NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Javeno membuka matanya saat merasakan sesuatu di atas tubuhnya. Melihat Disty yang ternyata sudah berada di atas tubuhnya dengan senyum merekah nya.

Disty merebahkan kepalanya saat Javeno melingkarkan tangan.

"Kenapa?" tanya Javeno menyusupkan tangan dari balik selimut dan baju tidur Disty. Mengusap lembut punggung Disty yang lembut, tidak ada bra juga di sana karena Disty semalam tidak memakai nya.

"Aku bahagia," kata Disty dengan nada nya yang memang terdengar senang.

"Kamu beneran izinin aku lagi buat deket dan berteman sama Zayna 'kan?" Disty mengangkat kepalanya, menatap Javeno.

Javeno menunjuk bibirnya sebentar, membuat Disty langsung menempelkan bibir disana. Namun belum sempat beranjak, Javeno sudah menahan kepala Disty.

Hanya ciuman sebentar sebagai sapaan di pagi hari.

"Jangan bercerita berlebihan, hanya berteman biasa dan itu cuma untuk Zayna. Selain dia, nggak ada lagi," ucap Javeno merapikan rambut Disty.

Disty mengangguk. "Enggak berlebihan kok, aku nggak cerita apa-apa juga ke dia. Dengerin dia aja yang cerewet, yang punya banyak bahan cerita, sesekali aku bakal tanya yang dia ceritain itu bener atau enggak, terus kalo lucu kita ketawa bareng deh," paparnya memberitahu.

Karena seharian yang kemarin sempat ia rasakan berteman dengan Zayna, itu yang mereka lalui. Lebih banyak Zayna yang bicara dan Disty menanggapi seperlunya saja.

"Dia beneran sebahagia itu kalau punya temen ternyata," batin Javeno dan membawa Disty untuk duduk.

"Ayo mandi," katanya berdiri duluan dan masuk ke kamar mandi.

Disty mengekori dari belakang dan mandi bersama. Hanya mandi, dengan Javeno yang nakal sedikit.

Setelah itu sarapan bersama dan berangkat bersama juga.

Zayna menunggu dan melambaikan tangan, membuat Disty menatap Javeno, meminta persetujuan untuk menghampiri Zayna.

Javeno tidak memberi senyum, hanya mengelus kepala gadis itu, membuat Disty segera berlari menghampiri, namun ia malah menabrak seorang gadis lain dan hampir saja keduanya jatuh.

"Eh sorry," kata gadis itu meminta maaf langsung.

Disty mengangguk kecil dan melanjutkan langkahnya lagi menghampiri Zayna.

"Lo gapapa?" tanya Zayna.

"Gue yang salah," kata Disty. Tapi ingin mengutarakan permintaan maaf, ia tidak berani. Ada Javeno di belakang mereka.

"Ayo ke kelas bareng," ajak Zayna dan menggenggam tangan Disty untuk jalan bareng.

Tangan Javeno yang tersembunyi di saku celana nya itu terkepal dengan rahang menegang, tapi ia menahan. Toh dirinya juga yang memberi izin.

"Disty normal, Zayna juga normal, jadi lo nggak perlu cemburu Jav," batin Javeno menahan diri dan melangkah pergi ke kelasnya sendiri.

Di kelas IPS 5. Zayna duduk di samping Disty, karena kemungkinan Zaffar tidak masuk sekolah lagi hari ini. Pria itu belum terlihat.

Bel juga sudah berbunyi, hanya menunggu guru masuk saja.

"Lo kemarin kenapa cuekin gue lagi? Gue ada buat salah kah?" tanya Zayna penasaran.

"Enggak," sahut Disty seadanya dan jujur. Ia juga tidak mungkin bilang kalau Javeno sempat melarang lagi sebelum kembali memberi izin hari ini.

Zayna ingin bertanya lebih, tapi ia juga tidak mau membuat Disty diam lagi. Jadi ya sudah.

"Hari ini gue udah deg-degan juga takut lo nggak akan balas sapaan gue lagi. Untung aja enggak, kalau emang gue nih ngeselin dan terlalu berisik, lo tegur aja biar gue bisa rem sedikit mulut cerewet gue ini," ucap Zayna dan Disty hanya memberi anggukan.

"Dan kalau lo butuh temen curhat, gue ada. Gue bakal dengerin dan kasih lo solusi," lanjut Zayna terdengar sangat tulus.

Disty menatap Zayna yang memberi senyuman. "Iya," jawab Disty singkat.

"Zayna."

Zayna mendongak saat Zaffar memanggilnya, ternyata pemuda ini berangkat sekolah setelah tiga hari libur.

Disty sibuk mengeluarkan semua buku-buku nya sekarang, malas melihat Zaffar yang tiga hari lalu melecehkan dirinya di depan semua murid.

"Awas," kata Zaffar datar. Tidak berpura-pura ramah lagi sekarang.

Zayna hendak beranjak, tapi Disty menahan tangannya yang ada di atas meja, menggenggam tangan Zayna tidak memberi izin Zayna untuk pergi.

Zayna menoleh pada Disty, begitu pun dengan Zaffar. Disty sendiri tidak menatap mereka berdua.

"Kayaknya kita tukar bangku aja Zaf, Disty nggak nyaman sama lo," ucap Zayna pada Zaffar.

"Kenapa lo malah sok tau tentang Disty yang nyaman atau enggak? Selama ini dia duduk sama gue fine aja tuh," ujar Zaffar tidak terima.

"Iya, fine karena lo belum ngelewatin batas walaupun Disty udah muak sama lo. Satu kelas juga tau dan bisa nilai gimana lo yang selalu ganggu dan sering maksa Disty juga kok," papar Zayna membela Disty yang sudah menjadi temannya ini.

"Lo...."

"Selamat pagi anak-anak. Zaffar, kenapa kamu tidak duduk? Ingin keluar dari kelas?" tanya Bu Indah.

Zaffar menggeram dan duduk di bangku yang sebelumnya milik Zayna.

Zayna mendekatkan diri ke telinga Disty. "Sorry kalau gue sok tau tentang lo yang entah risih atau enggak sama Zaffar. Tapi dari cara lo nahan tangan gue, gue tau kalau lo nggak mau lagi duduk sama Zaffar, si cowok gila itu," bisiknya.

Disty tersenyum tipis dan mengangguk. "Belajar," katanya.

Zayna ikut tersenyum dan mereka mendengarkan guru menerangkan. Zaffar sendiri mencuri pandang tentang kedekatan Zayna dengan Disty.

Hampir 2 jam pelajaran, akhirnya mereka di bebas kan juga untuk beristirahat.

Disty dan Zayna ke kantin bersama dan Javeno tetap memperhatikan dari jarak yang jauh. Melihat Disty yang lebih ceria dari biasanya.

"Gue mau mie goreng, lo pesen apa? Biar gue aja yang pesen, lo cari tempat duduk," papar Zayna.

"Samain aja," ucap Disty dan mulai duduk saat di dekatnya ada kursi yang kosong.

Zayna pergi memesan nasi goreng dengan air mineral saja, dan saat ia kembali, Javeno sudah duduk di sebelah Disty sekarang.

Zayna memberikan seporsi mie goreng dan air mineral milik Disty.

"Gue duduk di tempat lain aja deh Dis," kata Zayna lebih baik menjauh dari pada mencari masalah pada Javeno.

Disty mengangguk dan berucap terimakasih pada Zayna yang segera pergi.

Disty menatap Javeno yang rahangnya mengeras. "Kamu marah?" tanyanya pelan.

Javeno diam.

"Apa aku berlebihan sama Zayna? Aku cuma dengerin dia cerita dan jawab kalau dia tanya, ngomong seadanya tanpa ada ngomongin hal yang macem-macem kok," jelas Disty sedikit dengan rasa takut.

Javeno memejamkan mata untuk menenangkan rasa cemburu nya. Ia membuka mata, menatap Disty yang mukanya berubah sedih.

"Suap," pinta Javeno dingin.

"Mau aku pesenin yang lain?" tawar Disty.

Javeno menggeleng dan Disty mengangguk. Mereka makan sepiring berdua dengan Disty yang menyuapi Javeno.

Di meja berbeda Zayna tersenyum. "Lo emang lebih cocok sama Javeno sih Dis, walaupun dia lebih bahaya dari Zaffar sendiri," ucapnya menilai.

Sampai ketenangannya terganggu dengan Zaffar yang datang dan menyeret Zayna keluar tanpa menimbulkan keributan.

"Lepasin," kata Zayna meminta lepas, namun cekalan Zaffar malah sangat kuat.

Zaffar membawanya ke gudang belakang sekolah yang tidak terpakai lagi.

"Lo mau apa, Zaf?" tanya Zayna panik dan takut saat Zaffar tersenyum miring dan mendekati dirinya.

Melihat Zaffar yang sempat nekat mencium bibir Disty di depan semua murid beberapa hari lalu itu membuat Zayna nervous juga.

"Gue nggak akan lakuin apa pun kalau lo mau nurut sama gue," kata Zaffar dengan suara nya yang berat.

Zayna diam tidak berkutik saat ia sudah tidak bisa mundur atau menghindar dari Zaffar.

Zaffar tersenyum miring, mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan pada Zayna.

"Ini_ keluarga lo kan?" tanya Zaffar.

Zayna melotot marah dan ingin merampas ponsel itu. Di,mana keluarganya yang terikat, di sekap oleh orang suruhan Zaffar.

"Anjing lo mau apa hah?!" teriak Zayna marah.

"Sssttt." Zaffar meletakkan jari telunjuknya di bibir Zayna.

"Gue lihat kayaknya sekarang lo udah berteman sama Disty, dia mau ngomong sama lo dan respon lo," ucap Zaffar.

Zayna mengepalkan tangan. "Lo_ mau apa?" tanyanya sedikit waspada.

"Gue bakal kosongin perpus, pengawas juga udah gue kasih uang untuk langsung pulang dan kasih kunci nya sama gue hari ini. So...."

Zaffar menggantung kalimatnya dan mendekatkan bibir ke telinga Zayna yang menahan napasnya.

"Kalau lo emang mau keluarga lo selamat, lo harus bawa Disty ke perpus nanti," bisiknya sebelum menjauhkan tubuh dari Zayna.

"Lo mau apa sama Disty?" tanya Zayna dengan pikiran nya yang terbagi, antara keluarganya atau Disty yang baru saja menjalin pertemanan dengannya.

"Apa yang gue mau sama Disty itu urusan gue. Dan kalau lo berhasil bawa dia ke perpus nanti, gue langsung minta orang-orang gue buat bebasin keluarga lo. Tapi itu juga setelah lo yang harus langsung pergi, pulang tanpa kasih tau siapa pun, kalau lo kasih tau orang lain bahkan Javeno, gue bakal suruh mereka buat bunuh salah satu...."

"Enggak! Jangan!" potong Zayna menggeleng dan menangis.

Zaffar tersenyum lebar merasa Zayna tidak akan bisa berbuat apa-apa selain patuh. "Gue tunggu di perpus sepulang sekolah nanti," ucapnya lalu pergi dari gudang, meninggalkan Zayna yang baru saja di beri pilihan antara Disty atau keluarganya.

"Hampir setahun gue terus coba biar bisa berteman sama Disty, tapi setelah gue dapetin itu, kenapa semua hal kayak gini harus terjadi?" Zayna berkata lirih bersama tangisannya yang pilu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!