Vanessa seorang mahasiswi penyuka novel horor yang bertemu dengan Pria dingin di sebuah rumah kosong.
Vanessa terkejut saat mengetahui Nathan yang dia temui itu ternyata bukan seorang manusia.
Nathan meminta bantuan pada Vanessa untuk mencari seseorang yang sudah berani menusuknya.
Vanessa sudah jatuh cinta pada Nathan, setelah Vanessa menemukan orang yang menusuk Nathan, tiba-tiba arwah Nathan menghilang lenyap bagai di telan bumi.
Bagaimana di dunia nyata Vanessa bisa melihat manusia yang persis seperti Nathan apakah itu Nathan, atau hanya kebetulan mirip saja ?
Yuk baca dan ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 (I Love You)
hallo selamat malam semuanya 😊
terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung author lewat like, komentar dan vote yang kalian berikan.
komentar kalian adalah penyemangat bagi author. author pasti baca setiap komentar yang kalian berikan meskipun tidak semua komentar kalian author balas satu persatu.
sampai jumpa di bab selanjutnya 😘.
***
Vanessa mencoba membuka matanya, namun kepalanya masih pusing dan indra panglihatan nya pun masih buram dan tidak jelas. Dia mau mengucek matanya, namun tangan kanannya terasa berat. Vanessa menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang tertidur di atas lengannya. Namun nihil matanya belum bisa melihat jelas, Vanessa mengucek matanya perlahan menggunakan tangan kirinya.
Pandangannya mulai jelas, dia tau betul pemilik rambut hitam itu, “Nathan,” panggil Vanessa.
Nathan mendengar jelas Vanessa yang memanggilnya, tetapi rasanya dia tidak bisa melihat wajah Vanessa untuk yang terakhir kalinya.
“Gak usah pura-pura gak denger deh, arwah tuh gak tidur.”
Mendengar sindiran Vanessa Nathan mencoba berakting layaknya manusia baru bangun tidur, Nathan mengucek matanya dan menguap beberapa kali sebelum menatap Vanessa,
“Akting mu bagus,” senyum mengembang di bibir pucat milik Vanessa.
Nathan hanya tersenyum menimpali ucapan Vanessa. Dia memilih diam, terlalu banyak kejadian yang berseliweran di kepalanya membuatnya tidak bisa fokus.
“Ini di mana?” tanya Vanessa.
“Di rumah majikannya Agung,” jawab Nathan dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya membuat rasa penasaran Vanessa muncul ke permukaan.
“Kamu kenapa?” tanya Vanessa lembut.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya, dia berusaha menyembunyikan sesuatu dari Vanessa.
Seolah tau Nathan sedang menyembunyikan sesuatu Vanessa bangkit dari tidurnya dan memeluk Nathan. “Bicaralah,” ucap Vanessa berbisik tepat di telinga Nathan.
Lama Nathan terdiam, dia bingung harus berbicara bagaimana pada Vanessa, dia takut Vanessa akan pergi meninggalkannya.
“A-aku ….”
Vanessa melepaskan pelukannya karena Nathan tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap lekat mata Nathan mencari sesuatu di dalamnya, namun yang Vanessa dapat dari mata Nathan adalah sebuah kesedihan. “Apa kamu sudah menemukan orangnya?” ucap Vanessa mencoba menebak.
Nathan menganggukan kepalanya dan memeluk Vanessa lebih erat dari sebelum nya. “Apa semua ini akan berakhir? … aku tidak ingin kehilangan mu,” lirih Nathan.
Vanessa membenamkan kepalanya di dada bidang Nathan, “Kamu tidak akan pernah kehilanganku, karena aku akan selalu ada di sini,” Vanessa meletakan tangannya di dada Nathan seraya tersenyum menatap mata Nathan.
“Kalau nanti kamu sudah sadar dan sembuh temui aku,” ucap Vanessa dan memeluk Nathan kembali. Agar Nathan tidak melihat pipinya yang bersemu merah.
Seulas senyum muncul di bibirnya melihat tingkah malu-malu milik Vanessa, “Kamu orang pertama yang akan ku cari saat aku sadar dari koma,” ucap Nathan tulus sambil mengelus rambut Vanessa.
“I love you,” Nathan mencium rambut hitam milik Vanessa.
Jantung Vanessa berdetak lebih cepat dari biasanya mendengar ungkapan cinta Nathan, mukanya pasti sudah semerah kepiting rembus, Vanessa tidak berani menatap Nathan, “I Love you too.”
Nathan merasa lega telah mengungkapkan perasaanya pada Vanessa, dan yang lebih menggembirakan adalah Vanessa juga membalas cintanya.
“Kamu harus sembuh ya,” ucap Vanessa seraya melepaskan pelukannya.
“Aku pasti sembuh,” ujar Nathan.
“Oh ya ini baju siapa yang aku pakai?” tanya Vanessa saat tersadar baju yang dia pakai bukan miliknya.
Nathan terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan Vanessa, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Agung yang baru saja masuk dan mendengar pertanyaan Vanessa pun menjawab, “Itu baju milik nona Anatasya, dia anak dari Tuan saya kak,” dia menyimpan nampan berisikan sarapan untuk Vanessa.
“Apa nona Anatsya tidak akan marah?” tanya Vanessa penasaran.
“Nona Anatsa sudah tidak pernah memakai dres lagi, ada pengalam buruk yang membuatnya trauma jika memakai dress.”
Vanessa meneliti dres berwarna pink yang dia pakai, tidak ada yang salah dengan dres yang di pakainya. Dresnya memiliki lengan pendek dan panjangnya pun di bawah lutut terlihat sangat sopan, “Tidak ada yang aneh,” pikir Vanessa.
Vanessa melirik Nathan yang mematung di tempatnya.
Nathan menatap mata Agung tajam, seolah apa yang barusan dia katakan adalah sesuatu kesalahan.