NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelah Berharap, Sudah Waktunya Berhenti"

Matahari sudah terbenam ketika bunyi motor Arif terdengar lagi di depan rumah. Dewi masih duduk di lantai dapur, piring yang berisi sisa nasi garam masih di depannya. Ia tidak bergerak, hanya menatap lantai dengan wajah yang tenang dan dingin—seperti sudah mempersiapkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.

Arif turun dari motor, membuka pintu dengan kasar. Ia melihat Dewi yang duduk di lantai, dan menghela nafas. "Kenapa kamu duduk di situ? Rumah kok kacau begini?" ujarnya dengan nada yang marah, seolah-olah itu yang paling penting.

Dewi berdiri dengan lemah, menyimpan piring ke lemari. Ia menghadapi Arif dengan mata yang tenang, tanpa ada tanda emosi apapun. Itu membuat Arif merasa tidak nyaman—biasanya Dewi akan menangis atau berteriak, tapi hari ini, dia terasa seperti orang asing.

"Arif," panggilnya dengan suara yang rendah tapi jelas. "Aku mau tanya sesuatu."

Arif mengangkat alisnya. "Apa? Cepet-cepet ya, aku mau keluar lagi."

"Diajak siapa?" tanya Dewi, tapi tidak menunggu jawaban. "Yang utama, Arif—apakah kamu punya uang?"

Arif terkejut sejenak, tapi segera menyembunyikannya dengan wajah yang tegas. "Tidak ada. Sudah kubilang kan, aku tak punya uang lagi. Kamu mau nanya apa lagi?"

Dewi hanya mengangguk, matanya tetap menatap Arif. "Beneran?"

"Iya, beneran. Apa mau kubuktikan?" jawab Arif sambil mengangguk, tapi matanya tidak berani bertemu mata Dewi. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan tenangnya Dewi—seolah dia tahu apa yang tersembunyi.

"Kalau begitu, kenapa kamu selalu keluar malam-malam? Dari mana uang buat beli bensin motormu dan dimana kamu makan?" tanya Dewi lagi, suara tetap tenang. Arif terkejut, tidak menyangka Dewi akan menanyakannya itu. Arif memutar mata, mencoba mencari alasan.

"Bensin? Diberi teman lah, aku makan di rumah ibu. Kamu terlalu banyak berpikir, Dewi. Sudahlah, aku mau keluar."

Tapi Dewi tidak mengizinkannya pergi. Dewi merasa Arif lebih memilih makan di rumah ibunya tanpa mempedulikan Dewi, namun Dewi tak peduli lagi. Ia berdiri di depan pintu, menghalangi jalan Arif, "Tunggu. Aku belum selesai bertanya. Kalau secara tidak sengaja, kamu punya uang—meskipun sedikit—akankah kamu berikan padaku untuk kebutuhan rumah setidaknya untuk ku makan?"

Arif marah, menegaskan tangannya. "Aku bilang tidak punya! Kenapa kamu nanya-nanya terus? Kalau ada juga—" dia berhenti sejenak, menyadari dia hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi sudah terlambat. "—kalau ada juga, aku tidak akan berikan. Kamu selalu minta uang, tidak pernah puas dan sangat boros!"

Kata-kata itu terdengar seperti peluru di telinga Dewi. Tapi ia tetap tenang. Ia tidak marah, tidak menangis—hanya merasa sedih yang semakin dalam. "Jadi itu jawabannya? Kalau ada uang, kamu tidak akan berikan padaku walaupun hanya untuk makan?"

"Ya! Karena kamu tidak tahu berhemat! Semua uang yang kuberi habis langsung!" teriak Arif, marah karena tersinggung. Dia tidak menyadari bahwa uang yang dia berikan hanya 20 ribu rupiah—cukup hanya untuk sehari.

Dewi menghela nafas perlahan. "Arif, selama dua minggu ini, aku hanya makan nasi dan garam. Kamu tahu tidak?"

Arif terdiam sejenak, tapi segera membatalkan. "Itu karena kamu tidak pintar mengatur uang! Jangan menyalahkan aku!"

Tanpa berkata apa-apa, Dewi berjalan ke kamar dan keluar membawa segenggam uang yang dia temukan di lemari baju Arif. Ia meletakkannya di atas meja, di depan Arif. "Ini uangmu yang disembunyi di balik baju. Ratusan ribu rupiah. Kamu bilang tidak punya uang?"

Arif kebalik hati. Wajahnya memerah karena malu dan marah. "Dari mana kamu dapat itu? Kamu mencuri uangku?"

Dewi tetap tenang. "Aku temukan saat merapikan lemari. Dan aku tidak mencurinya. Aku hanya menyimpannya kembali. Tapi sekarang, aku mau tahu—kenapa kamu menyembunyikannya? Kenapa kamu bilang tidak punya uang padaku?"

Arif tidak bisa menjawab. Dia berdiri diam, mata menatap uang itu dengan wajah yang cemas. Dia tidak tahu bagaimana Dewi bisa tetap tenang padahal sudah tahu semuanya. Biasanya, dia akan menangis dan meminta maaf, tapi hari ini, dia terasa seperti sudah kehabisan kekuatan.

Dewi melihat wajah Arif yang bingung, dan hati dia semakin dingin. "Ada satu lagi pertanyaan, Arif. Pernahkah kamu mencintai dan menyayangi aku?"

Arif terkejut, melihatnya dengan mata yang bingung. "Tentu saja, sayang. Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu. Aku sangat peduli padamu." Kata-katanya terdengar lemah dan tanpa keyakinan—seperti dia hanya membacanya dari naskah.

Dewi tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. Ia tahu itu bohong. Ia tahu Arif tidak pernah benar-benar mencintainya—dia hanya menganggapnya sebagai orang yang bisa diandalkan untuk merawat rumah dan membayar hutang dan menjaga nama baiknya di luar. "Kamu bohong, Arif. Kamu tidak pernah mencintai aku. Kamu hanya menganggap aku sebagai beban."

"tidak, bukan begitu! Aku serius, Dewi!" teriak Arif, mencoba mendekati dan memegang tangannya. Tapi Dewi menghindar.

"Sudahlah, Arif. Aku sudah tahu segalanya. Aku sudah lelah. Lelah dengan janji-janji yang palsu, lelah dengan uang yang disembunyikan, lelah dengan perlakuanmu yang tidak peduli." Dia mengangkat kepalanya, menatap Arif dengan mata yang penuh keputusasaan. "Arif, ayo kita pisah."

Kata-kata itu membuat Arif terkejut. Dia berdiri diam, mata membesar. "Apa? Pisah? Kamu bercanda kan, Dewi?"

"Aku tidak bercanda. Aku serius. Kita pisah, Arif. Cukup sudah segalanya." ucap dewi

Arif merasa panik. Dia tidak pernah menyangka Dewi akan berkata seperti itu. Dia membutuhkan Dewi—untuk merawat rumah, untuk membayar hutang, dan untuk menjaga nama baiknya di luar di mata teman-temannya dan agar tidak di bilang orang yang tidak bertanggung jawab di mata masyarakat karena orang - orang di desa semuanya juga tau Arif orang yang kuat berjudi. "Tidak, Dewi. Jangan begitu. Aku akan berubah, sayang. Aku janji. Aku akan memberi uang untuk mu, aku akan pulang lebih sering, aku akan berhenti berjudi. Aku janji."

Tapi Dewi hanya mengangguk perlahan. Dia sudah mendengar janji itu berkali-kali, dan semuanya hanya omong kosong. "Sudah terlambat, Arif. Aku sudah tidak percaya lagi pada janjimu. Aku ingin hidupku sendiri, tanpa kamu yang selalu menyakitiku."

Arif mencoba memeluknya, tapi Dewi menghindar lagi. "Jangan sentuh aku. Kamu bisa keluar sekarang. Besok, kita akan bicara tentang pembagian barang dan hutang. Tapi untuk sekarang, silakan keluar."

Arif berdiri di situ, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia ingin marah, ingin menangis, ingin memaksa Dewi untuk berubah pikiran, tapi di benak Arif Dewi pasti tidak akan benar-benar meninggalnya, dia tahu sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan. Tapi besok dia akan. Membujuknya lagi, dia mengambil tasnya, membuka pintu, dan keluar tanpa berkata apa-apa.

Setelah pintu tertutup, Dewi akhirnya merasakan semua emosi yang dia tahan. Ia duduk di lantai, menangis dengan tangis yang penuh kelegaan dan kesedihan. Ia sudah mengambil keputusan yang paling sulit dalam hidupnya, tapi ia tahu itu yang terbaik untuknya. Ia tidak ingin lagi hidup dengan rasa lapar, kesedihan, dan kekhawatiran. Ia ingin hidup yang lebih baik—bahkan jika itu berarti hidup sendirian.

Ia memandang uang yang masih di atas meja, lalu mengambilnya dan menyimpannya di lemari. Ia tidak akan mengambilnya—itu uang Arif, dan dia tidak mau terlibat lagi dengan apa-apa yang miliknya Arif. Ia hanya ingin memulai hidup baru, jauh dari semua kesedihan yang pernah dia alami.

Matahari sudah benar-benar gelap, dan rumah terasa sepi. Tapi kali ini, rasa sepi itu tidak membuatnya takut. Sebaliknya, ia merasa tenang—seperti beban yang sudah lama ditumpuk di pundaknya akhirnya hilang. Ia berdoa agar keputusannya itu benar, dan agar dia bisa menemukan kebahagiaan yang dia cari selama ini.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!