Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Silam yang Menghantui
Perjalanan ke jalur baru lagi
Alasan Marco dan nenek pulang ke kampung halaman melewati jalur baru.
Karena masa silam yang keluarga mereka tanam masih belum mati.
Dahulu kala rumah penginapan milik keluarga mereka dibangun dengan menyisakan dendam.
Waktu itu ayah Marco yang merupakan anak tunggal nenek berinisiatif mau membuka sebuah usaha keluarga berupa tempat penginapan.
Ia terilhami setelah pulang dari perantauan di pulau-pulau seberang.
Perjalanan yang jauh membutuhkan tempat untuk bermalam atau singgah barang sebentar.
Tapi ayah Marco melakukan sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Salah satu bahan utama untuk membuat indah rumah penginapan ini adalah kayu.
Kayu yang dipilih adalah kayu-kayu yang kokoh dan bisa bertahan untuk jangka masa yang lama.
Selain itu ayah Marco juga memilih beberapa kayu yang punya nilai jual lebih.
Yakni kayu yang estetik dan unik.
Kayu-kayu yang terlihat sangat seni tapi buah dari pembentukan yang alami.
Ayah Marco mendapatkan keduanya.
Namun yang namanya seorang manusia selalu diuji dan tidak pernah merasa puas.
Ketika sedang berada di dalam hutan untuk hari yang terakhir. Ayah Marco melihat sebuah tanaman yang sangat langka.
Belum pernah seumur hidupnya ia melihat tumbuhan itu.
"Lihat pohon ini Bu",
"Bagus sekali bukan?",
Ibu Marco yang selalu ikut bersama juga setuju.
"Benar sekali ayah",
"Pohon ini begitu mempesona",
"Sangat cocok kalau ditanam di halaman depan rumah penginapan kita",
"Betul sekali",
"Bisa menjadi pemikat, daya tarik tersendiri untuk para tamu",
Pohon yang tidak terlalu besar itu mau mereka ambil dengan cara congkel untuk ditanam di rumah.
Pohonnya berdiameter satu lengan orang dewasa.
Tingginya belum sampai dua meter.
Cabang dan ranting pohonnya tidak terlalu banyak.
Daun-daunnya juga jarang-jarang.
Tapi uniknya daun-daun yang masih hijau muda itu berbentuk seperti awan.
Serat kayu pohon itu juga terlihat lebih menonjol seperti ukiran-ukiran kerajaan.
Pohon ini sangat eksotis.
Dengan bantuan orang yang bekerja kepada mereka.
Ayah dan ibu Marco berhasil mengeluarkan pohon berserta akarnya dari dalam tanah yang dalam dengan selamat.
Akarnya juga terlihat cantik.
Setelah dicabut akar-akar pohon yang menjuntai itu membentuk lingkaran yang presisi.
Seperti gambar matahari atau seperti buah rambutan yang bulatnya pasti.
Tapi untuk mengerjakan nya mereka membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Dari siang hari mereka baru benar-benar selesai menjelang malam.
"Ayo semuanya kita pulang",
"Sebentar lagi gelap total",
Pada saat perjalanan pulang keluar dari dalam hutan.
Kejanggalan demi kejanggalan mulai terjadi.
Mereka sempat nyasar berputar-putar beberapa kali sebelum akhirnya sampai ke jalan utama.
Padahal sudah lebih dari seminggu mereka selalu melewati tempat yang sama itu.
Kemudian ketika baru keluar menjauhi hutan.
Semua orang tanpa terkecuali dalam rombongan itu mendengar suara tawa cekikikan yang sangat meneror.
Semua bulu kuduk mereka berdiri tegak-tegak seperti mau upacara bendera pada hari Senin.
Puncaknya ketika baru mau sampai rumah.
Persis tinggal menyeberang saja ke rumah yang rencananya tidak lama lagi akan resmi menjadi sebuah tempat penginapan.
Seorang pekerja yang biasanya fokus dan selalu kuat mendadak kehilangan pegangan dari atas pickup.
Jatuh ke jalan raya.
Dari arah yang berlawanan datang sebuah kendaraan roda empat besar-besar dengan kecepatan penuh.
Korban meninggal dunia dengan naas di tempat kejadian kecelakaan karena terlindas.
Semua tulangnya remuk-remuk.
Jalanan menjadi merah bersimbah darah-darah.