Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kisah tak akan usai
Aditya beberapa kali memejamkan mata menikmati irama kuat dengan gerakan yang hampir mendekati stabil. Cowok itu terus mengikuti keinginan tubuhnya, meneruskan permainan indah yang membuat tubuh semakin melayang.
Di bawahnya, kewarasan Laras semakin tipis, gadis itu mendongak. Kadang kala mulutnya terbuka karena sensasi aneh yang terus menjalar. Air mata di pipi mulai mengering, pun dengan suara indah yang mulai keluar, terdengar mendayu, seperti alunan indah bagi Aditya.
Entah berapa lama hal itu berlangsung, terakhir Aditya merasa puas dan seketika tubuhnya seakan melayang. Beban beratnya seperti menghilang begitu saja. Cowok itu dengan lembutnya, menindih tubuh Laras, memeluknya kuat kemudian berguling ke samping tanpa melepaskan sesuatu yang sedang tertidur dibawah sana. Aditya mengangkat Kaki Laras agar berpangku di tubuhnya, sedangkan sebelah kakinya menelusup di antara paha Laras, seperti mengapit kaki Laras yang satunya lagi.
Laras tidak mengeluarkan kata lagi, gadis itu lelah karena berusaha melawan tenaga Aditya yang sialnya jauh lebih besar daripada dirinya. Laras bahkan tidak memprotes saat Aditya kembali bergerak, membuat posisinya di bawah sedangkan Laras di atas dengan masih terbaring.
Keduanya berakhir dengan tidur saling berpelukan . Sampai sekitar pukul 3 dini hari, Aditya kembali terbangun, sesuatu di bawah dirinya mulai mengeras lagi, Aditya meleguh nikmat karena dirinya masih terbenam dengan apik. Aditya menarik pinggang Laras yang mulai miring, membuat gadis itu tanpa sadar meringis, menahan sakit. Aditya awalnya mengira karena efek yang dibawah. Tapi ringisan itu seketika berubah menjadi tangis kecil.
"Apa sesakit itu?" lirih Aditya, sedikit mengangkat pinggang Laras dan gadis itu perlahan bangun. Tangan Laras mencengkram tangan Aditya yang bertengger di pinggang sebelah kiri.
Laras menjauhkan tangan Aditya sambil berkata, "Jangan di situ, sakitt." suaranya lirih. Laras kemudian turun perlahan. Dirinya meringis lagi saat milik Aditya mulai keluar.
Kini giliran Aditya yang kalang kabut, cowok tidak tidak rela Laras menjauh saat dirinya kembali membutuhkannya. "Sekali lagi, Laras, aku janji."
Cowok itu menahan tubuh Laras agar tidak kemana-mana. Senyum Aditya muncul saat Laras menegakkan setengah tubuhnya. Gadis itu terlihat lebih menawan dengan rambut berantakan.
Sejujurnya Aditya ingin Laras bergerak, tapi gadis itu sama sekali tidak melakukan apa-apa. Laras sendiri memang tidak tahu harus berbuat apa.
Aditya menghela napas, cowok itu beranjak tanpa di duga. Kemudian memeluk Laras, menuntun kedua tangan Laras agar memeluk lehernya. Sedangkan kakinya melingkar di pinggang Aditya saat cowok itu berdiri. Aditya berjalan ke sofa dan duduk bersandar disana. tangan cowok itu menahan b*kong Laras kemudian menggerakkan naik turun.
"Bergeraklah Laras," pinta Aditya. "Bergeraklah jika kamu ingin ini cepat berakhir."
Ucapan itu sukses membuat Laras mulai bergerak. Aditya tetap membantu karena gerakan Laras yang masih kikkuk.
"Kau memang luar biasa".
Laras sekalian lemas, "Aku Ingin pergi dan tidur selama seminggu penuh." batinnya.
Pagi harinya, Aditya bangun lebih awal. Cowok itu juga menyadari sesuatu saat dirinya yang lain juga ikut terbangun. Aditya merutuki kebodohannya karena tidak langsung melepas diri saat selesai mencapai pelepasan. Bagaimana janjinya pada Laras malam tadi? Aditya menyandarkan kepala di sofa, menatap wajah Laras yang imut dan menggairahkan disatu waktu. Ruangan yang semakin terang membuat Aditya dapat melihat dengan jelas wajah kelelahan itu. Aditya reflek memeluk Laras, membawa keduanya ke ranjang.
Perlahan Laras bangun, kemudian mendorong tubuh Aditya agar menjauh, tapi sesuatu yang aneh membuat tubuhnya menegang.
Laras menatap Aditnya, menuntut penjelasan. Tapi cowok itu hanya meringis sambil menahan rangsangan. "Maafkan aku, anggap saja ini hukumnya karena kamu berani membawa masuk musang ke dalam apartemen." tangannya tidak mau melepaskan tubuh Laras barang sedetikpun.
Aditya menunduk dan tatapannya melihat sesuatu yang salah, karena penasaran, tangan cowok itu yang tadinya mencengkram b*kong Laras kini beralih pada pinggang. Mengelus kulit yang warna nya lebih gelap dari sekitarnya.
Sebuah lebam keunguan yang ketika Aditya menekannya seketika Laras meringis kesakitan. Laras seketika menghalau tangan Aditya.
"Ini kenapa?"
"Enggak papa."
Aditya tahu Laras berbohong, cowok itu menggendong Laras, perasaan haus itu meredam saat tahu ada yang tidak beres dengan istrinya.
Aditya membawa Laras ke kasur, merebahkan gadis itu dengan pelan. Matanya menatap Laras kemudian ke pinggang yang lebam itu.
Tentu saja Laras langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, termasuk matanya. Penampilan Aditya membuat wajahnya memerah, tapi cowok itu tidak peduli sama sekali.
"Pakai bajumu Aditya," pinta Laras, Aditya menurut.
Setelah menggunakan kembali boxer-nya Aditya menyibakkan selimut di tubuh Laras. "Ini kenapa? Apa yang kau lakukan sampai bisa jadi seperti ini?" Aditya tidak mengerti, apa tenaganya terlalu kuat sampai membuat Laras lebam begitu? Tapi sepertinya tidak.
"Aku baik-baik sa, Arghhhh!" Laras berteriak saat Aditya menekan pinggangnya.
Cowok dengan segala ide nakalnya itu menarik tangan Laras secara paksa. Menuntun agar meraba perutnya. Tentu saja hal itu membuat Laras gemetaran dan berusaha melepaskan diri. Tapi Aditya sama sekali tidak terpengaruh.
Laras menggeleng. "Enggak mauu!" teriaknya saat Aditya semakin menurunkan tangan Laras menuju bagian paling sensitif dari tubuh Aditya.
"Ini enggak bakal berenti kalo istriku, enggak mau cerita."
"Oke aku cerita."
Aditya tersenyum, kemudian memasang badan, siap mendengarkan cerita dari Laras.
"Tapi aku mandi dulu."
Aditya menggeleng. "Sekarang atau kita olahraga lagi."
Laras terpaksa mengalah, gadis itu lantas bercerita darimana dirinya mendapatkan lebam itu. Termasuk bercerita tentang Raihan yang hanya sekedar menjenguknya karena merasa bersalah. Aditya mengangguk paham, tidak merasa bersalah atau apapun itu. Wajar cemburu, artinya beneran cinta.
"Ayo kita mandi." Aditya telah memutuskan untuk membawa Laras ke klinik..Tapi sebelum itu mereka harus membersihkan diri dulu.
"Aku ingin mandi sendiri."
"Kamu sedang sakit, pinggangmu... " Aditya juga menyadari luka di lutut dan mata kaki Laras. "Lututmu dan sakit karena ulahku" Cowok itu menggendong Laras bridal style. Membawanya ke kamar mandi tanpa bantahan.
Laras tidak lagi melawan, dirinya merasa sia-sia saja terus memberontak. Aditya tidak akan pernah mau mengalah. Dan bersyukurlah karena mandi yang mereka lakukan memang mandi dalam artian yang sesungguhnya. Aditya tidak melakukan hal aneh, cowok itu malah selalu berhati-hati seakan sedang memandikan bayi. Tapi tidak batinnya yang terus-menerus mengumpat karena menahan gejolak panas.
Semua Aditya lakukan, memandikan bahkan sampai membantu Laras mengenakan pakaian. Cowok itu tidak peduli berapa kali Laras menolak bantuannya karena malu. Aditya hanya ingin melakukannya saja.
"Kita akan ke klinik."
"Enggak usah Aditya, lebam seperti ini tidak akan lama. Lagi pula aku lelah, aku ingin tidur." Sesaat, Laras melupakan kebenciannya pada Aditya. Gadis itu malas dan lelah adu mulut dengan Aditya yang keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya.
"Baiklah, kita istirahat saja seharian ini. Aku juga lelah... Ah, tunggu dulu." Cowok itu mendorong bahu Laras agar duduk di sofa.
Detik berikutnya, Laras di buat terpaku karena Aditya dengan inisiatif mengganti sprei serta sarung bantal. Cowok itu juga membuang selimut ke pojok kamar, semua yang kotor berkumpul di satu titik itu.
"Kita tidak mungkin tidur dengan ranjang yang berantakan, kan?" Aditya menatap Laras dengan seringai menyebalkan.
Setelah selesai, mereka berdua merebahkan diri. Aditya kembali menempel pada Laras. "Tidurlah, aku tidak akan berbuat macam-macam." cowok itu menarik Laras, menempelkan kepala Laras ke dadanya. "Jangan pernah berpikir untuk berpisah, Laras. Hal itu enggak bakal terwujud, kamu tetap milikku sekarang dan selamanya."
Aditya mengecup puncak kepala Laras penuh cinta.
Laras tidak merespon, gadis itu mulai merasa nyaman dipelukan Aditya. Pikirannya tenang begitu saja. Laras tidak mengerti kenapa hatinya mendadak sekalem ini, seolah semua pemberontakan dan keinginannya untuk menjauhi Aditya sirna seketika.
Apa mungkin hatinya mulai menerima, tapi kenapa secepat itu?