, Tapi kelihatan bingung sedikit karena suasana mendadak berubah.
lampu utama di tengah menyala lebih terang, rafi berdiri di depan Nara Lalu turun sedikit, Satu lutut.
Wulan langsung kaget. “ anjayy”
Siwi langsung refleks nutup mulut.
“oemjii”
Rafi mengeluarkan kotak kecil Suasana langsung hening total.
“Nara,” suara Rafi terdengar jelas di antara angin.
Nara langsung diam, Tangannya sedikit menutup mulut.
Rafi membuka kotak itu, Cincin kecil terlihat di bawah cahaya lampu. “ wil you marry me?”
Hening.
Bener-bener hening.
Nara diam beberapa detik.
Tanpa Wulan sadari, sejak tadi Saka memang berdiri di samping kanannya. Ia sesekali memperhatikan jalannya acara sambil memastikan semuanya berjalan lancar.
Saat suasana semakin menegangkan, Wulan refleks menggenggam tangan kiri Siwi. Namun karena terlalu terbawa suasana, tangan kanannya ikut mencari pegangan. Jemarinya tanpa sadar menggenggam tangan seseorang di sampingnya.
Bukan Siwi.
Melainkan... Saka.
Saka sedikit terkejut. Pandangannya turun ke tangan mereka yang saling bertaut. Detak jantungnya seolah melewatkan satu irama. Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia tidak menarik tangannya. Hanya membiarkan Wulan menggenggamnya selama gadis itu masih tenggelam dalam momen di depan mereka.
Lalu Nara mengangguk pelan Tangannya langsung nutup wajah Air mata kecil jatuh. “iya…” jawab Nara pelan.
Wulan spontan melompat kecil bersama Siwi. Baru saat itu ia sadar jemari kanannya masih menggenggam sesuatu.
Matanya membulat.
Perlahan ia menoleh ke samping.
Saka.
Wulan langsung buru-buru melepas genggamannya.
"Eh..." gumamnya pelan, wajahnya mendadak panas.
Langsung, Sorak kecil pecah, Lampu makin hangat Orang-orang tepuk tangan.
wulan dan siwi langsung loncat kecil kegirangan.
“WOY INI ROMANTIS BANGET!” ucap wulan sambil melepas genggaman tangannya
“LU JANGAN TERIAK!”
“GUE EMOSIONAL!”
“gila sih…”
“KAN!” Siwi langsung nabrak pelan Wulan.
Siwi masih ribut. “LAN INI KITA NGGAK KETIPU FILM YA?”
“ENGGAK.”
“GILA SIH INI KEREN BANGET.”
“iya…”
Nara dan Rafi masih di tengah Masih saling lihat Masih di tengah tepuk tangan.
Di tengah riuh tepuk tangan, Saka kembali menoleh ke arah Wulan.
Gadis itu masih sibuk heboh bersama Siwi. Tertawa lepas, matanya berbinar, seolah ikut merasakan kebahagiaan orang lain.
Sudut bibir Saka kembali terangkat.
Bukan karena lamaran Rafi.
Tapi karena seseorang yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Seseorang yang, tanpa sadar, baru saja membuat detak jantungnya sedikit lebih sulit dikendalikan.
Malam itu, pantai bukan hanya menjadi saksi lamaran Rafi dan Nara.
Diam-diam, pantai itu juga menjadi saksi bahwa perasaan lain mulai tumbuh. Pelan. Hangat. Dan belum disadari oleh wulan.