BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 — “Takut Kehilangan”
Pagi itu kota terlihat lebih cerah dari biasanya. Matahari muncul perlahan setelah beberapa hari terakhir hujan terus turun. Jalanan mulai ramai dipenuhi orang-orang yang sibuk mengejar aktivitas masing-masing.
Namun berbeda dengan suasana pagi yang hangat itu, pikiran Arga justru terasa penuh.
Sejak semalam ia terus memikirkan ucapan Ara tentang badai yang pasti lewat. Kata-kata itu memang menenangkan, tetapi di sisi lain membuat Arga sadar akan satu hal—ia mulai terlalu bergantung pada kehadiran Ara.
Dan itu membuatnya takut.
Takut kehilangan.
Arga sedang bekerja ketika ponselnya bergetar pelan di dalam saku. Sebuah pesan dari Ara muncul di layar.
“Jangan lupa makan siang.”
Tanpa sadar Arga tersenyum kecil.
Beberapa rekan kerjanya yang melihat langsung menggoda.
“Wih, senyum-senyum sendiri. Dari pacar ya?”
Arga langsung salah tingkah.
“Bukan.”
“Kalau bukan kenapa mukanya beda gitu?”
Arga hanya tertawa kecil sambil menyimpan kembali ponselnya. Namun setelah itu pikirannya kembali dipenuhi banyak hal.
Ia sadar dirinya mulai nyaman dengan Ara. Terlalu nyaman.
Sore harinya, Arga memutuskan menemui Ara di taman kecil tempat biasa mereka bertemu. Angin sore bertiup lembut, menggoyangkan daun-daun pohon yang mulai menguning.
Ara sudah duduk di bangku taman sambil menikmati es kopi di tangannya.
“Kamu telat,” ucap Ara sambil tersenyum.
“Kerjaan numpuk.”
Arga duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana sore.
“Ada yang kamu pikirin lagi ya?” tanya Ara tiba-tiba.
Arga menatap Ara pelan.
“Kelihatan banget?”
Ara mengangguk kecil.
“Kamu kalau lagi banyak pikiran matanya kosong.”
Arga tertawa pelan mendengar itu.
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
Arga terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Takut kehilangan orang yang bikin aku nyaman.”
Ara memandang Arga cukup lama. Tatapannya lembut, namun kali ini terlihat lebih serius.
“Kamu pernah kehilangan seseorang sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Arga langsung teringat masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.
Dulu, ada seseorang yang pernah membuat hidupnya terasa lebih baik. Namun pada akhirnya orang itu pergi ketika hidup Arga sedang berada di titik terburuk.
Sejak saat itu, Arga terbiasa menahan semuanya sendiri.
“Pernah,” jawabnya lirih.
“Makanya sekarang kamu takut?”
Arga mengangguk pelan.
Ara tersenyum kecil sebelum berkata,
“Ga, nggak semua orang datang untuk pergi.”
Kalimat itu membuat dada Arga terasa hangat sekaligus sesak.
“Aku cuma takut kalau suatu hari nanti kamu capek sama aku.”
Ara langsung menggeleng.
“Kamu tahu nggak kenapa aku masih ada sampai sekarang?”
“Kenapa?”
“Karena aku nyaman jadi diri sendiri saat sama kamu.”
Arga terdiam.
Selama ini ia selalu merasa dirinya penuh kekurangan. Hidupnya belum mapan, masa depannya belum jelas, bahkan untuk membahagiakan diri sendiri saja ia masih kesulitan.
Namun Ara tetap memilih bertahan di sisinya.
“Aku nggak punya banyak hal buat dibanggain,” ucap Arga pelan.
Ara menatapnya sambil tersenyum hangat.
“Tapi kamu punya hati yang baik.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat Arga kehilangan kata-kata.
Langit sore mulai berubah jingga. Cahaya matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kota.
Ara kemudian berdiri pelan.
“Jalan yuk.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri taman yang mulai sepi. Sesekali bahu mereka bersentuhan kecil, membuat Arga salah tingkah sendiri.
Di tengah langkah mereka, Ara tiba-tiba berhenti.
“Ga.”
“Hm?”
“Kalau nanti hidup kamu sukses…”
Arga menatap Ara penasaran.
“Jangan berubah ya.”
Arga tersenyum kecil.
“Aku juga mau bilang gitu ke kamu.”
Ara tertawa pelan sebelum kembali berjalan.
Sore itu terasa sederhana. Tidak ada hal mewah, tidak ada janji besar. Hanya dua orang yang saling menemani di tengah hidup yang sama-sama belum sempurna.
Namun bagi Arga, itu sudah lebih dari cukup.
Karena perlahan, Ara bukan hanya menjadi tempat pulang.
Tetapi juga alasan mengapa ia ingin terus bertahan menghadapi hidup.