Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 03
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tawa, tidak ada cerita, bahkan musik pun tidak Jolina nyalakan. Dadanya masih panas, pikirannya penuh potongan kejadian yang berulang tanpa ampun.
Dan tepat ketika ia berdiri di depan gerbang rumah, Jolina menunduk menatap dirinya sendiri. Rok mini dan Jaket kulit, bukan seragam sekolah.
“Mati gue… mati…” bisiknya panik.
“Gimana nih? Ganti di mana gue?”
Ia mondar-mandir di depan gerbang, melirik ke arah rumah, lalu ke ujung jalan, lalu kembali ke bajunya sendiri. Keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Satu panggilan.
Dua.
Tiga.
Nama Mama memenuhi layar.
“Habislah…” gumam Jolina pasrah.
Dengan napas berat, ia mengangkat telepon.
“Kamu di mana?” suara ibunya langsung menyerbu.
“Sedang apa?”
“Sama siapa?”
“Kenapa jam segini belum pulang, Jolina?”
“Iya, iya… ini aku lagi di jalan mau pulang kok, Ma,” jawab Jolina cepat, suaranya dibuat setenang mungkin.
“Udah ya, Ma. Nanti aku jawab semua pertanyaan Mama, oke?”
Sebelum ibunya sempat menyela, Jolina mematikan sambungan.
Tangannya gemetar.
Ia membuka gerbang pelan, lalu bergegas ke sudut yang agak tertutup. Dengan gerakan terburu-buru, ia kembali mengenakan seragam sekolah, menghapus make up seadanya menggunakan tisu basah, lalu memasukkan pakaian konser ke dalam tas tanpa peduli rapi atau tidak.
Ketika semuanya terasa cukup aman, ia mengetuk pintu rumah. Pintu terbuka, Ibunya berdiri di sana, menatapnya tanpa ekspresi.
Jolina menelan ludah.
Di ruang tamu, seorang pria paruh baya duduk santai sambil meminum teh. Wajahnya ramah, senyumnya hangat. Jolina mengenalnya—Pak Mulya, teman ibunya.
“Permisi, Om,” ucap Jolina sambil mengangguk kecil.
Pak Mulya tersenyum. “Eh udah pulang Jolina?”
Jolina hanya mengangguk.
Ibunya melipat tangan di dada. “Mama akan interogasi kamu setelah Pak Mulya pulang.”
“Maa…” Jolina menghela napas. “Aku capek banget.”
Pak Mulya melirik mereka berdua, lalu bertanya dengan nada ringan, “Kenapa baru pulang, Jolina?”
Jolina menjawab cepat, sudah menyiapkan kebohongan itu sejak tadi.
“Di sekolah banyak tugas, Om. Terus aku juga harus les,” katanya sambil melirik ibunya sekilas.
“Ah, begitu,” Pak Mulya mengangguk. “Ya sudah, selamat istirahat.”
“Permisi dulu ya, Om.”
Pak Mulya mengangguk ramah, Jolina langsung masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
Begitu sendirian, semua yang ia tahan runtuh. Tasnya ia lempar ke lantai. Dadanya sesak, matanya panas.
“Gue nyesel… gue nyesel…” gumamnya berulang kali.
Dengan langkah cepat, Jolina menghampiri dinding kamarnya. Poster besar Jr yang selama ini ia pandangi sebelum tidur kini terasa seperti ejekan.
Sobek.
Poster itu ia robek tanpa ragu.
Photocard yang ia kumpulkan dengan penuh perjuangan ia hamburkan ke lantai. Gelang konser, stiker, gantungan kunci—semua printilan yang berhubungan dengan Jr ia lempar, satu per satu.
“Gue benci lo,” suaranya bergetar. “Benci.”
Dadanya naik turun, napasnya tidak beraturan. Setelah semuanya berserakan di lantai, Jolina terduduk di tepi tempat tidur, menatap kekacauan yang ia ciptakan sendiri.
Semua kekaguman itu, semua mimpi konyol itu, hilang...
Ia memeluk lututnya, menunduk dalam-dalam.
Ternyata orang yang ia kagumi selama ini…
bukanlah orang baik.
Dan malam itu, Jolina berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah lagi menyukai Jr.
Tidak akan pernah.
***
Sesuatu terasa menetes di wajahnya.
Hangat...
Jolina mengernyit, perlahan membuka mata dan napasnya tercekat.
Jr???
Wajah tampan itu ada tepat di atasnya, berkeringat, menambah kesan seksi, terlebih lagi terlalu dekat, terlalu nyata.
“A—!” Jolina hendak berteriak, tapi Jr lebih cepat. Tangannya menutup mulut Jolina dengan lembut namun tegas.
“Kalau seandainya,” suara Jr terdengar rendah, menekan, “kejadian tadi bukan dia… tapi kamu, kamu masih mau nampar aku?”
Mata Jolina terbelalak. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia memukul-mukul lengan Jr, berusaha melepaskan diri, namun tubuhnya terasa lemas.
Jr justru semakin mendekat.
Wajah tampannya berada terlalu dekat, napasnya terasa di kulit Jolina. Lalu—
Ciuman ringan mendarat di pipi kanannya.
“Masih benci aku?”
Jolina membeku.
Tangan Jr perlahan turun, lalu wajah itu berpindah ke sisi lain.
Ciuman lembut di pipi kiri.
“Masih benci aku?”
Amarah dan kebingungan bercampur menjadi satu. Dengan sigap, Jolina menarik tubuh Jr, membalikkan posisi. Kini justru ia yang berada di atas.
“Lo—” napasnya tercekat.
Tanpa sadar, wajah Jolina mendekat. Terlalu dekat.
Namun sebelum apa pun terjadi—
“JOLINAAAAA!”
Suara itu menghantam seperti petir.
Mereka berdua menoleh ke pintu kamar.
"Darimana lo masuk?" tanya Jolina.
"Dari pikiran kamu... yang datang manggil aku"
"Ga mungkin!!!"
"Mau di lanjut?" tanya Jr, suara itu terdengar menggoda.
"JOLINAAAAAAAAAAAAAA"
“Astaga!”
Jolina tersentak bangun. Tubuhnya terduduk, napasnya memburu. Ia menoleh cepat ke sekeliling kamar.
Kosong.
Tidak ada Jr. Tidak ada siapa-siapa.
“Aish… mimpi apa gue barusan?” Jolina menutup wajahnya dengan bantal.
“Najiisss!”
“JolinAAAA!” suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.
“Ngapain sih, Ma?” sahutnya setengah berteriak.
“Kamu nggak sekolah? Udah jam berapa ini?!”
“Hah?” Jolina melirik ke arah jendela. Cahaya matahari sudah masuk penuh. “Udah pagi?!”
Tanpa sempat melihat jam, Jolina langsung melompat turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Suara langkah tergesa dan pintu dibanting pelan terdengar dari luar kamar.
Maya—ibunya—menghela napas. Dari suaranya saja, ia tahu putrinya sedang panik setengah mati.
Beberapa menit kemudian, Jolina sudah duduk di meja makan dengan rambut setengah kering dan seragam yang dikenakan terburu-buru. Ia menyendok nasi tanpa selera, pikirannya masih kacau oleh mimpi aneh tadi malam.
Dan saat itulah—
“Tadi malam Mama nggak jadi nanya sama kamu,” kata Maya tiba-tiba.
Sendok Jolina berhenti di udara.
“Soalnya Mama tahu pasti kamu udah tidur. Mama nggak tega bangunin kamu,” lanjut ibunya pelan, lalu menatapnya tajam.
“Mungkin kamu capek… sehabis belajar seharian.”
Kata seharian itu seperti penekanan.
“Iya,” Jolina menjawab singkat. “Emang capek.”
Maya menyilangkan tangan. “Terus kenapa guru les kamu nelepon Mama?”
Jolina tersedak. “Hah?”
“Katanya dia nanyain keberadaan kamu. Katanya kamu bilang kemarin ada les.”
Darah Jolina terasa surut dari wajahnya.
Bukankah kemarin ia sudah izin? Ia yakin. Sangat yakin.
Kenapa justru ibunya yang ditelepon?
Sendok di tangannya perlahan diturunkan. Jolina menatap piringnya tanpa berani menatap balik.
Kebohongannya… mulai retak.
Dan entah kenapa, bayangan wajah Jr kembali melintas di kepalanya membuat pagi itu terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
“Oke… Mama udah tahu jawabannya.”
Suara Maya terdengar tenang, terlalu tenang untuk membuat Jolina merasa aman.
“Sekali seumur hidup, Ma,” Jolina menunduk. “Abis ini aku juga nggak bakal datang ke konser lagi.”
“Oke.”
Jawaban itu membuat Jolina mendongak.
“Hah?”
“Mama nggak marah?”
“Hari ini Mama lagi nggak mau marah-marah.”
Jolina mengerutkan kening. “Tumben.”
Maya menghela napas pelan. Tatapannya berubah serius. “Sebenernya… ada yang mau Mama bilang sama kamu.”
Perasaan tidak enak langsung merambat naik ke dada Jolina.
“Mama mau bilang apa?”
Maya menegakkan duduknya. “Mama sudah memutuskan untuk meresmikan hubungan Mama dengan Pak Mulya.”
Susu yang baru saja diminum Jolina tersembur keluar. Ia terbatuk keras, matanya membelalak.
“Apa?!”
“Meresmikan? Maksudnya apa ini?”
“Mama mau menikah?!”
Jolina berdiri begitu cepat sampai kursinya berderit keras.
“Mama yang bener aja,” suaranya naik. “Mama bercanda, kan?”
“Aku janji bakal jadi anak baik, Ma—”
“Mama nggak bercanda,” potong Maya tegas. “Mama serius.”
“Ma?” suara Jolina melemah. “Ayolah, Ma… masa menikah sih?”
Ia berjalan mendekat, wajahnya panik.
“Gini aja deh. Mama marahin aja aku. Pukul aku. Sita semuanya—HP, kartu ATM, ambil aja. Tapi jangan menikah.”
“Aku nggak mau…”
Maya menunduk sejenak, lalu berkata pelan namun menghantam,
“Sebenernya… kami sudah menikah, Jolin.”
Waktu seakan berhenti.
Jolina mundur satu langkah. “Apaaa?!”
Ia menatap ibunya seperti sedang menatap orang asing.
Jolina berdiri semakin tegak, tangannya mengepal.
“Calm down, baby. Sit down,” ucap Maya mencoba menenangkan.
“Aku nggak mau!” Jolina menggeleng keras. “Aku nggak mau!”
“Kami sudah menikah. Secara resmi,” lanjut Maya. “Mama cuma mau ngadain pesta kecil-kecilan aja.”
Jolina tertawa getir.
Ia menunjuk ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Hal sebesar ini kenapa Mama nggak diskusi dulu sama aku?”
“Mama egois banget, tau nggak sih?!”
Maya menahan napas. “Kamu juga nggak bakal setuju, kan?”
“Pak Mulya itu orang baik. Dia sayang banget sama kamu.”
“Dia bisa jadi ayah yang baik buat kamu.”
“Enggak,” suara Jolina bergetar. “Nggak ada yang bisa.”
Ia menggeleng, air mata akhirnya jatuh.
“Nggak ada yang bisa gantiin posisi Papa di hidup aku.”
Ia menatap ibunya penuh luka.
“Aku benci Mama.”
Kalimat itu meluncur begitu saja—tajam, tanpa rem.
Jolina meraih tasnya dengan kasar, menyampirkannya ke bahu.
“Jolin—”
Namun Jolina sudah berjalan menjauh.
Ia membuka pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Dulu Mama pernah janji… nggak akan nikah lagi.”
Pintu tertutup.
Rumah itu kembali sunyi, meninggalkan Maya berdiri sendiri di dapur, dengan keputusan yang sudah terlanjur diambil—dan hati seorang anak yang hancur karenanya.
Dan pagi itu, Jolina pergi dengan satu keyakinan pahit: ia kehilangan dua hal sekaligus : idolanya, dan rasa aman yang selama ini ia pegang di rumahnya sendiri.