NovelToon NovelToon
Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Xianxia / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pencari Dao Sejati

​"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
​Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
​Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
​Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku hanyalah karakter kecil tanpa bakat, tanpa dukungan, dan tanpa sumberdaya.

Rembulan pucat menggantung tinggi di langit malam yang kelam. Kabut sedingin es perlahan merayap turun menyelimuti lantai hutan, sementara suara jangkrik dan serangga malam terdengar bersahutan samar dari kejauhan, menambah kesan cekat pada keheningan yang mencekam.

​Di bawah akar sebuah pohon tua yang raksasa, tubuh mungil Lin Ling terbaring diam dalam kondisi terikat erat.

​Setelah suara derit roda kereta para pengecut itu benar-benar lenyap dari pendengaran, hutan kembali diselimuti oleh kesunyian yang mati.

​Lin Ling menggertakkan giginya hingga berderit, menahan rasa sakit yang berdenyut di tengkuknya. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada, dia memaksa tubuh kecilnya untuk bangkit dan duduk. Pergelangan tangannya terasa panas dan perih yang luar biasa akibat tali tambang kasar yang mengikatnya terlalu kencang, menghentikan aliran darah hingga jemarinya mati rasa.

​"Sialan..." Napasnya memburu lewat hidung, sementara sepasang mata hitamnya bergerak liar, membelah kegelapan untuk mencari apa pun yang bisa membantunya.

​Tak lama kemudian, pandangannya terkunci pada sebuah ranting pohon yang patah di dekat akar tempatnya bersandar. Ujung ranting itu pecah dan menyisakan serat kayu yang mencuat runcing, setajam pisau kecil.

​Mata Lin Ling langsung berkilat penuh harapan.

​Dengan susah payah, dia menyeret tubuhnya di atas tanah lembap, merangkak mundur mendekati akar pohon tersebut. Dia memutar lehernya dengan sudut yang canggung, mengarahkan kain rami yang menyumpal mulutnya agar bergesekan dengan ujung ranting yang runcing itu.

​Sret... Sret...

​Gesekan kasar kayu itu berulang kali meleset dan menggores pipi serta sudut bibirnya hingga terluka, namun Lin Ling tidak berhenti. Dia mengabaikan rasa perih dan darah hangat yang mulai mengalir di dagunya.

​Sedikit demi sedikit... serat kain rami itu mulai terkoyak.

​"Ugh... Haah!"

​Dengan satu sentakan kuat, sumpalan kain itu akhirnya terlepas dari mulutnya. Lin Ling langsung terbatuk-batuk keras, menghirup udara malam yang sedingin es ke dalam paru-parunya yang terasa kering.

​Namun, dia tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat.

​AUUUMMM—

​Sebuah suara raungan rendah dan berat kembali menggema dari bagian dalam hutan yang pekat. Udara di sekitarnya seolah bergetar akibat gelombang suara tersebut.

​Tubuh kecil Lin Ling seketika menegang kaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa meletup di dadanya. Dengan napas yang memburu panik, dia segera merangkak lebih dekat ke arah ranting tajam tadi, memposisikan kedua tangannya yang terikat di belakang punggung tepat di ujung kayu yang runcing.

​Dia mulai menggesekkan tali tambang itu dengan gerakan maju-mundur yang cepat

.

​Sret… sret…

​Gesekan yang terburu-buru itu membuat serat kayu yang tajam tidak hanya memotong tali, melainkan ikut menyayat kulit pergelangan tangannya berulang kali, hingga darah segar mulai mengalir membasahi sela jemarinya. Lin Ling menahan erangan sakitnya di dalam tenggorokan, terus menggerakkan tangannya tanpa henti.

​"Cepat... sedikit lagi... putus...!" gumamnya dengan nada gemetar menahan ketakutan.

​Angin malam berembus semakin kencang, menggoyang dedaunan di atas kepala mereka. Di sela-sela kegelapan, semak-semak belukar di depannya sesekali bergerak pelan secara janggal, seolah-olah ada sesosok makhluk raksasa yang tak terlihat sedang mengintainya dari balik bayangan pohon.

​SRET!

​Tiba-tiba, lilitan tali itu terasa melonggar saat salah satu simpul utamanya terurai.

​Mata Lin Ling membelalak. Tanpa membuang waktu, dia menarik kedua tangannya ke arah berlawanan menggunakan seluruh sisa kekuatan mortalnya.

​PUTUS!

​Ikatan di tangannya akhirnya terlepas. Lin Ling jatuh terduduk lemas ke atas tumpukan daun kering sambil terengah-engah. Kedua pergelangan tangannya dipenuhi bekas luka sayatan merah yang berdarah, namun seulas kelegaan besar sempat melintas di wajah pucatnya.

​"Akhirnya..."

​Namun, rasa lega itu hanya bertahan kurang dari satu detik.

​AUUUMMM!!!

​Suara auman ganas kembali meledak, memecah keheningan hutan. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih dekat, bahkan getaran langkah kaki makhluk itu samar-samar mulai terasa di atas tanah.

​Wajah Lin Ling seketika memucat seputih kertas. Naluri bertahan hidup di dalam dirinya menjeritkan alarm bahaya yang teramat pekat.

​"Makhluk itu... dia mencium aroma darahku!"

​Tatapannya langsung jatuh ke arah pergelangan tangannya sendiri. Darah segar masih menetes dari luka sayatan ranting tadi. Lin Ling tahu, bagi seekor Binatang Iblis (Monster Beast), setetes darah manusia fana adalah penuntun arah yang paling sempurna.

​Tanpa ragu, Lin Ling segera mengambil kain rami bekas sumpalan mulutnya yang telah basah oleh darah dari bibirnya. Dia menggunakannya untuk menyeka seluruh aliran darah di pergelangan tangannya secepat mungkin.

​Namun, ekspresinya segera berubah menjadi sangat buruk. 'Tidak cukup... baunya masih terlalu kuat di udara.'

​Sebuah kilatan dingin dan nekat melintas di sepasang mata bocah delapan tahun itu. Dia memeras kain penuh darah tersebut, lalu dengan sekuat tenaga melemparkannya jauh-jauh ke arah semak-semak tebal di sisi kanan hutan.

​BRUAKK!

​Hampir bersamaan dengan jatuhnya kain itu—

​ROAARRR!

​Sesosok bayangan hitam berukuran besar menerjang keluar dari kegelapan, langsung menerkam semak-semak tempat kain berdarah itu mendarat dengan raungan yang mengerikan. Tanah di sekitar tempat itu bergetar hebat akibat hantaman tubuh sang monster.

​Pupil mata Lin Ling mengecil seketika. Tanpa berani menoleh untuk melihat wujud makhluk itu, dia langsung membalikkan tubuh kecilnya dan berlari sekencang mungkin ke arah berlawanan, menahan napasnya dalam-dalam agar aromanya tidak tercium lagi.

​'Semoga makhluk itu mengira mangsanya ada di sana, atau setidaknya ada monster lain yang memperebutkan kain itu untuk mengulur waktu...' Setelah membatin demikian, Lin Ling memaksakan kakinya yang mungil untuk melangkah lebih cepat di antara akar-akar pohon yang melintang.

​Dia berlari cukup lama tanpa arah, menembus kabut malam yang tebal, hingga telinganya menangkap sebuah suara desiran air yang konstan dari balik rimbunnya pepohonan.

​"Suara air...? Tunggu..." Lin Ling menghentikan langkahnya, dadanya naik turun dengan hebat.

​"Mungkinkah... sebuah anak sungai?!" Matanya yang layu seketika kembali bersinar penuh harapan. Benar saja, setelah membelah semak-semak terakhir, dia menemukan sebuah aliran anak sungai kecil yang mengalir jernih menuju kaki gunung.

​Lin Ling segera melompat ke dalam aliran air yang dangkal tersebut. Dia berjalan di dalam air yang sedingin es, menggunakan arus sungai untuk menghanyutkan bau darah dan jejak kaki tanahnya agar tidak bisa dilacak oleh monster hutan.

​Setelah berjalan menyusuri aliran air untuk waktu yang terasa seperti selamanya, gerakan kaki Lin Ling mulai melambat karena kelelahan ekstrem.

​Di hadapannya, tebing-tebing batu hitam yang raksasa menjulang tinggi, saling berhimpitan dan membentuk sebuah celah sempit alami. Air sungai mengalir deras dari sela-sela batu tersebut, membentuk sebuah air terjun kecil berwarna putih sebelum berkumpul di sebuah kolam dangkal yang tenang. Kabut tipis mengepul di atas permukaan air, sementara gema gemuruh air terjun terus berdengung di antara dinding tebing.

​Pepohonan lebat yang tumbuh di atas tebing menutupi sebagian besar cahaya bulan, membuat tempat di sekitar air terjun itu tampak gelap gulita dan terisolasi dari luar.

​Napas Lin Ling benar-benar telah kacau. Seluruh jubahnya basah kuyup oleh percikan air sungai yang dingin, membuat tubuh ringkihnya menggigil hebat hingga giginya berantakan saling berbenturan. Namun, sepasang mata hitamnya perlahan menyipit saat dia menangkap sebuah celah sempit yang tersembunyi di balik batu besar dekat aliran air terjun.

​Celah itu sangat sempit, tertutup oleh lapisan lumut liar dan bayangan hitam tebal. Jika seseorang tidak memperhatikannya dengan tingkat ketelitian tinggi, hampir mustahil untuk menyadari ada ruang kosong di sana.

​Mata Lin Ling berkilat waspada. 'Tempat ini... sangat bagus untuk bersembunyi sementara waktu.'

​Tanpa membuang sisa tenaganya, dia memanjat permukaan batu yang licin dengan sisa kekuatannya, lalu merangkak masuk ke dalam celah sempit di balik dinding tebing tersebut.

​Begitu tubuhnya aman di dalam kegelapan celah batu, bayangan tentang apa yang terjadi di klan kembali berputar di kepalanya.

​"Ayah... Ibu... Klan Lin..." gumamnya lirih.

​Namun, amarah yang sempat membakar dadanya perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat dan kekosongan yang hampa. Lin Ling menundukkan kepalanya di atas lutut, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya yang pucat.

​Tawa itu terdengar sangat serak, pahit, dan menyedihkan.

​Di dalam celah batu yang gelap dan sempit itu, suara tawa seorang anak berusia delapan tahun terdengar begitu sunyi, berbaur dengan gema aliran air terjun di luar. Tetesan air dingin jatuh satu demi satu dari atap dinding batu yang lembap, mendarat di atas kepalanya dengan irama yang konstan. Kabut tipis dari aliran sungai merayap masuk, membuat suhu di dalam ruangan alami itu semakin merosot tajam, memaksa tubuh kecil Lin Ling semakin meringkuk mengerut.

​Rambut putihnya yang panjang dan berantakan menutupi sebagian wajahnya yang kuyu.

​"Benar juga..."

​"Aku hanyalah karakter kecil... seorang sampah tanpa bakat, tanpa dukungan, dan tanpa sumber daya... Kualifikasi apa yang kumiliki untuk menuntut keadilan?" Cahaya rembulan yang samar menerobos masuk dari sela batu, menerangi bekas luka sayatan merah yang membiru di kedua pergelangan tangan mungilnya.

​Di dunia kultivasi yang kejam ini, hidup dan mati seorang manusia fana seperti dirinya bahkan tidak lebih berharga dari sebutir debu di jalanan.

​Jari-jari kecil Lin Ling mencengkeram erat pakaian lusuhnya sendiri. Bahunya mulai bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak dia diseret keluar dari Paviliun Penyesalan dan dibuang ke hutan mengerikan ini, air mata yang selama ini dia tahan akhirnya tumpah juga.

​Setetes demi setetes

.

​Air mata panas itu mengalir di pipinya, bercampur dengan air sungai yang dingin yang menetes dari ujung rambutnya.

​"Aku..." Suaranya tercekat di tenggorokan, tersedak oleh rasa sesak yang luar biasa.

​"Aku hanya... ingin hidup..."

​Dia melingkarkan kedua lengan kecilnya, memeluk erat lututnya sendiri di sudut celah batu yang paling gelap. Sosoknya terlihat begitu kecil, rapuh, dan terabaikan di tengah kegelapan hutan liar di bawah kaki gunung. Di luar, suara air terjun terus menderu tanpa henti, menenggelamkan suara tangis pilu seorang anak yang dibuang oleh dunianya sendiri.

​Di tengah dinginnya malam dan gema aliran sungai, kelopak mata Lin Ling perlahan-lahan terasa semakin berat. Kelelahan mental dan fisik akhirnya merenggut kesadarannya. Di dalam celah batu yang sempit dan gelap itu, bocah kecil tersebut akhirnya tertidur lelap sambil terus memeluk lututnya sendiri.

1
Boqin Changing
mantap
Alia Chans
keren thor
Arena Breakout1
lanjut
Arena Breakout1
mantap ceritanya lebih enak di baca dan alurnya mulai menari👍👍👍
Pencari Dao Sejati
Sekali lagi saya ingatkan untuk membaca ulang buat yang belum baca
Jiwa Kuno
lanjutttttttttt
yayat
lanjut lah kapan terungksp kebenarn lin ling
Jiwa Kuno
Jangan lama lama upnya
Arena Breakout1
lanjut thorrr
Arena Breakout1
bagus juga
Arena Breakout1
oke 👍
Jiwa Kuno
Cepetin upnya thor bikin penasaran
Wu Xin
up lagii🙏🙏
Wu Xin
lanjutt thorr penasaran
yayat
kapan jd kuatnya lin ling
Pencari Dao Sejati: entar di bab 17-20
total 1 replies
yayat
biasa itu konspirasi untuk mengulingkan pimpinan klan
yayat
ok alus alurnya mudah dipahami moga ga mengecewakan para pecinta fantim
Wu Xin
peakkk/Scream/
Jiwa Kuno
bro~~~~~~
Wu Xin
haha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!