Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THIRTY FIVE
"Hah... batal?! Jangan pernah berharap atau bermimpi untuk bisa membatalkan pertunangan ini, Adryan Juardi! Aku... aku sudah melakukan banyak hal gila untuk mendukung karirmu! Dan sekarang, setelah keluargaku nyaris hancur, kamu ingin membuangku begitu saja seperti sampah?!"
Adryan terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur meremehkan. "Aku tidak pernah meminta atau mengemis bantuan apa pun darimu selama ini, Ratu! Kamu sendiri yang dengan bodohnya mau melakukan semua kelicikan itu demi memuaskan egomu sendiri!"
"Dengar baik-baik, Adryan!" Ratu maju beberapa langkah, mencengkeram tepi meja kerja Adryan dengan kedua tangannya, wajahnya mendekat penuh ancaman yang histeris. "Kamu tidak akan pernah bisa lepas atau pergi dariku begitu saja! Setelah seluruh reputasi bisnis keluargaku hancur berantakan, tidak akan mudah bagimu untuk melangkah pergi menyelamatkan dirimu sendiri!"
"Itu semua terjadi karena ulah keserakahan dan kebodohan keluargamu sendiri, Ratu! Sama sekali tidak ada hubungannya dengan diriku atau perusahaanku!" balas Adryan dengan nada suara yang tidak kalah tinggi, menggebuk meja kerjanya penuh rasa frustrasi.
Namun, di tengah-tengah adu argumen yang kian memanas itu, sesuatu yang aneh mendadak mulai terjadi pada kondisi fisik Adryan. Tubuh pria itu tiba-tiba saja terasa sangat panas secara tidak wajar. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan rasa gerah yang teramat sangat mulai membakar kulitnya dari dalam.
Adryan mengerang pelan, tangannya bergerak dengan gemetar melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik leher, lalu membuka dua kancing kemeja bagian atasnya demi mencari pasokan udara segar.
Melihat perubahan kondisi fisik Adryan yang mendadak gelisah dan dipenuhi oleh keringat yang mulai membasahi pelipisnya, seulas senyum tipis yang sarat akan kelicikan dan kepuasan perlahan terukir di bibir Ratu. Obat perangsang dosis tinggi yang aku campurkan ke dalam pelembab udara ruangan ini melalui bantuan orang dalam... tampaknya sudah mulai bekerja dengan sangat baik, batin Ratu penuh kemenangan.
Adryan yang mulai kehilangan kendali penuh atas kesadaran logikanya akibat efek zat kimia yang mulai menjalar di sistem sarafnya, menyeret tubuhnya kembali duduk di kursinya. Dengan napas yang mulai terengah-engah, ia meraih remote pengatur suhu ruangan di atas meja, menekan tombol AC berulang kali untuk menurunkan suhunya ke titik terendah karena merasa sangat gerah yang luar biasa.
Melihat targetnya sudah masuk ke dalam jebakan, Ratu bergerak dengan sangat sunyi. Ia berjalan mundur perlahan menuju pintu utama ruang kerja, lalu memutar tombol pengunci pintu dari dalam dengan bunyi klik yang halus, memastikan tidak akan ada satu orang sekretaris pun yang bisa menginterupsi rencana liciknya siang ini.
Setelah pintu terkunci rapat, Ratu membalikkan tubuhnya kembali. Dengan langkah kaki yang sengaja dibuat meliuk lambat dan penuh godaan, ia menghampiri Adryan yang kini sudah mulai bersandar lemas di kursinya dengan wajah yang memerah padam dan mata yang sayu akibat pengaruh gairah buatan yang membakar tubuhnya.
Ratu berjalan memutari meja kerja, lalu tanpa ragu mendudukkan tubuhnya tepat di atas kursi kerja kosong di sebelah Adryan, sengaja merapatkan tubuh rampingnya hingga kulit mereka saling bersentuhan. Ia mengulurkan jari-jarinya yang lentik, mengusap lembut dada bidang Adryan yang terekspos di balik kancing kemeja yang terbuka.
"Kenapa, Sayang? Tubuhmu terasa mulai tidak nyaman dan sangat panas, hm?" bisik Ratu dengan nada suara yang teramat manja dan menggoda, mengembuskan napas hangatnya tepat di dekat daun telinga Adryan yang kini mulai mengerang frustrasi, tenggelam ke dalam jerat perangkap gairah hitam yang sengaja disiapkan untuk mengunci kebebasannya selamanya.
...****************...
Aroma tembakau bercampur dengan wewenang parfum maskulin yang menguap panas memenuhi setiap sudut ruang kerja eksekutif itu. Pintu jati tebal masih terkunci rapat dari dalam, mengisolasi sebuah dosa besar yang baru saja tertoreh di atas sofa kulit hitam yang kini tampak berantakan.
Ratu berdiri di depan cermin besar yang tertempel di dinding, perlahan menarik ritsleting gaun merahnya ke atas dengan gerakan yang teramat santai, seolah-olah tidak ada hal mengerikan yang baru saja ia lakukan. Sudut bibirnya terangkat, mengagumi pantulan dirinya sendiri yang tampak berantakan namun memancarkan kepuasan yang mutlak. Setelah memastikan penampilannya kembali rapi, ia melangkah mendekati meja kerja Adryan, meraih ponsel pintarnya yang sejak tiga puluh menit lalu bersandar di antara tumpukan buku dengan lensa kamera yang mengarah lurus ke sofa panjang.
Ratu menekan tombol stop pada layar, lalu memutar ulang beberapa detik rekaman video tersebut. Matanya berbinar puas melihat visualisasi adegan panas nan intim yang baru saja ia lalui bersama Adryan. Sebuah bukti konkrit, sebuah tiket emas yang akan mengikat pria itu seumur hidupnya. Dengan santainya, Ratu mendudukkan dirinya di atas kursi kebesaran Adryan, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu meraba tasnya untuk mengambil sebungkus rokok beserta korek gas bermerek mahal.
CELEK.
Api menyala, membakar ujung rokoknya. Ratu mengembuskan asap abu-abu ke udara, menatap ke arah sofa panjang dengan pandangan meremehkan.
Di atas sofa tersebut, Adryan masih tergolek lemas tanpa daya. Tubuh atletisnya polos tanpa sehelai benang pun, dibanjiri oleh keringat dingin yang terus bercucuran. Efek dari cairan perangsang dosis tinggi yang diberikan Ratu masih menyisakan rasa kebas dan lelah yang luar biasa di setiap persendiannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Namun, di balik kelemahan fisiknya, sepasang mata Adryan menatap lurus ke arah Ratu dengan pandangan yang sarat akan rasa jijik, muak, dan amarah yang siap meledak jika saja ia memiliki kekuatan untuk berdiri.
"Murahan... Jalang kau, Ratu!" maki Adryan, suaranya terdengar serak, parau, dan bergetar hebat. Ia mencengkeram tepi sofa, berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa tenaga di otot lengan dan kakinya, namun tubuhnya justru kembali terhempas lemas. "Bisa-bisanya kamu... menggunakan cara menjijikkan dan sekotor ini hanya untuk menjebakku! Kamu benar-benar tidak punya harga diri!"
"Hahahahahahaha!"
Tawa Ratu pecah, menggema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia mengetukkan abu rokoknya ke dalam asbak kaca di atas meja dengan gerakan elegan yang dibuat-buat. "Jangan sok suci di hadapanku, Adryan Juardi! Bahkan dalam kondisi keracunan sekalipun, tubuhmu sama sekali tidak bisa berbohong! Bukankah selama tiga puluh menit tadi kamu juga sangat menikmatinya? Kamu menyentuhku, mengerang namaku... Jadi, jangan berlagak seolah-olah kamu adalah korban di sini."
"Sungguh tidak tahu malu!" Adryan meludah ke lantai, giginya bergelatuk menahan rasa hina yang teramat sangat. Mengetahui bahwa dirinya telah ditundukkan oleh kelicikan seorang wanita yang pernah sangat ia sukai membuat egonya sebagai pria hancur berkeping-keping. "Aku benar-benar tidak menyangka... kamu bisa selicik ini, Ratu! Kamu tidak lebih dari seorang wanita murahan yang menjajakan tubuhnya demi sebuah status!"
"Licik?" Ratu bangkit dari kursi kerja Adryan, berjalan perlahan mendekati sofa dengan puntung rokok yang masih menjepit di jarinya. "Bukankah kamu sendiri yang mengajari aku cara menjadi licik, hm? Kamu yang membuat janji-janji manis, kamu yang mendekatiku saat membutuhkan jaringan bisnis keluargaku, dan sekarang, setelah keluargaku goyah, kamu ingin membuangku begitu saja? Kamu yang membuatku pada akhirnya mengambil jalan pintas ini, Adryan!"
Ratu berdiri tepat di atas tubuh Adryan yang tak berdaya, menatapnya dari ketinggian dengan mata yang menyipit tajam. "Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Camkan itu baik-baik di dalam otakmu yang cerdas itu. Akan aku pastikan, sebulan dari sekarang, aku akan datang kembali ke kantor ini dengan membawa hasil laboratorium yang menyatakan bahwa aku sedang hamil anakmu!"
"Benar-benar wanita jalang... tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu sedikit pun," desis Adryan, memalingkan wajahnya ke arah sandaran sofa, enggan menatap wajah Ratu yang kini tampak seperti iblis di matanya. "Kamu pikir... anak yang lahir dari cara menjijikkan seperti ini akan membuatku menerimamu? Tidak akan pernah, Ratu!"
Ratu tidak membalas dengan kata-kata. Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke lantai, menginjaknya hingga padam dengan sepatu hak tingginya. Dengan gerakan cepat dan kasar, Ratu berlutut di tepi sofa, menjulurkan tangannya untuk mencengkeram kuat-kuat dagu Adryan, memaksa pria itu untuk kembali menatap matanya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Adryan untuk menghindar, Ratu langsung mencondongkan tubuhnya, melumat kasar bibir Adryan yang kering dalam sebuah ciuman yang penuh dengan pemaksaan dan dominasi.
tetap seperti itu kalau dengan istri mu.. Kudu patuhh n nurutt..
butuhh tutorr banyak hal dell dia.. dan km harus kasih paham.. jgn sampai yg lain yg meracuni pikiran suami poloss muu🤭
laahh jelasin aja dell
dr pada yg lain menjeleskan bisa salahh arahh nanti🤭
kau harusnya sudah paham akibatnya jika berani menyentuh cucu kesayangannya🙁
tp jgn sentuhh Della.. atau km akan nyeselll
tuhh lahh akibat salahh dalam memilihh orang...
kalau aku ya sudah tentu tertawa bahagia... silahkan suamiku kerja saja terus. lama tidak apa-apa. 🤣🤣🤣