Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawanya Kembali
Lucas sampailah ke tempat yang ingin dia tuju. Dia begitu terkejut melihat villa yang dulu dirawatnya kini terlihat begitu kumuh, penuh dengan lumut hijau yang menjalar, seolah bangunan itu akan hancur kapan saja. Di atas kepalanya, hanya lampu temaram yang menerangi jalan, bahkan di beberapa titik sama sekali tidak ada penerangan.
"Di mana mereka?! Kenapa tempat ini sangat tidak terurus?!" murka Lucas sembari menoleh tajam ke arah Bima.
"Tuan, mereka meninggalkan villa ini sore tadi sambil membawa banyak barang dari dalam sini," jelas Bima dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Apa?!" seru Lucas kaget. Dia melirik ke dalam ruangan itu dan benar saja, ruangan itu kosong melompong. Yang tersisa hanyalah sampah-sampah yang berserakan di lantai.
"Berani mereka melakukan ini di wilayahku," geram Lucas sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sudahlah, kita urus itu nanti. Sekarang kita temui anak itu dulu," lanjut Lucas berusaha menenangkan dirinya dan kembali memamerkan wajah datar nan dinginnya pada para bawahannya.
Tidak berselang lama, Bima menunjukan kamar yang dimaksud. Lucas mengintip ke dalam dan melihat Lisa sedang memeluk Shopia dengan wajah pucat dan cemas, seolah sangat khawatir dengan keadaan gadis kecil itu.
Mata Lisa langsung melirik setelah mendengar suara langkah kaki. Saat melihat sang tuan datang, wajah Lisa langsung berseri-seri. Dia merasa Bima telah membawa harapan agar Shopia bisa tetap bertahan. Lisa mendatangi Lucas sambil memeluk tubuh mungil Shopia dengan erat.
"Tuan?" panggilnya tak percaya.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" celetuk Lucas sambil memalingkan wajah, seolah benar-benar tidak peduli dengan keadaan Shopia.
"Tuan, tubuh Nona sangat panas, Nona juga menggigil, dan mungkin saja Nona sudah pingsan sebab sedari tadi saya mencoba membangunkannya tapi Nona tak kunjung sadar," sahut Lisa sambil mengelap keringat yang membasahi kening Shopia.
Mendengar penuturan dari Lisa, membuat Lucas memiliki keinginan untuk menyentuh kening putrinya. Namun, saat tangan itu hampir menyentuh, dia mengurungkan niatnya. Prinsipnya selama ini membuatnya menolak perasaan hangat yang kini tiba-tiba bergejolak dalam dirinya.
Lucas membalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan tegas,
"Bawa dia ke rumah utama. Kau, panggilkan dokter pribadiku sekarang!"
*
Kedua orang itu tersenyum lega ketika Lucas meninggalkan tempat itu setelah memperbolehkan Shopia berada di rumah utama. Tanpa menunggu lama, Lisa menggendong tubuh Shopia menuju rumah utama. Terlihat gadis kecil itu begitu lemah, bernapas dengan berat dan sesekali menggigil kedinginan.
Sedangkan Lucas memandangi gemerlapnya bintang di malam itu dan bergumam di dalam hati, 'Karena istriku menginginkan anak itu... Iya, hanya karena wanita itu,' Lucas membuat alibi pada dirinya sendiri untuk menenangkan egonya.
Sampai di rumah utama, Lucas pura-pura tidak memperdulikan Shopia yang dibawa ke kamar di lantai dua oleh Lisa. Namun, pria itu masih menyempatkan diri untuk duduk di salah satu sofa di lantai yang tepatnya berada tepat di depan kamar yang disediakan untuk Shopia.
Tidak berselang lama, Dokter yang ditelepon Lisa datang. Sontak saja Lucas berdiri dari duduknya menatap Dokter itu dengan tajam. Seolah mengatakan dia sangat khawatir meskipun Lucas mencoba menepisnya. Setelah itu, Lucas kembali duduk di tempatnya dan mencoba menghalau rasa yang mengganggu itu.
"Lisa, dia kenapa? Anak siapa ini?" ujar Dokter Rosa yang memang cukup cerewet dan blak-blakan.
"Anu..." gagap Lisa merasa tidak enak hati mengatakan sejujurnya.
Lisa melambaikan tangannya agar Rosa bisa mendekat ke arahnya, kemudian membisikan sesuatu, "Ini Nona Shopia, anaknya Tuan."
"Apa?!" pekik Rosa tidak percaya, kemudian melirik cepat pada Lucas yang berada di luar pintu.
Selepas mendengar penuturan yang mengejutkan itu, Rosa langsung memeriksa tubuh Shopia dengan teliti meskipun dalam keadaan masih tidak percaya dan sesekali melirik ke arah luar. Rosa kemudian menggelengkan kepala melihat keadaan Shopia yang memprihatinkan.
"Nona Shopia mengalami malnutrisi, kekerasan fisik, dan juga DBD yang bisa mengancam nyawa! Mengerutkan nyawa!" jelas Rosa dengan suara keras. Dia sengaja berbicara keras agar Lucas mendengar dan menyadari kelalaiannya.
"Aduh, siapa sih yang bikin anak selucu dia begini?!" sindir Rosa agar Lucas lebih sadar diri.
Kuku-kuku Lucas mencengkram erat pegangan sofa, merasa tertusuk oleh perkataan Rosa yang memang benar adanya. Jika dipikirkan, Lucas sudah andil peran dalam penganiayaan yang dilakukan oleh para pelayan itu. Namun, dia masih menyangkal apa yang terjadi pada putrinya. Baginya, keturunannya tetaplah titisan darahnya yang merupakan monster dan orang-orang picik.
Lucas dengan cepat berdiri dari tempatnya untuk menghentikan celotehan sang dokter yang dianggapnya tidak pada tempatnya. Rosa melihatnya dan tersenyum simpul.
"Akhirnya Anda datang juga," ucapnya.
"Bagaimana dengan anak itu?" tanya Lucas dengan wajah datar khasnya.
"Anak ini harus mendapatkan perawat khusus, Tuan. Karena kondisinya belum stabil, mungkin ada waktunya dia drop dan ada waktunya stabil. Kita harus mengawasinya dengan baik," jelas Rosa sambil meletakkan tangannya ke dalam saku jas putihnya.
"Urus saja seperti itu, biar Lisa yang mengatur," pungkas Lucas datar.
Rosa mulai kesal dan mengerutkan hidungnya dengan tajam, karena bukan itu yang dia inginkan. Namun, dia hanya bisa menarik napas panjang.
"Baiklah, saya akan memasangkan infus khusus untuk menaikkan trombosit dan untuk menambah cairan tubuh,"
Rosa mengambil alat-alat tersebut di dalam tas medis yang dibawanya, perlengkapan lengkap yang selalu dia bawa saat menemui pasien di rumah mereka. Dengan sigap Rosa mengambil jarum infus berukuran kecil yang pas dengan tangan mungil Shopia.
"Lisa, tolong pegangi tangannya, jangan sampai Nona bergerak," perintah Rosa.
Lisa menganggukkan kepalanya dan mengikuti perintah dari dokter Rosa. Namun, saat itu Shopia yang mulai sedikit sadar, terkejut melihat Rosa yang memegangi jarum infus.
Tiba-tiba tubuh kecil Shopia bereaksi berlebihan. Ia merasa Rosa adalah monster yang akan menyakitinya. Rasa trauma akan kekerasan yang sering diterimanya membuat Shopia memberontak tidak terkendali.
Membuat ruangan itu menjadi penuh kepanikan.
"Bagaimana ini Dokter?" tanya Lisa ikut panik dan khawatir.
Rosa mengurungkan niatnya dan menarik napas panjang untuk mencoba bersabar. Ia sadar, dalam keadaan tertekan seperti ini, pasien tidak bisa dipaksa. Begitu pun dengan Shopia yang kini menangis sesenggukan sambil meringkukkan tubuhnya seperti sebuah bola untuk melindungi dirinya sendiri.
Rosa memegangi pinggang menatap kearah seorang ayah yang hanya mematung melihat mereka begitu kewalahan menenagkan Shopia. Dia begitu kesal dengan seseorang yang tidak berguna sama sekali saat ini padahal Lucas adalah seorang yang memiliki kekuasaan di negara ini tetapi menenangkan anak saja tidak mampu.
"Tuan, apakah Anda tidak ada niatan membantu kami," pinta Rosa.
Lisa sontak berdiri dan tercengang mendengar keberanian Rosa pada tuan mereka yang bahkan Lisa saja tidak pernah berani membantah.