NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Tanpa membuang waktu lagi, Cinta membalikkan badannya. Rasa takut akan gosip sekolah, ego, dan keraguan yang sempat menahannya kini menguap begitu saja. Ia berlari kecil menyusuri koridor, melewati beberapa siswa yang menatapnya bingung, menuju ke arah taman belakang sekolah yang sepi.

Di bawah keteduhan pohon beringin besar di sudut lapangan belakang, Rian duduk sendirian di bangku semen. Kedua siku tangannya bertumpu di atas lutut, dengan jemari yang saling bertautan erat menahan gejolak emosi. Tatapannya kosong menatap rumput hijau di bawah kakinya. Kemeja putih seragamnya sedikit kusut, dan aura di sekitarnya tampak begitu meredup, kehilangan binar ketegasan yang biasanya selalu ia pancarkan.

Langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat membuat Rian perlahan mendongak. Matanya membelalak kecil saat mendapati sosok Cinta sudah berdiri di depannya dengan napas yang memburu dan kedua pipi yang merona kemerahan karena berlari.

"Cinta?" Rian reflek berdiri dari duduknya. Sorot matanya seketika dipenuhi oleh rasa cemas sekaligus harapan yang membubung. "Ada apa? Kamu... kamu mencari aku?"

Cinta tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat wajah cowok di hadapannya. Lingkar hitam di bawah mata Rian, gurat frustrasi yang tercetak jelas, semuanya adalah bukti nyata dari siksaan batin yang ia berikan pada Rian sejak kemarin. Air mata Cinta akhirnya luruh juga, membasahi pipinya.

"Hei, kenapa menangis lagi?" Rian panik. Ia melangkah maju, tangannya terangkat hendak menyeka air mata Cinta, namun gerakannya tertahan di udara, ragu apakah ia masih memiliki hak untuk menyentuh gadis itu. "Maaf... kalau kehadiranku di kelas tadi membuatmu tertekan. Aku tidak bermaksud—"

"Maafkan aku, Rian," potong Cinta di sela isak tangisnya. Sebelum Rian sempat mencerna kalimat itu, Cinta melangkah maju dan meraih ujung seragam Rian, menyandarkan kepalanya di dada cowok itu. "Maaf karena aku tidak mempercayaimu. Maaf karena aku lebih memilih mendengarkan kata-kata Clarissa daripada mendengarkan penjelasanmu."

Rian terpaku untuk beberapa detik. Kehangatan tubuh Cinta yang bersandar padanya membuat seluruh ketegangan di pundaknya runtuh seketika. Perlahan, Rian membawa kedua lengan kekarnya untuk mendekap tubuh Cinta dengan erat, menenggelamkan wajahnya di pucuk kepala gadis itu yang aroma samponya selalu berhasil menenangkannya.

"Aku yang harusnya minta maaf, Cinta," bisik Rian dengan suara yang bergetar menahan keharuan. "Masa laluku yang berantakan membuatmu harus menanggung beban seperti ini. Tapi aku bersumpah, demi hidupku, aku tidak pernah melakukan apa yang dikatakan Clarissa. Aku tidak pernah membawa perempuan mana pun ke tempat pribadiku."

Cinta mendongak di dalam dekapan Rian, menatap mata hitam cowok itu yang kini memancarkan kejujuran mutlak. "Kenapa kamu tidak mengatakannya langsung padaku kemarin?"

Rian tersenyum tipis, tangannya bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Cinta. "Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau kamu mengunci pintu kamarmu begitu rapat? Lagipula, aku tahu kamu sedang terluka. Aku tidak mau membela diri dengan kata-kata kosong. Aku lebih baik menyelesaikan sumber masalahnya dulu agar kamu bisa melihat buktinya sendiri."

Mendengar penuturan Rian, rasa hangat dan lega yang luar biasa menjalar di dalam dada Cinta. Retakan yang sempat tercipta di antara mereka sepanjang malam kini perlahan merapat, digantikan oleh jalinan kepercayaan yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Di bawah rindangnya pohon beringin siang itu, mereka akhirnya berbaikan, meluruhkan segala kesalahpahaman yang sempat dibawa oleh badai masa lalu.

...****************...

Setelah emosi mereka mereda, keduanya duduk berdampingan di bangku semen. Angin siang berembus sepoi-sepoi, membawa ketenangan yang sejak kemarin hilang dari mereka. Cinta menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Rian, sementara jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas bangku.

Namun, di tengah rasa lega itu, sebuah rasa penasaran yang mengganjal sejak pembicaraannya dengan Rio kembali muncul di benak Cinta. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Rian yang sedang memperhatikannya dengan pandangan lembut.

"Rian, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Cinta hati-hati.

"Tentu saja. Tanya apa pun, aku akan jawab," sahut Rian santai, ibu jarinya mengusap punggung tangan Cinta.

"Tadi Rio bilang... kemarin sore kamu mengancam Clarissa habis-habisan sampai akhirnya dia dan keluarganya memutuskan untuk mengurus surat pindah kembali ke Jakarta hari ini. Aku penasaran... kenapa kamu bisa dengan mudah menekan Clarissa seperti itu? Maksudku, Clarissa sepertinya bukan tipe orang yang gampang menyerah begitu saja hanya karena gertakan biasa."

Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Rian agak menyusut, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, tatapannya terlempar ke arah lapangan sekolah yang kosong.

"Karena aku memegang kartu as-nya, Cinta," jawab Rian dengan nada suara yang merendah. "Aku tahu rahasia terdalam Clarissa yang selama ini ditutupi rapat-rapat oleh keluarganya."

Dahi Cinta berkerut, rasa ingin tahunya semakin memuncak melihat perubahan rona wajah Rian. "Rahasia apa, Rian? Sampai-sampai dia begitu ketakutan dan memilih untuk langsung angkat kaki dari kota ini?"

Rian kembali menatap Cinta, memastikan bahwa gadis di depannya ini siap mendengar kenyataan kelam dari kehidupan pergaulan Jakarta yang pernah mengelilinginya dulu.

"Clarissa itu... sering mengonsumsi obat-obatan terlarang," ungkap Rian dengan lugas, tanpa ada keraguan. "Dia sudah ketergantungan sejak setahun yang lalu karena pergaulan bebas di lingkungan pertemanannya di Jakarta. Alasan utama orang tuanya memindahkannya kesini sebenarnya untuk merehabilitasi dia secara diam-diam di kota kecil yang jauh dari sorotan media dan pemasok obat-obatannya."

Deg.

Cinta membekap mulutnya sendiri dengan tangan kirinya, matanya melebar karena terkejut yang luar biasa. Ia tidak pernah menduga bahwa di balik penampilan Clarissa yang begitu modis, glamor, dan tampak sempurna dari luar, tersimpan sebuah rahasia yang begitu gelap dan melanggar hukum.

"Obat-obatan terlarang?" bisik Cinta memastikan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Iya," Rian mengangguk tegas. "Aku tidak sengaja mengetahui hal itu beberapa bulan sebelum aku sendiri pindah ke sini. Aku punya bukti-bukti foto yang sempat bocor dari sahabat dekatnya. Selama ini aku memilih diam karena aku tidak mau ikut campur urusan hidupnya. Tapi kemarin... saat dia berani menggunakan mulutnya untuk merusak kebahagiaanku dan memfitnahku di depanmu, batas kesabaranku sudah habis."

Rian menggenggam tangan Cinta lebih erat lagi, menyalurkan rasa aman. "Aku bilang padanya kemarin sore, kalau dalam waktu dua puluh empat jam dia tidak mengemasi barang-barangnya dan pergi dari kehidupan kita, aku akan mengirimkan semua bukti itu langsung ke pihak sekolah dan kepolisian setempat. Keluarganya sangat menjaga nama baik bisnis mereka di Jakarta. Begitu Clarissa mengadu pada orang tuanya tentang ancamanku, mereka panik dan langsung mengurus kepindahannya kembali ke Jakarta pagi ini juga."

Cinta terdiam, mencerna seluruh informasi yang baru saja didengarnya. Rasa ngeri sekaligus kasihan sempat terlintas di hatinya untuk Clarissa, namun rasa syukur yang jauh lebih besar mendominasi perasaannya. Ia bersyukur karena Rian begitu protektif dan berani bertindak demi melindunginya dari manipulasi gadis itu.

"Dia sangat takut rahasianya terbongkar, alhasil dia memilih untuk kembali ke Jakarta secepat mungkin," pungkas Rian, menyunggingkan senyum tipis yang kini tampak jauh lebih lepas dari sebelumnya. Ia mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Cinta. "Sekarang, sumber masalahnya sudah tidak ada, Cinta. Tidak akan ada lagi orang dari masa laluku yang bisa mengganggu kita di sini."

Cinta tersenyum manis, air mata sisa harunya telah sepenuhnya mengering, digantikan oleh binar kebahagiaan yang cerah. Ia mengangguk pelan, kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rian dengan perasaan damai yang seutuhnya. Hari Senin yang semula terasa begitu dingin dan mencekam di dalam kelas XI MIPA 1, kini berganti menjadi awal dari lembaran baru yang jauh lebih bersih, tanpa ada lagi kabut prasangka yang menghalangi jalan mereka berdua.

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!