“Mutiara Setelah Luka”
Kenzo hidup dalam penyesalan paling gelap setelah kehilangan Amara—istrinya yang selama ini ia abaikan. Amara menghembuskan napas terakhir usai melahirkan putra mereka, Zavian, menyisakan luka yang menghantam kehidupan Kenzo tanpa ampun. Dalam ketidakstabilan emosi, Kenzo mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh dan kehilangan harapan untuk hidup.
Hidupnya berubah ketika Mutiara datang sebagai pengasuh Zavian anak nya. Gadis sederhana itu hadir membawa ketulusan dan cahaya yang perlahan meruntuhkan tembok dingin Kenzo. Dengan kesabaran, perhatian, dan kata-kata hangatnya, Mutiara menjadi satu-satunya alasan Kenzo mencoba bangkit dari lembah penyesalan.
Namun, mampukah hati yang dipenuhi luka dan rasa bersalah sedalam itu kembali percaya pada kehidupan?
Dan sanggupkah Mutiara menjadi cahaya baru yang menyembuhkan Kenzo—atau justru ikut tenggelam dalam luka masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. AKU MERASA TIDAK PANTAS
Bab 35
Tiara tidak bisa tidur malam itu. Ucapan kenzo beberapa jam lalu masih berputar-putar di kepalanya. Semakin dia mencoba mengabaikan, semakin jelas suara kenzo terdengar di benaknya. Setiap kali mengingat kalimat itu, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Meski alasan kenzo jelas, yakni demi zavi, tetap saja tiara merasa berat. Bukan karena dia tidak suka pada kenzo. Sebenarnya, dia tidak menolak kehadiran kenzo. Dia tahu bahwa selama dua tahun terakhir, kenzo dan zavi menjadi bagian penting dalam hidupnya. Bahkan, saat melihat kenzo tersenyum pada zavi, rasanya hatinya ikut hangat.
Namun ketika tiba pada urusan menikah, tiara merasa dirinya seperti kembali pada kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia hanya anak panti, tidak tahu siapa orang tua kandungnya, tidak punya masa lalu yang jelas, tidak punya latar belakang keluarga seperti orang lain. Semua itu membuatnya merasa kecil. Apalagi jika dibandingkan dengan kenzo, yang bahkan ketika dalam kondisi terpuruk pun masih memiliki wibawa yang tidak hilang.
Tiara menghela napas panjang sambil duduk di tepi ranjang. Di sampingnya, zavi sudah tertidur pulas, tangan kecilnya memeluk mainan robot nya. Tiara menatap wajah anak itu lama. Zavi adalah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan selama ini. Setiap hari mengurus zavi membuat hidupnya terasa berarti. Dan kenyataannya, sebagian besar perasaannya pada kenzo datang karena melihat kenzo dengan zavi.
Tapi tetap saja… menikah?
Tiara memejamkan mata beberapa detik sebelum akhirnya berdiri pelan dan keluar kamar.
Di ruang belakang, suara angin malam terdengar lembut. Lampu taman memberikan cahaya redup. Saat ia baru membuka pintu menuju teras, suara kenzo memanggilnya.
“tiara.”
Tiara terkejut dan langsung berhenti. Kenzo duduk di kursi teras belakang, sendirian, dengan satu gelas air di meja. Tatapannya lurus ke depan namun terlihat bahwa sejak tadi dia memikirkan sesuatu. Ketika tiara keluar, kenzo langsung menoleh.
Tiara mendekat perlahan dan duduk di kursi seberangnya.
Kenapa dia memanggilku? pikir tiara gugup. Padahal tiap bertemu sejak siang tadi, dia terus berusaha menghindar.
Kenzo memperhatikan ekspresi tiara lalu menghela napas panjang. “kenapa kamu menjauhi aku sejak siang tadi?”
Tiara menunduk. “aku tidak menjauhi… cuma…” suaranya kecil, nyaris tidak terdengar.
“tiara.” nada suara kenzo lebih serius. “aku bisa melihat jelas kamu menjaga jarak. bahkan waktu zavi memanggilmu mama tadi sore, kamu langsung kabur masuk kamar.”
Tiara menggigit bibir bawahnya. Ia memang melakukan itu. Bahkan saat makan malam pun, ia duduk sedikit lebih jauh dari biasanya.
“aku hanya bingung,” jawab tiara akhirnya. “aku masih tidak tahu harus bagaimana.”
“jadi kamu keberatan dengan ucapan yang aku sampaikan tadi? tentang menikah demi zavi?”
“bukan begitu,” tiara buru-buru menggeleng. “aku…” ia berhenti lagi. “aku hanya merasa… tidak pantas.”
Kenzo langsung menatapnya dalam. “tidak pantas dari sisi mana?”
Tiara menelan ludah. “aku cuma anak panti, ken. aku tidak punya keluarga, tidak punya masa lalu yang jelas. kamu pengusaha besar, keluarga kamu terpandang. kalau aku tiba-tiba berdiri di sampingmu sebagai istri, orang-orang mungkin akan… bertanya-tanya.”
Kenzo menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, memandang tiara lama tanpa berkedip. “tiara, aku tidak peduli komentar orang.”
“tapi aku peduli.” suaranya kecil sekali.
“kenapa harus peduli?” tanya kenzo.
Tiara terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “karena aku tidak ingin jadi beban.”
Kenzo tersenyum tipis, senyum yang berbeda dari biasanya, lebih lembut. “tiara, kamu bukan beban. kalau kamu beban, aku tidak akan pernah mempertimbangkan menikah denganmu bahkan demi zavi sekalipun.”
Tiara kembali menunduk. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Kenzo kemudian mencondongkan tubuh sedikit. “kalau kamu merasa tidak pantas, itu karena kamu sendiri yang merendahkan dirimu. aku tidak pernah melihat kamu sebagai orang kecil atau tidak layak. justru kamu yang membuat rumah ini hidup lagi. tanpa kamu, zavi tidak akan tumbuh seceria sekarang. dan tanpa kamu, mungkin aku juga masih terpuruk di kamar tanpa mau melihat dunia.”
Tiara mengangkat kepala perlahan. “ken…”
“jadi jangan bicara soal pantas atau tidak pantas,” lanjut kenzo. “aku menilai kamu dari ketulusanmu, bukan dari masa lalu kamu.”
Tiara merasa wajahnya panas. Ia tidak sanggup membalas tatapan kenzo. Kenzo kemudian berdiri, membuat tiara ikut kaget.
Pria itu menyorotkan tatapan tegas padanya. “cukup jawab iya atau tidak.”
“apa?” tiara memejamkan mata sesaat, gugup.
“iya atau tidak saja.” kenzo mengulang.
Tiara menggigit bibir. “kenapa harus sekarang?”
“karena aku tidak mau kamu terus menjauh,” jawab kenzo tanpa ragu. “aku ingin tahu apa kamu melihat sedikit saja masa depan bersama aku dan zavi atau tidak.”
Tiara terdiam. Hatinya campur aduk. Ia ingin menjawab jujur bahwa ia memang menyimpan rasa, meski ia sendiri tidak yakin sejak kapan rasa itu tumbuh. Tapi ketakutan masih mengikat langkahnya. Ia takut membuat kesalahan. Takut menyakiti diri sendiri dan zavi. Dan terutama… takut membuat kenzo kecewa lagi, seperti masa lalu kenzo dengan amara.
Kenzo melihat tiara tidak langsung menjawab. Ia akhirnya menatap tiara beberapa detik, lalu berkata pelan tapi tegas, “aku tunggu jawabannya nanti. tapi jangan lama-lama.”
Kenzo kemudian berbalik dan berjalan masuk rumah, meninggalkan tiara sendirian di teras.
Tiara menatap punggung kenzo sampai pria itu menghilang di balik pintu. Perasaannya campur aduk. Ucapan terakhir kenzo terasa menekan, tapi juga melegakan. Setidaknya kenzo memberi waktu.
Tiara menunduk lama, memikirkan semuanya. Tentang dirinya. Tentang zavi. Tentang kenzo yang perlahan berubah dan kembali menjadi sosok yang hangat.
Setelah beberapa menit, tiara baru berdiri pelan. Ia menutup pintu teras dengan lembut dan kembali menuju kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap zavi yang tertidur tenang.
“apa yang harus tiara lakukan, zavi…” bisiknya sangat pelan.
Malam itu tiara kembali sulit tidur. Rasa takut dan rasa hangat bercampur menjadi satu. Ia tahu cepat atau lambat ia harus memberi jawaban. Tapi untuk saat ini, ia hanya memejamkan mata sambil memeluk dirinya sendiri.
Di kamar lain, kenzo juga belum tidur. Ia berdiri di depan jendela, memandang ke luar, memikirkan ucapan tiara. Ia merasa sedikit kecewa karena tidak mendapatkan jawaban langsung. Tapi ia juga mengerti. Tiara bukan perempuan yang ambisius, bukan yang mengejar status atau kekayaan. Justru karena itu kenzo semakin yakin bahwa perasaan tiara, jika memang tumbuh, akan tulus.
Kenzo menghela napas panjang. “semoga dia bilang iya.”
Malam itu berakhir dengan dua hati yang sama-sama gelisah, namun perlahan saling mendekat.
Haii readers selamat malam,
Selamat membaca,tinggalkan jejak kalian
Like komen nya ya terima kasih.