Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
"Wooowww, Mama cantik banget..."
Suara renyah Daphnee tiba-tiba memenuhi ruang kamar. Ia lalu memutari tubuh Ibunya yang tengah berdiri di depan cermin. Kepalanya menengadah, menatap penuh kagum wajah Daniela yang sudah dipoles riasan soft glam.
"Benarkah? Tapi sepertinya Ney jauh lebih cantik," canda Daniela dengan nada menggoda.
Gadis kecil itu tersenyum malu-malu. Bola matanya yang indah bergerak salah tingkah, menyembunyikan rasa senang.
"Mama mau ke mana sih? Ney boleh ikut, gak?" tanyanya manja sambil memeluk kaki jenjang ibunya.
Daniela berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi sang putri agar bisa menatapnya lekat-lekat.
"Mama mau pergi ke acara dulu, Sayang. Om Evan minta Mama untuk temani dia. Tapi Ney belum bisa ikut karena ini acara orang dewasa. Lagipula ini kan sudah malam," bujuk Daniela lembut sambil mengusap kepala Daphnee.
"Ney di sini saja dulu sama Nenek, ya? Mama tidak akan lama, kok."
Gadis kecil itu tidak menjawab, melainkan langsung merengkuh leher ibunya dan menyusupkan kepala di ceruk leher Daniela, seolah berat untuk berpisah.
"Mama janji ya, nggak boleh pergi lama-lama!"
"Iya Sayang, Mama janji. Tapi kamu juga tidak boleh tidur terlalu malam, ya?"
Daphnee mengangguk pelan dalam pelukan. Meski begitu, tangan mungilnya masih enggan terlepas dari leher sang ibu.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari luar dan berhenti tepat di depan rumah. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu mobil yang dibuka lalu ditutup kembali.
"Daniela, Nak Evan sudah datang."
Harsiwi melangkah masuk ke dalam kamar untuk memberi tahu keponakannya.
"Iya, Mak Tua. Sebentar lagi aku keluar," ujar Daniela, lalu perlahan mengurai lilitan lengan Daphnee di lehernya.
Sebelum berdiri, Daniela menghujani wajah putrinya dengan ciuman gemas.
"Ney, Mama pergi dulu, ya. Ney tidak boleh nakal dan harus nurut sama Nenek."
"Oke, Mama."
Setelah mencium tangan Harsiwi dengan takzim, Daniela pun melangkah keluar dari kamar.
Di ruang tamu, seorang laki-laki tampan, mapan dan berpakaian formal sudah duduk menunggu. Begitu Daniela muncul, lelaki itu sempat tertegun. Matanya menatap lekat penampilan Daniela yang malam ini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Ada binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Kenapa, Mas? Ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Daniela, sedikit risi karena dipandangi seperti itu.
Laki-laki itu langsung menggeleng cepat. Tatapannya berubah teduh, berganti dengan senyuman hangat yang tulus.
"Malam ini kamu luar biasa cantik, Daniela. Terima kasih sudah mau menemaniku," ucap Evan tulus, bukan sekadar basa-basi penyanjung.
"Kita berangkat sekarang?"
Daniela mengangguk pelan. Setelah Evan berpamitan dengan sopan kepada Harsiwi, keduanya pun melangkah bersama menuju mobil yang sudah menunggu di luar.
***
Siapa Evan?
Semuanya berawal dari beberapa bulan yang lalu. Malam itu, Daniela baru saja pulang berbelanja dari supermarket yang letaknya lumayan jauh dari desa tempat tinggalnya. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh malam saat ojek yang ditumpanginya hampir memasuki jalanan desa. Suasana di sana sangat sepi, ditambah lagi dengan minimnya lampu penerangan jalan.
Tiba-tiba, beberapa laki-laki berpenampilan preman menghadang di tengah jalan. Mau tidak mau, tukang ojek itu terpaksa mengerem mendadak dan menghentikan laju motornya.
"Turun, atau nyawa kalian melayang!" perintah salah satu dari mereka yang berpenampilan paling menyeramkan.
Tatapan lelaki itu kemudian beralih, mengunci wajah Daniela. Matanya seketika berubah buas, diiringi seringai menjijikkan yang tersungging di bibirnya.
Namun, Daniela bukan wanita yang lemah. Tepat saat tangan preman itu terulur hendak menyentuh kulitnya, Daniela langsung melayangkan tendangan sekuat tenaga, tepat sasaran ke arah ulu hati sang preman.
*Bukkk!*
Tendangan tak terduga itu sukses membuat si preman jatuh terjengkang ke tanah. Merasa dipermalukan, emosinya langsung berkobar. Dengan gerakan kilat dia bangkit berdiri, lalu mencengkeram pergelangan tangan Daniela dengan sangat kasar.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau membuatku jatuh? Kau harus membayarnya dengan melayaniku malam ini!" bentaknya berang.
Wajah Daniela seketika memucat. Rasa takut mulai menjalar, tetapi dia menolak menyerah. Daniela melakukan perlawanan secara brutal, mencoba melepaskan diri. Sementara itu, sang pengemudi ojek sama sekali tidak bisa berkutik karena tubuhnya sudah ditahan dan digebuki oleh dua preman lainnya.
"Brengsek, lepaskan tanganku!" teriak Daniela kalut, mencoba menghentak cengkeraman itu.
"Tidak bisa, Sayang. Ayo kita bersenang-senang dulu di rumah kosong itu!" sahut si preman sambil menunjuk sebuah bangunan terbengkalai di dekat sana.
Hal itu membuat Daniela semakin panik dan memberontak sekuat tenaga.
Tepat saat tubuh Daniela mulai diseret paksa menuju rumah kosong tersebut, sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Lampu sorotnya yang sangat menyilaukan langsung menembus kegelapan dan mengarah tepat ke posisi mereka.
Mobil itu berhenti mendadak dengan suara ban yang mencicit keras. Pintu terbuka, dan dari dalam keluar seorang pria bertubuh tinggi atletis. Tanpa babibu, pria itu langsung bergerak cepat dan melayangkan pukulan telak ke arah preman yang sedang menyeret Daniela.
Tanpa ampun, preman itu langsung ambruk dan terjengkang ke tanah.
Perkelahian sengit pun tak terhindarkan. Namun, si kepala preman sama sekali bukan tandingan pria itu. Dia terus terdesak, menerima pukulan demi pukulan hingga napasnya tersengal-sengal.
Melihat bos mereka hampir pingsan dihajar, dua preman yang tadinya menahan sopir ojek tidak tinggal diam. Mereka melepaskan sang sopir dan bersiap menerjang maju. Namun, baru saja mereka memasang kuda-kuda, pria asing itu bergerak lebih cepat. Lewat serangkaian tendangan maut yang akurat, kedua preman itu langsung dibuat KO dalam sekejap dan terkapar di tanah.
Suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru napas mereka yang terengah-engah. Pria itu membalikkan badan, lalu melangkah mendekati Daniela yang masih gemetar.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya laki-laki itu penuh perhatian.
"Tidak apa-apa. Saya... saya baik-baik saja. Terima kasih," ucap Daniela dengan suara bergetar. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok.
"Kalau begitu, ayo saya antar pulang. Berbahaya kalau kalian tetap melanjutkan perjalanan dengan motor dalam kondisi seperti ini," tawarnya pelan.
Daniela terpaku. Rasa curiga dan takut masih menggelayuti pikirannya. Matanya langsung beralih menatap sang sopir ojek, meminta pertimbangan.
Sopir ojek yang juga masih ketakutan itu cepat-cepat mengangguk setuju.
"Iya, Mbak. Sebaiknya Mbak ikut Mas ini saja, lebih aman," bisik sopir ojek pasrah.
Meski begitu, sisa trauma malam itu membuat Daniela ragu. Logikanya memperingatkan agar tidak mudah percaya begitu saja pada orang asing yang tiba-tiba muncul.
Melihat keraguan di mata Daniela, pria itu tersenyum tipis untuk menenangkan.
"Ayo, ini sudah semakin malam. Saya bukan orang jahat, percayalah," bujuknya dengan nada suara yang terdengar sangat tulus.
Setelah beberapa saat menimang risiko dan melihat ketulusan di mata pria itu, akhirnya Daniela mengangguk pelan, menyetujui tawaran tersebut. Dan setelah memberikan uang yang lebih dari cukup pada sopir ojek itu, merekapun segera pergi.
Sejak malam mencekam itulah, Evan menjadi sahabat sekaligus pelindung bagi Daniela. Kehadiran Evan membawa banyak perubahan baik. Bahkan, usaha katering kecil-kecilan yang dikelola Daniela bersama Harsiwi menjadi jauh lebih maju setelah Evan memperkenalkan mereka kepada beberapa relasi bisnisnya.
Daniela merasa sangat berutang budi atas segala kebaikan pria itu. Jadi, ketika Evan memintanya untuk menemani ke acara grand opening hotel milik temannya yang dari Jakarta, Daniela tidak punya alasan untuk menolak. Akhirnya, dia pun mengiyakan undangan tersebut demi menghargaI kebaikan sang sahabat.
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah