Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Ingatan yang salah
Aroma tajam minyak obat dan rintik sisa hujan yang membasahi tanah genting menemani keheningan di dalam salah satu rumah kayu milik warga. Di sebuah dipan panjang, Radit sedang diobati oleh seorang pria paruh baya yang merupakan tetua di desa tersebut. Dengan telaten, pria tua itu membalut luka di perut Radit menggunakan kain kasa bersih.
"Terima kasih, Pak. Sebetulnya luka ini hanya luka kecil," ujar Radit, meringis sedikit saat kain itu ditekan pelan pada kulitnya. Sebagai seorang tentara, ia terbiasa menahan rasa sakit yang jauh lebih parah dari ini.
Pria paruh baya itu terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya mendengar kesombongan khas anak muda di depannya. "Ini kau sebut luka kecil? Beruntung gadis itu tahu tentang hal pengobatan dasar, walaupun caranya memberikan ramuan kemarin cukup sembarangan."
Radit terdiam sejenak, bayangan wajah polos Vina yang mengunyah daun pahit demi dirinya mendadak melintas di benak. "Terima kasih juga, Pak, sudah percaya dengan omongan saya di depan warga tadi."
"Saya adalah ketua di desa ini. Jadi saya tidak harus memihak salah satu pihak secara buta. Kita harus selalu mencari kebenarannya secara adil," jawab pak ketua desa sembari merapikan sisa peralatan medisnya ke dalam kotak kayu. Ia lalu menatap Radit dengan pandangan menyelidik yang bijaksana. "Sebelumnya, ada perlu apa seorang perwira militer seperti Anda sampai masuk jauh ke dalam hutan di desa terpencil ini?"
Radit membetulkan posisi duduknya, bersandar pada dinding kayu gubuk. "Sebenarnya, kamp militer saya berada di wilayah perbatasan, tidak jauh dari desa ini. Saya mendapatkan tugas patroli di desa kecil yang ada di seberang sana."
"Lalu, bagaimana Anda bisa berakhir terperangkap di hutan atas?" tanya ketua desa penasaran.
"Saat sedang berpatroli, saya melihat ada pergerakan dari orang yang mencurigakan," cerita Radit, pandangannya menerawang mengingat kejadian kemarin. "Saya mengejarnya hingga tidak sadar jika saya sudah masuk ke dalam hutan yang sangat dalam. Kemudian, entah dari arah mana, seseorang mendadak menembakkan panah ke arah saya."
Ketua desa mengangguk-angguk, menyimak dengan saksama.
"Saya terjatuh karena luka tusuk itu," lanjut Radit dengan nada serius. "Dan saat mencoba bangkit dalam kondisi setengah sadar, kaki saya justru terkena kawat perangkap besi hewan liar itu. Beruntung, gadis itu melihat saya dan langsung membantu saya."
"Lalu apa yang terjadi setelahnya? Kenapa kalian bisa terjebak semalaman?" tanya ketua desa lagi.
"Cuaca tiba-tiba berubah ekstrem dan sedang tidak mendukung sama sekali. Jarak pandang tertutup kabut," jawab Radit jujur. "Jadi, dia membawa saya ke gubuk pemburu yang sudah rusak di atas sana hanya untuk menunggu badai selesai. Dia juga nekat mencarikan saya obat untuk luka ini di tengah hujan lebat, dan sekarang... dia yang malah jatuh sakit karena menyelamatkan saya."
Ketua desa terdiam, mengelus jenggotnya yang mulai memutih. Tatapannya pada Radit mendadak berubah, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu yang sangat lama. "Apa kau sebelumnya pernah berkunjung ke desa perbatasan ini?"
Radit mengerutkan dahinya, mencoba mengingat memori masa kecilnya yang terasa samar dan berkabut. "Aku tidak ingat secara pasti, Pak. Tapi, seingatku ayahku pernah tinggal dan ditempatkan di desa ini saat beliau mendapatkan tugas dinas militer bertahun-tahun yang lalu."
Mendengar hal itu, mata tua ketua desa tampak berbinar terang. "Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu, Nak?"
"Bagas," jawab Radit singkat, menyebutkan nama sang ayah dengan nada penuh rasa hormat.
"Oh, astaga! Aku sangat mengenalnya!" seru ketua desa dengan wajah semringah, menepuk lututnya sendiri karena terkejut.
Radit sedikit terenyak di tempat duduknya. "Iyakah, Pak?"
"Tentu saja! Beliau adalah perwira militer yang sangat baik dan dihormati di sini. Karena jasa dia dulu, masalah tentang kelompok bandit yang sering menjarah di desa kami akhirnya bisa terselesaikan sampai ke akar-akarnya," puji ketua desa dengan nada penuh kekaguman atas masa lalu. Pria tua itu kemudian menatap Radit kembali, raut wajahnya berubah menjadi prihatin. "Bagaimana kabar beliau sekarang?"
Radit menghela napas berat, guratan kesedihan tampak jelas di wajah tegasnya. "Dia sedang sakit parah di rumah kota, Pak."
"Kasihan sekali perwira tua itu..." gumam ketua desa, ikut merasa sedih mendengarnya. Namun, detik berikutnya, ia kembali mengamati wajah Radit dengan lebih jeli dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Berarti... anda adalah Nak Radit?"
"Iya, Pak. Saya Radit," jawab Radit mengonfirmasi identitas dirinya.
Ketua desa tersenyum lebar, menepuk bahu tegap Radit dengan ramah. "Kau sudah tumbuh besar sekarang, Nak. Sungguh luar biasa takdir ini. Dan itu artinya, kau baru saja bertemu dengan kekasih masa kecilmu juga di sini."
Radit tersentak, alisnya bertaut rapat mendengar penuturan yang mengejutkan itu. "Kekasih masa kecil?"
"Iya. Apa kau sudah lupa? Vina, itu adalah nama kekasih masa kecilmu yang dulu sering bermain bersamamu saat ayahmu bertugas di sini," ujar ketua desa dengan keyakinan penuh.
Mendengar nama Vina disebut sebagai kekasih masa kecilnya, Radit justru menggelengkan kepala. Sebuah ingatan tentang masa lalu keluarganya mendadak terlintas, membuat sebuah kesimpulan salah muncul di kepalanya.
"Apa? Sepertinya Anda salah orang, Pak," sanggah Radit dengan nada yakin, menolak mentah-mentah ucapan sang ketua desa. "Bukan saya, tapi kakak laki-laki saya, Dimas. Dimas-lah yang dulu sering ikut Ayah ke desa ini dan dialah kekasih masa kecilnya Vina, bukan saya."
Ketua desa mengerutkan keningnya, tampak sangsi dan kebingungan dengan bantahan Radit. "Apa iya begitu? Seingatku..."
"Bapak sudah terlalu tua untuk ingat akan detail hal itu secara pasti," potong Radit mengulas senyum tipis, menganggap ingatan orang tua di depannya ini sudah mulai kabur termakan usia.
Radit kemudian menurunkan kakinya dari dipan, perlahan memakai kembali pakaiannya meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Aura kepemimpinan seorang perwira kembali memancar kuat dari dirinya.
"Baiklah, Pak. Saya harus segera kembali secepatnya ke kota karena ada urusan kesatuan yang tidak bisa ditinggalkan," pamit Radit sembari menegakkan punggungnya yang tegap.
Sebelum melangkah menuju pintu keluar untuk menemui pasukannya yang sudah menunggu di luar rumah, Radit menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh kembali ke arah ketua desa dengan tatapan mata yang sangat serius dan penuh penekanan.
"Dan satu hal lagi, Pak. Jika gadis itu sudah sadar dari pingsannya, saya titip pesan ini kepadanya," ucap Radit, menjeda kalimatnya sejenak demi menata debaran aneh di dadanya. "Katakan padanya: tunggulah aku, aku akan kembali untuk menikahinya secepatnya."