NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:524.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ELARA SAKIT

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Sementara di sisi lain di kediaman Valttieri. Di atas tempat tidur besar yang empuk di kamar utama rumah mewah itu, Elara terbaring lemah. Tubuhnya terasa panas membara, sementara kepalanya berdenyut sangat kuat seolah ada ribuan palu yang memukul dari dalam. Napasnya pendek dan berat, disertai batuk-batuk kecil yang membuat dadanya terasa sesak. Ia mencoba membalikkan badan, namun rasa lelah yang luar biasa membuatnya nyaris tak mampu bergerak sedikit pun.

Elara meraih ponsel yang tergeletak di samping bantalnya. Ia mengecek tanggal dan jam yang tertera di layar kecil itu. Sudah dua minggu Dante tak pulang ke kediaman Valttieri. Dua minggu di mana Elara hanya sendirian, ditemani para pelayan yang ramah namun tetap memiliki jarak.

"Dante..." bisiknya pelan, suaranya serak dan hampir tak terdengar. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, lalu mengalir turun membasahi pipinya yang pucat.

Elara mencoba menekan tombol panggil di samping tempat tidur. Tak lama kemudian, Bianca, kepala pelayan yang sudah mengurus rumah tangga ini sejak lama, masuk dengan wajah cemas. Wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri tempat tidur dan meletakkan tangan dinginnya di dahi Elara.

"Ya Tuhan, Nyonya panas sekali," seru Bianca dengan nada khawatir. "Nyonya sudah minum obat yang dibawa dokter kemarin?"

Elara mengangguk lemah. "Sudah, Bianca. Tapi rasanya tidak ada perubahan. Malah makin lemas saja."

Bianca menghela napas panjang, lalu menyelimutkan kain lebih rapat ke tubuh Elara. "Biar saya buatkan bubur hangat dan kompres lagi ya, Nyonya. Nyonya harus banyak istirahat. Kalau perlu, saya panggilkan dokter lagi ke sini."

Elara menggeleng pelan. "Tidak usah, Bianca. Terima kasih. Saya cuma... ingin bertanya, ada kabar dari Dante?"

Wanita paruh baya itu terdiam sejenak, menundukkan wajahnya seolah takut menatap mata majikannya. "Belum ada kabar langsung, Nyonya. Tapi Tuan Valtteri kan sedang ada urusan besar di luar kota. Katanya urusan ini sangat penting dan butuh waktu lama untuk diselesaikan. Beliau pesan agar Nyonya menjaga kesehatan."

Kata-kata itu memang benar adanya, namun rasanya tetap menyakitkan bagi Elara. Selalu saja begitu. Urusan penting. Bisnis besar. Masalah yang harus diselesaikan. Sejak ia masuk ke rumah mewah ini, Elara lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian dari pada bersama Dante. Rumah yang mewah, lengkap dengan segala kemewahan yang bisa dibeli dengan uang, namun terasa sangat kosong dan sunyi. Seperti istana tanpa penghuni, hanya berisi benda-benda mahal namun tak bernyawa.

"Dante tahu aku sakit, Bianca?" tanya Elara lagi, suaranya bergetar menahan tangis.

"Salah satu anak buah Tuan Valttieri yang bertugas di sini sudah melaporkan keadaan Nyonya ke Pak Herman. Mungkin pak Herman sudah memberitahu kepada beliau."

"Baiklah, kau bisa keluar."

"Baik, Nyonya."

Setelah Bianca pergi untuk menyiapkan makanan dan obat-obatan, Elara kembali memeluk gulingnya erat-erat. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir rasa pusing yang makin menjadi-jadi.

Jam dinding di ruang tengah berdentang menandakan pukul dua belas malam. Suasana kamar Elara terasa dingin, meski pendingin ruangan sudah dimatikan. Elara menggigil, kedinginan meski badannya panas. Ia meraba sisi tempat tidur di sebelahnya, tempat di mana biasanya Dante tidur. Bantalnya masih tertata rapi, tak tersentuh sejak kepergian Dante. Tidak ada lagi aroma wangi parfum khas Dante yang biasa menenangkannya saat tidur. Tidak ada lagi lengan kekar yang akan memeluknya saat ia merasa takut atau kedinginan.

Air mata kembali menetes tanpa suara. Elara merasa sangat kecil dan sendirian di rumah yang seluas ini. Jika memang Dante sudah tahu ia sedang sakit, setidaknya Dante menghubunginya.

Malam pun berganti pagi. Sinar matahari pagi menerobos celah tirai jendela kamar Elara. Ia terbangun karena suara ketukan pintu pelan. Matanya terasa berat dan berpasir. Ia mencoba duduk dengan bantuan Bianca yang kembali masuk membawa sarapan dan obat.

"Bagaimana perasaan Nyonya pagi ini? Sedikit lebih lega?" tanya Bianca sambil menata bantal agar Elara bisa bersandar dengan nyaman.

Elara menggeleng lemah. "Masih sama, Bianca. Badan rasanya masih panas dan pegal semua. Rasanya... rasanya ingin sekali menangis," jawabnya jujur, suara seraknya terdengar menyedihkan.

Bianca hanya bisa mengelus punggung Elara. "Sabar ya, Nyonya."

"Terima kasih Bianca." Ucapnya dengan senyum miris.

▪️▪️▪️▪️▪️

Pagi berlanjut menjadi siang, siang pun berubah menjadi sore. Elara hanya bisa terbaring, sesekali tertidur karena kelelahan, sesekali terbangun dengan rasa sakit yang sama.

Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul lima sore, suara deru mesin mobil besar terdengar memasuki halaman rumah yang luas itu. Suara itu sangat dikenal oleh siapa saja yang tinggal di sana. Suara mobil kesayangan Dante, mobil hitam besar yang selalu membawa wibawa dan ketakutan bagi orang asing, namun membawa rasa aman bagi penghuni rumah itu.

Suara pintu depan terbuka dan tertutup agak keras, disusul langkah-langkah berat dan cepat yang terdengar berjalan menaiki tangga, lalu mendekat ke arah kamar utama.

Hati Elara berdegup kencang. Ia berusaha mengangkat kepalanya dari bantal, menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka lebar.

Di ambang pintu, berdiri sosok pria jangkung berjas hitam yang sedikit kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya terlihat sangat lelah serta tidak terawat. Namun, mata tajam itu, mata yang selalu membuat Elara merasa terlindungi, kini menatapnya dengan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.

"Dante..." bisik Elara, tak percaya.

Dante tidak menjawab, ia langsung berjalan cepat menghampiri tempat tidur, lalu duduk di sisi tempat tidur tepat di sebelah Elara. Tangannya menyentuh wajah pucat Elara. Ia merasakan suhu tubuh Elara masih sangat panas, jauh lebih panas dari yang ia bayangkan.

"Ya Tuhan... Elara... maafkan aku..." suara Dante parau, berat, dan terdengar sangat sedih. Ia menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya ke tangan Elara. "Maafkan aku karena baru pulang sekarang. Pak Herman baru mengabari bahwa kau sedang sakit dan aku langsung pulang."

Air mata Elara kembali mengalir, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena lega dan bahagia. Ia menggerakkan tangannya yang lemah untuk menyentuh pipi suaminya. "Kamu pulang... akhirnya kamu pulang, Dante."

"Aku pulang. Aku di sini sekarang." ucap Dante mengangkat wajahnya dan menatap mata Elara dalam-dalam.

Dante segera merangkul tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati, Ia mengusap kening, pipi, dan rambut Elara dengan penuh kelembutan.

"Kenapa kamu baru pulang, Dante? Aku rindu. Aku sangat takut," isak Elara di dada bidang suaminya, entah sejak kapan cinta ini hadir, Elara tidak tahu. Yang jelas saat ini ia sangat membutuhkan Dante.

Dante mengecup puncak kepala Elara berkali-kali. "Maafkan aku. Setiap kali aku melihat ponselku, aku selalu ingin menghubungimu, tapi aku takut suara dan keadaanku akan membuatmu khawatir. Aku ingin pulang sebagai pemenang, agar aku bisa menjagamu dengan tenang dan damai."

Elara mengangguk perlahan, rasa sakit di tubuhnya seolah berkurang mendengar penjelasan itu. Ia mengerti. Meski berat, ia mengerti beban berat yang dipikul Dante. Dunia mereka memang berbeda dengan pasangan lain. Harga yang harus dibayar untuk bersanding dengan Dante memang mahal. Kesepian, kekhawatiran, dan waktu yang terpisah.

"Sudah... sekarang kamu sudah ada di sini," ucap Elara pelan, tersenyum tipis meski wajahnya masih pucat. "Selama kamu ada di sini, aku rasa aku akan cepat sembuh."

Dante tersenyum, senyum tulus yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun selain Elara. Ia mengelus pipi Elara yang basah oleh air mata.

Malam itu, Dante tidak pergi ke mana pun. Ia duduk di samping tempat tidur, mengganti kompres di dahi Elara berulang kali, menyuapi bubur sesendok demi sesendok, dan memijat pelan tangan serta kaki Elara yang terasa sakit. Ia tidak tidur semalaman, terus terjaga mengawasi suhu tubuh Elara, memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi lagi.

Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, sang mafia yang ditakuti seisi kota itu tampak begitu lembut dan penuh kasih.

Dan Elara, terbaring nyaman dalam pelukan suaminya, akhirnya bisa tidur dengan tenang. Demamnya mungkin belum hilang sepenuhnya, tapi hatinya sudah terasa hangat dan sembuh. Ia tahu, meski jalan hidup mereka berat dan penuh liku, selama mereka saling menjaga dan saling menunggu, mereka akan selalu baik-baik saja. Sebab di balik sosok Dante yang dingin dan sibuk itu, ada cinta yang sangat besar dan tulus.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Bunga Yona
up 👍
Bunga Yona
keren banget 😍
Cheryl Emery
lanjut dong 🤭
Cheryl Emery
penasaran woi 🤣
Briana Annette
👍👍👍 lanjut
Briana Annette
ada lagi Jameson, waduh nama penghianat semua keren keren ya Thor 😄
Angela Catrine 💢
semangat buat author dan dante😄
Angela Catrine 💢
segala tantangan masih di depan mata
Serena Aurora
lanjut dong thorrrrrrrrrrrrr 🤭
Serena Aurora
Selesaikan masalah nya cepat cepat ya Dante, biar bisa pulang 😍
Sofhia Magdalena
lanjut😘
Sofhia Magdalena
👍👍👍👍👍👍👍
Victoria Genevieve
lanjut 👍
Victoria Genevieve
Penyelesaian masalahnya mantap 👍aku suka thor
si paling cute
Semangat untuk menegakkan kebenaran 😍
si paling cute
Dante kamu keren sayang 😍
Gretchen Paula
semangat Thor 😍
Gretchen Paula
Sumpah keren banget sih Thor 😊 jatuh cinta dengan novel ini.
Bunga Yona
lanjut 👍
Bunga Yona
sempurna sekali cara musuh untuk menghancurkan Dante 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!