NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadar

"Makasih yah, Cel. Maaf malah jadi ngerepotin kamu." ucap gadis berseragam pramuka yang baru saja turun dari motor matic.

Gadis itu akrab dipanggil Ara oleh teman sekolahnya, sementara orang sekitar rumah menyebutnya neng Ara, Putri bungsu Abah Dikun dan Ambu Yayat. Elara Seraphi Nareswari, gadis yang sekarang tengah mengenyam pendidikan jenjang menengah atas. Dengan sigap ia memberikan helm warna hitam itu pada pemuda yang sudah dengan senang hati mengantar pulang.

Marcel turun dari motor, menerima helm dan menyimpannya ke dalam bagasi.

"Sama-sama, Ra. Sering-sering aja pulangnya ikut bareng aku. Setiap hari juga nggak keberatan, kalo perlu pagi-pagi aku jemput juga siap."

"Aku yang nggak siap, Cel. Bisa-bisa kena amuk Abah. Ini juga gara-gara A Yudi nggak bisa jemput."

"Nggak apa-apa juga kena amuk, Abah. Kalo demi Neng Ara mah Aa ikhlas."

"Beuh gayanya pake Aa segala." cibir Ara.

"Habisnya si Yudi aja kamu panggil Aa. Masa aku nggak? Malah cal cel cal cel mulu."

"Kan A yudi mah emang saluhuren urang, Marcel. Piraku disebat ku aran? nya teu sopan atuh." (kalo Yudi kan lebih tua dari kita masa disebut nama, yah nggak sopan)

"pokona mah hatur nuhun pisan tos dianter." (pokoknya makasih banget udah dianterin) ucap Ara sambil tengok kanan kiri, takutnya ketahuan Abah kalo dirinya pulang bareng Marcel.

"Aman, Ra. Abah kamu jam segini pasti sibuk di warung." Marcel juga ikut celingak celinguk. Pasalnya bukan cuma Ara yang akan kena omel Abah, dirinya juga sama, bisa kena amuk emak dan bapaknya. Bahkan mengantarkan Ara kali ini saja tak sampai ke rumahnya. Ara turun di perempatan dan lanjut jalan kaki sampai rumahnya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit. Keduanya tinggal di desa yang sama, hanya beda RT. Sejak TK mereka bersama, tak jarang Marcel main ke rumah Ara, tapi semenjak lulus SMP tak pernah lagi. Rumah Ara seolah haram untuk didatangi oleh keluarganya.

"Abah emang di warung jam segini, tapi kalo ada yang lihat kita terus diaduin ke Abah yah sama aja bohong." jawab Ara, "aku duluan yah, makasih." lanjutnya, tersenyum teduh seraya menjauh.

Ara menyusuri jalan cor-coran di bawah terik matahari, kanan-kirinya terbentang luas sawah yang baru saja ditanami. Saat ini memang sedang musim tandur sehingga sawah yang biasanya sepi kali ini ramai oleh ibu-ibu yang seolah berlomba menancapkan bibit padi pada lahan yang sudah diberi garis hingga tercipta kotak-kotak persegi yang membuat bibit padi yang ditanam berjajar rapi dengan jarak yang sama. Disisi petakan yang lain ada bapak-bapak yang tengah menggaris lahan yang sudah siap ditanami, ada pula yang melempar bibt padi supaya memudahkan penamanam, ada pula yang sedang istirahat dan menikmati bekal yang dibawa. Pokonya kalosedang musim tandur dan panen, ladang sawah yang sepi berubah ramai.

"Neng Ara tumben wayah kieu tos uih? tumbenan mapah nyalira. Nu ngajemput mana? jaba panas." (Neng Ara tumben jam segini udah pulang? tumben jalan sendiri. yang jemput mana? panas pula) Tanya salah satu ibu-ibu yang berteriak ke arahnya. Si ibu membenarkan dudukuy yang dikenakan sambil menatap Ara. Ditangannya ada bibit padi yang hendak di tanam.

Ara berhenti sejenak, "muhun, Bi. Nyalira wae yeuh margi A Yudi teu tiasa ngejemput da abdi uihna gasik teuing. Guruna aya rapat ning Bi." (Iya, Bi. Sendiri aja nih soalnya A Yudi nggak bisa jemput karena Ara pulangnya terlalu awal. Gurunya mau rapat katanya bi)

Setealah berbasa-basi dengan para ibu yang tengah bercocok tanam, Ara melanjutkan perjalan pulangnya. Biasanya sepuluh menit sampai, berhubung kelamaan ngobrol jadi sedikit lebih lama.

"Assalamualaikum..." ucap Ara begitu tiba di halaman. Ada Yudi yang tengah menurunkan barang dibantu Abah.

Ara langsung menyalami ayahnya, "Abah ikut ngangkut-ngangkut nanti encok." ledeknya.

"Kasihan kalo Yudi sendiri. Tumben jam segini udah pulang?"

"Gurunya rapat, Abah." jawab Ara seraya membuka showcase dan mengambil air mineral dingin dari dalam sana.

"Sorry yah, Ra. Ga jemput, soalnya ini barang belum turun semua." ucap Yudi begitu melewatinya sambil memikul barang.

"Nggak apa-apa, A. Lagian emang belum jadwalnya sih. Sekali-kali jalan biar sehat aku." jawab Ara. Ia lantas menyimpan tas nya asal dan menghampiri Lusi yang sedang sibuk dengan buku gambarnya.

"Uci lagi gambar apa? sini Tebi Ara mau lihat." Ara memeluk keponakannya dari belakang sambil mengintip karya gadis kecil itu. (Tebi singkatan dari Teteh Bibi)

Lusi berbalik sambil menyodorkan buku gambarnya. "Ini Ano, ini tomat abah..." Lusi menjelaskan gambarnya yang acak adul.

"Ano?" kening Ara mengkerut. Siapa Ano?

"Ano siapa, Ambu?" tanyanya pada Ambu Yayat yang baru menghampiri seraya menyalaminya.

Ambu Yayat mengangkat Lusi dan menggendongnya, "Ano itu karyawan baru Abah. Yang tadi pagi loh, bukannya Neng lihat pas mau berangkat sekolah?"

Ara mencoba mengingat-ngingat, "Oh..." ucapnya lirih. Tadi pagi ia memang sempat melihat sosok lelaki membantu Abah, tapi wajahnya tak jelas karena sedang memungut tomat.

"Orangnya ambruk tuh, Ambu tinggal di rumah. Udah dipanggilin pak mantri tapi belum sadar juga." jelas Ambu, "Neng Ara lihat coba ke rumah udah sadar belum sekarang. Sekalian ajakin makan bareng kalo udah sadar, kayaknya belum makan dari pagi." lanjutnya.

"Ya ampun belum makan dari pagi? ambu tega banget orang kerja nggak dikasih makan."

"Bukan nggak dikasih makan, tapi nggak dimakan." timpal Abah Dikun.

"Abah nya galak kali jadi karyawan baru nya takut mau makan." ledek Ara.

"Galak dari mana, dia nya aja yang rewel." jawab Abah Dikun, "hati-hati kalo dia sadar terus pinjem uang jangan dikasih, suruh kerja. Kayaknya dia niat nipu, tapi mau Abah bantu kembali ke jalan yang benar." lanjutnya.

"Abah nih suka jelek pikirannya. Orang nggak sadar aja dianggap mau nipu." jawab Ara.

"Udah sana makan dulu, Neng kalo ngobrol sama Abah nggak ada beresnya, sama-sama nggak mau kalah." lerai Ambu.

"Iya, Ambu." Ara beranjak pergi. Tak lupa membawa tas yang semula ia simpan asal.

Membuka pintu utama, Ara langsung bisa melihat seseorang terbaring di depan lemari TV hanya beralasakan karpet bulu yang biasa digunakan Lusi tiduran.

Ara membuka tasnya, menyimpannya di samping dan duduk di depan Ziano yang masih terlelap. Keningnya basah, nafasnya teratur dan wajahnya membuat Ara tersenyum.

Ara menyingkirkan rambut yang menutupi kening Ziano kemudian menempelkan telapak tangannya disana, "punteun nya A, Neng cuma mau meriksa suhu." ucapnya lirih.

"Panas." gumamnya. Ara lantas mengambil tisu di tasnya dan menyeka wajah Ziano yang basah. "karunnya teuing si Aa." (Kaasihan banget)

"Kompres aja deh biar turun panasnya." Ara inisiatif mengambil air dingin dan handuk kecil. Mencelupkan handuk itu kedalam air es, me me rasnya kemudian menempelkannya ke kening Ziano.

Dipandanginya pemandangan indah di depannya lekat-lekat. Bulu matanya lentik, hidung mancung, bibir tipis dengan rahang yang tegas. Mirip cowok-cowok Korea yang foto dan vidionya sering dipuja-puja oleh teman-teman sekolahnya.

Ara terus memandang dengan seksama, ia bahkan berlama-lama menatap mata yang tengah terlelap itu hingga ia tak sadar kedua mata itu kini terbuka dan balas menatapnya.

"Cantik banget... gue udah di surga kah?" suaranya lirih, kedua mata yang dipandanginya itu berkedip pelan, tangannya perlahan meraih tangan Ara yang ada di dekatnya.

Ara gelagapan, malu. Dia ketahuan terang-terangan menatap tanpa kedip meskipun sosok di depannya sudah sadar bahkan beberapa kali mengedipkan mata dengan pelan.

"A-  Aa udah sadar?" ucapnya gugup apalagi saat Ziano meraih tangannya.

"Ambu...." teriaknya.

1
sum mia
oalah Marcel .... Marcel..... sifat licik dan iri di dalam hatimu itu akan merusak hidupmu sendiri . apalagi kalau sampai Ara tahu dia malah akan membencimu karena ulahmu itu .
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
sum mia: kalau gak sabar bikin cerita si Jeli , ayo lah thor di kebut , crazy up biar cepet kelar dan ganti si Jeli 🤭🤭😅😅😅
total 1 replies
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!