Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Jarian
Malam yang mencekam akhirnya tiba. Kegelapan seolah turun lebih pekat di atas hutan larangan, membawa kabut tebal yang bergulung-gulung mengitari area Jarian. Bau busuk sampah yang bercampur dengan wangi melati yang menusuk hidung kembali menguasai udara, menciptakan atmosfer yang membuat kuduk berdiri.
Di tengah kesunyian itu, sebuah lingkaran spiritual telah dibentuk. Adrian duduk bersila tepat di tepi lubang Jarian yang gelap dan curam. Sesuai arahan, dia tidak mengenakan pakaian sama sekali di tubuh bagian atasnya, membiarkan dadanya yang masih memar akibat hantaman makhluk berbulu itu. Hanya selembar kain jarik batik lawas yang melilit erat dari pinggang hingga ke pergelangan kakinya. Di hadapannya, kepulan asap kemenyan membumbung tinggi dari sebuah tungku tanah liat kecil, berbaur dengan pekatnya kabut hutan.
Aki Sukra duduk tepat di belakang Adrian, sementara Pak RT dan Kang Kosim berdiri agak menjauh dengan obor di tangan, menjaga sekeliling dengan wajah tegang yang basah oleh keringat dingin.
"Tenangkan pikiranmu, Nak Adrian. Jangan biarkan rasa takut, amarah, atau penyesalan menguasai hatimu saat ini. Kosongkan pikiran, fokuskan niatmu hanya untuk menjemput Dinda dan Bagas. Ingat, begitu jiwamu menyeberang, jasadmu di sini akan tampak seperti orang mati. Apapun yang kamu lihat di sana, jangan pernah melepaskan pegangan dari kesadaranmu." Aki Sukra meletakkan tangannya yang keriput di pundak Adrian yang gemetar menahan dingin.
"Saya siap, Aki. Tolong antarkan saya sekarang. Saya tidak akan kembali tanpa mereka." Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan detak jantungnya.
"Khususon ila ruhi, jabang bayine Adrian, sing fana balik marang sukma, buka gerbang Jarian, adohna marabahaya.". Aki Sukra mengangguk mantap. Beliau mulai memutar tasbihnya dengan cepat. Mulutnya merapalkan untaian doa tawasulan, selawat, dan mantra-mantra kuno penjaga jiwa dengan nada rendah yang bergetar penuh kekuatan spiritual.
Mendengar bait-bait doa yang dipanjatkan Aki Sukra, suasana di sekitar lubang Jarian mendadak berubah drastis. Angin malam yang tadinya berembus pelan tiba-tiba mati total. Keheningan yang tidak wajar menyergap. Namun, tepat di dalam lubang Jarian di depan Adrian, kabut mulai berputar hebat membentuk sebuah pusaran angin puting beliung kecil yang hitam pekat.
Adrian merasakan tubuhnya mendadak menjadi sangat berat. Setiap helai bulu kuduknya berdiri. Pandangannya yang semula tertuju pada pusaran kabut perlahan-lahan mengabur, digantikan oleh dengungan keras di telinganya yang terdengar seperti jeritan ribuan suara yang tumpang tindih. Dada Adrian terasa seperti dihantam gelombang energi tak kasat mata yang sangat dingin, menembus langsung ke tulang-tulangnya.
"Pak lihat! Badan Nak Adrian mulai pucat.". Kang Kosim berbisik panik kepada Kang Kosim saat melihat tubuh Adrian mulai kaku.
"Sssttt.diam Kang jangan ganggu Aki Sukra. Kita harus terus jaga di sini." Pak RT mempererat genggaman obornya, matanya waspada.
Suara rapal doa Aki Sukra terdengar semakin menjauh di telinga Adrian, berganti dengan suara bisikan parau yang memanggil namanya dari dalam pusaran hitam itu. Kesadaran fisik Adrian perlahan-lahan memudar. Kepalanya terkulai lemas, dan napasnya berembus sangat lambat, menyisakan jasadnya yang duduk kaku di dunia nyata di bawah penjagaan ketat Aki Sukra dan warga.
Di saat yang sama, dalam pandangannya Adrian merasa tubuh sukmanya terlempar jatuh bebas ke dalam pusaran Jarian yang tanpa dasar, menembus batas antara dunia manusia dan dimensi hitam yang menjadi singgasana duka hantu Sinta serta penguasa kegelapan hutan larangan.
Saat Adrian perlahan membuka matanya, rasa dingin mencekam dari dunia nyata telah lenyap, berganti dengan hawa udara yang gersang dan pengap. Dia tersadar dalam posisi berbaring di atas tanah gersang. Ketika dia bangkit berdiri, pemandangan di sekelilingnya membuat jantungnya berdesir hebat.
Tempat itu adalah sebuah padang rumput yang teramat luas, namun rumput-rumputnya kering berwarna hitam keabu-abuan. Langit di atasnya berwarna merah darah pekat, menyajikan suasana senja abadi yang kelam tanpa adanya matahari. Tidak ada angin, tidak ada suara burung, hanya kesunyian yang mati.
"Dinda! Bagas!". Teriak Adrian. Suaranya terdengar menggema seolah teredam oleh tebalnya atmosfer dimensi ghaib tersebut.
Mengingat peringatan Aki Sukra bahwa waktu jiwanya terbatas, Adrian mulai berlari sekuat tenaga membelah padang rumput gersang itu. Namun, perjalanan menembus dimensi ini menjadi ujian mental yang luar biasa mengerikan.
Sepanjang dia berlari, tanah di sekitarnya seolah hidup. Dari balik ilalang hitam, makhluk-makhluk dengan wujud tak masuk akal mulai bermunculan. Adrian melihat sosok manusia tanpa kepala yang merangkak terbalik, makhluk kerdil berkulit melepuh yang tertawa melengking, hingga bayangan-bayangan hitam bermata satu yang mengawasinya dari kejauhan dengan air liur menetes.
Rasa takut setengah mati mencengkeram dada Adrian, membuatnya beberapa kali tersandung dan jatuh. Namun, bayangan kematian Maman dan wajah pucat kedua sahabatnya memaksa Adrian untuk terus bangkit dan berlari.
Setelah melintasi bukit gersang, pandangan Adrian tertuju pada sebuah gubuk kayu tua yang berdiri terasing di tengah tanah lapang. Perasaannya bergejolak keras. Dia berlari kencang dan langsung mendobrak pintu gubuk yang rapuh itu.
BRAKK!
Begitu berhasil masuk, napas Adrian seketika terhenti. Air matanya langsung tumpah melihat pemandangan di dalam gubuk yang remang-remang.
Di sana, di tengah ruangan, tubuh Dinda dan Bagas tampak tergantung dengan tali tambang besar yang melilit leher mereka pada dahan kayu atap gubuk. Kedua sahabatnya itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, wajah mereka pucat pasi seperti mayat, dengan tubuh yang perlahan mulai diselimuti akar-akar hitam halus yang keluar dari dinding gubuk.
"Dinda! Bagas! Bangun!!! Ini aku, Adrian! Aku datang buat jemput kalian!". Adrian berlari histeris dan langsung memeluk kaki Bagas dan Dinda.
Tidak ada jawaban. Tubuh kedua sahabatnya itu terasa sedingin es.
Adrian dengan panik memanjat sebuah meja kayu reot di bawah mereka. Jemarinya yang gemetaran mulai berusaha keras mengurai ikatan tali tambang yang menjerat leher Dinda terlebih dahulu. Kuku-kukunya sampai berdarah menahan kerasnya tali ghaib tersebut.
"Kalian gak boleh mati di sini! Kita harus pulang bersama ku, kita harus bersama lagi! Bertahanlah, demi aku!". Adrian sambil menangis, terus menarik tali.
Sreeet!
Ikatan pada leher Dinda melonggar, dan bersamaan dengan itu, Adrian berhasil memutuskan tali yang mengikat Bagas. Tubuh Dinda dan Bagas merosot jatuh ke pelukannya di atas meja. Adrian memeluk erat kedua tubuh yang tak berdaya itu dengan rasa lega yang membuncah.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sedetik.
GRRRRRRRRRRRR!
Sebuah geraman rendah yang teramat berat membuat seluruh gubuk kayu itu bergetar hebat. Atap gubuk hancur seketika, koyak menjadi serpihan. Dari balik kegelapan senja merah darah, muncul sosok makhluk berbulu hitam raksasa penunggu Jarian yang sesungguhnya. Matanya yang menyala merah menatap Adrian dengan amarah murni yang sanggup merontokkan jiwa.
"HAK KAMI TIDAK BOLEH DI REBUT, MANUSIA LANCANG!"
Sebelum Adrian sempat mengamankan tubuh Dinda dan Bagas, makhluk raksasa itu mengibaskan lengan besarnya yang berbulu lebat. Hantaman energi ghaib yang luar biasa kuat menerjang dada Adrian.
DUAAAKKK!
Tubuh Adrian terhempas kencang, melayang melewati dinding gubuk yang hancur dan bergulingan belasan meter di atas padang rumput gersang. Rasa sakitnya seribu kali lebih menyiksa daripada hantaman di dunia nyata, jiwanya seolah-olah retak akibat serangan tersebut.
Adrian terbatuk, meringkuk di atas tanah sambil memegangi dadanya, sementara pandangannya kembali memburam saat melihat makhluk raksasa itu perlahan mendekati tubuh Dinda dan Bagas yang terkapar di dalam gubuk.