NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan terakhir

BAB 26 - Pilihan Terakhir

Tubuh Bi Sumi terasa kaku seolah membatu mendengar tawaran yang baru saja diucapkan oleh kedua majikannya. Lidahnya seketika kelu, bibirnya terasa terkunci rapat seolah dijahit benang kasar, tertahan oleh rasa ngeri yang mendalam. Wanita paruh baya itu hanya mampu menatap kosong ke arah Ratna yang tersenyum tulus, lalu pandangannya beralih pada Rahmat yang tampak begitu ramah dan meyakinkan.

“Mereka tidak tahu sama sekali... Sungguh, mereka tak menyadari teror maut yang aku hadapi setiap malam di rumah ini!” jerit hatinya, seketika hancur lebur terperangkap dalam dilema yang berat.

Sebuah bayangan mengerikan terlintas tajam di benaknya. Ia membayangkan putranya yang masih muda terlelap tenang di kamar belakang, hingga tiba-tiba udara di sekeliling berubah sedingin es. Kepulan asap hitam pekat merayap pelan masuk dari celah pintu, dan di sana, sosok iblis beringas bermata merah darah itu berdiri tegak di samping ranjang—siap mencabik dengan kuku tajamnya yang berkilat.

Sekadar membayangkan kemungkinan buruk itu, sekujur tubuh Bi Sumi merinding hebat. Tulang-tulangnya terasa nyeri seketika. Ia sama sekali tak sanggup membiarkan darah dagingnya sendiri melangkah masuk dan terperangkap ke dalam lingkungan rumah yang penuh misteri dan bahaya ini.

“Ti-tidak perlu repot-repot, Pak, Bu... Terima kasih banyak atas segala kebaikan yang Bapak dan Ibu berikan selama ini. Lebih baik... lebih baik saya pulang saja ke kampung. Sudah lama rasanya hati ini rindu bertemu anak,” ucap Bi Sumi dengan suara terbata-bata, berusaha menyembunyikan getaran ketakutan yang menggetarkan seluruh nadinya.

Setelah berdiskusi dalam bisikan yang cukup lama, akhirnya keteguhan hati Rahmat dan Ratna pun luluh. Mereka terpaksa menyetujui keinginan Bi Sumi untuk berhenti bekerja dan meninggalkan rumah mewah itu.

“Bi... Apakah keputusan ini sudah tak bisa diubah lagi?” tanya Ratna dengan nada memelas, menatap wanita yang telah setia mengurus rumah tangganya itu dengan pandangan berat, seolah enggan melepaskan kepergiannya.

“Mohon maaf sekali, Bu. Bukan maksud saya menolak niat baik Ibu dan Bapak. Namun keadaan sedang mendesak; anak saya di kampung kini sedang sakit keras. Hati saya tak akan tenang jika tidak berada di sisinya,” jawab Bi Sumi cepat, menutup celah pembicaraan agar tak ada lagi kesempatan untuk dibujuk.

Rahmat yang duduk di samping Ratna hanya mengangguk pelan, menerima kenyataan itu dengan sikap yang lebih tenang dan dewasa.

“Baiklah, Bi. Jika itu keputusan terbaik demi keselamatan dan kesehatan anak Bibi, kami izinkan Bibi untuk pulang. Namun ingat, jika suatu nanti urusan di kampung sudah selesai dan berniat bekerja kembali, pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar menyambut kedatangan Bibi,” ujar Rahmat dengan bijak, mengakhiri pembicaraan sore itu.

“Te... terima kasih banyak, Pak, Bu. Saya sangat berterima kasih karena sudah mengerti keadaan saya. Kalau begitu, izinkan saya bersiap-siap membereskan barang-barang,” sahut Bi Sumi, raut wajahnya seketika tampak jauh lebih lega.

“Tunggu dulu, Bi. Memangnya Bibi hendak berangkat sekarang juga?” potong Ratna cepat, menatap heran. “Mengapa tidak besok pagi saja? Hari sudah mulai sore, dan saya masih butuh bantuan Bibi menyelesaikan pekerjaan hari ini.”

“Betul kata Ibu, Bi. Lebih baik besok pagi berangkatnya. Kami juga sekalian bisa mengantarkan Bibi sampai ke depan rumah demi keamanan,” tambah Rahmat menyokong usul istrinya.

Mendengar tawaran itu, tubuh Bi Sumi kembali menegang. Di dalam benaknya, ketakutan itu kembali menguasai—ia sama sekali tak berani berlama-lama bersama mereka, apalagi menaiki kendaraan milik keluarga yang diselimuti hawa mistis yang begitu mencekam. Satu keinginannya saat ini: secepatnya memutuskan hubungan dengan rumah ini.

“Ti-tidak usah bersusah payah, Bapak. Besok pagi saya bisa berangkat naik angkutan umum seperti biasa, tidak jauh bedanya,” tolak Bi Sumi halus namun tegas.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Meski hatinya sudah tak sabar ingin pergi dan enggan melewatkan satu malam lagi di tempat mengerikan ini, kesopanan menuntutnya untuk bersabar hingga esok hari.

“Baiklah kalau begitu. Saya mengerti keinginan Ibu dan Bapak. Hari ini saya akan tetap bekerja seperti biasa hingga selesai,” lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan. Dalam hati ia bergumam: Tak apa, bertahan satu malam lagi takkan membunuhku. Yang terpenting, esok pagi aku sudah bebas dari teror yang mengancam nyawa ini.

Keesokan paginya, suasana haru bercampur tegang menyelimuti teras depan rumah mewah itu. Sinar matahari pagi yang hangat seolah berusaha menghapus sisa dingin dan ketakutan dari malam terakhir yang berhasil dilalui Bi Sumi dengan gemetar dan penuh doa.

Bi Sumi sudah berdiri rapi dengan sebuah tas besar di tangannya. Langkah kakinya terasa ringan seolah terbang, meski sedikit gemetar karena rasa gugup yang tak bisa disembunyikan. Hatinya berteriak gembira, ingin segera melangkah melewati gerbang besi itu dan tak pernah kembali lagi.

“Ibu, Bapak... Saya pamit pulang sekarang. Terima kasih sebesar-besarnya atas kesempatan dan kebaikan selama bekerja di sini. Mohon dimaafkan segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak,” ucap Bi Sumi sambil mencium punggung tangan Ratna, lalu menunduk hormat kepada Rahmat.

Mata Ratna berkaca-kaca, ia mengelus bahu pembantunya dengan perasaan berat. “Hati-hati di jalan ya, Bi. Sampaikan salam kami untuk anakmu, semoga lekas sembuh dan pulih kembali.”

“Iya, Bu. Terima kasih banyak,” jawab Bi Sumi tulus.

Rahmat lalu melangkah mendekat, merogoh saku jaket, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tebal, lalu menyodorkannya.

“Sebelum pergi, ambil ini dulu, Bi. Ini sisa gaji bulan ini, sekaligus pesangon yang sengaja saya berikan dua kali lipat sebagai tanda terima kasih karena telah setia dan telaten menemani serta merawat istri saya selama ini,” ujar Rahmat dengan senyum ramah yang lebar.

Bi Sumi menatap amplop tebal itu dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, uang itu sangat dibutuhkan untuk biaya pengobatan anaknya. Namun di sisi lain, benda itu seolah memancarkan hawa panas yang tak wajar, membuat bulu kuduknya kembali berdiri. Di lubuk hatinya, ia tahu persis: kekayaan melimpah yang dimiliki keluarga ini didapat dari jalan yang kelam, berhubungan erat dengan kejadian-kejadian mistis yang membuatnya takut setengah mati.

Dengan tangan gemetar namun tetap sopan, ia menerima amplop itu. “Te... terima kasih banyak atas kemurahan hati Bapak. Semoga Bapak dan Ibu senantiasa dalam perlindungan-Nya, serta damai tinggal di rumah ini.”

Segera setelah amplop tersimpan aman di dalam tas, Bi Sumi langsung berbalik dan melangkah cepat tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun. Ia berjalan tergesa-gesa menuju gerbang, membiarkan pintu besi itu tertutup rapat di belakang punggungnya. Hatinya penuh rasa syukur yang luar biasa—akhirnya ia berhasil lolos dan keluar hidup-hidup dari pusaran kegelapan yang perlahan namun pasti sedang menenggelamkan nyawa keluarga Rahmat dan Ratna.

Bersambung...

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!