Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku baik-baik saja tanpamu
Sementara itu.
Di Hanoi. Musim hujan baru saja dimulai. Seorang perempuan berdiri di depan jendela apartemen kecilnya sambil memandangi lampu-lampu kota. Di meja kerja terdapat tumpukan proposal internasional. Paspor. Dan kartu identitas baru untuk pekerja asing.
Hidupnya perlahan mulai stabil. Namun sesekali... ketika malam terlalu sepi. Dan kota terasa terlalu asing. Tangannya masih refleks membuka galeri lama. Mencari satu foto yang tidak pernah berhasil ia hapus. Foto seorang pria bernama Ardian Mahendra. Jemarinya mengusap foto itu perlahan. Ada rasa kangen jauh di lubuk hatinya.
Lalu seperti biasa. Joyce kembali mengunci layar ponselnya. Dan berpura-pura bahwa hatinya tidak merindukan apa pun.
“Aku disini terlahir kembali.”
“Hidupku tenang disini.”
“Tidak ada yang menggangguku.”
Joyce berbisik perlahan untuk menutup rasa galau yang kembali menerpanya.
“Ingat janjimu Joyce.”
“Istirahatlah.. harimu masih panjang.”
*********************
Enam bulan berlalu.
Musim hujan di Hanoi telah berganti menjadi musim yang lebih hangat. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidup Joyce mulai memiliki ritme yang stabil. Dia sudah memiliki banyak teman, dan circle di tempat kerjanya. Mereka selalu menjalani pekerjaan, maupun kehidupan luar dengan kompal.
Apartemen kecil yang di tempatinya berada di kawasan Tây Hồ. Tidak terlalu besar. Namun nyaman. Dari balkon lantai dua belas, ia bisa melihat danau yang memantulkan cahaya matahari setiap pagi. Tidak ada lagi telepon dari wartawan. Tidak ada konflik keluarga. Tidak ada bayang-bayang Mahendra.
Tidak ada Ardian. Tidak ada Maya. Dan itu seharusnya menjadi hal yang baik. Secara profesional, karier Joyce justru berkembang jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Sebagai Event Communication Consultant untuk organisasi internasional, ia menangani berbagai konferensi lintas negara. Vietnam. Thailand. Malaysia.
Kamboja.
Bahkan beberapa proyek bersama lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kemampuan komunikasinya membuat namanya mulai dikenal di kalangan profesional Asia Tenggara. Banyak klien meminta Joyce secara khusus untuk memimpin acara mereka. Banyak organisasi ingin bekerja sama dengannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.., ia merasa dihargai bukan karena masa lalunya. Tetapi karena kemampuannya. Dia memiliki tacit knowledge yang tidak sulit ditiru oleh orang lain. Hal itu yang menjadikannya selalu beruntung, dan bahkan menjadi incaran banyak perusahaan untuk meng hire.
**************
Di sebuah ruang kerja..
"Joyce!"
Suara seseorang membuatnya menoleh. Seorang pria tinggi berkebangsaan Australia melambaikan tangan dari seberang koridor.
"Meeting room B?"
Joyce mengangguk.
"Sepuluh menit lagi."
"Good."
Pria itu tersenyum.
"Saya traktir kopi setelah rapat."
Joyce tertawa kecil. Dia mengangkat tangan, dan melingkarkan ibu jari dengan ujung jari telunjuknya. Sinyal dia menyetujui ajakan itu.
"Kalau rapatnya sukses."
"Deal."
Pria itu namanya Ethan Walker. Salah satu Project Director yang bekerja bersamanya. Cerdas. Humoris. Dan sangat menghormati Joyce. Selain Ethan, ada juga Minh. Pria Vietnam yang bertugas di divisi komunikasi digital. Semua art design menjadi tanggung jawabnya. Kemudian Daniel dari Singapura. Dan Haruto dari Jepang.
Mereka sering bekerja bersama. Sering makan siang bersama. Sering bepergian untuk urusan proyek. Bahkan sesekali mereka sering jalan bersama di luar jam kerja. Bersama mereka, Joyce merasa aman. Seperti merasakan memiliki body guard yang memberikan pengawalan kepadanya. Kedekatan mereka sering menjadi ledekan rekan kerja di perusahaan. Bahkan beberapa rekan kerja mulai menggoda Joyce.
"Jadi..."
Minh bertanya suatu hari.
"Kamu pilih siapa?"
"Pilih apa?"
"Tiga pria lajang yang jelas-jelas menyukaimu."
Joyce hampir tersedak kopinya.
"Apa?"
Seluruh meja langsung tertawa. Joyce hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kekonyolan rekan kerjanya.
"Ayolah Joy..., biar ada yang menemanimu khusus ketika week end"
Daniel ikut menyela.
"Bahkan orang buta bisa melihat itu."
Joyce menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian terlalu banyak berimajinasi."
"Bukan imajinasi Joy.. ."
Minh menunjuk Ethan yang sedang mengambil minuman.
"Dia selalu mencari kamu dulu sebelum rapat."
"Karena saya ketua proyek."
"Bohong."
Lalu menunjuk Haruto.
"Yang itu selalu membawa oleh-oleh khusus buat kamu."
"Itu karena dia sopan."
"Sangat sopan."
Mereka tertawa lagi.
“Mulai deh.., mulai. Kalian suka meledekku ya, awas..” sahut Joyce.
Mungkin apa yang diucapkan rekan kerja itu, bisa saja memiliki kebenaran. Ada beberapa di antara mereka ada yang menaruh hati kepadanya. Namun Joyce tetap tidak menganggap apa pun. Baginya mereka hanyalah teman. Rekan kerja. Orang-orang baik yang membuat hidupnya di negara asing terasa lebih ringan. Lebih aman, lebih ramai, dan damai. Tidak lebih.
Semua temannya tidak tahu, alasan Joyce berada di negara itu. Dan karena ada satu masalah yang tidak diketahui siapa pun. Hatinya belum benar-benar kosong. Meskipun dia selalu berusaha untuk membuatnya terisi. Namun terasa sulit, meski kesibukan tidak pernah jauh darinya.
***************
Malam itu.
Setelah pulang dari kantor, Joyce kembali duduk sendirian di balkon apartemennya. Aktivitas itu selalu menjadi favoritnya. Hampir tiap hari, beberapa kali dia melakukannya. Lampu-lampu Hanoi berkelap-kelip di kejauhan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari grup kantor. Pesan dari Ethan. Pesan dari Minh. Pesan dari beberapa teman baru yang mengajaknya makan malam akhir pekan. Hidupnya ramai. Sangat ramai. Namun anehnya... ia masih merasa ada ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun.
Tanpa sadar. Tangannya kembali membuka folder foto lama. Folder yang sebenarnya sudah berkali-kali ingin ia hapus. Namun tidak pernah berhasil.
Di dalamnya hanya ada beberapa foto. Dan satu di antaranya membuat napasnya tertahan.
Ardian.
Foto candid saat lelaki itu sedang memperhatikan sesuatu di luar kamera. Bukan foto terbaik. Bukan foto romantis. Namun selalu menjadi foto yang paling sulit dihapus. Joyce menatap layar cukup lama. Lalu tersenyum kecil. Sedih. Sangat sedih.
"Masih saja." bisiknya pelan.
Enam bulan. Enam bulan hidup baru. Enam bulan di negara baru. Enam bulan bertemu banyak orang baru. Namun ternyata... beberapa orang tidak pergi meski sudah tidak berada di dekat kita.
Mereka tetap tinggal. Di dalam ingatan. Di dalam hati. Dan terkadang...itu adalah tempat yang paling sulit ditinggalkan.
*************
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Jakarta. Ardian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Di atas meja terdapat undangan konferensi internasional yang akan diselenggarakan di Hanoi bulan depan. Biasanya ia akan mengirim direktur lain untuk menghadirinya.
Namun kali ini tidak. Tatapannya berhenti pada nama kota itu. Hanoi, Vietnam. Entah mengapa. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan kehilangan jejak Joyce...ia memiliki firasat yang sulit dijelaskan. Bahwa takdir mungkin belum selesai mempermainkan mereka.
"Meski probabilitas kecil untuk menemukanmu, aku akan datang ke Hanoi Joy.."
"Aku yakin, takdir akan berpihak pada kita.."
Ardian sudah membulatkan tekat, jika dia akan datang sendiri ke conference tersebut