Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayleen yang Meminta
Aku menyilangkan kedua tangan didepan dada.
Setelah satu minggu mengalami immobilisasi lengan. Akhirnya tangan kananku terbebas juga, aku bisa menyetir mobil kembali.
Sore ini aku menjemput Ayleen ditempat kerjanya.
Sudah terlihat diujung gerbang sekolah Ayleen dan rekan kerjanya sedang berjalan sambil sesekali tertawa.
“Zara….” Seorang pria menghentikan Ayleen, ditangan pria itu terdapat sebuah kertas. Sepertinya kartu undangan.
“Minggu depan mas nikah, kamu datang ya Ra!” Ucap pria itu.
Ayleen tampak menundukkan wajahnya, sangat terlihat ada guratan kaesedihan disana.
“Iya mas, selamat ya. Semoga lancar sampai hari H.” Ayleen dengan senyuman yang dipaksakan.
“Iya Ra, kamu juga datang ya Nur.”
Rekan kerja Ayleen tampak mengangguk.
“Kalau begitu mas pamit Ra.” Ucap pria itu sambil melangkah pergi meninggalkan Ayleen yang masih mematung.
Rekan kerjanya yang dipanggil Nur tadi tampak mengusap-usap bahu Ayleen, layaknya seperti sahabat yang sedang menenangkan temannya yang sedang bersedih.
“Ayleen.” Panggilku ketika sahabat Ayleen sudah pergi.
Ayleen menoleh, namun dengan cepat membuang muka dari tatapanku, berusaha menyembunyikan raut kesedihan. Tapi aku sudah melihatnya.
Ayleen tanpa banyak kata menaiki mobilku dan duduk di jok depan.
Aku menyusul masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Ayleen.
“Masih menaruh hati untuk pria yang pernah kamu sebut dalam do’a itu?”
Ayleen tampak kaget, ia menoleh ke arahku. Matanya masih berkaca-kaca berusaha menahan tangis.
Ayleen tidak menjawab pertanyaanku.
“Apa kamu bisa menaruh dua pria dihatimu leen?”
Tubuhnya sedikit menegang.
“Aku sudah tidak punya rasa sama mas Arya.”
“Lantas mengapa kamu menangis?, itu tandanya kamu masih berharap untuk hidup bersamanya kan?”
“Stop mas!, jangan bahas mas Arya lagi. Aku sudah melupakannya, bahkan dia tidak pernah membalas perasaanku sejak dulu.”
“Oh jadi itu yang membuat kamu bersedih leen?Cintamu bertepuk sebelah tangan?. Kemarin kamu bilang sudah membuka hati untukku?”
“Mas Ar cemburu?”
Deg.
Aku memang sedikit kesal pada Ayleen, karena wanita yang sudah menjadi istriku ini ternyata masih menaruh hati untuk pria lain.
Apa iya aku cemburu?.
“Tidak. Aku tidak mencintaimu, lantas untuk apa aku cemburu?”
“Oh yaudah kalau gitu. Mas tidak usah bertanya-tanya lagi soal aku dan mas Arya. Karna kamu juga masih menaruh hati dengan Zahira.”
“Jadi kamu balas dendam ceritanya leen?”
“Tidak juga.”
“Jika pria itu masih belum menikah juga. Apa kamu masih berharap untuk bersatu dengannya?”
“Emh.. mungkin. Karena mas juga gak cinta sama aku kan?”
Shit. Kenapa aku merasa kesal sekali dengan jawaban Ayleen.
“Tapi sayangnya jodoh kamu jauh lebih baik dari pria itu. Jodoh kamu sosok yang berganggung jawab tidak plin plan seperti pria itu.” Ucapku sambil menyalakan mobil dan segera.
“Memang suamiku ini sosok yang bertanggung jawab, namun awalnya sangat menyakitkan.”
“Kalau untuk pertama kali memang sakit kan leen?”
Aku menoleh kearahnnya dengan senyuman nakal.
“Apaan si mas?” Ayleen menimpuk bahuku.
“Aw sakit leen, tangannya kan masih cedera.”
“Hah maaf mas.” Ayleen mengusap-ngusap bahuku pelan.
“Kamu sih ngomongnya ga bener, kenapa otak pria isinya gituan mulu?”
“Tapi boong, yang cedera kan tangan kanan.”
“Ish… kamu mas!” Ayleen beneran mencubit lenganku.
Entah mengapa. Melihat Ayleen kembali tertawa membuat hatiku merasa hangat.
Apakah ini yang dimaksud dengan rasa nyaman?
Hening. Hanya terdengar deru mobil yang terus melaju.
Aku melirik Ayleen yang sedari tadi hanya terdiam. Ternyata matanya terpejam. Wanita kecil itu tertidur.
Aku memarkirkan mobil di lobi apart. Hari ini aku pulang ke apart karena yakin sekali sore ini mama akan datang bersama Sabrine.
Ayleen masih tertidur pulas, jadi tidak tega untuk membangunkannya.
Pada Akhirnya, aku menggendongnya. Terasa sangat ringan, apa Ayleen tidak suka makan?
Suasana apart masih sama seperti dulu. Aku sangat merindukan apartemen miliku ini.
“Mas kita lagi dimana?”
“Di apart. Malam ini kita tidur disini.”
Ayleen merangkulkan tangannya bahuku, ia menyenderkan kepalanya didadaku, seolah sedang mencari kenyamanan.
“Kenapa gak pulang kerumah aja?”
Aku membuka pintu kamar. Suasana kamar yang dingin dan aroma maskulin.
“Ada Sabrin dan mama akan kesana.”
Aku merebahkan tubuh Ayleen di atas kasur.
“Kamu boleh melanjutkan tidur!”
Ayleen menggelengkan kepalanya, tangan kecilnya mencekal tanganku.
“Mau kemana mas?”
Aku bingung ada apa dengan Ayleen, kenapa wanita ini terlihat manja sekali.
“Kamu sakit?”
“Engga.”
Perlahan Ayleen menarik tanganku untuk duduk disampinganya.
Tanpa aba-aba Ayleen bangkit dan memeluku erat. Apa yang sedang terjadi dengannya. Apa dia sedang masa opulasi, sehingga libidonya meningkat. Aku merasakan tubuh Ayleen yang menghangat.
“Aku mau kamu mas.” Terdengar hanya desisan pelan. Aku tidak percaya Ayleen sudah seberani ini denganku.
Ada senyum bahagia yang terukir diwajahku.
“Mau apa?”
Aku pura-pura tidak paham apa yang dikatakan oleh Ayleen.
“Mau kamu…” terdengar seperti rengekan kecil, malu-malu tapi mau. Ayleen membenamkan wajahnya ketika memeluku.
“Kamu gak jelas, aku gak paham. Apa yang sedang kamu inginkan?”
Ayleen mendongak dan menatapku sebal, wajah halusnya sudah terlihat kemerahan. Sungguh jadi aku yang kelimpungan ketika di tatap seperti itu oleh Ayleen.
Aku tidak percaya dengan apa yang Ayleen lakukan. Tubuh kecilnya naik ketas pangkuanku, menekan junior yang masih terdiam disangkarnya.
“Eh.. leen.”
“Ayleen memeluku lagi, tubuhnya semakin menghangat.”
Aku masih ingin menggodanya. Aku senang melihat wajahnya yang tampak malu-malu.
“Mas Aku…” tanpa aba, Ayleen menyesap leherku.
“Kamu sedang masa ovulasi leen. Peluang besar jika kita melakukannya kamu bisa hamil.”
“Tidak apa, kita suami istri mas. Bukan pacar.”
Kenapa ini sangat menggemaskan?. Juniorku makin menegang.
“Emang kamu gak takut?”
“Aku siap jika ditakdirkan menjadi ibu.”
Kemudian aku memeluk tubuh kecilnya itu erat.
“Mas, ada sesuatu yang sudah mengeras dibawah sana.”
Aku terkekeh.
*
*
Deg deg ser banget Author nulisnya. Wkwkw
Sayang-sayangku tetap dukung Tulisan Author ya!💗