NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pangeran Glowing vs Tukang Jagal

​"Irama sinus kembali. Nadi teraba. Saturasi 98 persen."

​Laporan Kevin terdengar seperti nyanyian surga di telinga Rania. Di atas brankar, dada pasien lansia itu naik turun dengan teratur. Napasnya sudah kembali spontan meskipun masih dibantu oksigen.

​Rania menghembuskan napas panjang, menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya dengan punggung tangan. Adrenalin yang tadi meledak perlahan surut, digantikan oleh rasa lega yang familiar. Ia menatap pasien itu sejenak, memastikan semuanya stabil, sebelum akhirnya menoleh ke arah "partner" dadakannya.

​Adrian Bratadikara sudah berdiri tegak.

​Hal pertama yang dilakukan pria itu setelah menyelamatkan nyawa orang bukanlah tersenyum lega atau melakukan high-five tim. Tidak. Adrian mengeluarkan saputangan sutra dari saku jasnya, lalu dengan gerakan elegan yang menyebalkan, ia mengelap keringat—yang bahkan hampir tidak terlihat—di keningnya. Kemudian, ia mengeluarkan botol kecil hand sanitizer mahal dan menggosok tangannya dengan intensitas seorang ahli bedah yang baru saja menyentuh limbah radioaktif.

​"Pasien stabil," kata Rania ketus, mencoba menarik perhatian pria itu. "Bagus juga RJP lo. Untuk ukuran orang yang bajunya lebih mahal dari mesin EKG kita."

​Adrian menutup botol sanitizernya dengan bunyi klik yang renyah. Ia menatap Rania, matanya memindai dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan analitis.

​"Teknik kompresi kamu tadi berantakan di siklus kedua, Rania," komentar Adrian datar. Suaranya tenang, tipe suara yang cocok untuk membacakan berita duka atau menu restoran bintang lima. "Siku kamu kurang lurus lima derajat. Efisiensi berkurang. Kalau saya telat ambil alih sepuluh detik saja, hipoksia otak bapak itu mungkin permanen."

​Rania menganga. Rahangnya serasa mau jatuh ke lantai marmer lobi. "Permisi? Gue baru aja lari maraton dari kantin, Kevin panik kayak ayam mau dipotong, dan lo—yang entah muncul dari mana—malah ngoreksi derajat siku gue?"

​"Standar adalah standar. Tidak ada alasan untuk inkompetensi, bahkan saat kamu sedang..." Adrian melirik noda di dagu Rania lagi, "...makan bakso dengan cara barbar."

​Sebelum Rania sempat melempar stetoskopnya ke wajah mulus itu, Direktur Rumah Sakit, Dr. Bambang, muncul tergopoh-gopoh dari arah lift. Perut buncitnya berguncang seiring langkahnya yang terburu-buru.

​"Ya ampun! Ada apa ini? Keramaian apa ini?" Dr. Bambang panik, lalu wajahnya berubah cerah saat melihat Adrian. "Ah! Dr. Adrian! Anda sudah sampai! Saya dengar Anda langsung beraksi di lobi? Luar biasa! Dedikasi yang fantastis!"

​Adrian tersenyum. Senyum "bisnis" yang sempurna. Gigi putih ratanya seolah memantulkan cahaya lampu lobi. "Hanya melakukan tugas saya, Dok. Kebetulan saya baru turun dari mobil."

​"Hebat! Hebat!" Dr. Bambang menepuk bahu Adrian, lalu menoleh ke Rania yang masih berdiri dengan pose siap tempur. "Nah, Dr. Rania, sepertinya kamu sudah bertemu dengan rekan barumu. Kenalkan, ini Dr. Adrian Bratadikara, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M.(K). Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Konsultan Kraniofasial."

​Rania mendengus. "Panjang banget gelarnya. Masuk nggak tuh di papan nama pintu?"

​"Cukup, Rania," tegur Dr. Bambang pelan tapi tajam, lalu kembali tersenyum pada Adrian. "Mari, Dok. Kita ke ruangan saya dulu. Kita bicarakan kontrak dan tur fasilitas klinik estetika baru kita."

​Adrian mengangguk sopan. Sebelum berbalik pergi, ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Rania. Aroma parfum woody dan citrus yang mahal langsung menampar indra penciuman Rania, kontras sekali dengan bau alkohol dan antiseptik yang biasa ia hirup.

​"Senang bertemu kamu lagi, Rania," bisik Adrian. "Coba cuci muka. Kamu terlihat seperti baru saja kalah gulat dengan beruang."

​Adrian berbalik dan berjalan mengikuti Dr. Bambang, langkahnya tegap dan percaya diri, meninggalkan Rania yang mengepal tangan di tengah lobi.

​"Suster Yanti," panggil Rania dingin tanpa menoleh.

​"I-iya, Dok?" jawab Yanti takut-takut.

​"Siapin jadwal operasi gue. Kalau bisa yang banyak darahnya. Gue butuh melampiaskan emosi."

​Satu jam kemudian, Rania duduk di ruang rapat staf medis. Ia sudah mencuci muka (dengan sabun bayi yang ia simpan di loker) dan mengganti baju jaganya dengan yang bersih, meskipun noda kopi samar masih terlihat di bagian saku.

​Di depan ruangan, Adrian sedang melakukan presentasi. Slide proyektor menampilkan gambar-gambar "Before & After" operasi plastik yang menakjubkan. Hidung bengkok menjadi mancung, rahang kotak menjadi tirus, kelopak mata turun menjadi segar.

​"Visi saya," kata Adrian sambil menunjuk layar dengan laser pointer, "adalah menjadikan RS Citra Harapan bukan sekadar tempat orang sakit, tapi destinasi wellness dan estetika. Kita akan membangun 'Aura Clinic', pusat bedah plastik premium di lantai 4."

​Para dokter lain—kebanyakan dokter umum dan spesialis penyakit dalam yang sudah sepuh—mengangguk-angguk kagum. Mungkin mereka membayangkan bonus akhir tahun yang cair. Tapi Rania mengangkat tangan.

​"Interupsi," kata Rania lantang.

​Adrian berhenti, menatap Rania dengan sabar seolah sedang menghadapi murid TK yang rewel. "Ya, Dr. Rania?"

​"Lantai 4 itu bekas gudang logistik yang atapnya sering bocor kalau hujan deras," kata Rania. "Dan target pasar RS kita ini warga sekitar yang kebanyakan pakai BPJS. Siapa yang mau bayar puluhan juta buat mancungin hidung di sini, sementara antrean obat di farmasi aja bisa tiga jam?"

​"Itulah gunanya re-branding, Rania," jawab Adrian santai. "Target kita bukan pasien BPJS untuk klinik ini. Tapi klien VIP dari Jakarta Selatan yang mencari privasi. Dan soal atap bocor, saya sudah minta manajemen merenovasi total dengan standar hotel bintang lima."

​"Renovasi total?" Rania tertawa sumbang. "Minggu lalu saya minta ganti lampu operasi di OK 2 aja dibilang nggak ada anggaran. Sekarang buat klinik glowing ada duitnya?"

​Suasana rapat menjadi tegang. Dr. Bambang berdeham keras. "Ehem, Dr. Rania, anggaran klinik ini berasal dari investor yang dibawa oleh Dr. Adrian sendiri. Jadi tidak mengganggu kas operasional RS."

​Rania terdiam. Skakmat.

​Adrian tersenyum tipis, senyum kemenangan yang membuat Rania ingin melempar pulpen ke arahnya. "Ada pertanyaan lain yang lebih... berbobot?" tanya Adrian.

​Rania menyandarkan punggungnya kasar. "Nggak ada. Lanjutin aja dongengnya."

​Selesai rapat, Rania sengaja menunggu di koridor menuju area parkir dokter. Ia tahu Adrian pasti lewat sini. Benar saja, lima menit kemudian, pria itu muncul sambil menjinjing tas kulit yang terlihat sangat vintage.

​"Tunggu," cegat Rania, menghalangi jalan.

​Adrian berhenti. Ia tidak terlihat kaget. "Masih mau protes soal anggaran? Atau mau minta rekomendasi serum vitamin C buat wajah kusam kamu?"

​"Gue nggak butuh serum," Rania melipat tangan di dada. "Gue cuma mau tau, kenapa lo di sini? Dengan gelar sepanjang kereta api dan lulusan luar negeri, lo bisa kerja di RS elit di pusat kota. Kenapa RS Citra Harapan? Lo lagi buron? Atau malpraktik di Korea?"

​Wajah Adrian mengeras sedikit. Senyumnya hilang. Untuk sedetik, Rania melihat kilatan emosi yang tak terbaca di mata cokelat itu—sesuatu yang gelap dan lelah. Tapi secepat kilat, topeng arogannya kembali terpasang.

​"Mungkin saya sedang mencari tantangan," jawab Adrian diplomatis. "Atau mungkin saya merindukan teman lama yang dulu pernah menumpahkan formalin ke sepatu saya saat praktikum anatomi."

​"Itu nggak sengaja!" bela Rania.

​"Tentu. Sama tidak sengajanya dengan kamu mengambil judul skripsi yang sama persis dengan saya, lalu mengumpulkannya satu jam lebih awal?"

​"Itu namanya strategi, Adrian. Bukan sabotase."

​Adrian maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya terpaut sejengkal. Rania harus mendongak sedikit karena Adrian ternyata cukup tinggi—sesuatu yang luput dari perhatiannya saat Adrian berlutut melakukan RJP tadi.

​"Dengar, Rania," suara Adrian merendah. "Saya di sini untuk bekerja. Saya akan membuat klinik saya sukses. Dan saya harap kamu tetap di jalur kamu—Bedah Umum. Potong usus, buang tumor, jahit seadanya. Biarkan bagian estetika dan keindahan untuk ahlinya."

​Darah Rania mendidih. "Jahit seadanya? Asal lo tau ya, jahitan gue itu kuat. Pasien gue hidup. Buat apa jahitan rapi kalau pasiennya mati di meja operasi karena dokternya sibuk mikirin estetika?"

​"Dan buat apa pasien hidup kalau dia malu bercermin seumur hidup karena dokternya menjahit wajahnya seperti menjahit karung goni?" balas Adrian tajam. "Kamu itu tukang jagal, Rania. The Butcher. Julukan itu masih cocok buat kamu sejak kuliah."

​"Dan lo," Rania menunjuk dada Adrian dengan telunjuknya, menusuk jas mahalnya. "Lo cuma dokter salon. Pangeran glowing yang takut kotor. Kita liat aja, berapa lama lo tahan di RS ini tanpa nangis minta pulang ke Mommy."

​Adrian menepis tangan Rania dengan dua jari, lalu membersihkan bekas sentuhan itu seolah-olah Rania baru saja menempelkan lumpur di sana.

​"Kita lihat saja," kata Adrian dingin.

​Ia berjalan melewati Rania, bahu mereka bersenggolan keras. Tidak ada yang mau mengalah.

​Saat Adrian menghilang di belokan koridor, Rania baru sadar tangannya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena marah. Dan mungkin—hanya mungkin—sedikit rasa kesal karena jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

​"Sialan," umpat Rania pelan. "Awas aja lo, Pangeran Plastik."

​Di saku celananya, ponsel Rania bergetar. Pesan masuk dari Suster Yanti.

​Dok, gawat! Jadwal OK (Ruang Operasi) bentrok besok pagi. Dr. Adrian booking OK 1 jam 8 pagi buat operasi hidung VIP. Padahal itu slot Dokter buat hernia Pak RT!

​Rania menatap layar ponselnya dengan mata menyala. Perang baru saja dimulai.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!